Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Perhatian


__ADS_3

Karena Nadhira tak kunjung bangun membuat Rendi tertidur dikamar Nadhira, Rendi tertidur disebelah Nadhira, tengah malam Nadhira terbangun dari pingsannya, ia merasakan sesuatu yang aneh menempel pada lehernya, Nadhira segera merabanya dan menemukan bahwa luka sayatan itu telah diperban oleh papanya.


"Kenapa diperban?". Tanya Nadhira entah kepada siapa.


Nadhira melihat kearah jam dan jam itu masih menunjukkan pukul 1 malam, tanpa sengaja Nadhira memegang sebuah tangan yang berada didekatnya, ia begitu terkejut melihat papanya yang tidur dengan pulas disebelahnya.


Nadhira melihat papanya tengah mengigil kedinginan dimalam hari karena ia tidak memakai selimut, Nadhira segera bengun dari tidurnya dan berjalan menuju kearah almarinya dan mengambilkan sebuah selimut yang tebal untuk papanya.


Nadhira memandangi wajah papanya dengan tersenyum cerah, Nadhira segera memberikan sebuah selimut kepada papanya dengan pelannya agar papanya tidak terbangun karenanya.


"Terima kasih pa, sudah menemani Dhira malam ini". Ucap Nadhira dengan pelannya.


Nadhira kembali tidur ditempatnya sebelumnya, Nadhira menatap wajah papanya begitu dekatnya selama ini ia tidak pernah bisa melihat wajah papanya dengan dekat seperti saat ini, baru kali ini Nadhira merasakan bahagia setelah kepergian mamanya.


*****


Rendi terbangun dari tidurnya, ia merabah kesampingnya tetapi ia tidak menemukan keberadaan Nadhira, segera bangun dari tidurnya sambil mencari sosok Nadhira dan menemukan Nadhira tengah berada didepan cermin meja riasnya dengan pakaian seragam sekolah yang sudah terlihat begitu rapinya.


Rendi melihat Nadhira tengah membuka perbannya hendak mengolesi salep pada lukanya, karena perbannya sudah basah karena terkena air ketika ia mandi membuat Nadhira harus menggantinya.


Ketika Nadhira hendak mengoleskan salep kepada lukanya, Nadhira menatap kearah kacanya dan melihat bahwa Rendi sudah terbangun dari tidurnya, Nadhira perlahan lahan menghadap kearah Rendi.


"Papa sudah bangun?". Tanya Nadhira.


"Iya, sejak kapan kamu sudah bangun nak?".


"Sejak tengah malam pa, setelah itu aku ngak bisa tidur lagi".


"Kenapa tidak membangunkan papa? Sejak kemarin papa menunggumu bangun".


"Aku ngak tega untuk membangunkan papa, aku lihat papa tertidur begitu lelapnya, papa pasti kelelahan jadi aku tidak tega melakukan itu, oh iya... Terima kasih pa sudah mengobati luka ku".


Nadhira melanjutkan apa yang ia lakukan sebelumnya, ia segera membuka penutup salep dan mengoleskannya secara perlahan kearah lukanya, papanya terpaku melihat hal itu, Nadhira sama sekali tidak berlagak seperti kesakitan karena salep tersebut justru Nadhira bersikap biasa saja.


Karena seringnya Nadhira merasakan sakit sehingga luka kecil karena goresan pisau dilehernya tidak akan membuat dia menyengir karena sakit ketika luka itu diberi obat, rasa perih itu pasti ada tetapi Nadhira sanggup untuk menahannya.


"Dari mana luka itu?". Tanya Rendi sambil berjalan kearah Nadhira.


"Ngak sengaja tergores pisau". Jawab Nadhira singkat.


"Bagaimana bisa?". Rendi begitu terkejut ketika mendengar jawaban dari Nadhira


Bagaimana bisa Nadhira tergores luka sayatan pisau dilehernya dengan cara tidak sengaja, hal yang tidak kesengajaan itulah yang membuat Rendi bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhira.


