Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Bercandanya ngak lucu


__ADS_3

Nadhira membuka kertas tersebut dengan lebarnya, tulisan yang ada dikertas tersebut seakan akan ditulis dengan cepatnya sehingga tulisan tersebut terlihat begitu jelek dan hampir tidak bisa untuk dibaca dengan cepatnya.


Didalam kertas putih tersebut terdapat beberapa tetes darah yang terlihat sudah mulai mengering akan tetapi bau anyir darah masih dapat tercium dengan jelas oleh Nadhira dan juga Theo.


"Kenapa kertas ini ada noda darahnya seperti ini? Sepertinya darah ini sudah lama berada disini sampai sampai membuat tulisannya menjadi tidak jelas"


"Apa mungkin ini adalah tulisan dari Pak Dwija sendiri Dhira? Bu Dewi sendiri yang bilang kalau Pak Dwija mendatanginya dengan bersimbah darah waktu itu".


"Tidak mungkin jika ini tulisan Pak Dwija, aku yakin ada orang lain yang sengaja menulisnya agar kita merasa penasaran tentang kasus ini Theo".


"Coba kamu baca dulu".


"Desa yang hidup namun tak hidup, hanya nyata yang berujung semu, dibawah pohon trembesi kita berlarian dengan gembira, suara isak tangis mulai terdengar, tanpa pisau dapat memotong kerasnya hampaan dunia, didalam sebuah pelukan maut, rasanya sudah tak ingin membuka mata, bayanganmu terpapar nyata didalam ingatan, kumparan harapan aku meminta, tolong selamatkan aku dari luka lara, maksudnya apa ini?" Ucap Nadhira sambil membaca tulisan yang ada dikertas tersebut.


Nadhira dan Theo tidak mengerti tentang tulisan yang ditulis dikertas yang ada ditangan Nadhira saat ini, keduanya mencoba untuk memahami maksud dari tulisan tersebut akan tetapi keduanya sama sekali tidak mengerti tentang maksud yang tertera dalam kertas putih itu.


"Ini seperti sebuah teka teki Dhira, kita harus bisa memecahkannya untuk dapat menemukan apa yang kita cari selama ini, mungkin teka teki ini adalah sebuah petunjuk agar kita bisa bertemu dengan Pak Dwija ataupun petunjuk tentang kematian Mamamu".


"Desa yang hidup namun tak hidup, apa mungkin Pak Dwija memang masih hidup dan dia berada disebuah desa yang sepi penghuninya? Atau bisa juga desa yang tidak berpenghuni"


"Bukan itu yang dimaksud Dhira, desa yang hidup namun tak hidup bisa jadi desa itu bukan hanya dihuni oleh manusia yang hidup saja tapi mungkin juga mahluk gaib dan lain sebagainya, mereka kan hidup tapi mereka tidak hidup".


"Mungkin juga seperti itu, lalu kita akan mencari desa itu dimana? Apa kau tau tempatnya?".


Theo tediam cukup lama dan terus berpikir apakah ada desa semacam itu sebelumnya, jika pun ada apakah mereka mampu hidup berdampingan? Terlalu banyak desa yang dihuni oleh dua mahluk itu, bahkan seluruh pelosok bumi sudah dihuni oleh dua mahluk yakni mahluk yang kasat mata dan mahluk yang tak kasat mata.


"Apa mungkin yang dimaksud dari surat ini adalah Desa Flamboyan? Setahuku desa itu selalu ramai pendatang tapi juga terlalu dikeramatkan".


"Lalu untuk apa Pak Dwija dikurung disana? Bukankan kalau ada orang justru hal itu mudah ketahuan?"


"Dengarkan dulu Dhira, disana kan ada sebuah makam yang memang sengaja dikeramatkan oleh orang orang sekitar, mungkin saja makam itu adalah makam Pak Dwija soalnya kan biar tidak ada yang membongkarnya karena memang dikeramatkan".


"Bisa jadi seperti itu, tapi sebenarnya Pak Dwija itu masih hidup atau sudah tiada sih? Lalu siapa yang mengirim surat ini dan meminta tolong seperti ini?"


"Coba baca kalimat yang kedua, hanya nyata yang berujung semu, mungkin ini maksudnya kejadian waktu pembunuhan itu adalah nyata terjadi akan tetapi kenyataan itu berakhir dengan kebenarannya yang masih hidup".


"Kalau begitu ayo kita pergi kesana untuk memastikannya" Ajak Nadhira.


