Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Adik dan Kakak


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, kali ini Nadhira bangun lebih awal dari biasanya, karena bi Ira mengajaknya kepanti asuhan untuk mengunjungi Fika dan lainnya, karena sudah lama ia tidak bermain ke panti asuhan.


Setelah selesai membersihkan dirinya Nadhira bergegas menemui ibu angkatnya, ia tidak lupa membawa beberapa uang tabungannya untuk membantu panti asuhan tersebut.


"Bu, apa masih lama?". Tanya Nadhira yang tidak sabaran ketika diajak kepanti.


Dari kejauhan terlihat bi Ira yang sedang membersihkan halaman rumah tersebut, Mendengar ucapan Nadhira bi Ira hanya menggelengkan kepalanya setiap kali Nadhira akan diajak kepanti, Nadhira selalu bersikap seakan akan waktu berjalan begitu sangat lambatnya.


"Iya nak bentar, ini masih jam 5 pagi".


"Tadi aku lihat sudah jam 7, apakah aku yang salah lihat? atau ibu yang salah memperkirakan". Guman Nadhira.


Nadhira kembali masuk kekamarnya dan melihat jam yang ada dikamarnya, jam tersebut memang masih menunjukkan pukul 5 pagi, tetapi sinar matahari sudah mulai terlihat begitu cerah sehingga Nadhira berfikir sudah jam 7 pagi.


Nadhira kembali membaringkan tubuhnya diatas sofa sambil membaca buku untuk menunggu jam dimana ia akan berangkat kepanti asuhan, sesekali ia melirik kearah jam dinding untuk memastikan bahwa jam itu sudah berjalan.


"Kenapa firasatku berubah menjadi tidak enak seperti ini". Guman Nadhira.


Nadhira merasakan sebuah firasat yang buruk yang akan terjadi kepadanya jika ia pergi kepanti tersebut, tetapi ia tidak mengetahui apakah firasat itu benar atau tidak, fikirkan itu seketika membuatnya melamun.


"Nak,, kamu kenapa?". Sapa bi Ira yang tiba tiba datang dan menyadarkan Nadhira dari lamunannya.


"Ngak papa bu, oh iya sudah mau berangkat kah?".


"Iya nak,, ayo".


"Iya udah aku ambil tas dulu ya bu".


Nadhira segera bergegas mengambil tasnya, dan segera mengikuti bi Ira untuk pergi mencari becak, setelah mendapatkan becak, mereka segera bergegas untuk pergi menuju ke panti asuhan dimana Fika dirawat dan dibesarkan.


Didalam perjalanan Nadhira terus memikirkan tentang firasat yang ia terima sebelumnya, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk apalagi menimpa sosok yang ada disebelahnya saat ini.


"Semoga saja ini bukan hal yang buruk". Batin Nadhira sambil menoleh kearah ibu angkatnya.


Setelah beberapa lama perjalanan akhirnya keduanya segera sampai ditempat yang mereka tuju, setalah melewati gerbang panti, banyak sekali anak anak yang datang menyambut mereka berdua dengan begitu bersemangat.


Setelah menerima sambutan dari mereka semua, pandang Nadhira kini jauh kepada sosok gadis kecil yang berada lumayan jauh darinya, gadis itu terlihat begitu cantik dan penyakit kulitnya mulai sembuh dan sebagian mulai memudar.


"Eih... Apa itu Fika, cantik banget sudah lama ngak ketemu". Sapa Nadhira kepada Fika.


Mendengar Nadhira memanggil namanya membuat Fika segera bergegas mendatanginya, tatapan keduanya bertemu dan terlihat kedua mata Fika sedang berkaca kaca melihat sosok seorang gadis yang berada didepan.


"Kakak, gimana kabarnya kak, sudah lama kakak ngak berkunjung kemari". Balas Fika.


"Alhamdulillah baik, gimana hari harinya disini? sepertinya ibu panti sudah merawatmu dengan baik, hampir saja aku tidak bisa mengenali gadis ini karena ia begitu berbeda dari awal pertama kali kita bertemu". Ucap Nadhira sambil mengacak acak rambut Fika.


Nadhira terus memuji ibu panti asuhan karena sudah merawat Fika dengan baik, sehingga membuat luka luka yang ada ditubuh Fika mulai berkurang, melihat hal itu membuat Nadhira begitu senang.

