Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sisi lain Nadhira


__ADS_3

Nadhira terdiam beberapa saat karena ucapan Nimas yang mengatakan bahwa Nandhita tidak bisa untuk melihat Nimas dan hanya Nadhira saja yang mampu untuk melihatnya, Nadhira lupa bahwa tidak semua orang bisa melihat alam gaib.


"Ah aku lupa kalau Kakak tidak bisa melihatnya, sudah lupakan saja Kak"


"Apa mahluk itu adalah hantu? Dhira jangan buat Kakak takut dong"


"Bukan hantu Kak, dia itu iblis menyeramkan, kukunya panjang wajahnya serem banget, terus banyak bercak darah ditubuhnya sampai sampai pakaiannya berubah menjadi merah karena darah.


Mendengar ucapan Nadhira membuat Nimas memandangi tubuhnya sendiri dengan sangat merasa ragu dengan hal yang dikatakan oleh Nadhira.


"Apakah aku seburuk itu? Tidak! Dhira kau berbohong! Enak saja kau mengataiku menyeramkan, bekas darah? Darah apa an? Wajahku kan sudah bersih dan cantik lagi, aku kan imut, lebih imut daripada dirimu tau!" Teriak Nimas yang menggelegar dikepala Nadhira.


"Diamlah, jangan membuatku pusing! Cantik dari mana kau? Apa ada yang memuji dirimu selama ini?" Bentak Nadhira kepada Nimas.


"Ada dong, buktinya Mbak Kuntilanak biasanya memuji kecantikanku, ataupun Paman Pocong juga sering tertarik dengan diriku" Ucap Nimas dengan sombongnya.


"Lama lama pusing aku mengurusimu".


"Aku juga tidak mau diurus olehmu".


"Oke fine, kita musuhan!"


"Musuhannya jangan lama lama, atau ku rebut ragamu itu, lagian didalam tubuhmu ada permata milikku".


"Enak saja mau merebut tubuhku, jangan harap!"


"Bodoamat lah".


"Dhira! Jangan ngomong sendiri dong, Kakak takut nih".


"Kenapa Kakak takut dengan dia? Dia kan ngak kelihatan kenapa harus ditakuti? Lagian dia juga tidak bisa menyentuh kita" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah ruang hampa.


"Dhira pliss... Jangan buat Kakak merinding dong".


Mendengar ucapan Nadhira seketika membuat Nandhita merasa merinding dihadapan Nadhira, bagaimana tidak? Jika kalian berhadapan dengan seseorang yang sedang berbicara dengan mahluk astral maka otomatis rasa merinding itu akan tiba tiba hadir dipikiran kalian.


Nandhita menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi kepada Nadhira sebelumnya, mengenai sosok David dan juga Sarah ( Ibu dari Lia dan David ) yang tiba tiba muncul dalam kehidupan mereka, awalnya Nandhita tidak mempercayai hal itu akan tetapi setelah Nenek dan Kakeknya menceritakan asal usul Lia akhirnya dirinya harus mempercayainya.


David memberitahukan hal ini kepada Nandhita bahwa Nadhira telah dirawat disebuah rumah sakit karena tindakannya yang ceroboh itu, Nandhita segera bergegas menuju kerumah sakit yang telah diberitakan kepadanya sebelumnya.


Sesampainya disana Nandhita segera bergegas mencari ruang rawat dimana Nadhira berada saat itu dan menemukan Nadhira tengah terbaring tidak sadarkan diri bersama dengan Reno dan David yang menemaninya didalam ruangan itu.


Keduanya menceritakan kepada bahwa Nadhira telah melewati masa kritisnya dan sekarang hanya tinggal menunggu kesadarannya saja, semalaman itu keduanya tidak terlelap sedikitpun dan keduanya tetap fokus kepada setiap pergerakan yang akan dilakukan oleh Nadhira.


"Selama ini Kakak kemana? Kenapa tidak pernah menemui Dhira, aku pikir Kakak telah melupakan Dhira dan Kakak tidak mau menemui Dhira lagi, Kakak tau? Dhira sangat merindukan Kakak".


"Maafkan Kakak ya, mulai sekarang kita akan bersama dan tidak akan berpisah lagi, Dhira mau kan ikut Kakak? Tinggal bersama Kakak".


"Dhira mau Kak".


"Setalah Kakak mendapatkan kabar tentang dirimu, Kakak langsung buru buru datang menemuimu".


"Kakak ngak usah khawatir seperti itu, Dhira baik baik saja kok, Dhira hanya lelah saja dan ingin beristirahat sebentar, Dhira ngak bakal kenapa kenapa kok, percayalah kepada Dhira Kak".