"Ceritanya panjang pa, lukanya juga udah ngak sakit kok pa, Nadhira kan anak kuat". Nadhira tersenyum kepada Rendi dengan bahagianya karena diperhatikan oleh Rendi.


"Kamu cewek lo nak, kenapa bisa terluka disitu? Biasanya kan kalo terkena luka itu ditangan kenapa bisa dileher seperti itu?".


Rendi berdiri dibelakang Nadhira sambil menatap kearah kaca yang memantulkan bayangan keduanya disana, Nadhira meraih tangan papanya dan ia mengoleskan salep luka kepada papanya dengan tiba tiba.


"Kalo kita ngak berhati hati, bukankah kita bisa terluka dimana saja pa? Bahkan bisa sampai kehilangan nyawa sekalipun". Tanya Nadhira.


Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kecil oleh Rendi, Nadhira mengolesi salep itu hingga rata ditangan Rendi dapat dilihat dari kaca bahwa Rendi sesekali akan menyengir karena hal itu, setelah itu Nadhira menempelkan sebuah plaster anti air kepada luka papanya.


Nadhira tersenyum melihat kearah papanya senyuman yang begitu tulus kepada sang papa, setelah itu Nadhira bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap kearah dimana papanya berada.


"Papa ngak usah khawatir, aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini, dan bahkan aku juga pernah mati sekali".

__ADS_1


"Maafin papa".


"Ayo keluar pa, papa juga kan harus bekerja".


Nadhira mengajak papanya keluar dari kamarnya, setelah keluar Rendi segera menuju kekamarnya untuk mandi dan bersiap untuk pergi bekerja, sementara Nadhira berjalan kearah dapur untuk menemui ibu angkatnya dan membantunya untuk masak.


"Kamu sudah bangun nak?". Tanya Bi Ira ketika melihat Nadhira mendekat kearahnya.


"Bu, apa yang terjadi ketika aku tidak sadarkan diri?". Tanya Nadhira balik.


Bi Ira menceritakan kepada Nadhira ketika Nadhira tidak sadarkan diri, mulai dari Rendi yang memeluk tubuh Nadhira yang tidak sadarkan diri dengan eratnya dan membisikkan sesuatu kepada Nadhira yang tidak ia ketahui karena begitu pelannya.


Rendi menyuruh bi Ira untuk membuatkan minuman hangat untuk Nadhira, setelah itu Rendi menggendong Nadhira menuju kekamarnya dan membaringkannya ditempat tidur Nadhira.


"Ibu sudah buatkan kamu teh hangat, sampai teh hangat itu berubah menjadi dingin, dirimu belum juga sadar".


Rendi merasa begitu khawatir dengan keadaan Nadhira yang tak kunjung sadar dari pingsannya, ia terus mengoleskan minyak kayu putih dihidung dan juga dileher Nadhira agar Nadhira segera sadar tetapi usahanya itu sia sia karena Nadhira tak kunjung tersadarkan.


Ketika malam tiba tetapi Nadhira masih tetap tidak sadarkan diri, Rendi masih tetap berada disampingnya untuk menemaninya, sehingga bi Ira harus membawakan makan untuk Rendi kekamar Nadhira.


"Sebegitunya kah bu?".


"Iya nak, dia juga telah mengobati lukamu dengan pelannya, ia takut membuatmu kesakitan".


"Ibu, ibu tau? Hari ini aku merasa begitu bahagia mendengarnya".


Bi Ira tersenyum kepada Nadhira, ia juga merasa begitu bahagia melihat Nadhira bahagia, ia berharap bahwa Nadhira akan mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah mulai saat ini dan seterusnya.


Nadhira juga ikut membantu ibu angkatnya untuk memasak, tak beberapa lama akhirnya masakan itu telah siap disajikan, Nadhira segera menaruh masakan itu dimeja setelah itu ia bersiap siap untuk memakannya dengan lahap.


