
Nadhira dan Fajar tetap mematung didepan kelasnya, pandangan keduanya tertuju kepada Rifki yang tengah mencoba mengambil bukunya yang berada didalam tas milik Nadhira, setelah mengambil buku tersebut Rifki segera membaca.
"Apakah Rifki sedang marah?". Tanya Fajar yang memperhatikan pergerakan Rifki.
"Kalo dilihat dari ekspresinya sih iya dia sedang marah saat ini, tapi kamu jangan khawatir, dia tidak bisa marah begitu lama".
Pada saat itu, guru yang mengajar dikelas mereka tidak hadir karena sakit, sehingga membuat kelas mereka tidak ada yang mengajar, Nadhira dan Fajar terus berbincang bincang didepan kelas sambil melihat kearah Rifki yang sedang berkonsentrasi pada bukunya.
"Akh...".
Tiba tiba dada Nadhira terasa begitu sakit sehingga ia merintih kesakitan didepan Fajar sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri, hingga akhirnya Nadhira jatuh terduduk didepan pintu, sambil terus memegangi dadanya.
"Nadhira kamu kenapa??". Teriak Fajar karena refleknya melihat Nadhira.
Rifki yang sedang fokus kepada bukunya ia segera menaruh bukunya dimeja, dengan sigap Rifki berlari ketika mendengar suara Nadhira, dan teriakan dari Fajar, Rifki segera memeluk punggung Nadhira dan membawanya masuk dengan cara memapahnya dan mendudukkannya dibangku Nadhira.
"Apa yang terjadi dengan Nadhira?".
"Eh Nadhira kenapa?".
Banyak sekali yang menanyakan hal itu ketika melihat Rifki yang tiba tiba berlari keluar kelas dan menghampiri Nadhira setelah itu memapahnya untuk masuk kedalam kelas, hal itu membuat perhatian mereka terarah kepada Nadhira yang merintih kesakitan didadanya.
Rifki menoleh kesana kemari untuk mencari sosok Nimas, tetapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Nimas, dapat Rifki rasakan bahwa energi dari permata itu muncul kembali, ia juga memeriksa denyut nadinya yang seakan akan tidak stabil.
"Nadhira!! Lawanlah". Ucap Rifki sambil memijat punggung Nadhira.
"Aarghh.... ". Teriak Nadhira.
Melihat Rifki yang begitu paniknya membuat Rahma segera mendatangi Fajar untuk menanyakan apa yang terjadi kepada Nadhira saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadhira?". Tanya Rahma kepada Fajar.
"Aku ngak tau, tiba tiba saja dia seperti itu".
Nadhira memejamkan matanya dan memegangi tangan Rifki begitu kuatnya sehingga menimbulkan sebuah bekas kuku yang dalam ditangan Rifki, Rifki berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan oleh kekuatan permata itu dengan memindahkan kedalam tubuhnya.
Efek dari energi permata itu juga mengalir didalam tubuh Rifki, pernafasannya mulai ikut tidak stabil karena energi permata yang mengalir dalam tubuhnya, hal itu membuat Rifki merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Nadhira.
"Nimas!! Dimana kamu". Ucap Rifki dengan terbata bata memanggil nama Nimas.
"Rifki kamu kenapa? Cepat panggilkan bapak ibu guru". Rahma begitu khawatirnya melihat keduanya.
Beberapa temannya segera berlari kekantor untuk memanggil bapak ibu guru, Rifki berhenti memindahkan energi itu kedalam tubuhnya karena tubuhnya tidak lagi mampu untuk menahan energi dari permata iblis itu.
Tak beberapa lama kemudian beberapa guru datang kekelasnya, untuk melihat keadaan Nadhira dan juga Rifki, menurut perkataan para muridnya Nadhira dan Rifki tiba tiba seperti kesakitan, oleh sebab itu mereka segera mendatangi kelas muridnya tersebut.
Fajar memegangi tubuh Rifki yang begitu lemasnya dengan eratnya, yang seakan akan tubuh itu sudah tidak mampu untuk berdiri, sampai beberapa guru datang kekelas mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi". Tanya guru BK.
