
Ketiga orang yang tidak berdaya yang ada ditangan anak buah Rifki hanya bisa pasrah dengan nasib mereka selanjutnya, biar bagaimanapun kematian gadis itu juga adalah karena mereka yang ingin melecehkannya.
Sejak mereka menjadi tawanan dari Rifki, mereka tidak menceritakan apapun mengenai kejadian berbulan bulan yang lalu itu, akan tetapi Rifki mampu mengetahuinya meskipun mereka tidak mengatakan apapun mengenai hal itu.
"Sudah cukup sandiwaranya Tante!!". Ucap Reno sekali lagi kepada Nita.
"Siapa yang bersandiwara!! Bukannya kalian yang sengaja menjebakku dalam situasi seperti ini!!". Teriak Nita yang tidak terima akan hal itu.
"Bersandiwara? Buka mata Tante, dan lihat semuanya, kebenaran macam apa yang telah Tante ubah menjadi sandiwara? Sadar Tante!! Tidak ada yang bersandiwara saat ini".
Situasi sekarang terlihat begitu mendesak Nita yang sedang dipegangi oleh Samsul dan Hakam dengan eratnya, mereka tidak ingin istri atau Ibu mereka melakukan hal yang diluar nalar lagi.
"Sekarang katakan, atau aku akan mematahkan tangan kalian". Tegas Reno kepasa salah satu dari ketiga orang itu sambil mengeratkan pegangan tangannya.
"Arghhh.....". Teriak pemimpin ketiga orang itu karena merasakan sakit ditangannya.
"Katakan!! Jelaskan pada semuanya, apa yang telah kalian lakukan kepada Rahel!!!".
"Ba... Baik akan aku katakan!!". Ucap salah satu orang itu karena tangannya yang nyeri.
"Katakan dengan keras!! Apa tugas yang diberikan kepada kalian, atau aku akan patahkan tangan kalian bertiga sekarang juga!!".
"Kami ditugaskan untuk menculik anak itu". Menunjuk kearah Adiknya Rahel. "Setelah itu kami bertiga diperintahkan untuk memperk**a seorang gadis, kami tidak tau siapa gadis itu, kami hanya menjalankan perintah, karena seseorang akan membayar mahal kepada kami dan kami juga bisa bersenang senang dengan hal seperti itu".
"Karena itu kalian menyetujuinya? Dan melakukan hal menjijikkan seperti itu kepada gadis itu?".
"Iya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada itu".
Hakam melepaskan pegangan tangannya dari Ibunya, ia menyerahkan kepada Ayahnya untuk memegangi Ibunya, Hakam mendekat kearah ketiga orang laki laki itu dan
Bhukk... Bhukk..
Tanpa basa basi Hakam segera memukul pria itu dengan kerasnya hingga tercipta secercak darah dibibir pria itu, Hakam begitu marah setelah mendengar hal itu, sekarang Hakam seakan akan darahnya terasa mendidih ketika mendengar pengakuan dari mereka.
"Hentikan!! Jangan main hakim sendiri". Ucap Vano dan berusaha untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Hakam selanjutnya dengan bantuan dari beberapa anak buah Rifki.
"Jangan halangi aku! Lepaskan aku! Lepaskan! Akan ku habisi kalian, kalian telah membunuh Ael ku!". Dengan sekuat tenaga Hakam mencoba melepaskan diri.
Hal itu membuat Vano dan yang lainnya merasa kerepotan dengan tenaga yang Hakam keluarkan ketika emosinya memuncak dan meledak ledak saat ini setelah mengetahui kebenarannya.
"Hentikan!!! Sadar Hakam sadar! Aku tau kebenaran ini berat bagimu, tapi ingat tujuan awal kita!!".
"Arghhhhh..... Apa yang kalian lakukan kepada Ael! Kalian harus merasakan apa yang dirasakan oleh Ael, aku tidak akan mengampuni kalian". Teriak Hakam dan berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Vano dan yang lainnya.
