
Raka mempermainkan para dukun itu dengan kemampuan yang ia bisa, sehingga fokus mereka sekarang tertuju kepada Raka dan melupakan tujuan utama mereka yakni menangkap Nadhira yang sedang dibawa kabur oleh seseorang.
Raka berusaha sebisa mungkin untuk mengecoh orang orang yang sedang mengejar Nadhira itu, sehingga Haris begitu leluasanya untuk segera membawa Nadhira pergi dari tempat itu.
Haris segera menggendong Nadhira untuk menjauh dari tempat itu, Haris tau bahwa ada Raka yang sedang menghalangi mereka untuk mengejarnya yang sedang membawa Nadhira saat ini, dan Haris tanpa berpikir panjang segera meninggalkan tempat itu bersama dengan Nadhira yang ada didalam gendongannya saat ini.
"Hey berhenti! Jangan bawa gadis itu pergi!!".
"Cepat tangkap orang itu! jangan biarkan dia membawanya pergi sekarang!".
"Berhenti! Jangan lari".
"Cepat tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos dari kejaran kita!".
Ketika Haris sedang berlari menggendong Nadhira seketika itu juga beberapa orang tengah muncul dibelakangnya dan berusaha untuk menghentikan langkahnya yang sedang membawa Nadhira pergi.
Haris tidak menyangka bahwa mereka akan dapat mengejarnya dengan begitu cepatnya seperti saat ini, dengan sekuat tenaganya Haris berusaha untuk berlari menjauh dari tempat itu.
"Om bagaimana sekarang? Tinggalkan saja aku disini Om, jika Om bersamaku sekarang, Om akan dalam bahaya karena diriku" Ucap Nadhira yang merasa panik karena beberapa orang tengah mengejar keduanya saat ini.
"Tidak Nak, Om tidak akan melakukan itu".
"Mereka hanya mengincar diriku Om, jika Om berlari tanpa diriku maka Om akan baik baik saja".
"Apapun yang terjadi nantinya, jangan khawatirkan soal diriku, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan dirimu".
"Tapi Om....."
"Tidak ada kata tapi, berdoalah semoga hari ini segera berlalu".
Haris terus berusaha untuk berlari demi membawa Nadhira pergi dari tempat itu, Nadhira juga segera membaca ayat ayat suci Alqur'an yang ia hafal didalam hatinya dan terus berdoa semoga keduanya selamat dari kejaran orang orang jahat itu.
Dalam kegelapan malam hari ini, Haris segera membawa Nadhira masuk kedalam sebuah hutan yang Nadhira kenal sebagai jalan menuju kedesa Mawar Merah, karena tingginya rerumputan yang ada ditempat itu membuat Haris dengan mudahnya lolos dari kejaran orang orang itu.
Haris tidak memiliki pilihan lain untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu, akhirnya Haris mencoba untuk membawa Nadhira masuk kedalam goa tempat dimana dirinya tinggal selama ini, sesampainya digoa itu Nadhira tiba tiba tertolak untuk dapat masuk kedalamnya.
Nadhira sama sekali tidak memiliki darah keturunan dari Pangeran Kian sehingga Nadhira tidak dapat masuk kedalam goa itu dengan begitu mudahnya, sehingga Haris menurunkan Nadhira diatas sebuah batu yang berada didekat goa itu.
"Sial, pelindung goa ini sangat kuatnya, aku tidak bisa membawamu masuk kedalamnya Nak".
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Om?". Tanya Nadhira sambil menahan rasa nyerinya.
"Pasti ada cara agar kamu dapat masuk kedalamnya sampai gerhana bulan merah ini selesai".
"Aku takut Om, jika mereka bisa sampai menyusul kita ketempat ini".
"Mereka tidak akan bisa kemari, Raka telah mengecoh orang orang itu".
"Apa Om mengenali Raka?".
"Bagaimana bisa aku tidak mengenalinya Nak, semua teman gaib Rifki Om mengetahuinya, termasuk bocah itu".
Haris kebingungan harus seperti apa sekarang, untuk membawa Nadhira masuk kedalam goa terlarang itu tidak akan bisa begitu saja karena perlindungan yang diberikan oleh Pangeran Kian ditempat itu begitu kuatnya.
"Apa yang harus aku lakukan" Guman Haris pelan.
