Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 29


__ADS_3

Panji dan Indah sekarang sudah menjadi orang tua, Indah merasa bahagia, tiada kebahagiaan lain yang begitu luar biasa seperti kebahagiaan yang dialami oleh seorang wanita yang telah melahirkan anak anaknya begitupun dengan seorang lelaki.


Setelah mengadzankan bayinya, Panji memberikan bayi tersebut kepada Indah untuk diberi asi pertama kalinya, Indah menerima bayi tersebut dan mengusap kepala bayi itu dengan pelannya, wajah halusnya membuat Indah tak henti hentinya untuk menyentuhnya.


"Mas, nama apa yang akan kamu berikan kepada anak laki laki pertama kita?". Tanya Indah kepada Panji tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi yang baru lahir itu.


"Karena anak ini punya kelebihan yang dimilikinya berbeda daripada anak anak yang lainnya, keberanian dan juga ketampanan, aku memberikan dia nama Abiyoga Putra Abriyanta".


"Abiyoga anak Ibu dan Ayah". Ucap Indah kepada anak yang baru ia lahirkan.


Beberapa tahun berlalu, Galih dan Abiyoga tumbuh bersama sama, kini usia mereka menginjak usia ke 17 tahunnya, Galih dan Abiyoga terkenal dengan dua saudara yang begitu akurnya dan kehidupan mereka berjalan dengan bahagia dan damainya.


Panji dan Indah hidup begitu sederhana, dan kehidupan mereka tidak pernah kekurangan sedikitpun, Panji dan Indah memperlakukan sosok Galih layaknya anak mereka sendiri tanpa membedakan bedakan kasih sayang yang mereka berikan kepada Galih dan Panji.


Galih tumbuh menjadi sosok pemuda yang cukup tampan dan berwajah bulat, sikap Galih sedikit manja dan selalu dimanjakan oleh Panji untuk menebus kesalahannya kepada istri dari Danuarta, sementara Abiyoga tubuh sebagai pemuda yang tampan dan pemberani sekaligus pemuda yang begitu hebat ilmu beladiri karena Panji mengajarkan semua yang ia bisa kepada Abiyoga.


Abiyoga begitu aktif untuk berlatih ilmu beladiri sementara Galih tidak terlalu menyukai ilmu beladiri karena menurutnya ilmu beladiri tidak wajib untuk dipelajari sehingga Galih tidak begitu tertarik untuk belajar karena setiap belajar ilmu beladiri tubuhnya selalu sakit sakit dan kram karena hal itu.


Hal itu membuat Galih tidak menyukai belajar beladiri, berbeda jauh dari Abiyoga karena Abiyoga begitu aktif untuk belajar beladiri meskipun banyak luka memar didalam tubuhnya akan tetapi Abiyoga tidak pernah menyerah untuk tetap belajar ilmu beladiri sehingga tubuhnya begitu kekar dan sehat.


"Bagus Nak, kau sudah menguasai ilmu beladiri yang Ayah ajarkan selama ini". Ucap Panji yang begitu bangga dengan Abiyoga.


Abiyoga terus menerus mengulang ulang gerakan yang telah Ayahnya ajarkan kepada dirinya, bagaimana caranya berkelahi dengan tangan kosong ataupun dengan senjata tajam, Panji sudah mampu untuk menguasainya setelah berlatih begitu lama sejak dirinya masih berusia 5 tahun, Panji sudah mengajarinya tentang ilmu beladiri.


"Nak ayo makan!". Teriak Indah memanggil anak anaknya dari dalam rumahnya.


"Iya Bu sebentar". Ucap Abiyoga yang masih bermain dengan pedangnya.


"Ayolah Dek, aku lapar nih jangan terus mainan benda tajam itu". Keluh Galih kepada Abiyoga.


"Sudahlah makan dulu sana Kak, nanti aku nyusul, masih nanggung nih".


"Sudah ayo masuk Nak, jangan buat Ibumu menunggu lama". Sela Panji kepada kedua anaknya.


"Tapi Ayah". Ucap Panji dengan beratnya.


"Sudahlah Dek, ayo masuk lapar nih". Ucap Galih dan langsung menarik tangan Abiyoga untuk masuk kedalam rumahnya.


Galih adalah Kakak dari Abiyoga begitupun dengan Abiyoga, Abiyoga adalah Adik dari Galih, meskipun usia mereka berbeda beberapa bulan saja akan tetapi sikap keduanya berbeda jauh, Abiyoga mampu bersikap begitu dewasa dan mampu mengambil keputusan keputusan yang begitu sulitnya, sementara Galih selalu mengambil keputusan dengan penuh emosi dan selalu ingin menang sendiri.


Meskipun keduanya sama sama didikan dari Panji akan tetapi keduanya memiliki latar belakang yang berbeda sehingga menyebabkan sikap dan sifat mereka begitu berbeda satu sama lain, akan tetapi Galih dan Abiyoga tidak pernah berselisih walaupun dalam hal yang kecil sampai hal besar sekalipun.