Nadhira dan Theo segera bergegas dari tempat itu menuju ke parkiran mobil yang ada dirumah sakit jiwa tersebut, keduanya langsung bergegas masuk kedalam mobil dan memerintahkan kepada Pak Mun untuk langsung menuju kedesa yang mereka maksud sebelumnya.


"Kenapa kita menuju Desa Flamboyan Non? Bukankah itu tempat keramat menurut kepercayaan orang orang sekitar?" Tanya Pak Mun keheranan.


"Itulah yang saya cari Pak, segera bawa kami kesana, aku ingin lihat tempat itu secara langsung, agar aku bisa tau kejadian beberapa tahun yang lalu yang terjadi kepada Mamaku"


"Tapi itu sangat bahaya Non, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kita disana".


"Apa Pak Mun mau aku berangkat sendiri? Baiklah kalau Pak Mun tidak mau mengantarku, aku akan pergi sendiri kesana".


"Tidak Non jangan seperti itu, kenapa Non Dhira selalu membuat saya terperangkap dalam sebuah dilema sih Non".


"Pak Mun antarkan saya kesana" Ucap Nadhira dibuat sedikit sabar didepan Pak Mun.


"Baik Non".


"Kenapa Non Dhira minta pergi kesana? Apa yang ingin ia lakukan dengan desa keramat itu? Tidak tidak, jangan berpikir negatif dulu" Batin Pak Mun.


"Apa yang Pak Mun batinkan?" Tanya Nadhira.


Mendengar pertanyaan Nadhira sontak membuat Pak Mun begitu terkejut bukan main, bagaimana mungkin Nadhira bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan olehnya didalam batin, rasanya dirinya sangat tidak mempercayai hal itu.


"Pak? Anda baik baik saja kan?" Tanya Nadhira lagi ketika tidak mendapatkan respon dari Pak Mun.


"Apa Non Dhira mendengar apa yang saya bicarakan sebelumnya?" Tanya Pak Mun dengan keheranan yang luar biasa.


Nadhira hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan dari Pak Mun yang sedang ketakutan itu, entah kenapa Pak Mun merasa begitu takut dengan ucapan yang diucapkan oleh Nadhira sampai segitu takutnya seperti itu.


Melihat senyum Nadhira seperti itu bukannya membuat Pak Mun merasa tenang malah justru sebalinya, hal itu membuat Pak Mun nampak semakin merinding ketika berhadapan dengan Nadhira karena Nadhira bukan hanya seperti seorang gadis pada umumnya akan tetapi dirinya lebih menjorok pada seorang gadis yang misterius.

__ADS_1


"Pak Mun kenapa ketakutan seperti itu? Apakah aku sangat menakutkan bagi Pak Mun? Bukan aku yang bisa mendengar batin Pak Mun tapi Nimas, dia mengatakan bahwa Pak Mun sedang berburuk sangka kepadaku, jadi dia memberitahuku seperti itu, dan aku memberitahukan hal itu kepada Pak Mun sebelum membuat dirinya semakin marah nanti".


"Non, saya mohon jangan buat saya semakin takut Non, ini saya sudah merinding Non apalagi Non Dhira mengatakan hal seperti itu" Ucap Pak Mun sedikit ngeri mendengar ucapan dari Nadhira.


"Pak Mun takut dengan diriku? Eh maksudku Nimas? Pak Mun aku itu ada dua sisi tanpa Pak Mun ketahui loh, Pak Mun takut dengan sisi yang mana? Kadang aku jadi Nadhira dan kadang juga bisa jadi Nimas secara bersamaan".


"Non, jangan buat saya semakin takut".


"Pak Mun".


Nadhira tersenyum misterius kearah kaca sepion yang ada didalam mobil, hal itu membuat Pak Mun hanya bisa menelan ludahnya sendiri ketika melihat wajah Nadhira dalam sepion, dengan perlahan lahan Nadhira menggerakkan jemarinya kearah leher Pak Mun dan seketika itu juga Pak Mun hanya bisa berdiam diri tanpa bergerak sedikitpun.


"Pak Mun, ikut aku kealamku" Ucap Nadhira yang sengaja dibuat seseram mungkin.


"Arghh... Tolong! Jangan sakiti aku Non" Teriaknya dengan sesegera mungkin untuk keluar dari dalam mobil tersebut dengan jantung yang berdegup kencang sekencang angin topan.