Tak beberapa lama Amanda dan Rendi bergabung dengan Nadhira untuk mengisi perut mereka, Nadhira memberikan lauk kepada piring Rendi dengan penuh perhatian.


"Terima kasih". Rendi menyendok lauk tersebut dan segera memasukkannya kedalam mulutnya dan mengunyahnya. "Hmm... Enak juga".


Nadhira tersenyum mendengarnya dan menyendokkan kembali lauk tersebut kepiring Rendi, melihat hal itu membuat Amanda merasa begitu kesalnya kepada Nadhira karena Nadhira mencoba untuk merebut perhatian papanya darinya.


Setelah selesai makan Nadhira kembali kekamarnya untuk mengambil tasnya dan bersiap siap untuk pergi kesekolah, setelah Amanda, Nadhira, dan juga Rendi keluar dari rumah secara bersamaan.


"Kak Dhira ikut kemobil kita pa?". Tanya Amanda dengan kesalnya.


"Iya, kalian berduakan sudah jadi saudara". Jawab Rendi dengan singkat.


Rendi membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya, Amanda segera bergegas masuk untuk pertama kali, tetapi Nadhira masih mematung didepan pintu mobil tersebut, pandangannya kini tertuju kepada seseorang yang ada digerbang rumahnya.


Melihat Nadhira yang mematung membuat Rendi menoleh kearah dimana Nadhira memandang, ia menemukan sosok seorang pemuda digerbang rumahnya, pemuda itu tidak lain adalah Rifki.


Disisi lain Rifki begitu terkejut melihat Nadhira dan papanya mulai akur kembali, Rifki begitu senang melihat hal itu, Rifki berpikir dia datang disaat yang tidak tepat sehingga ia memilih untuk pergi dari rumah Nadhira, tetapi langkahnya segera dihentikan oleh panggilan Nadhira.


"Pa, aku berangkat dengan Rifki saja, lagian aku lihat Manda juga tidak terlalu suka".


Nadhira segera mendekat kearah Rifki berada diikuti oleh Rendi dibelakangnya, melihat hal itu membuat Amanda merasa semakin kesal dan ingin sekali menghancurkan tubuh Nadhira sampai hancur berkeping keping.


"Pagi om". Sapa Rifki kepada Rendi.


Mendengar sapaan Rifki kepada Rendi membuat Nadhira menoleh kebelakangnya dan menemukan bahwa papanya sudah berada dibelakangnya saat ini juga, Nadhira merasa terkejut melihat hal itu.


"Pagi juga". Rendi membalas ucapan tersebut, setelah itu ia menghadap kearah Nadhira. "Apa kamu yakin mau berangkat bareng dengan dia?". Tanya Rendi kepada Nadhira sambil menunjuk kearah Rifki.

__ADS_1


"Iya pa".


"Iya sudah hati hati, kamu!! Jaga Nadhira baik baik, jangan sampai dia lecet sedikitpun, jangan ngebut ngebut naik motornya". Ucap Rendi sambil menunjuk kearah Rifki.


"Siap laksanakan om". Jawab Rifki dengan tegasnya.


Nadhira meraih tangan papanya dan menciumnya dan berpamitan untuk pergi kesekolah, hal itu juga diikuti oleh Rifki, ini adalah hal pertama kali yang pernah Nadhira lakukan setelah sekian lama ia tidak melakukannya ketika akan pergi kesekolah.


"Assalamualaikum pa, Nadhira berangkat dulu".


"Waalaikumussalam nak, hati hati dijalan".


Rifki segera menyalakan sepedanya dan menyuruh Nadhira untuk segera naik, setelah itu Rifki menjalankan sepedanya sesuai perintah dari Rendi untuk tidak ngebut kesekolah. Diperjalanan Nadhira terus tersenyum karena papanya sungguh sangat mempedulikannya tidak seperti biasanya.


"Papamu kenapa Dhira?". Tanya Rifki ketika melihat Nadhira yang terus menerus tersenyum.


