Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sebuah surat


__ADS_3

Mendengar pintu tersebut yang berhasil untuk didobrak hal itu membuat Dwija beserta Ibunya begitu terkejut hingga dirinya tidak mampu untuk meneruskan pembicaraannya karena sudah tidak ada waktu lagi untuk bercerita kepada Ibunya.


"Dwija! Dimana kamu! Keluar kamu sekarang! Jangan harap kau bisa bersembunyi dariku lagi, cepat atau lambat aku pasti akan menemukan dirimu" Teriak seorang wanita.


Mendengar teriakan tersebut membuat Dwija seketika terdiam membisu dan menatap kearah wanita paruh baya yang ada didepannya itu dengan wajah yang terlihat sangat sedih.


"Apapun yang terjadi nantinya kepadaku, Ibu harus selamat demi diriku, aku tidak akan membiarkan Ibu celaka bersamaku" Ucap Dwija dengan nada lirih.


"Tidak Nak, kau harus baik baik saja, kau harus selamat demi Ibumu ini Nak, kita harus hidup bersama sama nanti, kau tidak boleh meninggalkan Ibu sendirian seperti ini".


"Mungkin pertemuan kita kali ini adalah pertemuan yang terakhir untuk kita Bu, maafkan Dwija yang telah banyak salah kepada Ibu, maafkan Dwija juga karena Dwija tidak bisa menjadi anak yang baik untuk Ibu dan selama ini Dwija belum bisa membahagiakan Ibu, Dwija Sanga menyayangi Ibu, hanya Ibu satu satunya wanita yang sangat berarti bagi diriku ini, ku harap Ibu mampu hidup dengan baik setelah ini".


"Tidak Dwija, kau harus tetap bersama Ibu, kau tidak boleh meninggalkan Ibu terlebih dulu seperti ini, jangan tinggalkan aku Nak".


"Tidak ada waktu lagi Bu, sebaiknya Ibu segera pergi dari sini sebelum orang orang itu mengetahui keberadaan kita berdua ditempat ini, aku tidak ingin melihat Ibu celaka gara gara diriku yang tidak bisa menjaga Ibu dengan baik, maafkan Dwija Ibu" Ucapnya dengan berlinangan air mata.


"Tidak, aku tidak mau, jika kau mati maka kita harus mati secara bersama sama, aku tidak mau kehilangan dirimu setelah aku kehilangan Ayahmu untuk selama lamanya Dwija"


Dwija segera menutup mulut Ibunya setelah Ibunya mengatakan hal tersebut, "Jangan pernah katakan hal seperti itu Bu, aku tidak bisa melihat Ibu tiada, berjanjilah kepada Dwija bahwa Ibu akan baik baik saja nanti, Ibu harus selamat demi diriku".


"Kau juga harus berjanji bahwa kau akan baik baik saja, kau tidak akan pergi meninggalkan diriku Dwija".


"Itu terlalu berat bagiku Bu, tapi aku hanya bisa berjanji bahwa aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu dengan penuh hati dan jiwaku Bu, Dwija mohon selamatkanlah dirimu Bu, jangan membuatku bersedih dengan seperti ini".


Belum sempat Ibu Dwija pergi dari tempat itu dan nyatanya wanita yang sedang mengejar Dwija jauh lebih cepat menemukan sosok Dwija tengah berada dirumah itu.


Wanita tersebut segera masuk kedalam rumah itu dan menemukan keberadaan dari Dwija dan Ibunya, nyatanya ada juga beberapa orang telah memutari rumah tersebut hingga tidak ada cela untuk Dwija dan Ibunya kabur dari tempat tersebut saat ini.


"Ah... Disini rupanya dirimu, akhirnya kita bertemu lagi Dwija, kemanapun kau sembunyi kau tidak bisa lepas dariku" Ucap wanita itu ketika dirinya bertemu dengan Dwija.


"Kau!" Ucap Dewi secara spontan.


"Apa maumu sebenarnya! Dasar wanita licik, kau sama sekali tidak bisa disebut sebagai manusia kau lebih tepat disebut sebagai set*n" Teriak Dwija.


"Hahaha... Aku memang bukan manusia seperti yang kau ketahui itu, sudah cukup kau untuk berpura pura tidak mengetahui apa yang aku mau darimu, kau harus lenyap sekarang juga Dwija! Tidak ada gunanya lagi untuk kau tetap hidup didunia ini"


"Kau akan menyesalinya nanti, dasar wanita licik! Sepandai pandainya kau menyembunyikan sebuah bangkai, baunya akan tercium juga pada akhinya, dan kau akan menyesali apa yang telah kau lakukan kepada wanita itu" Ucap Dwija.