__ADS_1


Panji segera masuk kedalam rumahnya diikuti oleh Galih yang sedang menarik tangan Abiyoga untuk masuk kedalam rumah tersebut, Galih begitu tidak sabaran ketika membahas soal makanan dan hal hal yang menyenangkan.


"Kak, pelan pelan dong, jangan tarik tarik bengini lah". Protes Abiyoga yang tangannya ditarik oleh Galih untuk masuk kedalam rumah tersebut.


"Mangkanya lebih cepat sedikit, masak baru begini saja sudah ngeluh, huh dasar lemah".


"Bukan begitu Kakak, lihat nih!". Ucap Panji sambil menunjuk kearah lengan bajunya.


"Hahaha .....". Tawa Galih yang tengah menertawakan Abiyoga.


Ketika Galih menoleh kearah lengan yang ditunjukkan oleh Abiyoga, membuatnya tertawa terbahak bahak seketika itu juga, baju yang dikenakan oleh Abiyoga robek begitu saja karena tarikan darinya sehingga membuat Galih tertawa begitu leluasanya.


Tanpa sadar Galih telah merobek baju Abiyoga dengan begitu saja, hal itu membuat Galih tertawa ketika melihat wajah Abiyoga yang mulai cemberut karena baju yang ia pakai robek, Abiyoga sangat takut kalau Ibunya sampai marah kepadanya karena hal seperti ini.


Kelakuan keduanya selalu membuat Panji tersenyum dengan sendirinya, Panji tidak pernah marah dengan tingkah anak anaknya itu, justru ia merasa bahagia ketika melihat anak anaknya yang saling bercanda seperti itu asalkan keduanya tidak pernah bertengkar.


"Jangan tertawa seperti itu Kak, kemasukan lalat baru tau rasa kau". Ucap Panji dengan tersenyum yang mencurigakan.


"Ngak lah, ngak mungkin lalat masuk kedalam, palingan sandal kau yang masuk". Ucap Galih sambil memandang kearah kedua kaki Abiyoga.


Abiyoga telah memakai sendal yang salah, yang ia pakai adalah sendal milik Ibunya, karena terburu buru membuat dirinya salah memakai sandal sehingga yang ia pakai saat ini adalah sendal milik Ibunya.


"Kakak!! kau penyebabnya". Keluh Panji dengan kencangnya karena ulah dari Kakaknya.


"Jangan ngada ngada deh Kak". Ucap Abiyoga dengan wajah yang datar.


Abiyoga dan Galih memang sering bercanda bersama meskipun begitu Abiyoga selalu mengalah dari Galih agar tidak terjadi selisih antara keduanya yang tanpa sengaja.


Panji dan Indah merasa bahagia ketika melihat anak anaknya akur dan damai seperti ini, meskipun banyak perbedaan antara keduanya akan tetapi keduanya mampu untuk saling melengkapi satu sama lain, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena apa yang dialami oleh Abiyoga yang begitu sangat membutuhkan perhatian khusus dari Panji.


Abiyoga beberapa kali mengalami sebuah gempuran energi didalam tubuhnya sehingga membuat Panji lebih memperhatikan tentang apa yang terjadi dengan Abiyoga, beberapa kali Abiyoga merasakan kesakitan yang mendalam karena energi yang ada didalam tubuhnya itu yang mampu membuat sebuah gejolak.


Panji mencoba segala cara untuk dapat mengendalikan energi yang ada didalam tubuh putranya itu, akan tetapi cara cara tersebut tidak mampu untuk menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh Abiyoga, cara cara tersebut hanya mampu untuk meredakan sakit sementara.


Indah merasa begitu khawatir dengan apa yang terjadi kepada anaknya itu, Galih merasa seperti diabaikan begitu saja oleh Panji dan juga Indah sehingga membuat Galih merasa iri karena Ayah dan Ibunya lebih memperhatikan Abiyoga daripada dirinya.


"Mas, apa yang sebenarnya terjadi kepada Abiyoga? Kenapa dia jadi seperti ini?". Ucap Indah yang tengah melihat tubuh Abiyoga yang terbaring tidak berdaya diatas ranjang.


"Tenanglah sayang, tidak akan terjadi sesuatu dengan anak kita, aku akan berusaha untuk mengendalikan energi dari keris pusaka xingsi itu yang sedang bergejolak, Abiyoga akan baik baik saja". Jawab Panji dengan menepuk pundak Indah pelan.


"Kenapa keris itu bisa berada didalam tubuhnya Mas? Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku tidak mengetahuinya?".

__ADS_1


"Abiyoga adalah keturunan dari Pangeran Kian, energi dari keris itu begitu kuat sehingga siapapun yang memilikinya dirinya mampu untuk bertarung dengan mahluk gaib sekalipun itu dan keris itu hanya mampu dimiliki oleh keturunan pertamanya, dan akan berpindah dengan sendirinya ketubuh orang yang telah menjadi keturunannya".