__ADS_1


Pakaian yang dikenakan olehnya juga terasa begitu rapi daripada sebelumnya yang begitu lusuh dan kumuh, adik kecilnya kini sudah bertambah tinggi daripada sebelumnya.


"Iya kak, ibu panti begitu baik, Fika senang disini, berkat kakak Fika bisa tinggal disini". Fika begitu bahagia bisa bertemu dengan Nadhira, ia merasa gembira ketika Nadhira mengusap kepalanya.


"Sudahlah, menang sudah ditakdirkan untuk kakak membawamu ketempat ini".


"Kakak".


Sangking bahagianya membuat Fika sampai meneteskan airmatanya, melihat Fika yang menangis membuat Nadhira segera menghapus air mata tersebut dan memeluk Fika dengan hangatnya.


"Sudah, jangan nangis lagi, Fika sekarang sudah punya keluarga dan juga teman, kakak harap Fika bisa menjadi orang yang berguna dimasa depan ya, sudah jangan nangis lagi". Ucap Nadhira sambil mengusap punggung Fika dengan lembutnya.


Ibu panti segera mempersilahkan keduanya masuk kedalam karena udara diluar sudah mulai panas, Nadhira berjalan menyusuri koridor yang ada disitu sambil tangan kanannya dipeluk oleh Fika begitu eratnya seakan akan Fika begitu sangat merindukan Nadhira.


Anak anak yang lainnya segera membubarkan diri dan kembali bermain dengan yang lainnya, sementara Fika tetap mengikuti Nadhira hingga sampai diruang tamu panti asuhan tersebut.


Ibu panti tersebut segera membuatnya keduanya minuman, dan menyuguhkan beberapa makanan yang telah disiapkan untuk tamu yang ingin mendatangi panti sebagai donasi untuk panti.


"Bu, bagaimana perkembangan Fika selama dipanti ini? apakah Fika begitu nakal". Ucap Nadhira kepada ibu panti.


"Baik nak, dia mulai bisa bersosialisasi dengan yang lainnya juga, ketika dikelas dia begitu pintar dari pada yang lainnya, dia juga sangat aktif dalam kegiatan yang ada dipanti dan sekolahan". Jawab bu Fatimah yang selaku ibu panti


"Kalo Fika nakal, cubit saja bu, jangan beri ampun". Ucap Nadhira sambil tertawa.


"Kakak, Fika kan ngak nakal". Ucap Fika yang seraya memanyunkan bibirnya dengan manjanya.


Keempatnya hanya mengobrol santai sambil menceritakan kehidupan sehari harinya yang ada di panti asuhan tersebut, mulai dari bagaimana perkembangan panti tersebut, sampai fasilitas fasilitas yang diberikan oleh donasi kepada mereka.


"Kenapa Fika ngak main dengan yang lainnya?". Tanya Nadhira yang melihat Fika terus memeluk tangannya.


"Ngak mau, aku maunya bersama kakak, kapan lagi kakak akan kemari, kalo main bersama mereka kan bisa setiap hari beda lagi dengan kakak yang jarang ketempat ini". Fika terus memeluk erat tangan Nadhira.


Nadhira memikirkan kembali perkataan Fika, memang benar Nadhira jarang bertemu dengan Fika selama ini, ia hanya bisa bertemu dengannya beberapa jam saja setelah itu ia akan menghabiskan waktunya dirumah dan disekolahan.


"Ya sudah terserah Fika saja". Pasrah Nadhira mendengar perkataan Fika. "Bu bolehkah aku jalan jalan disekitar panti?".


"Boleh kok nak, silahkan, biar Fika yang menemani". Ucap bu Fatimah mengiyakan ucapan Nadhira.


Fika segera menarik tangan Nadhira untuk berjalan jalan mengelilingi panti asuhan itu, meskipun tempat itu tidak begitu luas tetapi didalam tempat itu tercipta suasana kasih sayang yang begitu luas untuk semua penghuni tempat itu.


Nadhira melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain kejar kejaran di taman panti, Nadhira berjalan mendekat sebuah kolam kecil yang berisikan ikan ikan hias yang berwarna warni diikuti oleh Fika yang berada dibelakangnya.


"Ternyata kamu masih dipelihara disini". Ucap Nadhira kepada ikan ikan kecil tersebut.