"Itu tidak akan pernah terjadi setelah aku berhasil untuk membunuhmu Dwija, lalu bagaimana bisa rahasia ini akan terbongkar nantinya? Jika kau sendiri sudah tiada ditanganku, itu mustahil sangat mustahil untuk bisa terjadi".


"Biar aku mati sekalipun, rahasia itu tidak akan berlangsung lama, meskipun kau telah menghilangkan jejak bukti bukti itu".


"Tidak! Kau tidak boleh membunuh anakku" Ucap Dewi dengan histerisnya.


"Kau tenang saja Bu Dewi, aku akan membunuh anakmu dengan cepatnya hingga dia tidak akan merasakan sakit untuk hal itu, apa mungkin kau juga mau untuk ikut menyusulnya keakhirat? Aku bisa saja mengabulkan hal itu".


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu! Apa kau pernah mati sehingga bisa berkata seperti itu!".


"Jangan sakiti Ibuku! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu kepada dirinya".


"Berusahalah sebisamu Dwija, kau pasti akan mati ditanganku setelah ini".


"Bu pergilah dari sini, aku akan berusaha agar Ibu bisa keluar dari rumah ini secepatnya, selamatkan nyawa Ibu sendiri jangan pedulikan diriku Ibu aku mohon, Ibu harus selamat" Bisik Dwija kepada Dewi dengan pelan.


"Tidak, kita harus keluar secara bersama sama apapun yang terjadi nantinya" Bantah Dewi mendengar ucapan itu.


"Tidak ada waktu lagi Bu".


Dwija sama sekali tidak mendengarkan bantahan dari sang Ibu, Dwija terus berusaha agar Ibunya bisa keluar dari tempat itu dengan selamat, Dwija terus berusaha untuk melawan orang orang yang tengah mengelilingi rumahnya itu demi membawa Dewi pergi dari tempat itu.


Sudah begitu banyak luka memar dan sayatan yang melekat pada tubuh Dwija akan tetapi Dwija sama sekali tidak menyerah untuk dapat menyelamatkan nyawa Ibunya karena bagi dirinya keselamatan dari Ibunya adalah segalanya, ketika orang orang itu lengah Dwija dan Dewi segera berlari menjauh dari rumahnya.


Ketika dijalan keduanya tanpa sengaja bertemu dengan Deni, sosok seorang laki laki berusia sekitar 30 tahun dan masih memiliki hubungan saudara dengan Dwija ditempat itu.


Deni adalah keponakan dari Dewi, dan anak dari saudara kandung Dewi, melihat Dewi dan Dwija yang pakaiannya penuh dengan darah miliknya itu sedang berlarian dengan terburu buru membuat Deni segera menghentikan keduanya.


"Kenapa kalian berlarian seperti ini?" Tanya Deni.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini, tolong jaga Ibuku untuk diriku" Ucap Dwija sambil menyerahkan Ibunya kepada Deni.

__ADS_1


"Maksudmu apa Ja?".


"Ada orang yang berniat untuk membunuhku Den, tolong selamatkan Ibuku, aku akan merasa tenang ketika Ibu bersama dirimu dengan keadaan baik baik saja" Ucapnya dengan meneteskan air mata.


"Siapa yang berniat membunuhmu? Kalian berdua harus tetap hidup, aku akan membantumu untuk melawan orang itu".


Belum sempat Dwija menjawabnya tiba tiba sepuluh orang yang mengejarnya tadi telah sampai dibelakangnya, hal itu membuat Dwija segera mendorong tubuh Ibunya kedalam pegangan Deni.


"Cepat pergi dari sini!" Teriak Dwija.


"Tapi Ja...".


"Pergilah dari sini! Jangan pedulikan diriku".


"Aku berjanji padamu akan menjaga Ibumu untuk dirimu mulai saat ini Dwija".


"Terima kasih"


Orang orang tersebut segera berlarian kearah Dwija, hal itu membuat Deni dengan terpaksa harus membawa Dewi pergi dari situ atas kemauan dari Dwija, dirinya juga tidak akan mampu untuk melawan orang orang itu karena jumlah mereka begitu banyak.


Dari kejauhan keduanya dapat melihat bahwa Dwija sedang dipukuli dengan keras oleh orang orang itu, hal itu membuat Dewi berteriak histeris dan Deni berusaha untuk tetap membawanya pergi dari tempat itu sesuai dengan kemauan dari Dwija.


"Tidak! Jangan pukuli anakku lagi! Arghh..."


"Tante kita harus pergi dari sini sekarang, aku sudah berjanji kepadanya untuk melindungi Tante, aku tidak akan membiarkan Tante dalam bahaya".


"Dwija!! Hua.... hiks.. hiks.. hiks".