"Apakah ada cara untuk mengurangi rasa sakitnya Mas, tolong carikan cara itu agar Abiyoga tidak merasakan sakit seperti ini". Ucap Indah dengan berlinangan air mata yang telah menetes dari pelupuk matanya.


"Hanya Ayah yang tau bagaimana cara untuk menghilangkan rasa sakit itu, jika rasa sakit itu mampu untuk dipindahkan kedalam tubuhku aku pasti akan melakukan hal itu".


Tanpa keduanya sadari bahwa Galih sedang mendengarkan perbincangan mereka berdua dibalik tirai bambu yang ada dirumah tersebut, Galih yang mendengar itu hanya mampu mengepalkan tangannya dengan eratnya.


"Seharusnya aku yang mendapatkan keris itu bukan Yoga, padahal aku adalah anak pertama mereka tapi kenapa ini semua tidak adil, kenapa? kenapa harus Yoga yang mendapatkannya? dia adalah Adikku dan aku adalah Kakaknya tapi kenapa dia justru yang mampu memiliki keris itu?". Batin Galih menjerit.


Sejak saat mengetahui bahwa Abiyoga yang mendapatkan keris pusaka xingsi hal itu membuat sikap Galih berbeda daripada sebelumnya, Galih yang dulunya sering bercanda gurau dengan keluarganya sekarang menjadi begitu pemarah dan mengambil tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu.


Panji yang dapat merasakan perubahan sikap dari anaknya itu segera mencari tau karena apa anaknya berubah tiba tiba, Panji segera mengajak Anaknya untuk pergi ke suatu tempat.


"Kenapa Ayah membawaku kemari?". Ucap Galih dengan nada kesalnya.


"Kenapa kau terlihat begitu marahnya kepada Ayah? Apakah Ayah telah melakukan sebuah kesalahan kepadamu Nak? Sehingga kau begitu amarah seperti ini kepadaku, katakan kepada Ayahmu ini, apa yang telah Ayah lakukan kepadamu sehingga membuatmu tidak lagi tersenyum kepadaku?". Tanya Panji sambil memegangi pundak anaknya.


"Kenapa Ayah lebih memperhatikan Abiyoga daripada diriku?". Tanya Galih dengan menatap kedua mata Panji.


"Karena Adikmu sedang sakit Nak, Ayah harus mencari cara untuk dapat menyembuhkannya".


"Apakah karena keris pusaka xingsi?". Tanya Galih dan langsung to the point kepada Ayahnya.


"Keris puasaka apa yang kamu maksud itu Nak? Ayah sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan itu". Panji begitu terkejut ketika anak angkatnya itu menyinggung sebuah keris pusaka dihadapan saat ini.


"Ayah tidak perlu berbohong kepadaku, aku sudah tau semuanya ketika Ayah berbicara kepada Ibu disaat Abiyoga tidak sadarkan diri bukan? Aku adalah anak pertama kalian tapi kenapa justru Abiyoga yang mendapatkan semuanya, Kenapa Ayah Kenapa?".


Dugaan Panji memang benar bahwa Galih telah mendengar semuanya tanpa ia sadari sedikitpun itu, Galih memang benar telah diangkat sebagai anak pertama dari pasangan itu, akan tetapi dirinya bukanlah keturunan dari Pangeran Kian sehingga keris pusaka xingsi tidak mampu menyatuh dengan dirinya, keris pusaka xingsi justru masuk kedalam tubuh Abiyoga.


Karena hal itulah terjadinya sebuah permusuhan antara anak anaknya, Galih begitu membenci Abiyoga sementara Abiyoga tidak pernah membenci Galih meskipun galih selalu melontarkan perkataan perkataan ysng kasar untik Abiyoga.


"Itu tidak seperti apa yang kau bayangkan Nak".


"Lalu apa Ayah? Apakah memang benar aku bukanlah anak Ayah sehingga aku tidak mendapatkan apa yang Abiyoga dapatkan saat ini? Kenapa Ayah?".


Panji tidak mampu berkata kata karena pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Galih kepada dirinya, bagaimana cara untuk dapat menjelaskan dengan baik kepada Galih agar tidak adanya kesalah pahaman diantara mereka sehingga hubungan mereka kembali seperti semula yang hidup dengan rukunnya.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Panji, hal itu membuat Galih segera bergegas meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewanya karena Ayahnya sama sekali tidak peduli dengannya.


"Nak!! tunggu Ayah! Ayah mohon dengarkan penjelasan Ayah!". Ucap Panji yang berusaha untuk menghentikan langkah dari Galih yang hendak meninggalkan tempat itu

__ADS_1


Tanpa berpikir Panjang, Galih segera bergegas meninggalkan tempat tersebut, ia tidak ingin lagi bertemu dengan Abiyoga beserta keluarganya lagi.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


__ADS_2