
Setelah selesai makan nasi, tanpa sengaja Nadhira menatap kearah sebuah nampan yang isinya sangat menarik perhatian Nadhira karena warnanya yang indah dan juga taburan kelapa putih diatasnya, melihat pandangan Nadhira kearah makanan itu membuat Ningsih segera mengambilkan semangkuk untuk Nadhira.
"Makanan apa ini Bu?" Tanya Nadhira sambil menerima uluran mangkuk itu.
"Ini namanya tiwul Mbak Dhira, makanan kampung sini, kalau ada acara acara seperti ini tidak pernah terlewatkan untuk membuat makanan seperti ini, ini enak lo rasanya, coba in pasti Mbak Dhira suka deh nantinya".
Nadhira segera memasukkan sesendok tiwul kedalam mulutnya dengan ragu karena sebelumnya ia tidak pernah memakam makanan seperti itu selama ini, sehingga dirinya terlihat sedikit takut untuk mencobanya.
Nadhira mulai mengunyahnya perlahan lahan sambil merasakan rasa dari makanan itu, Nadhira membuka matanya lebar lebar ketika ia merasa bahwa makanan ini begitu enak dan rasanya manis dengan taburan kelapa yang gurih diatasnya, enaknya makanan itu terasa begitu lengkap.
"Enak sekali Bu Ning, manis".
"Alhamdulillah kalau Mbak Dhira suka makanan seperti ini"
"Oh iya Bu, ini terbuat dari apa?"
"Itu dari ketela pohon Mbak Dhira dan prosesnya cukup lama juga, mau tambah lagi?".
"Boleh, Pak Mun, Pak Mun harus belajar membuat ini nanti dirumah, rasanya aku ingin memakan makanan seperti ini tiap hari deh Pak" Ucap Nadhira dengan semangatnya.
"Baik Non, sesuai dengan keinginan Non Dhira".
Nadhira yang memuji makanan itu membuat Ibu Ibu yang membuatnya merasa senang karena dihargai oleh orang kota seperti Nadhira, setelah dimangkuk Nadhira habis, Ningsih segera mengambilkannya lagi, Nadhira sangat menikmati makanan itu.
"Ini enak sekali, aku belum pernah mencobanya sebelumnya, sayang sekali kalau belum mencoba makanan terlezat ini".
"Kau benar Dhira, ini memang enak sekali".
"Rifki pasti juga akan menyukainya nanti, kalau dia pulang nanti, aku akan ajak dia untuk membuatnya".
"Kenapa harus ada nama Rifki disaat saat seperti ini dihati Dhira sampai sekarang, apakah dia seberharga itu dimata Nadhira sampai sampai Nadhira selalu mengingatnya setiap waktu seperti ini" Batin Theo.
Theo merasa sedikit sakit hati ketika melihat Nadhira yang terus menerus membicarakan soal Rifki, meskipun Rifki tidak ada disampingnya akan tetapi Nadhira tetap mengingatnya dan tidak pernah melupakan tentang Rifki.
Disepanjang perayaan itu, Theo hanya mampu tersenyum kecut karena melihat Nadhira yang menikmati makanan itu sambil terus membicarakan tentang Rifki disampingnya.
"Jangan berpikir yang tidak tidak disaat seperti ini Theo, Rifki adalah sahabatku dari kecil sampai aku dewasa seperti ini dan pastilah aku selalu mengingat dirinya itu" Tegur Nadhira.
"Sahabat? Apa aku juga bisa menjadi sahabatmu seperti dirinya itu?"
"Tentu, kenapa tidak? Kau juga adalah sahabat baruku Theo, berhubung kau sudah ada disini jadi aku hanya teringat dengan Rifki yang berada jauh disana, entah bagaimana kabarnya sekarang aku tidak tau".
"Apakah disaat aku jauh darimu, kau juga akan mengingatku seperti kau mengingat Rifki?".
Nadhira hanya menjawab dengan senyuman saja, setelah itu Nadhira kembali melanjutkan makannya, ia tidak ingin merusak moodnya disaat ia menikmati makanan seenak makanan yang ada ditangannya saat ini.
Perayaan itu berlangsung cukup meriah didesa Flamboyan itu, Nadhira sangat menikmati detik detik perayaan itu terjadi, ia sama sekali tidak pernah merasa sebahagia seperti sekarang ini, ia menjadi pusat perhatian dari seluruh warga desa dan terlihat begitu dikagumi oleh kaum adam yang ada ditempat itu sekarang ini.
Nadhira sesekali tertawa bersama dengan mereka, kehangatan diacara itu begitu terasa bagi Nadhira, Theo dan Pak Mun yang melihat Nadhira tertawa bahagia membuat keduanya juga ikut tertawa bersama dengan Nadhira.