"Bagaimana Kakak bisa tidak menghawatirkan dirimu Dhira? Kau bahkan sampai tidak sadarkan diri seperti itu, kenapa kamu melakukan itu Dhira? Bagaimana kalau kau tidak bisa diselamatkan saat ini".


"Jika itu terjadi pun aku tidak masalah Kak, justru aku akan merasa senang saat ini, seenggak aku bisa bertemu dengan Mama kembali, itu sudah cukup bagiku Kak, aku sangat merindukan Mama".


"Jangan katakan seperti itu Dhira, Kakak ngak akan bisa kehilangan dirimu, sudah cukup Kakak kehilangan Mama, Kakak tidak ingin kehilanganmu lagi, jangan tinggalkan Kakak".


"Dhira lapar Kak, apa Kakak tidak kasihan dengan diriku yang kelaparan ini?".


"Dhira mau makan apa?"


"Dhira mau nasi ayam kecap buatan Kakak".


"Nanti ya Dek, ngak ada dapur disini, nanti kalau Dhira sudah pulang Kakak buatkan yang special untuk Dhira, sekarang Dhira mau makan apa? Biar Kakak belikan".


"Makan seadanya saja Kak".


"Biar aku belikan saja" Ucap Bi Ira.


"Apa Bibi tidak keberatan?" Tanya Nandhita.

__ADS_1


"Tidak kok, didepan rumah sakit banyak yang jualan nasi dan makanan"


"Kalau begitu baiklah, ini uangnya Bi, Bibi juga beli nasi ya, sisanya untuk Bibi" Ucap Nandhita sambil menyodorkan dua lemar uang seratus ribuan.


Bi Ira segera menerima uang itu dan bergegas pergi dari ruang rawat Nadhira untuk membelikan Nadhira nasi, dan kini hanya tinggal Nadhira dan Nandhita seorang.


Setelah sekian lama menunggu kedatangan Bi Ira, akhirnya Bi Ira sampai juga diruangan rawat itu sambil membawa beberapa kantung plastik ditangan kanan dan kirinya, Nadhira nampak bersemangat untuk menyantap makanan itu.


"Ayo Bi makan bersama" Ajak Nandhita.


"Bibi nanti saja makannya, yang penting Dhira makan dulu" Ucap Bi Ira.


Nandhita segera menerima bingkisan tersebut dan terlihat sebuah nasi yang berlauk ayam goreng tertera didalam bingkisan tersebut, Nandhita mulai menyuapi Nadhira dengan nasi hangat yang ada didalam bungkusan itu.


"Enak Dek?" Tanya Nandhita.


Nadhira mengangguk, "Kakak tidak ikut makan?"


"Kakak sudah makan tadi sebelum Dhira bangun".


"Oh".


Nadhira menyantapnya dengan sangat lahap, akan tetapi dirinya merasa tidak nyaman dengan caranya memakan makanan itu karena masih ada selang oksigen yang ada di hidungnya sehingga dirinya tidak bisa leluasa untuk menikmatinya.


Nadhira menyantap makanan tersebut hingga dirinya kenyang dan Nadhira segera menghentikan tangan Nandhita yang terus menyuapinya, setelah itu Nandhita membantu Nadhira untuk minum.


"Sudah kenyang?" Tanya Nandhita.


"Alhamdulillah sudah Kak".


Tak beberapa lama kemudian datanglah salah satu dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan Nadhira untuk memeriksa perkembangan kesehatan Nadhira, tidak hanya itu mereka juga membawakan beberapa suntikkan untuk Nadhira.


Nadhira yang melihat suntikan tersebut hanya bisa melotot, dokter tersebut segera memeriksa keadaan Nadhira mulai dari denyut nadinya, sistem pernafasannya, suhu tubuh Nadhira, dan juga beberapa bagian yang lainnya.


"Apa masih ada keluhan Dhira?" Tanya dokter kepada Nadhira.


"Tidak ada Dok".


"Disuntik dulu ya" Ucap dokter tersebut kepada Nadhira seraya mempersiapkan suntikan untuknya.


"Mampus, rasakan itu Dhira, haha..." Nimas menertawakan nasib Nadhira.


"Jangan berdebat lagi! Aku bosan jika harus berdebat dengan dirimu terus" Batin Nadhira menjerit.


"Tumben bosan, biasanya saja paling semangat kalau mengajak aku berdebat".


Ketika cairan itu disuntikkan kepada selang infus Nadhira, Nadhira merasakan tangannya kembali nyeri karena obat tersebut sudah masuk kedalam tubuhnya, Nadhira nampak menyengir karena itu.