__ADS_1
"Berhenti Hakam!!! Berhenti melakukan tindakan seperti itu, jika kau terus melakukan hal seperti ini, kau akan menyesalinya nanti, kita tidak boleh main hakim sendiri". Tegas Vano untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Hakam selanjutnya.
"Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!! Rahel meninggal gara gara mereka!! Mereka penyebabnya, mereka telah memisahkan diriku dari Rahel untuk selama lamanya".
"AKU TAU!!! Tapi bertindak gegabah seperti ini juga bukan hal yang baik!! Kau bukannya menyelesaikan masalah, kau justru akan menambah masalah bagi kami jika kau tidak bisa kendalikan emosimu". Bentak Vano kepada Hakam, biar bagaimanapun disituasi seperti ini emosi bukanlah hal yang baik.
"ARGHHHH....". Hakam berteriak histeris, ia merasa dirinya begitu bodoh sehingga tidak bisa menyelamatkan nyawa Rahel pada saat itu.
"Aku tau apa yang kau rasakan, bukan hanya dirimu yang merasa sedih disini, kita juga sedih mendengar kisah tentang kematian dari kekasihmu, tetapi bertindak gegabah dalam situasi seperti ini itu tidak akan menyelesaikan masalah apapun". Vano terus menasehati Hakam yang sedang begitu emosinya.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vano membuat Rifki bangga kepadanya, Vano orangnya yang terlihat biasa saja akan tetapi berani mengatakan hal itu dengan lantangnya, membuat Rifki percaya bahwa gengnya akan berjaya bila memiliki anggota yang memiliki sikap seperti itu.
Hakam menjatuhkan tubuhnya ketanah karena merasa tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, tangisnya pecah begitu saja karena ia mencoba untuk mencairkan emosinya.
"Ael...". Panggil Hakam lirih. "maafkan aku, aku penyebab dadi semuanya, Rahel.... Jangan tinggalkan aku dengan cara seperti ini, kenapa... Kenapa hal ini terjadi kepadamu".
"Tenang Hakam, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan emosi, aku tau kau merasakan sakit yang begitu dalam ketika mengetahui bahwa orang yang kau cintai pergi dengan cara seperti ini". Vano mencoba menenangkan Hakam yang sedang begitu marahnya.
Reno sebenarnya tidak ingin melanjutkan apa yang belum diketahui oleh semuanya ketika melihat emosi Hakam yang seolah olah tidak stabil, akan tetapi ia ingin membongkar semuanya atas perintah dari Rifki.
"Lalu apa yang kalian lakukan kepada Rahel". Ucap Reno lagi lagi kepada ketiga orang itu untuk membuka semua rahasia yang telah disembunyikan.
"Kami menulis surat ancaman kepada dirinya agar dia menjauh dari Hakam atas perintah seseorang, setelah itu kami mendatangi dirinya untuk melecehkan wanita itu, akan tetapi dia segera kabur dari rumahnya, kami segera mengejarnya kemanapun dia pergi saat itu".
"Adikmu ada bersama kami saat ini, jika dirimu macam macam dan berani mendekat ataupun muncul dihadapan Hakam, kami tidak akan segan segan untuk membunuh Adikmu saat itu juga, kami tidak main main dengan ancaman kami".
Hakam memejamkan matanya mendengar kebenaran itu, entah apa yang terjadi diwaktu itu ia benar benar hancur saat ini, bukan hanya Hakam yang merasa sedih, tapi juga Nadhira dan yang lainnya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Hakam saat ini.
"Apa yang telah Ibu lakukan kepada gadis yang tidak bersalah itu Bu? Kenapa Ibu begitu kejam kepadanya". Ucap Samsul yang tidak mempercayai apa yang ia dengar saat ini.
"Aku tidak tau Pak! Aku tidak melakukan itu! Aku tidak melakukan itu!". Nita begitu shock saat ini.
Dapat dilihat bahwa Nita sedang ketakutan saat ini, Samsul yang sedang memeluknya pun mampu merasakan adanya getaran dari tubuh istrinya itu, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini.
