Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Rendi kecelakaan


__ADS_3

Satpam itu terus bercerita kepada Nadhira sambil terus membalut luka yang ada ditangan Nadhira menggunakan kasa dan plester untuk menutupi luka tersebut dan menghentikan pendarahan.


"Ayo fighter lagi Pak!" Ajak Nadhira.


"Ngak Non, tangan Non Dhira masih terluka seperti itu, Bapak mana berani".


"Oma bilang aku ratu disini, jadi Bapak ngak boleh membantah keinginanku, pokoknya aku mau berlatih sama Bapak lagi, sekarang!"


"Tapi Non bagaimana kalau Nyonya besar sampai melihatnya, saya takut kena omel lagi Non".


"Oma lagi tidur Pak, dia ngak bakal lihat juga kok ayolah Pak, bantu aku berlatih untuk menyambut dia pulang nanti, aku tidak mau sampai kalah bertarung dengannya lagi nanti".


"Tapi tangan Dhira masih terluka seperti itu, lukanya juga belum kering nanti kalau bertambah parah gimana?" Ucap Bi Ira.


"Dhira ngak apa apa Bu, luka ini juga bukan masalah buat Dhira kok, Pak Santo sih ngak mau nurutin keinginan Dhira" Ucap Nadhira menyalahkan Santo yang selaku satpam dirumah tersebut.


"Lah kenapa saya jadi yang disalahkan Non?"


"Terus siapa yang salah? Sudahlah, Dhira mau masuk saja, Pak Santo ngak asik, Dhira marah sama Pak Santo".


"Non, jangan marah dong sama saya".


"Berantem sekarang pake tongkat atau diam? Pak Santo pilih yang mana?"


"Iya Non, saya diam".


"Terserah Pak Santo!"


Nadhira menggentakkan kakinya berkali kali dengan jengkelnya, setelah itu dirinya bergegas ke arah gazebo untuk mengambil tongkatnya kembali dan memendekkannya dengan hati hati agar tidak mengenai tangannya yang terluka itu.


Nadhira masuk kedalam rumahnya karena rasa sebalnya terhadap Santo yang tidak mau menuruti keinginannya untuk menemani dirinya berlatih beladiri.


"Pemirsa telah terjadi sebuah laka kecelakaan dijalan raya gustam nomer 51, diduga sopir truk yang bermuatan besi mengalami rem blong sehingga menabrak beberapa mobil yang ada didepannya ....." Suara channel tv yang sedang ditonton Sarah.


"Oma?"


Bhuk..


Ketika sedang fokus mendengar berita yang ada didalam tv tersebut, tiba tiba Nadhira memanggil dirinya hingga membuatnya terkejut sampai menjatuhkan remot yang ada ditangannya.


"Sejak kapan kamu masuk Nak?"


"Barusan Oma".


Nadhira berjalan kearah Sarah dan mengambil remot yang terjatuh itu, setelah itu Nadhira duduk disebelah Sarah untuk menyaksikan berita yang disiarkan ditv itu bersama dengan Omanya.


"Ini berita yang dibicarakan oleh Bu Ira didepan, cepet banget sampai sampai media sudah ada disana"


"Namanya juga dunia semakin canggih Nak".


Berita yang ada didalam tv itu sama persis dengan apa yang dibicarakan oleh Bi Ira dan juga penjual sayur itu, jalan raya gustam adalah sebuah jalan raya yang berkisar sekitar 10km dari rumah Nadhira yang baru sehingga kabar tersebut langsung didengar olehnya dengan mudah.


Nadhira dengan serius mendengarkan setiap informasi berita yang disampaikan oleh wartawan yang ada dilokasi kejadian, Nadhira dapat melihat bahwa ada begitu banyak korban jiwa yang ada didalam kecelakaan tersebut.


Kamera berita tersebut berhenti tepat digambar sebuah mobil hitam yang nampak begitu ringsek karena terhampit oleh truk dan mobil yang ada didepannya, mobil itu nampak begitu menyedihkan.


"Bentar bentar Oma, bukannya itu mobil Papa? Aku sangat hafal dengan nomor plat mobilnya, warna mobilnya juga sama" Ucap Nadhira ketika melihat plat nomor yang tertera dalam mobil itu.


"Bagaimana mungkin itu mobil Rendi"


"Dhira yakin itu adalah mobil Papa".


