
Tanpa Panji sadari bahwa apa yang tengah ia lakukan diawasi oleh seseorang saat itu, dan melihat para penduduk mulai mendekat orang tersebut segera lenyap dari tempat itu untuk melaporkan kepada atasannya tentang apa yang terjadi malam ini.
Panji bergegas meninggalkan desa tersebut ketika perhatian seluruh warga sudah tidak tertuju kepadanya, akan tetapi tanpa dia sadari bahwa Indah sedang mengikutinya dari belakang, hanya Indah lah yang mengetahui tentang kepergiannya itu sehingga Indah segera bergegas untuk menyusulnya.
"Berhenti!"
Panji segera menghentikan langkahnya ketika ada seseorang yang menyuruhnya untuk berhenti, ia tidak menduga bahwa Indah sudah berada dibelakangnya dengan cepatnya dirinya menyusul Panji.
"Kenapa kau tiba tiba pergi dari tempat itu tanpa bilang bilang kepada warga desa? Apa kau tidak mengetahui bahwa mereka tengah mencarimu". Ucap Indah kepada Panji yang tengah menghentikan langkahnya itu.
"Bukankah kau sudah mengetahui bahwa aku bukanlah manusia yang baik? Untuk apa aku terus terusan berada didalam desa itu untuk bertemu warga desa? Lantas kenapa kau sendiri yang menghentikan langkahku untuk pergi dari desa ini? Aku adalah seorang pembunuh sama persis seperti yang kau lihat saat ini". Ucap Panji tanpa menoleh.
Entah mengapa setelah mengetahui bahwa pemuda yang menarik perhatiannya itu adalah seorang pembunuh tanpa perasaan, hal itu sama sekali tidak membuat Indah merubah kekagumannya kepada sosok Panji itu.
"Kau telah menyelamatkan nyawa dari Adikku, dan aku harus berterima kasih kepadamu karena itu, meskipun kau telah membunuh banyak orang saat ini tapi kau juga telah menolong beberapa anak yang lainnya sehingga tidak ada korban dari mereka semua".
"Tidak perlu, aku melakukan ini dengan ikhlas tanpa perlu imbalan sedikit pun ataupun ucapan terima kasih darimu atau yang lainnya".
"Siapa bilang aku akan memberimu imbalan atas apa yang sudah kau lakukan tadinya kepada semua anak anak itu, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu saja lagian kau sendiri tidak begitu tertarik dengan harta benda bukan begitu?". Gerutu Indah karena ucapan Panji.
"Lantas apa yang kau inginkan dariku Nona? Aku sendiri bahkan tidak memiliki harta benda untuk kau mintai, aku harus pergi Nona, biarkan aku pergi untuk dapat melanjutkan perjalananku".
"Tunggu dulu!".
Indah segeran mengeluarkan sesuatu dari balik saku bajunya, sebuah kain panjang bertuliskan nama Indah dikain tersebut dan sebotol obat serbuk yang digunakan untuk obat luar.
"Akh...". Desah Panji ketika obat itu menempel pada luka yang ada dilengannya.
Panji begitu terkejut ketika tiba tiba Indah menempelkan obat luar itu kedalam lukanya dan membalutnya dengan kain yang cukup panjang dengan cara mengikatkannya dengan erat.
"Apakah itu sakit?". Tanya Indah yang khawatir melihat ekspresi wajah Panji yang seakan akan tengah kesakitan dengan obat yang ia berikan.
"Tidak". Jawab Panji singkat.
"Tahan ya, aku akan melakukannya dengan pelan pelan, agar dirimu tidak merasakan sakit dari obat ini, memang rasanya sangat perih dan panas tapi obat ini begitu mujarab untuk luka luar".
Panji hanya menganggukkan kepalanya, entah mengapa obat tersebut terasa begitu perih ketika bertatapan dengan luka, tidak biasanya Panji akan merasa kesakitan bahkan sayatan sebuah pedang pun tidak mampu untuk menyakitinya.
"Apa kau pernah terluka sebelumnya?". Tanya Panji tiba tiba kepada Indah.