Setelah memberi obat kepada Nadhira, mereka segera bergegas pergi dari tempat itu untuk memeriksa pasien yang lainnya, kepergian mereka membuat Nadhira mengibas ngibaskan tangannya untuk menghilangkan rasa nyerinya.


"Dhira jangan lakukan itu, nanti darahmu naik ke selang infus lo" Ucap Nandhita.


"Sudah naik pun" Ucap Nadhira dengan santainya ketika melihat darahnya ada di selang infusnya.


"Kan Kakak bilang juga apa, sudah jangan banyak gerak, apa mau Kakak ikat?"


"Tidak, Dhira tidak mau diikat".


"Ya sudah diam".


"Baiklah, Kak boleh aku katakan sesuatu yang sangat penting kepada Kakak? Tapi Kakak jangan bilang bilang kepasa siapapun itu" Ucapan Nadhira berubah menjadi serius.


"Apa yang ingin kau katakan Dhira? Katakan saja kepada Kakak, Kakak tidak akan mengatakannya kepada siapa siapa kok"


"Janji?" Ucap Nadhira sambil mengangkat kelingkingnya didepan Nandhita.


"Janji" Nandhita meraih kelingking Nadhira dengan kelingkingnya.


"Sebenarnya..... Apa boleh selang oksigen ini dilepas Kak? Hidungku sangat gatal Kak, ingin sekali aku menggaruknya tapi selang oksigen ini menghalangi tanganku, infus ini juga, perih banget tanganku Kak, boleh aku melepaskannya?".


"Dhira Dhira, lemah banget sih kamu jadi cewek itu, gitu aja sudah mengeluh sakit, lalu apa kabar dengan luka lukamu selama ini? Biasanya coba mana ada rasa sakit itu" Ucap Nimas dengan sinisnya.


"Biarlah, ini pertama kali aku bertemu Kak Dhita setelah sekian lama" Jawab Nadhira dengan membatin.

__ADS_1


"Tidak boleh! Itu demi kesembuhanmu Dhira, tubuhmu belum benar benar sembuh, masih lemah begitu mau dilepas semuanya".


"Dhira sudah baik baik saja Kak, Dhira kan sudah bangun dari tidur panjang".


"Tidak! Sekali tidak iya tidak Dhira".


"Sudah Nak, dengar kan saja apa yang Kakakmu katakan, itu juga demi kebaikanmu" Sela Bi Ira ketika mendengar percakapan keduanya.


"Baiklah kalau begitu Bu, aku ingin tidur sebentar ya Kak, Dhira merasa ngantuk banget sekarang, nanti bangunkan Dhira kalau udah adzan dhuhur ya Kak, kalau Dhira ngak bangun Kakak cubit Dhira saja".


"Iya Dek, tidurlah biar Kakak bantu" Ucapnya sambil membantu menidurkan Nadhira kembali.


Nadhira Kembali terlelap dalam tidurnya yang indah, Nadhira merasa bahwa tubuhnya terasa sakit semua karena terlalu banyak suntikan yang diberikan kepadanya, baru sebentar dirinya memejamkan matanya dia sudah kembali terlelap dalam tidurnya mungkin karena ngantuknya yang terlalu parah dan efek dari obat yang disuntikkan kepadanya.


"Kenapa bisa ada bekas goresan memajang seperti ini dilehernya? Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya" Guman Nandhita ketika melihat bekas goresan tipis dileher Nadhira saat ini.


"Dhira adalah gadis penyuka beladiri, apapun akan dia lawan jika dia merasa bahwa ada kejahatan disekitarnya, aku tidak tau apa yang terjadi kepada dirinya hingga lehernya tergores seperti itu, tetapi ketika dia keluar denganku dia pernah melawan seorang pencopet untuk mengambil kembali tas milik orang lain tanpa berpikir panjang".


"Apa! Apakah sekarang masih tetap sama bertindak gegabah seperti itu Bi?"


"Belakangan ini Bibi tidak mengetahuinya, entah apa yang terjadi dengan dirinya, dia suka sekali mempertaruhkan nyawanya sendiri".


Nandhita menatap kearah Nadhira dengan herannya, entah apa yang terjadi kepada Nadhira selama ini, Nandhita tidak mengetahui apapun itu.


"Meskipun Nadhira tidak pernah menceritakan apapun kepadaku, aku tau apa yang dia rasakan selama ini, dan bekas luka itu pasti karena dirinya berantem dengan orang lain".


"Berantem? Kenapa dia harus berantem?"