"Ngak tau juga Rif, tapi aku merasa papaku yang dulu sudah kembali, dia begitu sangat menghawatirkan diriku".


"Syukurlah kalau begitu, kau tau tubuhku gemetaran dan sampek mengeluarkan keringat dingin ketika papamu berbicara kepadaku tadi, sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat sehingga membuat papamu kelihatan sedikit kecewa".


"Ngak kok, justru kamu datang disaat yang tepat, Amanda tidak suka aku naik dimobil yang sama dengannya, bahkan tadi ia terlihat kecewa kepada papa karena papa menyuruhku untuk masuk kedalam mobil".


"Emang benar benar ya adek tiri kamu itu jahat banget, ngak ada kapok kapoknya".


"Sudahlah Rif, aku ngak papa kok".


Rifki melajukan motornya menuju kesekolahan, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga disekolahan, Rifki segera memarkirkan sepedahnya ditempat parkir dan menuju kekelasnya dengan jalan kaki bersama Nadhira, diperjalanan Nadhira terus mengandeng tangan Rifki.


Hal itu membuat seluruh penghuni sekolah menatap kearah Nadhira dan Rifki, tidak ada yang pernah berani melakukan hal itu terhadap Rifki kecuali Nadhira, apalagi Rifki menanggapi hal itu dengan senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan kepada semua orang.


Nadhira dan Rifki segera masuk kedalam kelasnya, dan membuat seluruh perhatian terarah kepadanya, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat keduanya melepaskan pegangan tangan itu.


Nadhira dan Rifki segera duduk dibangkunya, tak lama kemudian Fajar dan Raihan mendatangi keduanya dan duduk dibangku belakang Rifki dan juga Nadhira.


"Eh kau sudah sembuh?". Tanya Fajar pada Rifki.


"Sembuh? Sejak kapan aku mengatakan bahwa aku sakit?". Tanya Rifki balik.


"Nadhira yang mengatakannya". Tunjuk Fajar kepada Nadhira.


"Eh kenapa? Kapan aku bilang Rifki sakit? Sudahlah lupakan hal itu". Ucap Nadhira sambil memberi kode kepada Fajar untuk menghentikan ucapannya, karena ia tidak ingin Rifki mengetahui kejadian disekolahan pada waktu Rifki tidak masuk sekolah.


Fajar yang mengerti kode itu segera menutup mulutnya rapat rapat, ia tidak ingin salah berbicara didepan Rifki maupun Nadhira karena ia begitu mengetahui watak keduanya yang tidak jauh berbeda sama sama suka bermain pukul pukulan.


Melihat Fajar yang tiba tiba terdiam membuat Rifki menoleh kearah Nadhira yang tengah tersenyum kecil kepada Rifki, Rifki juga menoleh kearah Bayu yang juga tersenyum kepadanya saat ini.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?". Tanya Rifki tiba tiba.


"Tidak ada Rif, mungkin kamu salah lihat kali, ya kan Dhir?". Tanya Fajar kepada Nadhira.


"Iya... Ngak ada kok Rif, sudahlah sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai, sebaiknya kalian berdua kembali kebangku kalian". Nadhira menyuruh kedua orang itu untuk pergi agar tidak terus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari Rifki.


"Baiklah".


Fajar dan Reihan segera bergegas kembali kebangkunya meninggalkan Nadhira dan Rifki, Nadhira mampu bernafas lega ketika kedua orang itu sudah berada jauh darinya, sementara Rifki menatap tajam kearah Nadhira.


Nadhira yang ditatap seperti itu hanya bisa mengalihkan pandangannya dari Rifki, ia lebih memilih untuk melihat kearah papan tulis daripada harus melihat tatapan Rifki yang begitu tajam yang diarahkan kepadanya saat ini.

__ADS_1


"Tidak usah disembunyikan seperti itu, tanpa kamu mengatakannya pun aku sudah tau". Ucap Rifki singkat tapi mampu membuat Nadhira begitu terkejut.


"Ha?? Apa yang kau tau?".


__ADS_2