"Tidak ada seorang manusia pun yang hidup tanpa adanya luka, semua orang juga pernah terluka begitupun diriku ini, aku juga pernah merasakan perihnya obat ini, sampai sampai aku menangis tapi obat ini begitu ampuh karena obat ini adalah obat turun menurun dari leluhurku".
Panji begitu malu ketika mengakuinya bahwa dirinya tengah merasakan kesakitan, sehingga dirinya dengan cepat menarik tangannya dari pegangan tangan Indah dan sesegera mungkin mengalihkan pandangannya dari wajah gadis yang ada dihadapannya itu.
"Kenapa kau sangat mempedulikan diriku? Aku masih bisa mengatasinya sendiri tanpa perlu bantuan darimu, bisakah kau mengabaikan urusanku dan urus dirimu sendiri? Memang siapa aku bagi dirimu?". Ucap Panji yang masih mengalihkan pandangannya dari Indah.
"Aku tidak tau, setelah bertemu dengan dirimu aku teringat kembali dengan teman masa kecilku yang telah lama hilang, jika ada didekatmu rasanya seperti berada didekat teman masa kecilku". Ucap Indah dengan nada sedihnya ketika Panji mengatakan hal itu kepadanya.
Panji mengatakan hal itu bertujuan agar gadis yang ada dihadapannya ini akan berhenti untuk mengikutinya karena dirinya tidak ingin membahayakan nyawa orang lain yang ada disampingnya, Panji mengetahui dengan pasti bahwa perjalanan hidupnya akan penuh dengan bahaya sehingga ia tidak ingin bahwa dirinya akan membahayakan orang yang ada disekitarnya.
"Aku bukan teman masa kecilmu, dan berhentilah menganggapku sebagai teman masa kecilmu".
"Aku tau itu bahwa kau memang bukan teman masa kecilku, tapi aku merasa seperti begitu dekat denganmu".
"Mungkin hanya perasaanmu saja Nona".
"Tidak! Ini bukan hanya perasaan semata saja, aku merasakan kita begitu dekat sebelumnya".
__ADS_1
"Lantas apa yang kau inginkan Nona? Bisakah aku pergi sekarang?".
"Aku hanya ingin mengetahui namamu, bolehkah?". Tanya Indah dengan ragunya.
"Panggil saja aku pengelana".
"Aku tau itu bahwa kau adalah pengelana, tapi pengelana juga punya nama bukan?".
"Sebaiknya kau segera pulang kerumahmu Nona, adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang diawang awang". Ucap Panji yang melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu.
Tanpa kata kata Panji segera meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan, Indah merasa diabaikan oleh pemuda itu sehingga dirinya menampakkan ekspresi kesal kepada pemuda itu.
"Lihat saja nanti, jika kau adalah jodohku, kita pasti akan bertemu kembali suatu saat nanti, ingat itu! Kau tidak akan bisa meninggalkanku seperti ini, kau harus membawaku pergi denganmu". Guman Indah dengan kesalnya kepada Panji.
Ucapan Indah seketika membuat Panji menghentikan langkahnya untuk beberapa saat, tanpa Indah sadari bahwa Panji tengah tersenyum tipis mendengar gumanan dari Indah.
"Gadis ini benar benar gadis yang aneh yang pernah aku temui selama ini, sudah mengetahui tentang sadisnya sikapku masih saja beranggapan bahwa aku adalah jodohnya". Batin Panji.
Panji menggeleng gelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dipikirkan oleh seorang wanita kepadanya, menurutnya ucapan dan tindakan seperti wanita itu sangat berlawanan.
Panji terus melanjutkan perjalanan menuju kedesa sebelah, tanpa mempedulikan sosok Indah yang sedang marah kepadanya karena tindakannya yang meninggal sosok gadis itu seorang diri ditempat seperti ini yang membuat gadis itu tidak bisa berkata kata dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
Indah hanya pasrah ketika sosok pemuda yang berhasil menarik perhatiannya itu pergi meninggalkan, melihat kepergian dari Panji Indah hanya mampu meratapinya dan bergegas pergi dari tempat itu menuju kerumahnya sambil mengerutu tentang apa yang dilakukan oleh pemuda itu kepadanya saat ini.