"Mobil seperti itu banyak Dhira"


Nadhira begitu terkejut ketika melihat berita yang ditayangkan didalam tv tersebut, Nadhira tertegun sesaat dan kembali menjatuhkan remot yang ada ditangannya itu, setelah melihat keadaan mobil yang ringsek tersebut membuat Nadhira merasa sangat sedih, firasatnya memang tidak salah mobil itu adalah mobil pribadi milik Rendi.


"Oma itu mobil Papa, aku harus kesana untuk melihat kondisi Papa"


"Dhira tunggu!"


Nadhira segera bangkit dari duduknya dan berlari kearah kamarnya tanpa mempedulikan ucapan Sarah yang menghentikan dirinya yang terus melangkah itu, Nadhira bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas miliknya.


"Pak Mun, cepat bawa aku kerumah sakit sekarang!" Teriak Nadhira memanggil supir pribadinya.


"Iya Non"


Mendengar teriakan Nadhira tersebut membuat heboh seluruh penghuni dirumah itu, Nadhira segera bergegas masuk kedalam mobil yang terparkir dihalaman rumahnya itu dengan tergesa gesa diikuti oleh seseorang yang dipanggil Pak Mun.


Pak Santo segera bergegas untuk membukakan pintu gerbang itu dengan lebar lebar agar mobil yang dinaiki oleh Nadhira dapat melewatinya, setelah mobil itu melaju dengan kecepatan keluar dari rumah itu Pak Santo tiba tiba merasa cemas.

__ADS_1


"Bi, apa yang terjadi dengan Non Dhira?" Tanya Pak Santo kepada Bi Ira.


"Semoga bukan hal yang buruk".


"Apa luka ditangannya semakin parah? Sampai sampai dia tergesa gesa seperti itu".


"Entahlah Pak, semoga Dhira baik baik saja".


"Ada apa dengan Nona?" Tanya seorang wanita yang sedang menyirami bunga dihalaman.


"Ngak tau juga, tadi sih Non Dhira terluka karena tongkatnya itu, eh tiba tiba dia minta dibawa kerumah sakit, semoga saja lukanya ngak bertambah parah" Jawab Pak Santo.


"Astaga... Kenapa dia bisa terluka Pak"


"Ya mana saya tau"


Nadhira yang berada didalam mobil itu merasa tidak tenang karena dirinya takut terjadi sesuatu dengan Rendi, melihat mobil yang dikendarai oleh Rendi yang ringsek membuat Nadhira makin bertambah cemasnya karena hal itu.


"Pak, bisa lebih cepat sedikit?"


"Saya tidak berani cepat cepat Non, jalannya ramai soalnya" Jawab Pak Mun.


Nadhira meneteskan air matanya tiba tiba, dapat terdengar suara isak tangis dari mulutnya, Nadhira merasa tidak tenang sebelum dirinya bisa memastikan bahwa Rendi baik baik saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi Non?" Tanya Pak Mun.


"Papa kecelakaan Pak"


"Innalilahi, Non tenang ya, kita akan segera sampai dirumah sakit".


"Aku tidak bisa tenang Pak, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Papa".


"Minum dulu Non" Ucap Pak Mun sambil menyerahkan air mineral gelas kepada Nadhira.


"Terima kasih Pak".


Nadhira sehingga meminum air putih itu dan berharap bahwa kekhawatirannya tidak terjadi kepada Papanya, Nadhira berharap bahwa mobil itu dikendarai oleh orang lain dan bukan Rendi.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mobil yang dinaiki oleh Nadhira segera memasuki halaman parkir rumah sakit itu, Nadhira segera bergegas menuju kedalam rumah sakit tersebut dan mendatangi pihak resepsionis untuk menanyakan kondisi pasien yang mengalami kecelakaan.


"Mbak apa disini ada pasien yang bernama Rendi?" Tanya Nadhira.


"Maaf Mbak, nama lengkapnya siapa ya?"


Petugas resepsionis tersebut segera memeriksa data data pasien yang ada didalam rumah sakit tersebut dengan seksama melalui komputer yang ada didepannya saat ini.


"Pasien atas nama Rendi Wijaya masih dalam tahap penanganan Mbak, dia mengalami luka yang sangat serius dan sangat parah akibat kecelakaan itu".


"Apa"


Tubuh Nadhira seakan akan mendadak terasa lemas seketika itu juga, Pak Mun menuntunnya untuk duduk ditempat yang tidak jauh dari tempat dimana kedua berdiri saat ini, air mata Nadhira mengalir dengan derasnya seolah olah tidak ada yang menghentikan air mata itu mengalir.


