
Acara perpisahan itu berjalan dengan lancarnya tanpa adanya hambatan, setelah sesi foto bersama dan seluruh isi acara dalam acara tersebut telah selesai dilaksanakan, para orang tua dan siswa diizinkan untuk meninggalkan sekolahan tersebut untuk kembali kerumah masing masing.
Setelah acara perpisahan itu selesai, keduanya pulang kerumahnya masing masing, Nadhira dan Bi Ira segera masuk kedalam mobil Rendi, dan mobil itu melaju dengan cepatnya menembus jalanan sepi saat itu, hingga daun daun yang ada ditepi jalan tersapu oleh angin yang ditimbulkan dari laju cepatnya mobil yang dikendarai oleh Rendi.
Sangking cepatnya laju mobil tersebut membuat mereka sampai dirumahnya tak membutuhkan waktu lama, Nadhira merasa heran kenapa Papanya menyetir mobil seperti itu kencangnya.
Nadhira segera keluar dari mobil tersebut ketika sampai dirumah tersebut, Rendi melihat Nadhira yang keluar dari mobil tersebut dan menghadang langkah Nadhira dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa Pa?". Tanya Nadhira yang keheranan ketika Papanya tiba tiba menghadang langkah kakinya.
"Apa kamu masih marah kepada Papa nak?". Tanya Rendi dengan nada pelan.
Rendi langsung to the point kepada Nadhira, Nadhira merasa terkejut dengan pertanyaan itu, Nadhira mengira mungkin inilah alasan Papanya yang sedari tadi terlihat seperti begitu marah tersebut.
"Ngak Pa, Nadhira ngak akan pernah bisa marah kepada Papa". Jawab Nadhira dengan jujurnya.
"Lalu kenapa kamu mengajak Bi Ira untuk naik keatas panggung tadi? Kenapa bukan Papa yang kamu ajak? Apa kamu masih marah kepada Papa?".
"Maafkan saya Tuan". Ucap Bi Ira dengan takutnya ketika Rendi mengatakan hal itu kepada Nadhira.
Nadhira langsung memeluk tangan Bi Ira dengan eratnya, seakan akan mengatakan bahwa Bi Ira adalah segalanya bagi Nadhira sekarang dan seterusnya karena Bi Ira begitu berarti bagi Nadhira.
"Karena aku menyayangi Ibu Ira Pa, Ibu Ira sudah seperti ibu kandungku sendiri selama ini Pa". Jawab Nadhira dengan tegasnya kepada Rendi.
"Apakah memang benar Bi Ira adalah Ibu kandung dari Nadhira sehingga Nadhira begitu dekat dengannya beberapa tahun belakangan ini dan hasil tes DNA waktu itu adalah memang menunjukkan kebenarannya, tidak tidak! Siapa orang tua kandung Nadhira sebenarnya?". Batin Rendi sambil menatap kearah Nadhira yang ada didepannya.
Pandangan Rendi terarah kepada Nadhira yang ada didepannya itu, seakan akan pandangan itu terlihat kosong, sehingga Nadhira beberapa kali memanggilnya akan tetapi tiada respon yang diberikan oleh Rendi kepadanya.
"Pa? Kenapa Papa melamun? Papa ngak apa apa kan? Apa yang papa pikirkan?". Tanya Nadhira yang seketika membangunkan Rendi dari lamunannya.
"Papa ngak apa apa Nak".
"Ya sudah kalau Papa ngak apa apa, Nadhira mau masuk kekamar dulu".
"Iya Nak". Perlahan lahan Rendi mulai melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nadhira.
"Siapa orang tua kandungmu yang sebenarnya Dhira, akan tetapi wajahmu begitu sangat mirip dengan Lia, apa mungkin Lia telah melakukan hubungan dengan lelaki lain selama ini". Batin Rendi.
Nadhira segera berjalan untuk masuk kedalam rumahnya, ia sudah tidak tahan lagi ingin merebahkan tubuhnya karena dia sangat lelah dan merasa risih dengan pakaian dan riasan yang ada diwajahnya itu sehingga dirinya segera masuk kedalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya.
Didepan rumah tersebut kini tersisa hanya Rendi dan Sena, keduanya segera bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh mereka karena kelelahan dalam acara perpisahan itu.