Haris begitu bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, nyawa gadis yang ada dihadapannya sedang terancam saat ini, apalagi dirinya sudah berjanji kepada anaknya untuk melindungi gadis yang dicintai oleh anaknya, ditengah tengah kebingungannya itu tiba tiba terdengar suara lantang dari dalam goa itu.
"Tidak usah membawanya masuk, aku akan melindungi tepat ini agar mereka tidak dapat melihat ataupun merasakan keberadaan kalian berdua".
Tiba tiba muncullah seseorang dari dalam goa, orang itu sudah mengetahui kedatangan dari Haris dan Nadhira, Nadhira begitu sangat mengenali orang itu, orang itu tidak lain adalah Aryabima, Kakek dari Rifki dan guru beladiri dari Nadhira.
"Kakek". Ucap Nadhira pelan.
"Bawa dia kebelakang goa ini, ada goa lain yang tersembunyi dibalik goa ini, mungkin kita bisa menolongnya disana". Ucap Aryabima.
__ADS_1
"Baik Ayah". Jawab Haris.
Haris segera mengangkat tubuh Nadhira pergi dari tempat itu dan diikuti oleh Aryabima dibelakangnya, ketiganya segera bergegas menuju ketempat yang ditunjukkan oleh Aryabima, goa itu memang sengaja dibangun secara tersembunyi dari goa yang sesungguhnya sehingga siapa saja bisa masuk kedalamnya dengan mudahnya tanpa harus memiliki darah keturunan dari Pangeran Kian.
Memang semua orang dapat masuk kedalam kedalamnya akan tetapi jika goa itu telah diberi pagar gaib oleh Aryabima maka tidak ada yang dapat masuk kedalam kecuali atas perintah darinya.
Sesampainya ketiganya didepan goa yang Aryabima maksud, Haris segera membawa Nadhira untuk masuk kedalamnya sesuai perintah dari Aryabima, setelah ketiganya masuk kedalam, Aryabima segera memberi pagar gaib ditempat itu agar tidak ada yang mampu menerobosnya meskipun dengan ilmu kebatinan mereka tidak akan sanggup untuk masuk.
Haris segera membaringkan tubuh Nadhira diatas bebatuan yang telah diberi anyaman daun kelapa dengan pelannya, dan menata kaki Nadhira yang terluka dengan pelannya agar Nadhira tidak merasakan nyeri lebih parah lagi daripada sebelumnya.
"Nak, apa yang terjadi dengan kakinya?". Tanya Aryabima yang baru saja melihat keadaan kaki Nadhira yang terlihat memarnya.
"Mereka dengan kejinya mematahkan kaki anak ini Ayah dengan cara memukulinya beberapa kali setelah aku memeriksanya, luka yang dialami oleh anak ini begitu parah". Jawab Haris.
"Astaga... Cepat cari bahan bahan herbal untuk mengurut kakinya, atau anak ini tidak bisa menggerakkan kakinya lagi". Ucap Aryabima dengan paniknya setelah mendengar ucapan Haris.
"Baik Ayah, aku akan segera datang".
Haris segera bergegas dari tempat itu untuk mencari tanaman yang dapat mengobati luka Nadhira, sementara Aryabima duduk disamping Nadhira yang terbaring dengan lemasnya, Aryabima menatap kearah lutut Nadhira yang sudah menghitam.
"Kakek, apakah aku sudah tidak bisa berjalan lagi dengan normal menggunakan kedua kakiku setelah ini?". Ucap Nadhira dengan sedihnya.
"Untuk sementara waktu kau tidak bisa menggerakkan kakimu dengan leluasanya Nak, atau cideranya akan semakin parah nantinya, kau masih bisa berjalan ataupun belajar beladiri lagi tapi setelah kau sembuh". Ucap Aryabima sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Kek, aku tidak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaanku seperti ini".
"Kau bisa tinggal ditempat ini Nak sampai kau benar benar sembuh, Kakek akan terus merawatmu dan mengawasimu untuk memastikan bahwa lukamu sudah baik baik saja, soal orang orang terdekatmu itu, aku akan mengaturnya sehingga mereka tidak akan curiga tentang kepergianmu atau bahkan untuk mencarimu nantinya".
"Terima kasih Kakek, karena telah menolongku".
"Tidak masalah, sini biar Kakek lihat lukamu".
Aryabima menyentuh luka Nadhira dan mencoba merasakan seberapa parahnya luka tersebut, ketika tangan Aryabima mulai menyentuhnya Nadhira menjerit kesakitan dan mere***as ujung bajunya dengan sangat eratnya, Aryabima mulai mengurut perlahan kaki Nadhira hal itu membuat Nadhira mengigit bibirnya agar suaranya kesakitannya tidak terdengar.
