
"Lalu bagaimana cara kalian mengatakan kepada Ustadz yang telah menolong Rahel, sehingga penduduk desa itu begitu percaya bahwa Rahel pergi dari tempat itu karena telah berzinah dan ia malu bertemu dengan Ustadz itu saat kepergiannya?". Rifki bertanya kepada laki laki itu dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Apa?? Bagaimana bisa kalian memalsukan kebenaran akan hal seperti itu?". Nadhira begitu terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Rifki mengenai persoalan itu.
"Kami mendatangi tempat dimana Ustadz itu tinggal, untuk berpura pura mencari sosok perempuan itu untuk memuaskan nafsu kami bertiga, dan kami juga telah menaruh sebuah surat dirumah yang ditinggali oleh perempuan itu sebelum kami mendatangi tempat dimana Ustadz itu tinggal agar mereka percaya bahwa perempuan itu memang pergi dari rumah itu karena takut rahasianya terbongkar, seluruh warga mengamuk setelah itu dan mereka membakar semua barang barang milik perempuan itu dan juga Adiknya".
"Kegilaan macam apa yang telah kalian lakukan! Bagaimana kalian bisa melakukan hal seperti itu kepada gadis yang bahkan sama sekali tidak kalian kenal sebelumnya hanya karena uang dan nafsu kalian saja, bahkan kalian tidak bisa disebut sebagai manusia". Nadhira mengepalkan tangannya mendengar ucapan tersebut.
"Kami tidak berdaya saat itu".
"Tidak berdaya? Kau bilang tidak berdaya saat itu!! Arghhh... Bagaimana hal itu bisa dibilang tidak berdaya, jika aku membunuh kalian bertiga saat ini juga, apakah hal itu akan disebut kesalah pahaman!!". Teriak Rifki kepada ketiganya.
"Kalian memang tidak berdaya, karena memang tidak ada pilihan lain untuk menyembunyikan hal seperti ini! Setelah semuanya kalian lakukan dengan sengaja, tiba tiba kalian mengatakan tidak berdaya? Aku bahkan lebih tidak berdaya jika tangan ini tiba tiba merebut nyawa kalian". Nadhira mengepalkan tangannya dengan begitu eratnya.
Rifki yang mampu melihat kejadian yang sebenarnya begitu marah ketika mendengar alasan dari mereka, mereka menjadikan ketidak berdayaan menjadi alasan utama mereka melakukan hal itu, itu sangat mustahil jelas jelas Rifki dapat melihatnya dengan begitu jelas tanpa terkecuali.
Melihat Rifki yang marah kepada ketiganya, membuat ketiganya hanya bisa berdiam diri dan menundukkan kepalanya, mereka bahkan tidak berani menatap sosok yang ada dihadapannya karena Rifki adalah pemimpin dari orang orang yang tengah melumpuhkannya saat ini.
"Ampunilah kami, kami mohon, kami sudah mengatakan yang sejujurnya, ampunilah nyawa kami". Ucap pemimpin ketiganya dengan tubuh yang bergemetaran.
"Mengampuni kalian? Untuk apa! Jika Rahel yang ada diposisi kalian saat ini, apakah kalian akan mengampuninya? Tanyakan kepada diri kalian sendiri, apakah pantas kalian untuk diampuni". Nadhira dengan emosi yang hampir meledak kepada ketiganya.
"Sudah Dhira, tidak pantas kita meladeni orang seperti mereka, mereka pantas mendapatkan hukuman yang layak mereka dapatkan". Rifki memegangi tangan Nadhira yang sedang terkepalkan dengan eratnya.
"Arghhhhh......". Hakam sudah tidak mampu lagi untuk menahan emosi yang terus memuncak didalam hatinya, ia tidak menyangka bahwa hal itu terjadi kepada orang yang ia cintai.
Hakam begitu tertekan dengan kebenaran yang telah terungkap itu, jiwanya bagaikan terbang ambing hanyut ditelan ombak yang begitu ganas.
"Semua ini salahku arghhh... Seandainya waktu itu aku tidak membawanya menemui Ibuku, hal ini tidak akan terjadi arghhh....". Hakam terus berteriak, ia merasakan penyesalan yang begitu mendalam karena hal ini.
"Hakam, tenangkan dirimu!! Jangan bebankan hal ini, ini bukan salahmu, percayalah sampai saat ini Rahel masih tetap menyayangimu dialam sana". Vano mencoba menenangkan Hakam yang tengah menyalahkan dirinya dan menangis.