Disini istrinya lah yang salah sehingga menyebabkan kematian dari seorang gadis yang sangat dicintai oleh anak semata wayangnya itu.
"Lanjutkan...". Ucap Reno menyuruh orang itu untuk melanjutkan ceritanya.
"Gadis itu berlari masuk kedalam hutan tanpa berpikir panjang mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, kami terus mengejarnya sampai kami menemukan bahwa dirinya terjatuh akibat ranting ranting yang ada dan menghalangi langkahnya, kami mencoba untuk melecehkan wanita itu disaat wanita itu sudah tidak bisa bangkit dan berlari lagi, tapi tanpa kami sangka bahwa wanita itu tengah memegang batu yang cukup besar, kami pikir wanita itu akan mengarahkan batu tersebut kepada kami, akan tetapi pikiran kami salah, justru wanita itu memukul kepalanya sendiri hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak". Ucap lelaki itu dan dapat dilihat sesekali dirinya menahan rasa sakit dipipinya akibat pukulan dari Hakam yang dilontarkan kepadanya.
Hakam tidak menyangka bahwa Rahel memukul dirinya sendiri dikala itu, seandainya saat itu dirinya dapat menyelamatkan Rahel mungkin Rahel masih tetap berdiri disampingnya saat ini, akan tetapi takdir berkata lain, ternyata Allah lebih menyayangi dirinya.
"Setelah itu apa yang terjadi ditempat itu? Dan apa yang kalian lakukan kepada wanita malang itu?".
__ADS_1
"Setelah itu, Bu Nita datang ketempat itu, ia juga menyaksikan kejadian itu dengan kedua matanya, gadis itu begitu marah karena ingin dilecehkan ia berteriak teriak, dan berkata bahwa dirinya rela mengorbankan nyawanya tetapi dirinya tidak rela jika harus kehilangan kesuciannya yang selama ini ia jaga, ia tidak mau kerika dirinya bertemu dengan Tuhannya, dirinya masih berada dalam keadaan kotor karena dosa dosa itu".
Hakam mengepalkan tangannya dengan eratnya mendengar hal itu, bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada Rahel melainkan karena lelaki itu menyebutkan bahwa Ibunya juga ada ditempat itu saat itu dan Ibunya juga menyaksikan hal itu.
Nadhira sudah tidak tahan lagi ketika mendengar hal seperti itu, Nadhira pun sampai meneteskan air matanya, dirinya juga mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Rahel saat itu, bertapa hancurnya hati Rahel pada saat itu.
"Rif, apa kamu sudah tau sebelum tentang apa yang telah terjadi kepada Rahel?". Tanya Nadhira kepada Rifki yang ada disebelahnya.
Rifki menganggukkan kepalanya. "Iya Dhira, aku mampu melihat kejadian itu dengan ingatan yang diberikan oleh arwah Rahel kepadaku, hanya saja aku tidak bisa menceritakan tentang hal itu kepada semua orang". Jawab Rifki dengan menundukkan kepalanya didepan Nadhira.
"Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, Rahel wanita yang baik, tetapi tidak diperlakukan dengan baik, semoga arwahnya tenang sisi-Nya setelah ini, saat ini aku merasa bahwa harta lebih berharga daripada nyawa seseorang".
"Terkadang dunia tidak akan bisa berjalan sama seperti apa yang kita harapkan, keserakahan dan keangkuhan seseorang akan membutakan mata mereka dan membawa mereka kelubang yang terdalam sehingga tidak akan ada seorangpun yang bisa ataupun mampu menolongnya, hanya amal dan ibadah mereka yang mampu menjadi penerang dalam kegelapan itu".
Awalnya ketika Rifki mengetahui akan hal itu, Rifki juga merasa begitu marah karena hal menjijikkan seperti itu dilakukan oleh seorang wanita kepada wanita yang lainnya hanya demi kepentingannya sendiri, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa, hal yang sudah terjadi memang seharusnya terjadi bukan hanya saat ini, akan tetapi juga dimasa yang akan datang.