"Eh, kenapa malah lari keluar seperti itu sih? Nanti dikiranya aku mencelakai Bapak loh, kan aku ngak ngapa ngapain Pak Mun kok"


Pak Mun dengan segera mungkin membuka pintu mobil itu dengan terburu buru, dan dirinya langsung berlari keluar dari mobil yang mereka naiki itu, hal itu membuat Nadhira tertawa terbahak bahak dan langsung membuka kaca mobil itu.


"Non jangan sakiti saya Non, saya masih punya istri dan anak dirumah yang menunggu kepulangan saya Non, kalau saya mati siapa yang akan menghidupi mereka berdua" Ucap Pak Mun sambil menutup kedua matanya dengan menggunakan tangannya.


"Pak Mun ada apa? Kan aku tidak ngapa ngapain Pak" Tanya Nadhira.


"Dhira, bercandamu keterlaluan, lihatlah Pak Mun sekarang, untung saja tidak mengompol disini tadi" Sela Theo sambil menunjuk kearah Pak Mun.


"Apa Pak Mun takut?"


"Lalu apa lagi kalau bukan takut namanya Dhira? Lihat saja tuh Pak Mun kelihatan sangat ketakutan seperti itu".


"Pak Mun masuklah, aku hanya bercanda tadi, habisnya Pak Mun kalau ketakutan malah kelihatan begitu lucu" Ucap Nadhira.


"Ini beneran Non Dhira kan?" Tanya Pak Mun dengan ragunya terhadap Nadhira.


"Kalau bukan saya siapa lagi Pak? Nimas? Ini saya Pak Nadhira, serius ini memang benar Nadhira Pak".


"Iya Pak, buruan gih masuk, ngak enak tau dilihatin orang yang mau parkir disini".


"Non Dhira sih bercandanya kelewatan banget".


"Iya maaf Pak, habisnya Pak Mun lucu deh, masak takut kepada mahluk gaib, seharusnya takut itu sama Allah bukan makhluk gaib".


"Non lain kali kalau mau bercanda jangan kayak gitu, untungnya jantung saya belum modar tadi, kalau sampai modar bisa gaswat".


"Gawat kali Pak, iya iya Pak, lain kali ngak begitu lagi deh pokoknya".


"Non mah gitu, bagaimana kalau saya metong saat ini gara gara sakit jantung karena Non, lalu siapa yang akan menghidupi istri dan anakku".


"Boleh saya request Pak?" Tanya Theo.


"Hah? Maksudnya apa ini?" Tanya Pak Mun dengan sangat kebingungan.


"Istrinya cantik ngak Pak? Kalau cantik ngak apa apa buat saya saja sih Pak, biar aku yang menghidupinya dan mencukupi segala kebutuhannya nanti, masih untung janda anak satu" Ucap Theo.


Theo merasa ketar ketir mendengar ucapannya sendiri, bagaimana dirinya bisa mengatakan hal seperti itu, sungguh Theo benar benar merasa keceplosan mengatakan hal seperti itu sehingga membuat dirinya nampak terlihat begitu malu.


"Enak saja kau bilang! Makin ngak iklas aku untuk meninggalkannya dengan dirimu"


"Eh... Bukan seperti itu maksud saya Pak, jangan salah paham dulu, meskipun aku adalah laki laki baj**gan selama ini aku tidak pernah merebut istri orang juga kali Pak, gadis disebelahku lebih cantik dan galak sih Pak" Ucap Theo sambil melirik kearah Nadhira yang ada disebelahnya.


"Dirimu cantik kah Dhira? Ku lihat lihat biasa saja, cantikan juga diriku ini" Ucap Nimas sambil menatap kewajah Nadhira dengan teliti.


"Jangan dengarkan dia, dia hanya membual saja, asal kau tau aku lebih cantik dari apa yang dia katakan itu, dia benar benar tidak bisa merangkai kata kata yang bagus mengenai kecantikanku"


"Hahaha.... Hayalanmu terlalu tinggi Dhira, awas kalau jatuh sakit nanti, jatuh ditanah tidak seindah jatuh cinta tau".


"Cinta? Apa kau memiliki cinta? Ku rasa cinta tidak ada didalam tubuhmu itu, kenapa kau harus berbicara soal cinta? Memang apa kau tau soal cinta itu ha? Palingan juga tidak".

__ADS_1


"Emang kau pikir aku tidak punya cinta ha? Aku beritahu dirimu ya, aku juga pernah mencintai seorang lelaki, dia begitu tampan dan juga baik hati" Ucap Nimas sambil membayangkan wajah seseorang yang pernah ada didalam hatinya.