"Bagaimana aku bisa tenang! Katakan kepadaku, bagaimana! Bagaimana aku bisa tenang, orang yang paling aku cintai pergi meninggalkanku untuk selama lamanya!! Arghhhhhh.......". Hakam terus berteriak karena emosinya yang tak lagi mampu ia tahan.
Rifki sendiri tidak mampu mengendalikan emosinya, lantas bagaimana bisa orang lain bisa mengendalikan emosi orang lainnya, mengendalikan diri sendiri saja itu begitu sulit apalagi mengendalikan orang lain.
"Sekuat kuatnya lelaki, ia pasti akan menangis juga pada akhirnya, apabila beban yang ia tanggung telah mencapai batas maksimalnya, biarkan dia tenang dengan sendirinya, asalkan dia tidak menyakiti dirinya sendiri itu tidaklah masalah". Ucap Rifki kepada Vano.
"Baik Tuan Muda".
Meskipun sekuat apapun seorang lelaki, sekeras apapun seorang lelaki, mereka masih memiliki titik terlemahnya tersendiri, mereka juga manusia yang masih bisa untuk menangis akan tetapi mereka tidak pernah mempublikasikannya.
Rifki akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Hakam saat ini seandainya ia berada diposisi Hakam, ia tidak akan sanggup kehilangan sosok seorang yang paling ia sayangi apalagi dengan cara seperti ini.
Apalagi Hakam dan Rahel sudah memantapkan diri untuk menikah, akan tetapi Ibu Hakam tidak merestui hubungan itu, justru Ibunya berbuat seperti itu kepada Rahel yang menyebabkan nyawa Rahel melayang dalam sesaat.
Rahel adalah sosok yang terbaik baik Hakam, Hakam merasa begitu nyaman ketika berada didekat Rahel, akan tetapi saat ini semuanya hanya tinggal kenangan, keduanya dipisahkan oleh kematian.
"Rif, kenapa kamu bisa mengatakan itu, apa kamu pernah menangis?". Tanya Nadhira yang berada disampingnya.
"Pernah, waktu kecil, rebutan mainan dengan seorang gadis kecil".
"Bukan waktu kecil, pas sudah dewasa".
"Kamu pengen tau aku nangis?".
__ADS_1
"Iya".
"Menghilanglah dari bumi, karena itu adalah luka terberat untukku".
"Jika aku yang berada diposisi Rahel, apa yang akan kamu lakukan sebagai Hakam?".
"Mungkin pesta, ataupun motong batang pisang milik orang lain sampai mengeluarkan getahnya".
"Psikopat kau Rif".
"Biarlah, terserah".
Hati Hakam begitu hancur, disatu sisi ia kehilangan sosok seorang yang ia cintai akan tetapi disatu sisi yang lain penyebabnya adalah Ibunya sendiri, Rahel sering menasehatinya agar dirinya tidak pernah melawan Ibunya, karena selamanya surga seorang anak laki laki berada dikaki Ibunya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin bersama Ael, tapi alam kita berbeda, Ael... Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku". Hakam menangis sejadi jadinya karena kepergian dari Rahel.
Titik terlemahnya seorang lelaki adalah ketika ia kehilangan sosok seseorang yang paling ia cintai, dan titik terkuatnya seorang lelaki adalah ketika orang yang ia cintai selalu ada disisinya.
"Aku harap yang kau katakan itu benar". Ucap Rifki sambil berjalan kearah lelaki itu sambil membungkuk dan memegangi dagu dari lelaki itu dengan satu tangan.
"Sa... Saya tidak berani berbohong Tu... Tuan". Ucap lelaki itu dengan ketakutan dihadapan Rifki.
"Aku tidak mengatakan bahwa dirimu berbohong, tapi sekali saja ada yang kamu sembunyikan dariku, kau akan segera menyusul perempuan itu".
"Saya... Ti... Tidak mengerti apa yang Tuan katakan". Wajah orang itu kini menjadi pucat pasih karena ucapan Rifki.
"Katakan!! Jangan menguji kesabaranku!". Bentak Rifki kepada lelaki itu, yang membuat semua orang yang ada disitu begitu terkejut.
"Sa... Saya tidak mengerti Tuan".
"Tenang Rif, istighfar Rif". Nadhira segera memegang tangan Rifki dan mencoba menenangkannya.