Acara itu tidak berlangsung lama karena Nadhira harus buru buru pulang kerumahnya, ia tidak ingin membuat Sarah khawatir dengan keadaannya yang belum pulang pulang juga setelah berpamitan pergi jalan jalan bersama dengan Theo.
"Pak.. Bu.. kami harus pulang, orang rumah pasti akan sangat cemas karena kami yang belum pulang pulang sejak kemaren" Ucap Nadhira.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk hadir dalam syukuran kecil kecilan ini, dan terima kasih sudah menyelamatkan keluarga kami".
"Sudah kewajiban saya sebagai sesama manusia yang saling membantu, siapa tau suatu saat nanti kami yang membutuhkan bantuan kalian".
"Kalian memang orang yang baik, semoga Allah selalu melindungi kalian dimanapun kalian berada".
"Aamiin".
Salah satu warga mendekat kearah Nadhira dan menyerahkan sesuatu kepada Nadhira sebagai ucapan terima kasih mereka atas kembalinya keluarga mereka yang telah lama menghilang.
"Hanya ini yang kami punya untuk rasa terima kasih kami kepada kalian, mohon diterima" Ucap kepala desa sambil menyodorkan sesuatu kepada Nadhira.
"Pak.. Bu.. kami menolong dengan iklas, kami tidak mengharapkan imbalan apapun, asalkan kalian dapat hidup dengan baik, sudah cukup bagi kami".
"Tolong Nak terima ini, kami telah menyiapkannya untuk kalian".
__ADS_1
"Kami tidak butuh harta, tapi jika kalian memaksa saya bisa menerima makanan ini" Tunjuk Nadhira kesebuah nampan yang berisikan tiwul.
Sebuah gundukan seperti nasi akan tetapi terbuat dari ketela pohon yang berwarna coklat karena gula merah dengan hiasan parutan kelapa putih bersih diatasnya itu berhasil membuat Nadhira jatuh cinta dengan citarasa yang dikeluarkan dari makanan itu.
Nadhira baru pertama kali mencobanya dan dirinya belum pernah memakan makanan seperti itu sebelumnya, dengan sedikit ragu dia mengatakan bahwa dirinya bisa menerima makanan itu karena baginya harta yang diberikan oleh penduduk desa ini begitu sangat berharga bagi mereka.
Mendengar itu beberapa warga segera memasukkan makanan itu kedalam sebuah wadah dan membungkusnya dengan erat dan rapi, segelah itu mereka segera memberikan bingkisan itu kepada Nadhira, dengan senang hati Nadhira segera menerimanya.
"Jika ada waktu luang, bermainlah kedesa ini lagi Nak, kami akan menyambut kalian dan pintu desa ini akan selalu terbuka lebar untuk kalian".
"Terima kasih atas kebahagiaan diacara malam ini, kalian yang terbaik".
Nadhira dan yang lainnya segera berpamitan untuk pergi dari desa itu karena misi mereka untuk mendatangi tempat itu telah selesai mereka lakukan dan mereka juga tidak mampu untuk menyelamatkan Dwija dari ledakan bom tersebut.
Nadhira sangat menyesali perbuatannya karena tidak dapat menolong Dwija saat itu, sudah lama ia mencari Dwija akan tetapi sekali bertemu saja Nadhira sudah tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya dari ledakan yang sangat besar itu.
Nadhira kembali kekota dengan rasa bersalah dan kecewanya, seluruh penduduk mengiringi kepergian mereka dari desa tersebut, mereka mengantarkan Nadhira dan rombongannya sampai di depan gapura desa Flamboyan tersebut.
Dengan melambaikan tangannya mobil yang Nadhira naiki perlahan lahan mulai menjauh dari desa Flamboyan, Nadhira menyandarkan kepalanya sambil menatap jalanan yang ia lewati saat ini dengan perasaan begitu sepi.
"Ada apa Dhira?" Tanya Theo ketika melihat kediaman dari Nadhira sejak mereka keluar dari desa Flamboyan tersebut.
"Aku telah gagal menyelamatkan Pak Dwija, dia ternyata adalah sahabat Mamaku waktu kecil".
"Itu bukan salahmu Dhira, ini juga salahku karena aku sendiri tidak bisa menyelamatkan dirinya, jika aku telat membawamu keluar maka kita juga tidak akan selamat waktu itu, Pak Dwija juga memintaku untuk membawamu keluar bersamaku"
"Sudahlah, semua sudah berlalu, apapun yang sudah hilang, tidak akan pernah kembali lagi, tiada pertemuan tanpa adanya perpisahan, aku hanya tidak menyangka bahwa akan berpisah secepat ini dengan dia, dan aku lebih tidak menyangka lagi bahwa semua ini ada hubungannya dengan Mama tiriku Theo".
"Maksud kamu apa Dhira? Jadi ini semuanya ada hubungannya dengan si Senol itu? Sepertinya hanya hukuman penjara saja tidak akan cukup baginya".