Ditengah tengah perjalanan Panji tiba tiba terbatuk batuk tersedak ludahnya sendiri tanpa sebab, hal itu membuatnya berhenti ditengah tengah perjalanan.
Uhuk... Uhuk...
"Apakah gadis itu tengah menyumpahiku saat ini? Aku sama sekali tidak paham dengan sikap seorang wanita, apakah Ibuku dulu juga seperti itu kepada Ayahku?". Gumannya.
Panji tidak habis pikir dengan sikap seorang wanita, Panji terus kepikiran mengenai apa yang dikatakan oleh Indah kepadanya, selama ini ia tidak pernah memikirkan seorang gadis seperti saat ini entah mengapa Indah membuatnya seperti ini.
*****
Panji berhenti disebuah tempat untuk mengistirahatkan dirinya setelah berjalan cukup lama dari desa sebelumnya, Panji berada disebuah aliran sungai yang cukup deras dan membasuh mukanya.
"Kenapa aku masih memikirkan tentang gadis itu sekarang? Sadar Panji dia tidak layak untuk kau fikirkan, dia bahkan bukan mahrammu".
Panji terus menampar pelan kedua pipinya, entah kenapa dirinya terus memikirkan tentang gadis yang sama sekali tidak ia kenal itu, mungkinkah dia sedang berada difase jatuh cinta? Tapi bagaimana bisa seseorang yang tidak memiliki hati ampun untuk berada difase itu.
Sejak kematian dari kedua orang tuanya, sikap Panji berubah drastis, yang dulunya sering tersenyum dan tertawa bersama kedua orang tuanya kini telah menjelma sebagai pemuda yang anti dengan senyuman dan bahkan canda gurauan.
Yang dahulunya tidak tegaan kepada orang lain sekarang berubah menjadi sosok pemuda yang kejam dan sadis, seperti sekarang ini dan dengan mudah membunuh seseorang dalam keadaan tersenyum sekalipun.
Ketika cukup lama beristirahat Panji segera melanjutkan perjalanannya lagi, untuk mendatangi tempat tempat yang paling ditakuti oleh penduduk desa karena adanya perampok dan lain sebagainya.
"Aku dengar disinilah tempat para perampok itu berada, aku harus lebih berhati hati untuk melangkah selanjutnya". Guman Panji pelan.
Panji menatap kearah sekitarnya, dirinya tidak menemukan kecurigaan apapun ditempat itu, menurut informasi yang ia dapatkan bahwa ditempat yang ia datangi kali ini adalah sebuah markas dimana para perampok yang ditakuti itu berada.
Panji terus mengembara kemana mana untuk mencari tempat tempat yang berbahaya dan ditakuti oleh orang orang desa seperti tempat yang memiliki aura keabnormalan ataupun tempat tempat yang digunakan untuk kejahatan seperti sekarang ini.
Tiba tiba 3 orang muncul dihadapan Panji dari balik semak semak yang ada didepannya, melihat kemunculan mereka membuat Panji tersenyum kearah 3 orang itu, dengan senyum yang mengandung sejuta makna.
"Akhirnya kalian muncul juga, setelah sekian lama aku menunggu kemunculan kalian disini, kalian datang tepat waktu". Ucap Panji lirih.
"Serahkan harta yang kau punya kepada kami!". Ucap salah satu dari ketiga orang itu.
__ADS_1
"Maafkan aku sebelumnya, aku tidak punya harta yang kalian cari sedikitpun itu, tapi jika kalian bertanya aku punya apa maka aku hanya punya nyawa yang harus dipertahankan".
"Maka berikanlah nyawamu itu kepada kami!". Tanpa aba aba ketiganya segera menyerang kearah Panji.
Panji yang diserang secara tiba tiba membuatnya hanya bisa menghindar dari serangan tersebut tanpa mampu untuk menyerang balik, pertarungan itu berlangsung cukup lama akan tetapi Panji hanya bermain main dengan mereka dan membuat mereka perlahan lahan mulai merasa lelah dan nafas mereka mulai memburu.
"Dengan kekuatan kalian bertiga yang seperti ini, kalian ingin mengambil nyawaku?". Tanya Panji disela sela pertarungan itu.
"Siapa kau sebenarnya?".
