
Dengan pelan pelan Nadhira duduk didepan Theo agar lukanya tidak kambuh lagi, melihat Nadhira yang duduk membuat Theo ikut segera duduk ditempatnya sebelumnya, Nadhira terlihat begitu cantik saat ini sehingga membuat Theo menjadi salah tingkah didepan Nadhira.
Nadhira berusaha semaksimal mungkin agar Theo tidak mencurigai dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini, dia tidak ingin bahwa ada yang mengetahui tentang dirinya yang telah mendonorkan ginjalnya untuk Rendi karena dia tidak ingin Rendi mengetahui apa yang telah ia lakukan.
Nadhira hanya ingin hal ini menjadi rahasianya untuk selama lamanya, hanya Sarah dan anggota yang ada dirumahnya yang mengetahui tentang apa yang terjadi dengan Nadhira, Nadhira sendiri yang tidak ingin ada yang mengetahui tentang hal yang ia lakukan kepada Rendi.
"Dhira bagaimana kondisimu? Aku dengar kau habis operasi beberapa hari yang lalu, kamu sakit apa Dhira sampai dioperasi?".
"Aku baik baik saja kok, siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?"
"Ngak ada yang memberitahuku kok, kemarin aku ngak sengaja lewat didepan rumahmu dan aku juga ngak sengaja mendengar satpam dirumah ini membicarakan tentang operasimu, kamu sakit apa kok sampai dioperasi seperti itu?"
"Aku ngak apa apa, kamu pasti salah dengar doang, mungkin apa yang mereka katakan itu tidak benar, bisa saja kan kamu yang salah dengar, mereka membicarakan orang lain tapi kamu dengarnya mereka membicarakan tentangku, emang sih aku dari rumah sakit tapi ngak operasi juga" Bohong Nadhira.
"Baguslah kalau kau tidak apa apa, oh ya gimana kabar kamu Dhira? Sudah lama kita tidak bertemu".
"Seperti yang kamu lihat saat ini, aku baik baik saja".
"Baguslah kalau begitu"
"Iya"
Nimas memperhatikan Theo dengan seksama, seperti dugaannya bahwa kedatangan Theo ketempat itu hanya ingin berusaha dekat dengan Nadhira selama tidak ada Rifki disamping Nadhira.
Theo tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini, karena disaat inilah dia akan mudah untuk mengambil hati Nadhira dan membuat Nadhira melupakan tentang Rifki yang selalu ada untuknya beberapa tahun yang lalu.
"Dhira, sepertinya anak ini bisa dimanfaatkan untuk menemanimu kerumah lama Mama tirimu itu deh, dia juga kelihatannya sangat peduli dengan dirimu Dhira, jadi apa salahnya jika kau memanfaatkan dirinya itu".
"Maksud kamu apa Nimas? Aku tidak mengerti".
"Kau tidak boleh kesana sendirian Dhira, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu disana? Kau bisa meminta pemuda ini untuk menemanimu ketempat itu untuk melindungimu, kau tidak mungkin kan menggunakan ilmu beladirimu seorang diri disana lagi pula kau juga masih terluka saat ini"
"Kau benar Nimas".
Theo dan Nadhira masih sama sama diam diruang tamu itu, Theo tidak punya kata kata lain untuk bisa mengobrol dengan Nadhira karena rasa gugupnya sementara Nadhira sedang sibuk dengan obrolannya bersama dengan Nimas.
"Aku ingin mengatakan sesuatu" Ucap Nadhira dan Theo secara bersamaan.
"Kau duluan saja, apa yang ingin kau katakan kepadaku Dhira?" Tanya Theo.
"Apa kau besok ada acara?" Tanya Nadhira.
Mendengar ucapan Nadhira sontak membuat Theo terlihat begitu senangnya saat ini, kapan lagi Nadhira akan mengajaknya untuk pergi, hal itu membuat Theo terus tersenyum kearah Nadhira.
"Tidak ada kok Dhira, ada apa? Ada yang bisa aku bantu besok?" Jawabnya dengan cepat.
"Besok kemarilah lagi, antarkan aku kesuatu tempat, aku tunggu ya, sekarang pulanglah, aku butuh istirahat lebih banyak, kau tau kan aku habis dari rumah sakit".
"Astaga nih bocah, sudah minta bantuan kepada orang itu eh malah ngusir lagi, ngak ada sopan sopannya sama sekali, ngak punya malu banget sih nih orang" Gerutu Nimas.