"Sudah ku katakan kan Mas, kalau Nadhira itu memang bukan anakmu". Ucap Sena dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Siapa orang tua kandung Nadhira? Dan kenapa kamu bisa bilang sedemikian rupanya, kamu juga merasa sangat yakin bahwa Nadhira bukanlah anakku".
"Apa kau lupa Mas? Bukankah aku pernah menunjukkan sebuah bukti tes DNA kepadamu waktu itu? Aku menemukannya dilemari milik istrimu yang meninggal itu, bagaimana mungkin aku tau siapa orang tua kandung Nadhira, yang benar saja kamu Mas menanyakan hal itu kepadaku, tanya saja tuh pada arwah istrimu". Ucap Sena yang seakan akan disalahkan oleh Rendi dengan perkataannya itu.
"Diam kau!!!".
"Kenapa kamu jadi marah kepadaku Mas? Emang aku salah apa padamu?".
"Kau penyebab kematian dari Lia, Sena!".
"Mas!! Asal kau tau ya, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian waktu itu, bukankah kau sendiri yang mengajaknya untuk menemuiku dan anakku waktu itu? Lalu istrimu itu marah dan kecelakaan, bukan begitu Mas?". Bantah Sena ketika disalahkan oleh Rendi.
"Sudahlah aku tidak mau mbahas ini lagi, aku muak dengan semuanya".
"Terserahmu saja Mas, untuk apa terus membela anak haram mu itu, dia juga bukan anak kandungmu dan kau malah mengabaikan Amanda yang jelas jelas adalah anakmu".
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Sena!! Nadhira bukanlah anak haram, meskipun hasil tes DNA menunjukkan bahwa dia bukan anak kandungku bukan berarti dia adalah anak haram, ingat itu!".
Rendi begitu marah ketika Sena mengatakan bahwa Nadhira adalah anak haram, Rendi tidak terima ketika istrinya itu mengatakan hal hal yang buruk mengenai Nadhira anaknya itu, meskipun Nadhira bukanlah anak kandungnya akan tetapi Nadhira selalu menyayangi Papanya dengan begitu tulusnya berbeda dengan cara Amanda memperlakukannya selama ini.
"Mas! Buka matamu! Nadhira bukanlah anak kandungmu, kenapa kau harus memberikan kasih sayang kepadanya! Kau harusnya lebih menyayangi Amanda daripada Nadhira Mas, Amanda adalah anak kandungmu".
"Diam kamu!! Jangan sampai Nadhira mendengar perkataanmu".
"Biar saja dia mendengarnya, setelah itu biar dia pergi dari tempat ini, apa salahnya juga dia mendengar".
"Sena! Hentikan ucapanmu, kalau sampai Nadhira mendengarnya, aku tidak akan memaafkanmu".
"Apakah seperti itu sikap suami kepada istrinya?". Tanya Sena dengan nada yang lebih tinggi.
"Jangan membuatku lepas kendali dalam emosiku Sena!".
Rendi segera membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya karena dirinya tidak ingin berdebat lagi yang akan berujung dengan Nadhira yang mengetahui perdebatan itu, Rendi tidak ingin Nadhira mengetahui bahwa Nadhira bukanlah anak kandungnya.
Sena yang melihat Rendi memejamkan matanya segera ikut serta membaringkan tubuhnya disamping Rendi, biar bagaimanapun dirinya juga merasa lelah setelah menghadiri acara perpisahan itu.
Sementara Nadhira yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya, Nadhira segera merebahkan tubuhnya tersebut diatas ranjang kamarnya, tanpa sengaja pandangannya tertuju kepada gelang pemberian dari Rifki.
"Rifki bilang bahwa arwah Raka ada digelang ini, itu artinya Raka yang selalu mengikuti Rifki kemanapun ia berada sekarang berpindah jadi mengikutiku kemana pun aku pergi?". Guman Nadhira.
Nadhira terus memandangi gelang berwarna biru terang tersebut, entah merasa senang karena dijaga atau justru merasa sedih karena kepergian dari Rifki.
Tak lama kemudian, tiba tiba sebuah bunga jatuh menimpa tubuh Nadhira, hal itu membuat Nadhira segera bangkit dari rebahannya, ia melihat kearah cendela dan ternyata Rifki sudah berdiri dibalik cendela tersebut sambil tersenyum kepada Nadhira.
Nadhira yang melihat Rifki berdiri diluar kamarnya, ia segera bangkit dari tidurnya dan bergegas berjalan menuju ketempat dimana Rifki sekarang.