"Pak, tolong bantu dengan doa!! Mahluk gaib itu terlalu kuat, dia merasuki tubuh Nadhira". Ucap Rifki sambil menahan sakitnya.
Melihat Rifki yang kesakitan membuat Raka berusaha untuk mengurangi rasa sakit itu, Nadhira seakan akan menggila ketika beberapa orang yang berada disekitarnya mulai membacakan doa atas permintaan dari Rifki.
Perlahan lahan sakit yang Rifki alami mereda atas bantuan dari Raka, Rifki sudah bisa berdiri dengan benar lagi tanpa bantuan dari Fajar, sehingga ia melepaskan pegangan Fajar dari tubuhnya.
"Siapa kamu!!!". Teriak Rifki kepada Nadhira.
Mendengar pertanyaan itu membuat sosok yang berada didalam tubuh Nadhira menangis, sehingga tubuh Nadhira berhenti untuk memberontak dan duduk diam sambil menangis.
__ADS_1
Tiba tiba Nimas muncul disebalah Rifki, ia juga merasa terkejut ketika melihat Nadhira seperti itu, melihat Nadhira yang aman bersama Rifki membuat Nimas pergi kedesa Mawar Merah untuk melihat orang orang yang selalu berusaha untuk masuk kedalamnya, tanpa disangka bahwa ketika Nimas kembali Nadhira sudah seperti ini.
"Kamu!!". Ucap Rifki kepada Nimas. "Apa yang kamu lakukan kepada Nadhira!!".
Semua orang yang berada didekat Rifki merasa terkejut ketika Rifki mengatakan sesuatu entah kepada siapa ia berbicara, yang mereka tau bahwa Rifki sedang berbicara seorang diri.
"Aku tidak tau apa apa, justru apa yang kau lakukan kepadanya? Kenapa kau juga terluka?".
Rahma dan salah satu guru perempuan membantu untuk memegangi Nadhira yang terus memberontak, sementara salah satu guru laki laki memijat punggung dan kening Nadhira untuk menyadarkan Nadhira yang sedang kerasukan.
Rifki berdiri tepat dihadapan Nadhira dan memegangi kedua tangan Nadhira, sementara Nimas segera memeriksa energi permata yang bergejolak itu, Nimas begitu terkejut ketika merasakan gejolak dari energi permata itu.
"Tidak!! Pangeran apa yang harus aku lakukan!!!".
"Apa yang terjadi kepadanya?". Tanya Rifki dengan seriusnya.
"Ada roh lain yang mencoba masuk kedalam tubuhnya, tetapi Nadhira terus memberontak akan hal itu, aku tidak tau harus bagaimana, yang jelas aku harus berusaha untuk mengeluarkan roh itu".
"Kenapa kau tidak ikut masuk juga? Dan membantunya dari dalam?".
"Biar aku coba".
Sosok Nimas berubah menjadi sebuah cahaya dan berusaha untuk masuk kedalam dada Nadhira, hal itu sempat membuat Nadhira berteriak histeris seakan akan ia kesurupan, Nadhira juga mencakar tangan Rifki yang tengah memeganginya dengan erat dan tatapan mata seakan akan menjadikan Rifki sebagai lawannya.
Kejadian siang itu menyita banyak perhatian semua penghuni sekolahan tersebut, termasuk juga Amanda yang berada dikelas lain, Amanda segera mendatangi kelas Nadhira, dan melihat apa yang terjadi kepada saudara tirinya itu.
"Dhira dengarkan aku, tenanglah jangan dilawan!!". Ucap Rifki sambil menatap kedua mata Nadhira yang tengah terpejam saat itu.
Nadhira membuka matanya dengan tatapan yang berbeda, ia menatap kearah Rifki dengan tajamnya, ia juga berusaha untuk melepaskan pegangan beberapa orang dari tangannya.
"Lepaskan!!!". Teriak Nadhira tetapi tatapan matanya masih tertuju kepada Rifki yang ada didepannya.
Kini dikalas itu hanya tinggal dua orang guru wanita, dan beberapa guru pria, Rifki dan juga Rahma yang tengah memegangi tangan Nadhira, beberapa guru juga berjaga dipintu kelas itu dan menutupnya agar tidak ada anak yang berusaha untuk masuk kedalam kelas itu.