"Aku kan memang ngak suka terlalu banyak basa basi tau" Batin Nadhira.
"Ya elah Dhira Dhira, ngak begitu juga kali caranya".
"Terus aku harus gimana?"
"Terserah"
Senyum diwajah Theo seakan akan memudar ketika Nadhira menyuruhnya untuk pulang, tetapi dia tidak mempermasalahkan hal itu karena memang Nadhira baru saja keluar dari rumah sakit sehingga dirinya juga butuh istirahat lebih.
Theo merasa puas ketika dirinya sudah mengetahui bshwa Nadhira tengah baik baik saja, awalnya dia merasa terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira dirawat dirumah sakit akan tetapi ketika dirinya bertanya dengan satpam rumah Nadhira, mereka tidak memberitahukan kepada Theo dimana Nadhira dirawat saat itu sehingga dirinya lebih memilih untuk menemui Nadhira ketika Nadhira sudah keluar dari rumah sakit itu.
"Iya sudah ngak masalah Dhira, istirahatlah yang banyak, besok aku akan datang kemari tepat waktu kok kamu tenang saja".
"Iya, aku tunggu kedatanganmu besok".
"Iya Dhira, ya udah aku pamit dulu ya".
"Iya"
Theo segera berpamitan untuk pulang dari rumah Nadhira dengan hati yang sedikit kecewa karena Nadhira mengusirnya seperti itu, akan tetapi kekecewaannya itu ia pendam dalam dalam dan berusaha untuk melupakannya karena besok Nadhira akan keluar bersama dengannya.
__ADS_1
Setelah kepergian dari Theo, Nadhira kembali masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan Nimas yang terus saja mengikutinya itu karena dirinya merasa lelah hari ini.
Sejak Nadhira mendonorkan ginjalnya untuk Rendi, Nadhira sering merasa lelah dan seakan akan tidak bersemangat untuk melakukan banyak aktivitas lainnya karena kelelahan.
Nadhira sama sekali tidak pernah memikirkan tentang kebahagiaan dirinya sendiri, dia lebih memilih untuk memikirkan tentang kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri, sehingga dia akan melakukan apapun asalkan orang yang sangat berarti baginya bahagia.
Nadhira tidur dengan nyenyaknya disiang hari ini, sampai sampai dirinya terbangun dengan sendirinya, Nadhira berjalan kearah halaman samping rumahnya untuk melihat lihat pemandangan bunga bunga yang indah dan juga ikan ikan yang sedang berenang renang dengan bahagianya.
Nadhira duduk disebuah bangku yang dekat dengan kolam ikan agar dirinya bisa melihat bertapa bahagianya ikan ikan itu yang sedang berenang renang didalamnya.
"Rifki kapan kau pulang, tak terasa sudah hampir 3 tahun lamanya kita berpisah, kau tau aku sangat merindukanmu Rif, cepatlah pulang, nyatanya kita tidak akan pernah bisa bersama" Tak terasa air mata Nadhira menetes membasahi pipinya.
Tiba tiba sebuah bunga mawar merah jatuh dipangkuan Nadhira, Nadhira segera mengambil bunga tersebut dan menatapnya dengan keheranan karena tiba tiba sebuah bunga jatuh tanpa diketahui asal usulnya dari mana.
"Darimana asalnya bunga mawar ini? Siapa yang melemparnya kepadaku?" Ucapnya sambil menoleh kesana kemari untuk menemukan siapa pelakunya.
"Anggap saja itu pemberian Rifki melalui Raka".
"Apakah Raka ada disini saat ini? Kenapa aku tidak bisa melihat dirinya itu?"
"Iya, bukan hanya aku saja yang selalu mengikuti dirimu selama ini tapi dia juga, kau tidak akan bisa untuk melihatnya karena indra keenammu memang belum terbuka sampai saat ini, kau bisa melihatku karena adanya permata itu didalam tubuhmu, jika kau ingin melihatnya aku bisa membantumu, tapi jangan terkejut jika kau juga melihat mahluk yang lainnya"
"Maksudmu?"
"Ini beda dari kamarmu sebelumnya Dhira, disini mahluk mahluk gaib bisa dengan leluasanya keluar masuk kedalam kamarmu karena tidak ada pelindung yang diciptakan oleh Rifki disini, jika kau ingin dapat melihat Raka, maka kau harus siap untuk membuka indra keenammu tapi resikonya sangat besar, aku bisa membantumu dalam hal itu"
"Aku masih belum siap untuk hal itu Nimas, bagaimana kalau mentalku belum siap?"