"Terus orang itu tiada, dan tamat deh".


"Kau benar, raganya memang sudah tiada tapi jiwanya masih ada sampai sekarang".


"Lalu kenapa kau tidak mendatanginya dan hidup berdua bersamanya?".


"Karena kita memang berbeda Dhira, dia adalah anak dari musuhku dan kita tidak akan pernah bisa bersama selamanya, bahkan sampai kita berdua telah tiada secara bersamaan".


"Rumit sekali kisah cintamu Nimas, aku turut prihatin karena itu, kenapa tidak kau lupakan saja dendammu itu?".


"Mudah sekali kau bilang seperti itu, seandainya kau jadi diriku kau tidak akan mampu mengatakan hal seperti ini kepadaku".


"Baguslah kalau kau sudah tobat wahay anak muda" Ucap Pak Mun.


"Tobat? Kan aku tidak pernah ngelakuin hal itu juga kali Pak, lalu kapan aku harus tobat? Kalo tobat sih nanti saja, kalau sekarang tomat ngak apa apa, enak tuh apalagi dibuat sambal bajak ala mamakku, apalagi itu adalah soto babat".


"Makanan saja yang kau ingat itu, tobat itu bukan hanya karena pernah ngelakuin saja".


"Ah.. sudahlah Pak, buruan masuk gih, panas tau diluar, aku yang lihat Bapak diluar saja sudah merasa panas apalagi Bapak sendiri yang ada diluar".


"Tapi...."


"Pak Mun masuk dulu gih, ngak enak tau dilihat orang orang yang ada diluar seperti itu, Pak Mun sih menganggapnya serius kan aku hanya bercanda saja Pak" Ucap Nadhira.


"Non boleh aku katakan sesuatu?"


"Ada apa Pak Mun?".


"Bercandanya tidak lucu Non" Ucap Pak Mun dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Nadhira justru tertawa semakin keras melihat ekspresi Pak Mun seperti itu, menyadari tawanya yang membuat Pak Mun sedikit kesal hal itu membuat Nadhira segera menutup mulutnya sendiri.


"Ups... Maaf Pak Mun, saya keceplosan tertawanya, Pak Mun masuk dulu lah, aku janji sama Pak Mun kalo tidak akan bercanda seperti itu dengan Pak Mun hanya untuk saat ini saja Pak, tapi entah kalau esok dan esoknya lagi dan esoknya lagi".


"Non Dhira, sudah dong Non jangan buat saya semakin takut seperti ini".


"Ngak ngak Pak, buruan masuk gih".


"Aman ngak ini Non?


"Aman Pak, buruan masuk".


Pak Mun pun segera masuk kedalam mobil itu kembali, meskipun agak terasa merinding baginya akan tetapi dirinya dengan terpaksa harus masuk demi sebuah pekerjaannya dan demi menghidupi keluarganya yang ada dikampung.


Pak Mun segera menyalakan mesin mobilnya, dan segera bergegas meninggalkan parkiran rumah sakit itu dengan badan yang sedikit gemetaran karena dirinya merasa sedang duduk didalam mobil dengan mahluk yang tak kasat mata itu.


"Apa Pak Mun lelah? Atau belum makan? Kenapa gemetar seperti itu Pak".


"Tidak apa apa Non, hanya saja....".


"Ya sudah kita mampir beli makanan dulu saja Pak, dikedai kedai yang ada ditepi jalanan".


"Baik Non".


"Dhira sepertinya bercandamu terlalu kelewatan kali ini, lihat saja tuh Pak Mun sampai gemetar seperti kurang asupan itu" Ucap Theo.


"Ya maaflah namanya juga disengaja, eh tidak sengaja, mana aku tau kalau akhirnya seperti ini".


Nadhira sudah terbiasa dengan kehadiran Theo dalam kehidupan beberapa minggu belakangan ini, oleh karena itu keduanya sekarang seakan akan terlihat begitu dekatnya dan sering bercanda gurau bersama sehingga hubungan keduanya terlihat seperti sepasang kekasih.


Theo selalu ada untuk Nadhira dan menemani setiap langkah yang Nadhira lakukan termasuk dalam mengungkap misteri terjadinya kecelakaan yang dialami oleh Lia, Theo sama sekali tidak pernah meninggalkan Nadhira dan selalu menjaga Nadhira dimanapun Nadhira berada.


...Maaf karena keterlambatan update...


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2