"Siapa kamu sebenarnya!!!". Bentak Rifki dengan begitu marahnya kepada Nadhira. "Kau pikir aku takut denganmu!! Keluar kau!! Hadapi aku sekarang juga".
"Kau berani denganku? Akan ku bunuh kau!!". Ucap sosok yang merasuki Nadhira dengan seraknya.
"Baiklah jika kau ingin menguji kesabaranku, maka jangan salahkan aku jika mengeluarkanmu dari tubuhnya secara paksa!!".
Rifki segera melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nadhira, ia meminta kepada gurunya dan Rahma untuk memegangi tubuh Nadhira dengan kuatnya, sementara Rifki berjalan kebelakang Nadhira dan menyentuh punggung Nadhira dengan kedua tangannya.
Tanpa Rifki sadari bahwa ada aura yang aneh keluar dari tubuhnya, butuh tenaga yang besar untuk mengeluarkan roh dari tubuh yang dirasuki secara paksa, nafas Rifki mulai tidak beraturan dan keringatnya terus bercucuran dengan derasnya.
"Aura ini!! Bagaimana bisa keluar dari tubuh bocah ini". Batin Nimas yang merasakan aura yang keluar dari tubuh Rifki.
"Nadhira sadarlah". Bisik Rifki ditelinga Nadhira.
Perlahan lahan Nadhira mulai merasa tenang membuat Rifki menghela nafas lega karena hal itu, karena Nimas berhasil mengeluarkan sosok itu dari tubuh Nadhira, Rifki hanya bisa melihat sosok itu sekilas saja setelah itu sosoknya lenyap begitu saja.
Nadhira tidak sadarkan diri, tetapi kesadarannya segera direbut oleh Nimas, sehingga meskipun Nadhira telah membuka matanya tetapi dirinya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Bapak dan ibu guru bisa melepaskan Nadhira saat ini, sosok itu sudah keluar dari tubuhnya". Ucap Rifki dengan lemasnya.
"Kamu yakin?". Ucap salah satu guru wanita.
"Yakin bu, aku sudah melihatnya keluar dan pergi baru saja".
Beberapa guru itu lalu melepaskan pegangan tangan mereka, begitupun dengan Rahma, tetapi Rahma terus memperhatikan tatapan kedua mata Nadhira yang seolah olah sedang kosong, Rifki berjalan kedepan Nadhira dan berlutut di depannya saat ini.
__ADS_1
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengirimkan mahluk itu untuk merasuki tubuh ini, demi mengincar permata ini". Ucap Nimas dari dalam tubuh Nadhira.
Rifki menatap kedua mata Nadhira dengan lekatnya, ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nimas melalui telepati, Rifki juga membaca maksud dari tatapan mata Nadhira saat ini, Nadhira tidak sadarkan diri tetapi tubuhnya digerakkan oleh Nimas.
"Ada seseorang yang telah mengirimkan mahluk itu kepada Nadhira, mahluk itu seperti sosok genderuwo, tubuhnya besar, matanya lebar berwarna merah, dan juga tubuhnya penuh dengan bulu yang berwarna hitam begitu pekat".
"Bagaimana dirimu bisa tau nak?". Tanya seorang guru lelaki.
"Indra keenamku terbuka sejak aku dilahirkan pak, itu sebabnya aku bisa melihat sosok itu dan juga mengetahui maksud kedatangan sosok itu".
"Lalu bagaimana sekarang?".
"Sudah aman pak, tinggal menunggu Nadhira sadarkan diri saja".
Tubuh Nadhira yang digerakkan oleh Nimas segera menganggukkan kepalanya pelan untuk mengiyakan ucapan Rifki, Rifki menatap kearah Nadhira dan memberikan sebuah kode kepada Nimas untuk memintanya berpura pura menjadi Nadhira.
Nimas segera tersenyum tipis kearah Rifki, dan mengatakan kepada bapak dan ibu gurunya bahwa dirinya sudah tidak apa apa, hal itu membuat para guru merasa lega dan segera meninggalkan ruangan tersebut untuk melanjutkan aktivitasnya masing masing.