"Kamu ngapain kesini?". Tanya Nadhira kepada Rifki ketika sudah sampai didekat cendelanya.
"Aku baru tau, kalo Tuan Muda dari sebuah perusahaan yang besar bisa bisanya masuk kerumah orang sembarangan seperti ini".
"Kenapa sembarangan? Kan aku sudah bilang kalau aku mau mengulang waktu kecil, tadi aku dengar kalau ada seseorang yang menyebutkan namaku disini jadi aku datang".
"Emang kamu tadi dengar aku menyebut namamu?".
"Nah kan, ngaku aja sekarang, kamu sendiri kan yang panggil aku, mangkanya aku datang untuk menjawab panggilan tersebut".
"Alasan saja".
"Sebenarnya aku mau bilang kepadamu Dhira, besok lusa aku sudah berangkat keluar negeri, sekertaris Kakekku yang mengatakannya barusan dan aku tidak bisa menolaknya Dhira".
Deg
Nadhira merasa begitu sangat terkejut dengan ucapan Rifki dan seakan akan jantungnya berhenti berdetak, kenapa kepergian Rifki keluar negeri dipercepat seperti ini, Nadhira benar benar tidak siap melihat kepergian Rifki dari sisinya meskipun sudah jauh hari Rifki mengatakannya kepada dirinya.
"Kenapa begitu cepat?". Tanya Nadhira dengan lirihnya dan juga kedua matanya kembali berkaca kaca ketika Rifki mengatakan hal itu.
"Lebih cepat lebih baik Dhira untukku dan untukmu juga Dhira, kamu juga jangan khawatir, Raka akan selalu menemanimu, menjagamu, membantumu, dan akan melindungimu ketika permata yang ada ditubuhmu kembali bergejolak".
"Aku ngak mau". Guman Nadhira pelan dan bahkan sampai tidak terdengar.
"Apa yang kamu katakan Nadhira? Aku tidak mendengarnya, bisa diulang lagi?".
"Ini bukan rekaman, jadi ngak bisa di replay ulang".
"Iya sudah, aku mau pulang kerumahku, selamat istirahat Nadhira". Ucap Rifki sambil membalikkan badan dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Rifki!". Panggil Nadhira ketika melihat Rifki mulai melangkah menjauhi rumahnya, panggilan itu seketika membuat Rifki menghentikan langkahnya.
Mendengar Nadhira memanggil namanya membuat Rifki semakin tidak tega untuk meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama, tanpa diketahui oleh siapapun Rifki tengah meneteskan airmatanya, ketika merasakan bahwa airmatanya menetes dipipinya, Rifki segera mengusapnya agar Nadhira tidak mengetahuinya.
Nadhira segera melompat dari cendelanya tersebut dan bergegas menuju ketempat dimana Rifki berdiri saat ini, setelah menghapus air matanya Rifki menoleh kearah dimana Nadhira berada saat ini.
"Aku ngak tau apa lagi yang harus aku katakan kepadamu saat ini, aku hanya ingin mengatakan jangan pergi, aku tidak siap untuk kepergianmu, aku merasakan kesepian saat ini, sama seperti ketika Mama pergi meninggalkanku waktu itu". Ucap Nadhira yang tidak mampu menahan air matanya.
Nadhira menjatuhkan tubuhnya didepan Rifki, berderai air matanya karena tidak kuasa menahan perasaannya saat ini, Nadhira merasakan kehilangan yang begitu mendalam setelah sekian lama ia rasakan, Rifki adalah sahabat dekatnya sejak mereka masih kecil hingga saat ini.
Melihat Nadhira yang jatuh terduduk dihadapannya membuat Rifki segera berlutut didepannya, setetes air mata terlihat dipelupuk matanya akan tetapi Rifki segera menghapusnya agar Nadhira tidak melihatnya, Rifki menggerakkan kedua tangannya untuk membuat Nadhira menatap kearahnya dan menghapus air mata yang membanjir pipinya.
"Jangan sedih Dhira, jika kamu sedih seperti ini, kamu akan memberatkan jalanku untuk melangkah, lalu bagaimana bisa aku pergi dengan kesedihanmu seperti ini? Aku janji Dhira, aku akan pulang secepatnya dan aku akan menemuimu ketika aku pulang". Ucap Rifki sambil menatap kearah Nadhira.