"Papa pasti akan baik baik saja kan Pak Mun?" Tanya Nadhira dengan mulut yang bergetar.


"Sabar ya Non"


"Tidak! Dia pasti baik baik saja, dia tidak akan meninggalkan diriku, Papa harus bertahan demi diriku" Linangan air mata yang tidak mampu dicegah lolos begitu saja.


Nadhira segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju keruang UGD yang ada ditempat itu untuk melihat kondisi dari Rendi, dari kejauhan dirinya dapat melihat dari cendela kaca sosok Rendi yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah dibajunya.


"Papa harus selamat demi Dhira, jangan tinggalkan Dhira seperti ini Pa" Ucap Nadhira pelan.


"Sabar Non, beliau pasti akan baik baik saja".


"Aku berharap juga begitu Pak".


Nadhira menempelkan tangannya kearah kaca itu, perasaan begitu hancur ketika melihat kondisi Papanya seperti itu, ingin sekali dirinya menggantikan Rendi yang terbaring tidak berdaya seperti itu.


Tiba tiba sebuah tangan menariknya dan mendorong tubuhnya hingga Nadhira terjatuh dilantai, Nadhira seakan akan tidak memiliki tenaga untuk bangkit kembali, sementara Pak Mun segera mendatangi Nadhira saat ini untuk membantunya berdiri.


"Puas kamu! Kamu penyebab Papa kecelakaan sepeda ini Dhira!" Teriak seseorang yang tidak lain adalah Amanda.


"Non Dhira!" Ucap Pak Mun memegangi Nadhira.


"Maksud kamu apa Manda?" Tanya Nadhira sambil mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat wajah Amanda.


"Gara gara kamu Papa terbaring tidak sadarkan diri seperti ini Dhira! Seharusnya kau mati saja waktu itu, tak henti hentinya Papa terus mencari dirimu meskipun dalam keadaan kelelahan seperti itu, dia terus berharap untuk bertemu denganmu! Semua gara gara kamu Dhira, seandainya kamu mati waktu itu, Papa tidak akan seperti ini".


"Aku juga tidak berharap bahwa aku dapat selamat Manda! Seandainya aku dapat memilih, aku tidak ingin diselamatkan! Aku sama sekali tidak menyangka akan jadi seperti ini" Teriak Nadhira dan berusaha untuk bangkit lagi.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini! Aku tidak ingin melihatmu ada disini!" Amanda mengusir Nadhira dari situ.


"Aku tidak mau, aku ingin menemani Papa disini, biarkan aku disini Manda, aku tidak akan pergi meninggalkan Papa sampai aku tau bahwa Papa sudah baik baik saja"


"Papa tidak memerlukan dirimu saat ini Dhira, kau hanyalah pembawa masalah bagi Papa, aku tidak akan membiarkan dirimu untuk menemui Papa, pergi kamu dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu lagi disini".


"Aku tidak akan pergi, Papa adalah Papaku, aku bisa berbagi kasih sayang Papa dengan dirimu Manda, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan Papa, biarkan aku disini, aku ingin memastikan bahwa Papa baik baik saja".


"Kau hanya membuat Papa semakin menderita Dhira, apa yang kami alami saat ini semua gara gara dirimu, kau pisahkan aku dari Mamaku dan sekarang kau membuat Papa menderita seperti ini, aku sangat membencimu Dhira!"


"Kenapa Manda? Apa salahku pada dirimu sehingga kau seperti itu kepadaku, aku hanya ingin menemui Papa hiks.. hiks.. aku tau kau pasti terluka karena kejadian waktu itu, maafkan aku Manda, biarkan aku bertemu dengan dirinya" Tangis Nadhira pecah.


"Permisi! Mbak Mbak tolong tenang ya, biarkan pasien yang lainnya istirahat, jangan bikin keributan ditempat ini, jika kalian ingin ribut sebaiknya mencari tempat yang lain"


Tiba tiba seorang suster datang dan menengahi keduanya untuk menghentikan keduanya yang terus beradu mulut dan menganggu ketenangan yang ada didalam rumah sakit itu.


"Non, apa sebaiknya kita tunggu diluar saja?" Bisik Pak Mun.


"Tidak Pak, aku ingin melihat kondisi Papa".