"Teriak saja Nak, agar perasaanmu merasa lega, tidak ada yang mendengarnya, jadi kau tidak perlu khawatir soal itu". Ucap Aryabima ketika melihat Nadhira mengigit bibirnya.
Teriakan memilukan Nadhira dapat terdengar diseluruh ujung goa itu, hal itu membuat Haris tergerak hatinya, dirinya tidak tega melihat Nadhira seperti itu apalagi dirinya memiliki anak perempuan yang usianya masih kecil.
"Ayah, bagaimana dengan lukanya? Apakah bisa disembuhkan?". Tanya Haris.
"Lukanya cukup parah Nak, butuh waktu berhari hari atau berbulan bulan lamanya agar anak ini bisa berjalan dengan normalnya lagi, biarkan anak ini tinggal disini sampai lukanya benar benar sembuh".
"Tapi Kakek, bagaimana dengan Papaku, Ibu tiriku begitu jahat, aku takut Papaku akan kenapa kenapa karenanya". Ucap Nadhira yang tiba tiba teringat dengan kekejaman Sena kepadanya.
"Jangan khawatir, aku akan melakukan sesuatu untukmu agar tidak mencarimu ataupun menghilang kekhawatiranmu kepada Papamu itu". Ucap Haris.
"Terima kasih Om, Kakek. Karena telah membantuku saat ini, aku tidak tau lagi bagaimana tanpa adanya kalian berdua saat ini, mungkin mereka akan dengan mudah mendapatkan permata itu".
Aryabima mengangguk kepada Nadhira dan mulai memberikan obat obatan herbal itu kepada lutut Nadhira untuk meringankan rasa sakit yang Nadhira rasakan saat ini dan sesekali dirinya mengurut kaki Nadhira untuk membenarkan sendi sendi Nadhira yang telah bergeser karena pukulan itu.
Pijatan itu dua kali jauh lebih sakit daripada ketika Nadhira merasakan pukulan pukulan yang diberikan kepadanya sebelumnya, hal itu membuat Nadhira berteriak kesakitan akan tetapi hal itu sama sekali tidak menghentikan Aryabima untuk tetap memijatnya dan membenarkan persendiannya.
Didalam goa itu suara kesakitan Nadhira terus menggema disepanjang goa, suara Nadhira pun memantul begitu saja sehingga membuat rintihan tangis Nadhira mampu terdengar berulang ulang kali.
"Tahan ya Nak, sebentar lagi pemijatan ini akan selesai, dan kita tinggal menunggu cideramu ini sembuh saja" Ucap Aryabima.
Nadhira tidak bisa berkata kata lagi selain mengangguk kepada Aryabima, kakinya terasa begitu ngilunya saat ini, bahkan ini jauh lebih sakit daripada sebuah pisau yang pernah menancap dalam perutnya waktu itu.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya Aryabima selesai untuk membenarkan persendian Nadhira, setelah itu Aryabima segera melilitkan sebuah kain di persendian Nadhira dan mengikatnya dengan kuat agar cidera yang dimiliki oleh Nadhira tidak bertambah parahnya.
Ketika kain panjang itu melilit dan terikat kuat dikaki Nadhira, Nadhira merasa sangat nyaman dengan ikatan itu dan rasa sakit yang dialami oleh Nadhira perlahan lahan mulai menghilang karena ikatan kain yang ada dikakinya dengan eratnya.
"Untuk sementara waktu jangan banyak bergerak dulu Nak, sampai kondisi kakimu benar benar sembuh atau tidak kakimu akan mengalami cidera yang jauh lebih parah dari sebelumnya".
"Apakah setelah ini aku bisa berjalan lagi Kek?".
__ADS_1
"Insya Allah bisa Nak, tapi untuk saat ini kau harus menurut dengan apa yang Kakek ucapkan agar kakimu itu cepat sembuh".
"Iya Kek, Nadhira tidak akan membantah ucapan dari Kakek".
"Kalau begitu minum obat ini telebih dulu" Ucap Aryabima sambil menyodorkan segelas minuman kepada Nadhira dan langsung diterima olehnya.
Nadhira sangat ragu untuk meminumnya karena dirinya tidak mengetahui seberapa pahitnya obat itu, Nadhira sangat tidak menyukai makanan ataupun minuman yang terasa sangat pahit sehingga dirinya tidak langsung meminumnya.