"Aku tidak bermaksud untuk menghentikanmu kepergianmu Rif hiks.. hiks.. hiks.. tapi aku tidak siap jika harus melihatmu pergi secepat ini".
"Siap tidak siap tapi ini adalah sebuah takdir Dhira, kamu juga harus melanjutkan kehidupanmu dan aku juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugasku, dan kehidupan harus berjalan dengan semestinya".
"Aku tau itu".
"Aku tidak bermaksud untuk membohongimu tentang kepergianku besok lusa Dhira, ada hal yang harus aku lakukan sebelum aku pergi keluar negeri, dan aku tidak mau melibatkan dirimu dalam hal seperti ini". Batin Rifki.
Rifki mencoba untuk membantu Nadhira untuk bangkit dari duduknya, Nadhira yang ditarik untuk berdiri oleh Rifki hanya bisa berdiam diri dan mengikuti tarikan Rifki.
Nadhira segera menghapus air matanya, melihat Rifki tersenyum kepadanya membuatnya ikut tersenyum tipis meskipun masih terlihat sebuah kesedihan dikedua mata Nadhira.
"Masih ada waktu dua hari kedepan, kenapa tidak kita gunakan untuk berlatih saja saat ini? Semakin kamu hebat dalam beladiri, semakin aku merasa tenang ketika meninggalkanmu nantinya". Ucap Rifki sambil menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu.
"Baiklah, terserah kamu saja Rif".
"Jangan lupa bawa tongkatnya juga, kita akan berlatih bermain tongkat".
"Aku selalu membawanya kok, kamu tenang saja".
"Bagus".
Rifki mengajak Nadhira untuk lompat dari pagar rumah Nadhira, hal itu sering mereka lakukan ketika keluar dari rumah secara diam diam, aneh juga kelihatannya akan tetapi entah kenapa Nadhira mengikutinya padahal dirinya juga bisa lewat gerbang utama rumahnya tanpa harus repot repot untuk memanjat seperti Rifki saat ini.
Setelah sampai diluar halaman rumah Nadhira, Rifki segera menyuruh Nadhira untuk naik keatas motornya, keduanya segera melaju dengan cepatnya dari tempat itu sebelum banyak orang yang mengetahui tentang hal itu bahwa ada seorang lelaki yang membawa kabur anak perempuan dari sebuah rumah, entah bagaimana mereka akan menghadapi situasi seperti itu nantinya.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya keduanya sampai juga dimarkas milik Rifki, melihat Rifki yang melaju kearah markas tersebut membuat penjaga gerbang markas segera membukanya sebelum Rifki sampai ditempat itu.
Rifki menghentikan laju sepedahnya ketika berada dihalaman depan dari markasnya, melihat itu anak buahnya segera mengambil alih sepedah tersebut dari tangan Rifki dan memarkirkannya didalam garasi bangunan itu.
Rifki mengajak Nadhira untuk masuk kedalam bangunan tersebut, tak beberapa lama mereka berjalan akhirnya mereka sampailah dihalaman belakang markas tersebut, mereka melihat bahwa halaman belakang markas tersebut sedang digunakan oleh Bayu untuk melatih anak buah Rifki.
"Bagaimana sekarang?". Tanya Nadhira.
"Bagaimana lagi, ya kita bergabunglah dengan mereka, sekalian menguji mereka juga, lalu setelah itu kita akan pergi kepelatihan Gengcobra".
"Baiklah, kenapa harus pergi kepelatihan Gengcobra juga? Bukankah kamu tidak pernah pergi kesana selama ini? Kenapa tiba tiba mengajak kesana?".
"Ada hal yang harus aku lakukan disana Nadhira".
"Hal apa?".
"Nanti kamu juga bakal tau kok, pasti seru, sekarang masih pukul satu siang, nanti kita datang kesana pukul tiga sore saja".
Rifki memang pemilik dari Gengcobra tetapi dirinya tidak pernah datang ketempat pelatihan tersebut, sejak kecil dirinya sudah dilatih oleh Kakeknya sendiri sehingga dirinya tidak memerlukan pelatihan Gengcobra tersebut akan tetapi dirinya akan datang sesekali kesana untuk bertemu dengan pelatih yang ada ditempat itu.
__ADS_1
Nadhira dan Rifki segera bergabung dengan Bayu yang tengah melatih anak buah Rifki, Nadhira juga ikut berlatih dalam hal ini, ia tidak lupa juga mengeluarkan tongkatnya dan memanjangkannya.