"Kau bisa saja gila dibuatnya, akan begitu banyak mahluk gaib yang dapat kau lihat nantinya jika indra keenammu terbuka karena memang kita hidup berdampingan selama ini, banyaknya mahluk gaib sama persis dengan banyaknya manusia yang hidup didunia ini".
"Apa Raka bisa mendengar suaraku?"
"Bisa kok Dhira, bilang aja sama dia sekarang, dia ada disebelahmu dan setia untuk mendengarkan keluh kesalmu sekarang"
"Apa kalian bisa melihat Rifki sekarang lagi ngapain? Bukannya bangsa gaib bisa melihat dari kejauhan?"
"Itu diluar kemampuan kami berdua Dhira, Rifki memiliki sebuah pelindung yang sangat kuat untuk dilacak oleh bangsa kami, aura yang melindunginya lebih kuat daripada aura yang kami berdua miliki, kami sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya didunia ini Dhira, meskipun kami terus mencobanya" Ucap Nimas sambil menatap kearah Raka.
"Aku hanya ingin tau kabarnya saja, sudah lama dia tidak ada kabar dan tidak memberikan kabarnya kepadaku, semoga dia baik baik saja disana, aku hanya merasa khawatir dengan dirinya disana"
"Hehe... Kau tau Nimas, itu sangat menyenangkan tau, kau terlalu memperhatikan diriku rupanya, siapa suruh dia memperhatikan nyawaku, kan aku ngak nyuruh dia" Nadhira tertawa mendengar ucapan Nimas.
"Hey kau lupa? Tanpa bantuanku kau pasti sudah tiada sejak dulu, malaikat maut adalah mahluk ciptaan Allah yang paling setia menunggu nyawamu, bahkan lebih setia daripada suami ataupun keluargamu ingat itu"
"Aku sudah tau, kalau mau cabut ya tinggal cabut aja kenapa harus bingung".
"Ck, emang kau pikir mudah hah?"
"Kan itu tugas dia, kenapa harus terlihat sulit?"
"Dangkal banget ya ternyata pengetahuanmu itu"
"Lah emang, kan aku hanya manusia biasa bukan sang maha tau segalanya"
"Meladenimu bicara bisa bisa membuat jiwaku menghilang tiba tiba Dhira".
"Maka diamlah, jangan buang buang tenagamu"
Dikejauhan terlihat sosok Sarah yang sedang memperhatikan Nadhira dalam diamnya, ia merasa ada yang aneh dari Nadhira karena Nadhira yang terus terusan berbicara sendiri, Sarah memanggil Bi Ira untuk menanyakan tentang Nadhira.
"Bi Ira, Bi Ira!" Panggil Sarah.
"Ada apa Nyonya" Bi Ira segera bergegas mendatangi Sarah.
"Kenapa dia berbicara sendiri seperti itu Bi? Apa dia sering melakukan itu? Beberapa kali ini aku tidak sengaja melihatnya bicara sendiri, apa sebelumnya dia juga begitu?" Tanya Sarah.
"Tidak pernah sebelumnya Nyonya, tapi semenjak Mama tirinya menggunakan ilmu hitam kepadanya, dia seakan akan berubah".
"Berubah gimana maksudnya?"
"Seperti yang anda lihat sekarang Nyonya, dia sering berbicara sendiri belakang ini, aku dengar dengar kalau mahluk gaib itu bernama Nimas, tapi dia tidak pernah mencelakai Nadhira dan bahkan justru menolong Nadhira"
__ADS_1
"Bagaimana kau tau itu? Namanya mahluk gaib tidak mungkin bersahabat dengan manusia tanpa meminta imbalan sebuah tumbal ataupun yang lainnya, lalu apa yang diinginkan mahluk gaib itu dari Nadhira"
"Saya kurang jelas kalau tentang itu Nyonya, hanya Dhira yang tau mengenai soal itu karena hanya dirinya yang bisa berkomunikasi dengan mereka, sosoknya juga saya tidak mengetahuinya Nyonya".
"Kembali lakukan tugasmu!"
"Baik Nyonya".
Sarah terus memperhatikan Nadhira yang berbicara sendiri itu, terlihat bahwa pembicaraan mereka terlalu mengasikkan sehingga Nadhira sesekali tersenyum sendirian ditaman samping rumahnya itu.