"Sudah ku bilang, aku hanyalah penduduk biasa dan tidak memiliki harta seperti yang kalian inginkan itu, akan tetapi aku hanya memiliki satu nyawa yang harus aku pertahanan".
Dhuak.... Bhukk...
Panji menendang salah satu dari mereka dengan kerasnya sehingga salah satu dari mereka terpental dan menabrak kedua orang itu, sehingga ketiganya terjatuh diatas tanah secara bersamaan.
Tendangan yang diberikan oleh Panji adalah tendangan yang menggunakan tenaga dalamnya sehingga tendangan itu menimbulkan rasa sakit yang begitu dalam yang dirasakan oleh orang yang telah mendapatkan tendangan itu.
"Ampuni kami Tuan". Ucap ketiganya dengan cepatnya.
"Sudah berapa nyawa yang mati ditangan kalian? Kita sama sama pembunuh, dan prinsip seorang pembunuh adalah membunuh atau dibunuh dan tidak ada kata ampun didalamnya, bukan begitu teman? Jika aku tidak bisa melawan kalian, apa kalian akan melepaskan aku nantinya?".
"Tolong jangan bunuh kami Tuan, kami mohon, ampunilah nyawa kami, kami masih memiliki anak kecil untuk dirawat".
"Apa kalian pernah berpikir, setiap orang yang kalian bunuh adalah orang orang yang memiliki keluarga untuk dihidupi?".
"Kami tidak akan mengulanginya lagi Tuan, tolong lepaskan kami bertiga".
"Baiklah aku akan melepaskan kalian, enyahlah dari sini sekarang, dan jangan sampai aku mendengar bahwa kalian masih kembali merampas harta milik orang lain yang lewat jalan ini".
"Terima kasih Tuan, terima kasih".
Panji segera membalikkan badannya membelakangi ketiga orang itu untuk melanjutkan perjalanannya, akan tetapi siapa sangka bahwa ketiga orang itu segera berdiri dan bersiap untuk menyerang kearah Panji dengan senjata yang sudah berada ditangan ketiganya.
"Haa.....". Ucap pemimpin preman itu memberi arahan kepada anak buahnya untuk menyerang kearah Panji dengan bersama sama.
"Awas!!!".
Bhuk... Bhak... Jlebb...
Ketika mendengar teriakan itu membuat Panji segera Reflek untuk menyerang ketiganya dengan ganas, pertarungan itu begitu singkat karena Panji segera menarik pedang kecilnya dan menancapkannya kedalam jantung ketiganya masing masing sehingga pedang itu mampu merenggut nyawa ketiganya dengan sangat cepatnya.
"Sudahku katakan bukan, prinsip seorang pembunuh yaitu membunuh atau dibunuh, kalian telah mencari masalah dengan orang yang tidak tepat untuk berhadapan dengan kalian maka nikmatilah kematian kalian". Ucap Panji kepada mayat para perampok itu.
Tak beberapa lama kemudian seorang gadis datang mendekat kearah Panji, gadis itu tidak lain adalah Indah yang sedari tadi tengah mengikuti Panji yang berniat untuk masuk kedalam hutan tempat para perampok sebelumnya.
Panji sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran dari Indah karena sebelumnya dirinya sudah mengetahui tentang keberadaan dari Indah yang tengah mengikutinya dengan diam diam dan teriakan itu berasal dari mulut gadis itu.
"Kau tidak apa apa?". Tanya Indah kepada Panji.
"Seperti yang kau lihat saat ini, kenapa kau terus mengikutiku?". Tanya Panji tanpa menoleh kearahnya.
"Aku hanya khawatir denganmu, apa luka yang ada ditanganmu sudah sembuh?".
"Bukankah aku pernah bilang kepadamu, urus saja urusanmu sendiri, jangan ikut campur dengan urusanku". Tegas Panji kepada Indah.
"Sampai kapan kau akan terus berjalan tanpa arah sendiri seperti ini?".
__ADS_1
"Sampai aku mati".
"Bisakah kau membuka hatimu untuk diriku? Biarkan aku selalu menemanimu seperti dirimu yang selalu menemaniku ketika kita kecil dahulu".