Tidak ada penyesalan yang berada didepan, melainkan penyesalan selalu hadir dibelakang, dan kita tidak akan mampu merubah apapun yang telah terjadi kita hanya mampu memperbaiki diri diwaktu ini, nanti dan seterusnya.
Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai dikemudian hari, sehebat hebatnya dirimu menyembunyikan bangkai baunya akan tercium jua pada akhirnya.
Kebenaran itu bagaikan sebuah jarum yang mampu menusuk kita begitu dalamnya, akan tetap itu jauh lebih baik daripada harus berbohong untuk menyenangkan seseorang hanya sesaat.
Awalnya kebohongan itu seperti gula yang begitu manis, akan tetapi jika terus menerus dilakukan akan menimbulkan penyakit sama halnya dengan kepahitan kepada siapapun yang telah dibohongi begitu lama oleh seseorang.
Lebih baik mendapatkan kepahitan dari kejujuran daripada kemanisan dalah kebohongan, sepahit pahitnya obat akan mampu menyembuhkan rasa sakit, akan tetapi berbeda dengan semanis manisnya gula itu dapat menyebabkan penyakit lebih berbahaya jika terus dikonsumsi.
"Lanjutkan!!".
"Setelah kepalanya berdarah dan wajahnya begitu pucat, dan beberapa kali dirinya termuntah darah dari mulutnya, Bu Nita menyuruh kami untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu, akan tetapi kami terlambat untuk menghentikan, wanita itu dengan lemasnya kembali memukulkan batu tersebut kepalanya, dan pukulan terakhir yang ia berikan mampu merenggut nyawanya dalam sekejap, sebelum wanita itu terjatuh ketanah ia berteriak begitu lantangnya menyebut nama Tuhannya, dan wanita itu meninggal dalam keadaan tersenyum, kami pikir wanita itu masih hidup akan tetapi setelah kami memeriksanya denyut dan nafasnya sudah tidak lagi terasa".
"Hua.... Rahel.... Ketidakadilan seperti apa yang kau alami selama ini, maafkan aku, akulah penyebab dari segalanya, seandainya aku tidak memperkenalkan dirimu kepada Ibuku hal ini tidak akan pernah terjadi, kau tidak akan menderita seperti ini". Teriak Hakam yang menyesali apa yang telah ia lakukan.
Samsul yang mendengar kebenaran itu dari mulut seseorang yang telah diperintahkan oleh istrinya untuk melecehkan seorang gadis, hatinya begitu sakit bagaimana bisa hal itu terjadi, siapa yang harus disalahkan dalam hal ini.
"Apa yang telah dirimu lakukan Bu? Maafkan diriku, karena diriku telah gagal mendidikmu dengan baik, ampunilah dosaku Ya Allah, atas apa yang telah istriku lakukan, aku telah gagal untuk mendidiknya sehingga dia telah melakukan hal seperti ini".
Samsul menangis karena kegagalannya untuk mendidik istrinya, tanpa ia ketahui bahwa istrinya telah menghilangkan nyawa seorang gadis yang tidak bersalah, dan bahkan gadis itu adalah tulang punggung bagi Adiknya karena kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia.
"Pak itu tidak benar!! Mereka menjebakku, kenapa Bapak harus mempercayai mereka!! Bahkan aku sama sekali tidak mengenal ketiga orang itu, bagaimana mereka bisa menyebutkan namaku". Nita masih saja mengelak akan hal itu.
"Lalu bagaimana dengan anak yang akan kau bunuh tadi? Apakah itu bukan bukti juga!!!". Teriak Samsul kepada Nita, selama ini Samsul tidak pernah berkata dengan nada tinggi dihadapan, berbeda dengan saat ini, hal itu membuat Nita meneteskan air mata.
Seluruh orang yang ada ditempat itu tidak ada yang bisa berkata apa apa lagi, hanya ada kebisuan diantara mereka, biarpun mereka tidak mengenal sosok Rahel akan tetapi melalui kisah tersebut membuat hati mereka terguncang hebat.
__ADS_1