Orang orang itu terus memukuli Dwija meskipun Dwija kini bersimbahan darah, hingga Dwija sudah tidak mampu untuk mempertahankan kesadarannya karena luka yang ia miliki saat ini, seketika itu juga wanita tersebut menoleh kearah Dewi berada akan tetapi Deni berhasil untuk membawanya pergi sehingga wanita itu tidak menemukan keberadaan dari Dewi ditempat itu.


"Dimana wanita tua itu!" Teriak sang wanita.


"Sepertinya dia telah kabur Bos".


"Biarkan saja, cepat bawa dia pergi dari sini, dan hilangkan semua barang buktinya".


"Baik Bos".


Sejak kejadian itu membuat Dewi mengalami trauma dan menyebabkan dirinya menderita gangguan jiwa karena dirinya yang menjadi saksi mata atas kejadian yang menimpa putranya itu.


*Flash back off*


"Apakah orang yang dimaksud itu adalah Mamaku" Guman Nadhira pelan ketika mendengarkan cerita dari Dewi itu.


"Dwija ku sudah tumbuh dewasa, kau harus melihat dunia luar Nak" Ucap Dewi sambil menimang nimang boneka yang ada ditangannya.


"Terima kasih sudah memberitahukan hal ini kepadaku Bu" Ucap Nadhira sambil mengusap pelan punggung tangan Dewi.


"Siapa namamu?" Tanya Dewi.


"Namaku? Namaku adalah Nadhira Bu, ada apa?"


"Nadhira? Pergilah, kau harus berhati hati mulai sekarang" Ucap Dewi tanpa menoleh kearah Nadhira.


"Berhati hati? Ada apa dengan namaku Bu?"


"Aku pernah mendengar orang itu pernah menyebut nama Nadhira sebelumnya, ku pikir Nadhira adalah orang yang telah melenyapkan nyawa anakku, tapi setelah melihat dirimu kau berbeda jauh dari apa yang aku dengar selama ini".


Nadhira berfikir apakah orang yang ada didepannya ini benar benar gila ataukah hanya berpura pura sehingga dirinya mampu berkata seperti itu kepadanya dengan nada sangat seriusnya.


"Apa Ibu mengenali orang yang telah membunuh Pak Dwija waktu itu?"


"Iya aku mengenalinya, sangat mengenalinya".


"Siapa dia Bu?" Tanya Nadhira dengan antusias.


"Dia adalah..... Iblis, hahaha..." Wanita itu tertawa sangat keras ketika menyebutnya nama iblis.


Melihat tawa itu seketika membuat Nadhira mengeser duduknya lebih jauh dari Dewi, Dewi bukan hanya tertawa saja, akan tetapi dirinya juga menakuti Nadhira dengan tawanya itu, hal itulah yang membuat Nadhira sampai termundurkan.

__ADS_1


Dewi segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Nadhira sedikit takut dengannya dan berjalan kearah taman bunga sambil menari nari disana dengan gembiranya, ia juga bersenandung gembira.


Melihat itu Theo segera mendekat kearah Nadhira untuk memastikan keadaan Nadhira yang tiba tiba terkejut ketika berbicara dengan Dewi, sebelumnya dirinya hanya mengawasi Nadhira dari kejauhan atas perintah dari Nadhira sendiri.


"Apa yang dia katakan Dhira?" Tanya Theo tiba tiba hingga membuat Nadhira begitu terkejut.


"Ah.. kau mengejutkanku saja, dia hanya mengatakan tentang kematian dari Pak Dwija saja, tapi dia tidak mau mengatakan siapa pelaku sebenarnya dari kejadian waktu itu...."


Nadhira mulai menceritakan kembali sebuah kisah yang telah diceritakan oleh Dewi sebelumnya, Nadhira juga mengatakan tentang apa yang dikatakan oleh Dewi sebelumnya kepada Theo.


"Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan selanjutnya untuk dapat mengetahui tentang kecelakaan yang dialami oleh Mama waktu itu, Theo" Keluh Nadhira.


"Jangan menyerah begitu saja Dhira, pasti akan ada petunjuk nantinya untuk kita dapat mengetahui asal usul terjadinya kecelakaan itu".


"Kemana lagi aku harus mencarinya Theo, aku tidak tau lagi kemana aku akan melangkah nantinya" Ucap Nadhira dengan meneteskan air matanya.


Theo segera duduk disebelah Nadhira yang kosong, dan menggerakkan kedua tangannya agar Nadhira mau bersandar dipundaknya, Theo tidak tau lagi harus bagaimana untuk membuat Nadhira kembali bersemangat seperti sebelumnya.