Rifki mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan lahan, sambil beberapa kali mengucapkan istighfar dalam hatinya.
"Aku seorang laki laki, aku bahkan malu mengakui kalian sebagai bagian dari laki laki, kalian bukan manusia kalian lebih kejam daripada iblis sekalipun, kalian tidak pantas disamakan dengan binatang sekalipun, biar bagaimanapun binatang masih memiliki perasaan daripada kalian bertiga sekalipun, apa yang kalian lakukan dengan jenazahnya?".
"Cepat katakan!". Ucap Reno sambil mengeratkan pegangannya hingga tangan pria itu terdengar bunyi seperti tulang retak.
"Akh.... Ba.. baik kami akan katakan". Pria itu menjerit kesakitan karena perbuatan Reno.
"Setelah itu kami menikmati tubuhnya sebentar, tidak lupa kami mengambil foto agar semua orang percaya dengan apa yang kami uc....".
Plakkk... Plakkk.... Plakkk....
Sebelum pria itu selesai berbicara sebuah tangan pelayang dan menamparnya dengan keras dan juga kedua orang yang ikut serta dalam kejadian itu, pelakunya tidak lain adalah Nadhira.
"Kalian lebih menjijikkan daripada belatung, dimana sikap kemanusiaan kalian? Bahkan disaat dia sudah tidak bernyawa kalian masih tetap melakukan hal sekeji itu kepadanya, lebih baik kalian membusuk dipenjara untuk selama lamanya".
Mendengar ucapan pria itu membuat Rifki memejamkan matanya, ia tidak ingin lepas kendali untuk saat ini, semuanya telah terjadi tidak akan pernah bisa kembali, semarah apapun dirinya saat ini, ia tidak akan mampu mengubah apapun yang telah terjadi sebelumnya.
Hakam yang mendengar itu segera bangkit dari duduknya dan mendatangi ketiga orang itu, akan tetapi Vano dan yang lainnya dengan sesegera mungkin segera menghentikannya karena mereka tidak ingin hal itu berujung pembunuhan ditempat itu.
Samsul yang mendengar itu sungguh sangat sangat tidak mempercayainya, sosok yang ia kenal selama ini dengan teganya melakukan hal seperti itu kepada seorang wanita.
"Aku tidak menyangka bahwa Ibu tega melakukan hal seperti itu". Samsul berkata kepada istrinya dengan kerasnya.
__ADS_1
"Tidak!! Aku tidak melakukannya, aku tidak salah, bukan aku yang melakukannya!". Bantah Nita.
Hal itu membuat pandangan semua orang sekarang tertuju kepada sepasang suami istri itu, Rifki mendekat kearah Samsul beserta istrinya diikuti oleh Nadhira dibelakangnya.
"Apa semuanya belum jelas Tante? Apa perlu aku jelaskan secara terperinci, imbalan apa yang Tante berikan kepada ketiga orang itu? Bagaimana Tante bisa melakukan hal itu? Atau apa perlu aku jelaskan kepada Tante bagaimana kematian dari Rahel dan kedatangan Tante ketempat ini saat itu?". Tanya Rifki kepada Nita dengan tegasnya.
"Apa yang kau katakan!! Jangan berkata yang tidak tidak, ku laporkan kalian kepolisi, dengan tuduhan mencemarkan nama baik". Nita begitu tidak terima dengan perkataan Rifki.
"Melaporkan kami, lalu bagaimana dengan perilaku Tante kepada anak kecil yang masih belia dan tidak bersalah itu? Apakah itu tidak bisa dimasukkan kedalam pasal kekerasan anak, bagaimana dengan pelecehan seorang wanita? Apakah itu tidak termasuk pelecehan terdapat remaja dan dapat merusak nama baik bagi wanita itu?". Dengan sekejap Rifki mampu membalikkan kata kata yang dikeluarkan oleh Nita.
Perkataan itu bagaikan sebuah jarum yang melesat masuk kedalam dada Nita, sehingga membuatnya tidak bisa berkata kata lagi untuk menyangkalnya dan tidak ada kata kata yang mampu keluar dari mulutnya dengan kebisuan seribu bahasa.
"Sebaiknya Tante mengakui saja apa yang telah Tante lakukan kepada Rahel dan juga Adiknya selama ini, bagaimana cara Tante membuat Rahel pergi dari rumah, dan bagaimana cara Tante membuat keduanya menderita dijalanan".
"Apa yang dia katakan? Anak ini berbicara ngawur, jangan mempercayainya!".