"Dhira jaga sikapmu, ada seseorang yang memperhatikan dirimu yang sedang berbicara dengan kami" Ucap Nimas.
"Apa?"
"Lihatlah dibelakangmu, ada Oma mu yang sedang memperhatikan dirimu itu saat ini"
Nadhira mencoba untuk melirik kebelakangnya, benar saja dirinya melihat Sarah yang sedang berdiri tidak jauh darinya, melihat Nadhira yang menoleh kearahnya Sarah segera mendatangi tempat dimana Nadhira berada saat ini.
"Ada apa Oma? Kenapa seperti ketakutan?" Tanya Nadhira ketika melihat Sarah bergegas kearahnya.
"Kamu bicara sama siapa Dhira?
"Dhira ngak bicara dengan siapa siapa Oma, Dhira hanya menyanyi nyanyi disini"
"Dhira jujur sama Oma, Oma tadi melihat kamu bicara sendirian disini, jangan bohong sama Oma"
"Mungkin Oma salah lihat kali, Dhira ngak bicara sama siapa siapa kok sejak tadi disini, Oma duduk dulu, jangan berpikiran yang tidak tidak" Ucap Nadhira menyuruh Sarah untuk duduk disebelahnya.
"Beneran Oma tadi melihatnya sendiri kalau Dhira sedang berbicara sendiri"
"Dhira kan bilang sama Oma, kalau Dhira tadi nyanyi nyanyi disini, mungkin Oma lihatnya Dhira sedang berbicara sendiri kali".
"Apakah seperti itu?"
"Iya Oma, oh iya besok aku mau keluar dengan temanku Oma, boleh ya?"
"Teman yang mana? Tapi kamu kan baru keluar dari rumah sakit, bagaimana kalau kenapa kenapa dijalan?"
"Teman yang tadi datang kesini lo Oma, Dhira bosen dirumah terus, Dhira ngak bakal kenapa kenapa kok Oma, lagian dia juga bakal ngelindungin Dhira juga, dia kan hebat dalam beladiri"
"Terlalu memuji dirinya, jangan lupa dia pernah melukaimu karena anak buahnya yang kenodongkan pisau kearahmu dan juga Rifki dulu" Ucap Nimas.
"Terus aku harus berkata apa? Emang Oma akan mengizinkan aku keluar nantinya kalau aku jujur bahwa dia pernah melukaiku? Kau yang memberi ide ini kau juga yang membuatku pusing" Gerutu Nadhira dalam batinnya.
"Terserah dirimu"
"Kalau Dhira mau jalan jalan Pak Mun bisa nganterin kok, kenapa harus dengan pemuda itu? Oma kurang cocok dengan pemuda itu"
"Tapi Oma, dia kan temenku waktu sekolah dulu, dia sering melindungiku waktu disekolah".
"Pokoknya Oma tidak setuju"
"Apa Oma akan membiarkan Dhira pergi sendirian besok? Ya sudah ngak apa apa kok Oma, Dhira bisa kok kalau pergi sendirian besok".
"Kenapa sih Dhira kamu itu memaksa banget, emang ada yang penting besok?"
"Penting banget Oma, aku mau nonton film bagus banget di bioskop"
"Ya elah Dhira Dhira, kalau mau nonton film nanti Oma belikan deh DVD nya, berapa sih harganya sampai sampai kamu harus pergi besok".
"Dhira tau kalau Oma pasti bisa membelinya dengan sangat mudah karena Oma punya uang banyak, tapi kan Dhira ingin jalan jalan sekalian besok sama temen sekolahku dulu Oma"
"Tapi bekas jahitanmu masih belum kering Dhira, lain kali kan bisa keluar sama temenmu itu"
"Tapi Dhira maunya besok"
"Ya sudah kalau begitu kemauan dari Dhira, biar Pak Mun sama Bi Ira harus ikut bersamamu besok titik!"
"Oma..." Rengek Nadhira.
"Kalau ngak mau ya sudah ngak usah pergi aja"
__ADS_1
"Baiklah Oma, mereka boleh menemaniku besok, ya sudah Dhira mau kembali kekamar dulu, Dhira mau membersihkan tubuh Dhira" Pasrah Nadhira.
...Marhaban ya Ramadhan, minnal aizin wal faizin mohon maaf lahir dan batin 🙏...