"Kenapa? Apa kau meragukan minuman itu?" Tanya Aryabima ketika melihat Nadhira tak kunjung untuk meminum obat itu.
"Apakah obat ini terasa pahit Kek?" Tanya Nadhira dengan sangat ragunya.
"Tidak, obat ini tidak pahit tapi justru obat ini menyegarkan kok, aku tau kau pasti kelelahan karena kejadian hari ini dan obat ini juga bisa menambah staminamu Nak, cepat minum".
"Baik Kek".
Glek... Glek... Glek...
Nadhira segera meminum obat tersebut ternyata didalam obat itu terdapat pula daun mint sehingga ketika obat itu melewati tenggorokan Nadhira, Nadhira merasa obat itu begitu segarnya sehingga rasa sedikit pahit dari obat itu bukanlah masalah bagi Nadhira untuk meminumnya.
"Gimana? Apakah pahit?" Tanya Aryabima melihat Nadhira sudah menghabiskan obat itu.
"Tidak Kek, obat ini sedikit manis dan sejuk".
"Ya sudah istirahatlah, jangan khawatir kau akan aman ditempat ini, aku akan menjagamu".
"Iya Kek".
Nadhira segera membaringkan tubuhnya diatas bebatuan itu, Nadhira merasa sedikit tenang untuk saat ini karena dirinya yakin bahwa Ayah dan Kakek Rifki akan melindunginya ditempat itu.
Tiba tiba Nadhira merasakan sesuatu didadanya, seakan akan adanya kekuatan yang sedang bergejolak didalamnya, kedua mata Nadhira mulai memerah menahan rasa sakit yang ia rasakan, Haris dan Aryabima merasakan bahwa energi dari permata iblis itu mulai bergejolak tidak stabil.
"Kek...". Ucap Nadhira dengan lemahnya.
Mendengar ucapan itu membuat Aryabima yang tadinya sedang berada dikejauhan dari Nadhira segera bergegas menuju ketempat dimana Nadhira terbaring saat ini dan segera memeriksa keadaan Nadhira yang tiba tiba kesakitan itu.
"Ayah apa yang terjadi dengan anak ini". Tanya Haris dengan khawatirnya.
"Sepertinya gerhana bulan merah sudah berada di puncaknya saat ini, sehingga energi permata itu menjadi tidak stabil seperti ini".
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ayah? Kasihan anak ini kesakitan seperti itu".
"Hanya Ratu iblis yang bisa mengendalikannya Nak, kau harus secepatnya untuk menemukan Ratu iblis itu dan membawanya kemari".
"Dimana aku harus menemukan Ratu iblis itu Ayah? Terlahir kali aku melihatnya dia berada didekat rumah Nadhira, mungkin aku bisa menemukan disana".
Haris segera bergegas pergi akan tetapi Aryabima segera menghentikan langkahnya.
"Ratu iblis sudah tidak ada ditempat itu, sebaiknya kau pergi kedesa Mawar Merah sekarang".
"Baik Ayah".
Haris segera bergegas pergi dari goa meninggalkan Nadhira beserta Aryabima, Nadhira merasa seperti sebuah aliran listrik yang sangat kuat tengah mengalir didalam tubuhnya, beberapa kali Nadhira merintih kesakitan dengan apa yang ia alami saat ini.
"Nadhira anak yang kuat, tahan ya Nak, kamu pasti bisa melewatinya" Ucap Aryabima.
Nadhira memejamkan matanya dan sesekali ia teringat dengan ucapan Rifki kepadanya, bahwa Nadhira harus tetap hidup agar dirinya dapat bertemu kembali dengan Rifki.
"Aku harus bertahan demi Rifki" Batin Nadhira.
Nafas Nadhira mulai memburu karena energi permata yang sedang bergejolak didalam tubuhnya, keringat Nadhira mulai bercucuran dengan derasnya, rasa sakit yang ada dikakinya perlahan lahan suduh mulai tidak ia rasakan lagi justru saat ini jantungnya yang terasa begitu nyeri.
Aryabima memegangi kening Nadhira menggunakan ibu jarinya untuk menyalurkan energi positif yang ada disekitarnya untuk Nadhira, seketika itu juga Nadhira merasa begitu hangat karena adanya energi itu yang membuat Nadhira merasa nyaman.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
__ADS_1
...Terima kasih ...