"Aku ngak tau, waktu itu dia kembali kerumah dengan seorang pemuda yang bernama Rifki, dia sudah terluka seperti itu, dan dia bilang bahwa dia terjatuh hingga terluka, tapi aku tidak percaya bagaimana bisa luka terjatuh sama persis dengan luka sayatan".


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Dhira Dhira, kenapa hidupmu bisa jadi seperti ini, selalu saja bermain main dengan luka".


"Ya elah, dia belum tau aja kalau Adiknya suka berkelahi dan bermain main dengan nyawanya, kalau dia tau pasti dia akan jantungan karena Dhira" Ucap Nimas tapi tidak mampu didengar oleh Nandhita dan Bi Ira karena mereka berbeda alam.


Melihat Nadhira yang kembali terlelap dalam tidurnya yang indah membuat Nandhita dan Bi Ira kembali mengobrol, ini pertama kalinya mereka bertemu karena selama ini Nandhita tidak pernah pulang kerumahnya sehingga Bi Ira sedikit merasa canggung dengan kehadiran dari Nandhita.


"Aku dengar dengar dulu Bibi adalah teman akrab dari Mama Lia waktu Mama masih kecil, apakah itu benar Bi?" Ucap Nandhita.


"Iya Non, kami teman sejak kecil".


"Jangan panggil Dhita seperti itu Bi, Dhita bukan atasan dari Bibi, panggil Dhita dengan nama Dhita saja itu lebih baik".


"Baik Dhita" Ucapnya dengan sedikit ragu.


"Apa Mama pernah menceritakan sesuatu tentang keluarganya? Semisal tentang saudara kandungnya ataupun tentang dirinya yang berpisah dari orang tua kandung kepada Bibi?


"Tidak pernah Dhit, aku juga terkejut ketika orang itu mengaku bahwa dia adalah saudara kandung dari Lia dan Lia sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu kepadaku sebelumnya"


"Aku merasa aneh kenapa orang itu tiba tiba datang, tapi aku bersyukur karena kehadirannya Nadhira selamat dari kejadian malam itu kalau tidak mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Adikku lagi".


Bi Ira hanya bisa mengangguki ucapan Nandhita, memang benar, jika bukan karena David yang datang dalam kehidupan Nadhira mungkin Nadhira tidak akan bertahan hidup sampai saat ini karena racun itu yang terus mengalir keseluruh tubuh Nadhira.


Tidak ada hal yang lebih membahagiakan lagi bagi Bi Ira ataupun Nandhita selain dapat melihat Nadhira yang kembali bernafas dan masih berada didunia ini, meskipun dunia ini hanyalah sementara saja.


"Oh iya Bi, boleh aku tau sejak aku pergi dari rumah waktu itu, apa saja yang terjadi dengan Dhira didalam rumah itu? Apakah Papa dan Mama tiri itu memperlakukan Nadhira dengan tidak baik?"


"Bukan hanya kasar, bahkan Nadhira pernah berhenti bernafas sebelumnya dengan luka memar yang ada didalam tubuhnya".


"Jadi apa yang mereka katakan benar, lalu bagaimana hal itu bisa terjadi Bi?"


"Ibu tirinya itu selalu memperlakukan Nadhira dengan sangat kejam sampai sampai kamar pribadi Nadhira dibuat seakan akan kedap suara agar ketika dia menghajar Nadhira seluruh anggota keluarga tidak mendengarnya"


"Kurang ajar sekali orang itu!"


"Lalu Dhira sendiri juga pernah mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa dari saudara tirinya yang telah diculik".


"Maksudnya Bi aku tidak mengerti".


Bi Ira menceritakan sebuah kejadian yang telah lama terjadi kepada Nadhira itu, disaat Nadhira harus terluka karena sebuah tusukan demi menyelamatkan Amanda yang tengah diculik oleh para penculik itu.


Meskipun Nadhira terbaring dalam keadaan kritis karena luka tusukan itu, Rendi sama sekali tidak pernah datang untuk menjenguknya ataupun memastikan keadaan Nadhira baik baik saja, Rendi seakan akan tidak mempedulikan tentang apa yang dialami oleh Nadhira dan bahkan dia tidak peduli bahwa Nadhira masih hidup atau tidak.


"Aku sama sekali tidak menyangka kalau Adikku akan mengalami hal seperti itu".

__ADS_1


"Pernah aku tidak sengaja lewat didepan kamar Nadhira, dengan diam diam aku mendengarnya berbicara bahwa dia sudah tidak mampu lagi untuk bertahan hidup dan ingin segera mengakhiri hidupnya saat itu"


...Terima kasih atas dukungannya readers, Jangan lupa juga like dan komen yang membangun yak...


__ADS_2