"Iya kak, ketika kakak memberikan ikan itu kepadaku, aku selalu merawatnya, setelah itu ibu panti memutuskan untuk membuatkan kolam disini, ia juga membeli beberapa ikan untuk menjadi temannya". Ucap Fika menjelaskan kepada Nadhira.


Waktu itu setelah sampai di panti asuhan Nadhira memberikan ikan yang baru saja ia beli kepada Fika untuk dirawat, dengan senang hati Fika menerima ikan ikan tersebut dan menaruhnya dalam sebuah wadah kaca. Melihat ikan yang bagus membuat ibu panti berinisiatif untuk membuatkannya kolam ikan agar ikan ikan itu tidak kesepian.

__ADS_1


Nadhira tersenyum melihat ikan ikan itu yang berenang renang dengan senangnya seakan akan tanpa beban didalam hidupnya, senyuman tersebut tercipta dari wajahnya seakan akan ia mampu merasakan kebahagiaan dari ikan ikan itu.


Fika hanya diam membisu melihat senyum tersebut, senyum itu begitu indah dan jarang sekali ia terbitkan kepada semua orang kecuali ketika ia sedang berada didekat Rifki. gigi gingsulnya membuatnya semakin begitu cantik dan siapapun yang melihatnya akan terpanah karenanya.


"Kakak!! Kakak!!".


Tiba tiba seorang anak kecil sudah berada didekatnya Nadhira, anak itu mencoba untuk menggoyang goyangkan baju Nadhira, agar Nadhira menoleh kepadanya. Setelah Nadhira menoleh kepada anak itu, Nadhira segera berlutut didepan anak kecil tersebut.


"Ada apa dek?". Tanya Nadhira.


"Kakak suka dengan ikan?".


"Iya, sangat suka".


"Kalo begitu kakak mau membawanya pulang, biar aku tangkapkan satu untuk kakak".


"Tidak usah dek, kalo kakak bawa pulang satu nanti dia kesepian dirumah, kan sama saja kita pisahkan dengan keluarganya, bagaimana kalo dia menangis?".


"Ah.. aku lupa kak, nanti jadi seperti kita, jauh dari keluarga".


"Sudah, jangan sedih lagi ya, kan adek ngak sendirian juga kan, ada ibu panti, teman teman juga disini".


"Kenapa kakak ngak tinggal disini juga? kan bakal asik kalo kakak tinggal disini juga".


"Kakak kan masih punya ayah, nanti kalo kakak tinggal disini siapa yang akan menjaganya? kalo dia kenapa kenapa siapa yang akan membantunya?".


Nadhira kembali menatap kearah kolam yang ada didekatnya, ikan ikan itu berenang dengan bebasnya dan begitu indah bila dilihat, Nadhira tersenyum karena ucapannya sendiri.


"Apakah sebegitu pentingnya diriku bagi papa? dan bahkan aku sendiri tidak dianggap anak olehnya". Batin Nadhira menjerit.


Tatapan itu seolah olah mengandung kesedihan yang mendalam, Fika mampu merasakan hal itu, Fika berfikir bahwa kakaknya kini terlihat begitu sedih tetapi kakaknya paksa untuk selalu tetap tersenyum didepan banyak orang.


Anak kecil tersebut kembali bermain dengan teman temannya, kini meninggalkan Fika berduaan dengan Nadhira, Fika kembali memeluk lengan Nadhira dengan begitu eratnya.


"Kakak kenapa?". Tanya Fika.


"Ngak papa, ikannya berenang begitu cantiknya".


"Bukan itu, kenapa kakak begitu sedih? apakah Fika salah karena telah menaruh ikan kakak dikolam ini?".


"Ngak kok dek, kakak ngak sedih, kakak hanya merasa senang bisa melihat ikan ikan ini berenang dengan bebasnya".


"Kakak ngak bisa bohong denganku, kakak tidak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya, apakah aku telah melakukan kesalahan sehingga membuat kakak sedih".


"Semenjak tinggal disini, kamu sudah pandai menggombal ya".


Nadhira mencubit pipi Fika dengan gemasnya, Fika yang dicubit hanya bisa menambah erat pelukannya kepada tangan Nadhira, bagi Fika Nadhira adalah kakak yang paling sabar kepadanya, sehingga ia bisa bersosialisasi dengan mudah dengan Nadhira.

__ADS_1


__ADS_2