"Kau benar, begitu banyak nyawa yang mati ditangannya dengan cara seperti ini, Mama juga menjadi korban karena wanita itu, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja".
"Kamu yang sabar ya Dhira, wanita itu harus merasakan apa yang kamu rasakan, aku akan melakukan sesuatu kepada wanita itu".
"Tidak Theo, aku tidak ingin membuat orang lain melakukan apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam urusanku, ini masalahku dan aku sendiri yang harus menyelesaikannya".
Tak terasa Nadhira kembali tertidur didalam mobil, melihat Nadhira yang tertidur membuat Theo menyandarkan kepala Nadhira kedalam bahunya sebagai bantalan untuk Nadhira, Nadhira terlihat begitu kelelahan karena telah melakukan perjalanan panjang beberapa hari ini.
"Raka, apa kau tidak merasa bosan melihat mereka terus terusan diposisi seperti ini?" Tanya Nimas ketika melihat Nadhira tidur dibahu Theo.
"Sangat bosan, kalau saja ada Rifki, aku pasti tidak bosan karena dia bisa melihat diriku dan juga berbicara kepadaku tidak seperti orang ini" Jawab Raka sambil membayangkan adanya Rifki.
"Sama saja kau ini, sama sama membosankan seperti pemuda itu, aku pergi saja lah dari sini, bosan, lelah, oh Pangeran Kian kenapa kau memberiku tugas seperti ini"
"Jangan pergi, woi lalu aku sama siapa disini!".
"Kan kau ditugaskan untuk mengawasi dan menjaga Nadhira, jadi lakukanlah saja itu, aku hanya ingin jalan jalan sangat membosankan jika harus berada ditempat ini terus terusan seperti itu".
"Ngak sadar diri apa? Kau pun sama, kau juga diperintahkan oleh Pangeran Kian untuk menjaga Dhira".
Tanpa mempedulikan ucapan Raka, Nimas segera menghilang dari tempat itu entah kemana, melihat itu membuat Raka langsung berekspresi masam karena ditinggal oleh Nimas begitu saja dari tempat itu, ia ingin mengikuti Nimas pergi akan tetapi ia tidak bisa meninggalkan Nadhira seperti ini.
"Sayang sekali dia tidak bisa mendengar suaraku ataupun melihatku, kalau dia bisa pasti aku tidak akan merasa sebosan ini sekarang, entah kenapa aku tiba tiba rindu cerewetnya si Rifki itu, meskipun cerewet tapi ada benarnya juga, mungkin hanya dia yang bisa berbicara kepadaku, jadi aku merindukan dirinya itu, hehe.." Ucap Raka sambil tersenyum kecut.
Raka memutuskan untuk berdiam diri didalam mobil itu, ia tidak punya teman untuk berbicara disana dan dirinya sangat merasa bosan tanpa adanya Rifki yang selalu berkomentar tentangnya, karena Nadhira sendiri tidak mampu untuk berbicara dengan dirinya.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya sampailah mereka didepan rumah Nadhira, Pak Santo segera membukakan gerbang utama agar mobil yang dinaiki oleh Nadhira bisa masuk kedalam halaman rumah itu, merasakan mobil tersebut berhenti membuat Nadhira segera membuka matanya.
"Sudah sampai?" Tanya Nadhira entah kepada siapa.
"Sudah Non" Jawab Pak Mun.
Nadhira segera keluar dari dalam mobil itu ketika Pak Santo selesai membukakan pintu mobil untuk Nadhira, ia begitu terkejut ketika melihat luka yang ada di kening Nadhira saat ini yang hanya berbalutkan oleh kain saja.
"Astaga Non, Non terluka? Kenapa bisa terluka seperti itu sih Non" Ucap Pak Santo terkejut.
"Pak Santo sih".
"Lah kok jadi saya Non? Eh kau apakan Non Dhira" Tegur satpam itu kepada Pak Mun.
__ADS_1
"Aku ngak ngapa ngapain" Jawab Pak Mun.
"Ngak ngapa ngapain kok bisa Non Dhira terluka seperti itu ha?"
"Sudah dong Pak Santo, ini hanya luka kecil saja kok, lagian juga bukan salah Pak Mun, sepertinya Pak Santo rindu fighter denganku deh, sudah lama kita tidak melakukan itu Pak, tongkatku sepertinya sudah lelah dianggurin deh".
Mendengar kata fighter membuat Pak Santo bergidik ngeri membayangkan bahwa dirinya harus melawan cucu majikannya lagi seperti sebelumnya, bukan tidak mungkin ia akan terkena omelan dari Sarah, apalagi sampai melihat Nadhira terluka gara gara bertarung dengannya.
"Is si Non mah gitu, dikit dikit langsung ngajak fighter saja, bisa ngak Non dirubah yang lainnya? Semisal ngajak makan atau gimana gitu Non".