"Siapa yang Tante ajak bicara? Bahkan suami Tante juga meragukan apa yang Tante katakan, apa perlu aku jelaskan, bagaimana cara Tante mengusir Rahel? Dan menyuruh seseorang untuk memprovokasi masyarakat mengusir Rahel dari sebuah musholla?".
Disaat Rahel dan Adiknya diusir dari sebuah musholla, Rifki dapat mengetahuinya karena anak buahnya telah menyelidiki hal itu terlebih dahulu sebelum Rifki menjalankan aksinya.
Karena penyelidikan yang dilakukan oleh Bram membawakan hasil yang bagus untuk Rifki, sehingga Rifki dan anak buahnya dapat menangkap ketiga orang itu meskipun mereka telah melakukan kejar kejaran yang cukup lama.
"Kalian!! Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk pergi sejauh jauhnya, kenapa kalian kembali". Teriak Nita dengan marahnya kepada ketiga orang itu.
"Maafkan kami Bu, mereka dengan mudah menangkap kami, dan kami tidak bisa berbuat apa apa karena kalah jumlah dalam bertarung". Jelas seorang laki laki yang menurut mereka adalah pemimpin dari kedua orang itu.
"Apa Tante tidak mau bertanya kepadaku, tentang bagaimana aku bisa menangkap ketiga orang ini?". Tanya Rifki dengan senyum yang mencurigakan.
Nita begitu bingung dengan kejadian yang ia alami saat ini, bagaimana bisa, bagaimana bisa semua rahasianya terbongkar hanya oleh anak kecil yang masih ingusan yang ada dihadapannya saat ini.
"Aku akan jelaskan kepada Tante bagaimana caranya aku menangkap ketiganya, mata mataku telah berhasil menemukan keberadaannya, dan terjadilah kejar kejaran yang cukup merepotkan, akan tetapi mereka kalah kuat dengan anak buahku, sehingga anak buahku dengan cepat menangkapnya dan menyembunyikannya sampai saat ini tiba". Ucap Rifki dengan tegasnya sekali lagi.
"Aku tidak kenal mereka! Bisa saja ini hanyalah rekayasa, karena kau adalah ketua mereka mungkin saja kau telah berkomplotan dengan mereka untuk menjebakku, itu mungkin saja".
"Tante, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, lalu apa gunanya untukku melakukan hal menjijikkan itu? Tante juga tidak berarti bagiku, untuk apa aku repot repot melakukan hal ini kalau bukan untuk menyelamatkan anak itu dan membuka semua kejelekan yang telah tante lakukan kepada Rahel".
"Kau bohong, mungkin saja kau ingin memisahkan aku dari keluargaku".
"Memisahkan Tante? Bahkan Allah sendiri begitu sangat membenci yang namanya perceraian, dan aku tidak akan melakukan hal seperti itu, lalu apa untungnya buatku?".
Tak beberapa lama kemudian juga, beberapa polisi datang dengan gagahnya ketempat itu bersama dengan Bayu yang memberi petunjuk, Nita sama sekali tidak bisa mengelak dari hal itu.
"Sebaiknya akui saja Tante, apa yang telah Tante lakukan kepada Rahel!". Ucap Rifki dengan tegasnya.
"Akh...".
Nadhira menoleh kearah dimana suara kesakitan itu berasal, ia menemukan bahwa anak yang diikat tadi sudah terbangun dari pingsannya.
Nadhira segera berlari kearah anak itu dan berusaha untuk melepaskan ikatannya diikuti oleh Hakam dibelakangnya.
Ikatan itu begitu kuat sehingga keduanya tidak mampu untuk membukanya, Vano segera bergegas mendatangi Nadhira untuk ikut serta membantunya, setelah itu Vano mengeluarkan pisau dari balik pinggangnya dan segera memotong tali tersebut.
"Si.. siapa kalian". Tanya anak itu dengan histerisnya. "Tolong jangan pukul aku, lepaskan aku".
"Dek, kami tidak akan menyakiti Adek, Adek tenang ya, kami tidak akan mencelakakan Adek kok". Nadhira berusaha untuk menenangkan anak itu yang sedang berteriak histeris karena kekerasan yang ia terima.
__ADS_1
"Kak Rahel tolong!! Hua... Selamatkan aku". Tangis bocah berusia 10 tahun itu pecah seketika dan berteriak ketakutan dan memanggil nama kakaknya.