Theo hanya tau bahwa kalau wanita menangis biasanya pundak seorang lelaki akan mampu untuk menenangkannya sesuai dengan buku yang pernah ia baca sebelumnya agar dirinya bisa mendapatkan hati Nadhira, selama ini ia sering membaca baca buku novel tentang perlakuan seorang lelaki kepada seorang wanita didalam markasnya.


Theo berpikir bahwa cara ini akan mampu membuat Nadhira merasa tenang karena kehadirannya, siapa sangka bahwa dengan cara itu membuat Nadhira benar benar berhenti untuk meneteskan air matanya.


"Akhirnya Nadhira berhenti menangis juga, ternyata apa yang ditulis dinovel itu benar benar bisa membuat hati seorang wanita merasa tenang, tidak sia sia aku membacanya" Batin Theo yang merasa senang.


Nadhira segera menegakkan kembali kepalanya yang tadinya ia sandarkan dipundak Theo, Nadhira menatap kearah Theo yang saat ini sedang tersenyum renyah kepadanya dengan keheranan.


"Tuh kan apa ku bilang, kau pasti akan tenang ketika bersandar dipundakku seperti itu tadi, itu seperti apa yang ku baca dinovel sebelumnya" Ucap Theo dengan bangganya.


"Maksud kamu apa Theo? Novel seperti apa yang kau baca?"


"Bukannya kau merasa tenang ketika bersandar dipundakku tadi Dhira?"


"Tidak seperti itu, lihat ini aku menemukan sesuatu".


Akan tetapi bukan karena cara tersebut melainkan karena pandangan Nadhira yang tanpa sengaja tertuju kepada saku yang ada bajunya, Nadhira tidak sengaja melihat sebuah kertas yang telah dilipat kecil sudah ada disakunya entah sejak kapan kertas itu sudah ada didalam saku bajunya.


Seketika itu juga wajah Theo berubah menjadi masam dengan rasa malunya karena ucapannya tadi, ia tidak menyangka bahwa ada hal lain yang membuat Nadhira berhenti menangis, ia pikir bahwa apa yang tengah ia lakukan membuat Nadhira merasa tenang akan tetapi pikiran itu salah besar, dan justru kertas kecil yang tiada harganya itu mampu membuat Nadhira merasa tenang.


"Kenapa dengan kertas itu? Apakah ada yang sepesial hingga membuatmu berhenti menangis?"


"Aku tidak tau sejak kapan kertas ini ada disaku bajuku, aku juga tidak tau isinya apa".


Nadhira teringat kembali bahwa sebelum dirinya sampai dirumah sakit jiwa itu, dirinya tadinya membeli minuman disebuah warung ditepi jalan, dan tanpa sengaja seseorang menabraknya dengan terburu buru.


"Mungkin orang itu yang telah menaruhnya disini sebelumnya" Ucap Nadhira merasa yakin.


"Orang? Orang yang mana Dhira?"


"Orang yang ada diwarung itu? Apa kau ingat dengan seseorang yang memakai jaket dengan wajah tertutup yang tiba tiba menabrakku?"


"Aku tidak melihat ada orang yang menabrakmu diwarung itu tadi Dhira, yang aku tau kau sedang mengobrol dengan penjual makanan diwarung itu, dan dia begitu cepat menghilangnya".


"Apa kau sama sekali tidak melihatnya tadi? Bagaimana mungkin kau bisa tidak melihatnya Theo".


"Aku benar benar tidak melihatnya Dhira, tadi Pak Mun mengajakku berbicara sehingga aku tidak fokus dengan dirimu"


"Aku merasa penasaran kenapa orang itu bisa menaruh kertas kecil ini disaku bajuku, bukankah itu suatu kebetulan aku turun untuk membeli minum? Tapi orang itu sepertinya sudah mengetahui apa yang ingin aku lakukan sebelumnya".


"Sepertinya orang itu selalu mengawasi apa yang kita lakukan Dhira, tapi entah kenapa aku bisa tidak merasakan kalau sedang diawasi"


"Sepertinya dia orang yang hebat Theo, aku juga tidak merasa bahwa ada seseorang yang sedang mengawasi, apa mungkin kita merasa begitu karena kita terlalu fokus dengan tujuan sehingga kita tidak fokus dengan orang yang mengawasi kita dengan diam diam seperti itu?"


"Bisa jadi Dhira, coba baca isi dari surat itu".


"Baiklah".


Nadhira segera membuka kertas tersebut dan ternyata ketika kertas itu dibuka, kertas itu seketika berubah menjadi sebuah kertas yang berukuran 4 kali lipat daripada ukuran sebelumnya, Nadhira begitu terkejut dengan apa yang tertulis dikertas putih itu.


"Ini..." Ucap Nadhira menggantung.

__ADS_1


"Mungkin ini adalah sebuah petunjuk Dhira, agar kita segera mengungkap misteri itu".


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2