Tak beberapa lama kemudian keluarlah seseorang dokter yang telah memeriksa kondisi Rendi dari dalam ruangan itu, Nadhira dan Amanda segera menyambutnya dengan beberapa pertanyaan mengenai kondisi Rendi.


"Keluarga Pak Rendi?"


"Saya Dok" Jawab Nadhira dan Amanda secara bersamaan.


"Ada hal penting yang ingin saya bicara"


"Baik Dok" Jawab Nadhira.


"Ikut saya keruangan saya sekarang"


"Iya Dok" Ucap Nadhira.


"Tidak! Papa adalah Papaku, seharusnya aku yang pergi bukan kamu" Ucap Amanda menghentikan Nadhira.


"Biarkan aku yang pergi Manda, aku hanya ingin memastikan keadaan Papa, aku akan pergi setelah mengetahui bahwa Papa baik baik saja".


"Baiklah, awas saja kamu sampai datang kemari lagi"


Nadhira hanya mengangguk dan mengikuti langkah dokter tersebut, keduanya segera menuju kearah ruang yang tidak terlalu jauh dari tempat itu, Nadhira segera masuk kedalamnya bersama dengan dokter tersebut dan langsung duduk dikursi yang telah disediakan diruangan itu.


"Gimana kondisi Papa saya Dok?" Tanya Nadhira.


"Menurut pemeriksaan kami, saudara Rendi mengalami kerusakan pada organ tubuhnya, lebih tepatnya pada ginjalnya karena benturan keras dari kecelakaan itu, kami membutuhkan donor ginjal yang tepat untuk dapat menyelamatkan nyawa pasien, sementara dirumah sakit ini belum ada pendonor".


"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa Papa saya Dok?" Tanya Nadhira dengan sedihnya.


"Maafkan kami sebelumnya Mbak, jika pasien tidak segera mendapatkan donor ginjal, kami tidak yakin mampu menyelamatkan nyawanya".


Nadhira menangis ketika mengetahui kondisi Papanya yang mengalami kerusakan pada ginjalnya, Nadhira tidak menyangka bahwa hal ini terjadi kepada orang yang dianggap penting oleh Nadhira.


"Ambil ginjal saya Dok, saya siap melakukan itu, saya adalah Anaknya dan pasti ginjal saya cocok dengan dirinya" Ucap Nadhira dengan mantapnya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.


"Tapi Mbak, Mbak harus memikirkan dengan matang matang soal mendonorkan ginjal itu, apa Mbak sanggup menanggung resiko setelah proses pendonoran itu selesai?"


"Apapun resikonya saya tidak akan keberatan Dok, saya siap menanggungnya nanti, meskipun harus mengorbankan nyawa saya sendiri saya tidak masalah, asalkan Papa dapat selamat".


"Baiklah jika itu keputusan Mbaknya, Mbak akan melalui proses pemeriksaan terlebih dulu sebelum melakukan transfusi ginjal".


"Iya Dok".


Nadhira segera dibawa kesebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan dan kesiapan untuk melakukan operasi donor ginjal, disana dirinya juga diberi arahan oleh dokter tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan setelah operasi selesai dilaksanakan.


Dokter itu juga memberitahukan makanan apa saja yang boleh untuk dikonsumsi orang yang memiliki satu ginjal, dan makanan apa saja yang tidak boleh untuk dikonsumsi, Nadhira hanya mendengarkannya dan sesekali memahami ucapan dokter itu.


Disatu sisi suster suster yang ada disana segera membawa Rendi menuju keruang operasi untuk melakukan pemindahan ginjal tersebut, hal itu membuat Amanda bertanya tanya kemana mereka akan membawa Rendi pergi.


"Apa yang terjadi dengan Papa saya?" Tanya Amanda kepada suster tersebut.


"Kami akan segera mengoperasinya karena ada kerusakan pada ginjalnya, dan syukurlah ada orang baik yang mau mendonorkan ginjalnya untuk pasien".


"Alhamdulillah, kalau boleh tau siapa orang itu Sus?"


"Maaf Mbak, identitasnya disembunyikan, kami tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Mbak"


"Kenapa dia menyembunyikan identitasnya? Lalu bagaimana kami bisa berterima kasih kepadanya".


"Pendonor hanya bilang kepada saya bahwa berterima kasihlah dengan cara mendoakan semoga keduanya selamat dalam operasi ini"

__ADS_1


"Iya Sus"


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 terima kasih, Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ...


__ADS_2