Diruangan itu kini tinggal Rahma dan Rifki yang berada disamping Nadhira, wajah yang tadinya tersenyum tipis sekarang berubah menjadi datar, melihat perubahan ekspresi itu membuat Rahma merasa terkejut dan memegangi bahu Nadhira.
"Nadhira kau baik baik saja?". Tanya Rahma.
"Ma, dia bukan Nadhira".
Ucapan yang Rifki lontarkan seketika membuat Rahma menjauh dari tubuh Nadhira, Rahma begitu terkejut ketika mengetahui bahwa masih ada roh yang merasuki tubuh Nadhira.
"Apa maksudmu!!!".
"Jiwa Nadhira sedang tertidur, sedangkan yang menyadarkannya saat ini adalah roh orang lain, bisa dibilang bahwa masih ada roh yang tengah merasukinya saat ini". Jelas Rifki kepada Rahma.
Baru pertama kali ini Rifki berbicara begitu banyak kepada Rahma, sementara yang dijelaskan oleh Rifki sama sekali tidak Rahma mengerti, melihat itu Nimas tertawa menggunakan tubuh Nadhira.
Tawa yang sama sekali tidak pernah Nadhira lakukan, membuat Rahma merasa merinding dengan tawa tersebut, tak beberapa lama kemudian beberapa temannya mulai masuk kedalam kelas tersebut, pandangan mereka masih tertuju kepada Nadhira yang sedang berhadapan dengan Rifki.
Rifki segera duduk disamping Nadhira, sementara Rahma masih terpaku dan membisu ditempatnya, penjelasan Rifki sama sekali tidak masuk akal, bagaimana Nadhira masih dirasuki oleh mahluk gaib sementara Rifki dengan begitu santainya mengenai situasi ini.
"La.. lalu bagaimana dengan Nadhira?". Rahma masih tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rifki.
"Nimas keluarlah, biarkan Nadhira istirahat". Ucap Rifki kepada Nadhira.
"Aku sudah nyaman dengan tubuh ini". Ucap Nimas sambil cemberut. "Tapi baiklah, dengan senang hati aku akan keluar sekarang".
Nimas segera keluar dari tubuh Nadhira sebelum ia keluar Nimas telah menidurkan kepala Nadhira diatas meja bangkunya, Rifki mengusap kepala Nadhira dengan pelannya.
"Tolong jaga Nadhira, aku mau mengambilkannya minyak kayu putih di UKS dulu". Ucap Rifki sambil mangkit dari duduknya.
"Lalu bagaimana dengan Nadhira kalo dia kerasukan lagi?". Tanya Rahma yang menghentikan langkah Rifki yang menjauh dari bangku tersebut.
"Palingan kamu juga akan mendapatkan cakaran seperti ini". Rifki menunjukkan kedua tangannya kepada Rahma.
Rahma melihat tangan itu dengan teliti ada begitu banyak bercak darah yang sudah mengering ditangan Rifki, luka itu tercipta dari kuku kuku Nadhira yang menancap ditangannya karena Nadhira berpegangan begitu eratnya kepada tangan Rifki.
"Tidak tidak, biar aku saja yang mengambilnya, kamu disini saja jaga Nadhira, aku ngak mau disini nanti tanganku juga terluka seperti itu".
Rahma segera bergegas menghentikan langkah Rifki, biar bagaimanapun ia tidak mau jika harus menjaga Nadhira dalam keadaan seperti ini, ia sama sekali tidak tau bagaimana jadinya kalau dialah yang akan menjaga Nadhira dikelas itu.
Tanpa menunggu jawaban dari Rifki, Rahma segera meninggalkan kelas tersebut dan menuju keruangan UKS untuk mengambilkan Rifki obat dan juga minyak kayu putih untuk Nadhira.
Rifki hanya tersenyum sebentar setelah itu ia berjalan menuju mejanya dan duduk disana, pandangannya tertuju kepada Nadhira yang sedang tertidur dengan pulasnya, tak beberapa lama kemudian Fajar datang menghampirinya.
__ADS_1