"Bisa Pak, kalau bahasa pencak silat mah namanya sabung, bukan fighter saja digelanggang itu, gelanggang itu podium gitu Pak, apa Pak Santo juga mau sabung denganku?".
"Haduh malah ngeri Non"
"Bukan sabung ayam loh Pak maksudku, entar Pak Santo salah mengartikan lagi, malah makin gawat nantinya".
"Bapak mah ngak berani atuh Non, Non si galak pisan, Bapak mah kalah".
"Pak Santo mah belum nyobain sudah bilang gagal gagal mulu, oh iya, Oma dimana Pak? Apa Oma sudah tidur sekarang?"
"Tumben kau ingat dengan Omamu ini"
Tiba tiba suara Sarah terdengar begitu nyaring dari tempat dimana Nadhira berada saat ini, Nadhira segera menoleh dan mendapati bahwa Sarah tengah berdiri didepan pintu rumahnya sambil menunggu kedatangan dari Nadhira.
"Oma"
Nadhira segera berlari kearah dimana Sarah berada, dan langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Sarah, terasa begitu nyaman bagi Nadhira ketika berada didalam pelukan orang yang begitu berarti bagi dirinya itu.
"Dari mana saja kamu Nak, akhirnya kau ingat untuk kembali pulang kemari".
"Bagaimana aku tidak kembali Oma, disini kan ada Oma yang harus aku temani".
"Oma sangat merindukan dirimu, kenapa kau bisa terluka seperti ini lagi? Apa Pak Mun tidak bisa menjagamu dengan baik ha? Biar ku omeli saja nanti, salah sendiri kenapa tidak bisa menjaga cucuku dengan baik dan benar".
"Ini bukan salah Pak Mun kok Oma, ini salah Dhira sendiri karena tidak berhati hati sebelumnya jadi terluka lagi Oma".
"Lain kali Oma tidak mengizinkan kamu untuk keluar rumah lagi seperti ini, kenapa nomer telfonmu itu sulit sekali dihubungi sih, Oma kan jadi khawatir".
"Maaf Oma, lain kali ngak begini deh".
"Bagaimana kalau kamu kenapa kenapa disana? Nomer ngak bisa dihubungi, ditelfon ngak diangkat, dichat pun ngak dibales, mau bikin Oma jantungan karena memikirkan kamu apa?"
"Oma sudah dong marahnya, aku bawakan sesuatu untuk Oma, Oma pasti suka nantinya, sudah ya jangan marah lagi".
Nadhira memberikan sebuah kode kepada Pak Mun, Pak Mun yang mengerti maksud dari kode tersebut segera bergegas masuk kedalam mobil itu dan mengambil sesuatu dari dalam mobil dan segera memberikannya kepada Nadhira.
Nadhira segera mengajak Sarah untuk masuk kedalam rumah tersebut, hal itu membuat Theo segera berpamitan untuk pulang karena waktunya sudah terlalu malam, hal itu membuat Nadhira membiarkan Theo untuk pergi dari rumahnya tanpa ikut masuk kedalam bersama sama.
Setelah kepergian Theo dari rumah itu, Nadhira segera mengajak Sarah untuk masuk kedalam rumahnya, Nadhira paling tidak suka ribut ribut diluar rumah seperti sekarang ini, yang dimana Sarah terus saja mengomel karena begitu khawatirnya terhadap Nadhira yang beberapa hari ini belum pulang kerumahnya.
Nadhira mengajak Sarah untuk duduk diruang makan mereka, dan Nadhira juga menyuruh Bi Ira untuk duduk bersamanya juga, setelah itu Nadhira menyiapkan sebuah piring untuk Sarah, Bi Ira dan juga dirinya sendiri.
Nadhira mengeluarkan sebuah kotak yang telah berisikan makanan yang ia bawa dari desa itu, nampaknya Bi Ira sudah terbiasa dengan makanan yang dibawa oleh Nadhira akan tetapi Sarah merasa aneh dengan makanan itu.
"Makanan apa ini Dhira? Kok bentuknya seperti ini" Ucap Sarah sambil memperhatikan makanan itu.
"Ini namanya tiwul Oma, enak banget".
"Enak? Oma ngak yakin, bentuknya saja sudah tidak meyakinkan seperti ini, kamu jangan makan makanan sembarangan Dhira".
"Ini bukan makanan sembarangan Oma, makanan ini namanya tiwul, terbuat dari ketela pohon".
"Bagaimana kau tau itu? Apa kau juga melihat langsung proses pembuatannya?".
"Engak sih Oma, tapi rasanya enak juga loh".
Nadhira sangat menikmati makan tersebut dan membuat Sarah hanya menatap dalam diam kearah Nadhira yang sedang memakan makanannya.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1