Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 4


__ADS_3

Nadhira berlarian kesana kemari untuk mencari teman temannya tetapi tak kunjung ia temukan, hingga ia berada didalam hutan yang begitu dalam.


Nadhira memandangi sekitarnya seakan akan tempat itu tidak pernah didatangi oleh orang sehingga rumput yang ada ditempat itu tumbuh begitu liarnya, langkah demi langkah Nadhira lakukan.


"Rifki, aku takut!!". Ucap Nadhira.


Terdengar berbagai macam suara yang begitu menyeramkan, mulai dari burung hantu, kelelawar, dan hewan kecil lainnya yang membuat suasana begitu mencengkeram.


Karena ketakutannya membuat Nadhira terjatuh karena tersandung sebuah akar pohon yang menjalar begitu besar, sehingga kakinya berdarah.


Nadhira mencoba untuk bangkit dan melanjutkan perjalanannya yang tiada ujungnya, Nadhira merasa begitu haus karena sedari tadi ia terus berjalan tanpa menemukan perkemahan mereka.


Nadhira merasa ada sebuah bayangan yang terus mengawasinya dan mengejarnya didalam kegelapan, sehingga membuatnya tidak berani menoleh apalagi mengangkat kepalanya.


"Aaaaa".


Ketika mendengar suara gemerisik disebuah semak semak membuat Nadhira berteriak ketakutan, sehingga ia terduduk dibawa pohon sambil memegangi kedua telinganya.


Tanpa Nadhira sadari bahwa jaraknya dengan desa Mawar Merah kurang lebih sekitar setengah kilo meter dari tempatnya saat ini singgah.


*****


"Rif, kita sudah menyusuri hutan ini, tapi tidak ada tanda tanda Nadhira lewat ditempat ini". Fajar mulai berbicara setelah satu jam mereka mencari tetapi tak kunjung menemukan keberadaan Nadhira.


"Kita harus menemukannya bagaimanapun caranya".


Rifki terus bergerak untuk mencari Nadhira, ia juga berulang ulang kali memanggil nama Nadhira, tiba tiba Rifki teringat tentang desa Mawar Merah.


"Kita harus mencarinya dimana lagi Rif?".


"Desa Mawar Merah".


Dengan mantap Rifki mengucapkan nama desa tersebut, Rifki begitu yakin bahwa ia akan menemukan keberadaan Nadhira setelah ia mendatangi lokasi desa tersebut.


Fajar belum pernah mendengar nama desa tersebut sebelumnya seningga ia terdiam begitu lama, tetapi tiba tiba ia teringat sebuah kisah yang pernah orang tuanya ceritakan kepadanya sebelum berangkat camping mengenai sebuah desa yang penduduknya telah habis dibantai.


Orang tuanya juga pernah bilang bahwa tidak ada yang bisa keluar dari desa itu setelah orang itu masuk kedalamnya, mereka bilang bahwa desa itu adalah tempat terlarang, tiada yang berani memasukinya kecuali hanya untuk bunuh diri.


"Tidak!!! Jangan kesana, tempat itu penuh bahaya".


Fajar mencoba menghentikan langkah kaki Rifki agar ia tidak pergi ketempat itu, Fajar terus menceritakan kisah kisah mengenai desa tersebut kepada Rifki agar ia membatalkan rencananya untuk pergi ketempat terlarang itu.


Tetapi Rifki terus saja memaksa dirinya untuk pergi kesan, karena keyakinannya untuk menemukan Nadhira berada disana.


"Aku harus kesana untuk mencari Nadhira!!". Ucap Rifki.


"Tapi Rif, disana begitu bahaya bagaimana kalau kita yang justru terkena masalah didesa itu".


"Lalu bagaimana kalau Nadhira yang terkena masalah disana!! Aku tidak akan membiarkan Nadhira dalam masalah, aku harus kesana untuk memeriksanya".


"Tidak!!! Jangan, siapapun yang pergi kesana, ia tidak akan kembali lagi, intinya jangan kesana".


"Aku tidak peduli tentang nyawaku asalkan aku bisa menyelamatkan Nadhira, aku akan merasa bahagia, jika kau tidak ingin pergi kesana, maka kembalilah dan biarkan aku pergi kesana". Tegas Rifki.


"Jangan Rif!!!".


Fajar terus memegangi tangan Rifki agar Rifki tidak pergi ketempat itu, Rifki menatap kedua mata Fajar dengan tajamnya seolah olah Fajar adalah mangsa yang akan ia lahap hidup hidup.


"Aku kenal salah satu penghuni desa itu, aku akan bertanya kepadanya".


Fajar merasa terkejut ketika mendengar bahwa Rifki mengenal salah satu dari penghuni desa tersebut, penghuni artinya orang yang telah dibantai sebelumnya, sehingga Fajar berfikir mungkin wajah mereka akan terlihat hancur karena pembantaian itu.

__ADS_1


Biar bagaimanapun membiarkan Rifki yang bertindak semaunya bukanlah hal yang baik, sehingga dengan pasrahnya Fajar mengikuti kemana pun Rifki akan melangkah.


Satu jam kemudian keduanya sampai disebuah pintu gerbang desa tersebut, Fajar merasa merinding melihat itu, ditempat itu begitu banyak bangunan yang roboh dan hancur, ditumbuhi oleh tumbuhan merambat yang begitu lebat.


Udara dingin menghiasi ketakutan dihati Fajar, karena larut malam membuat desa tersebut semakin menyeramkan. Keduanya berdiri tepat didepan desa tersebut, dari luar dapat Fajar rasakan aura merinding menyelimuti dirinya.


"Kakek!!! Dimana kamu??". Panggil Rifki.


Tak lama kemudian muncullah sosok yang tengah dicari oleh Rifki tepat dihadapan keduanya, Rifki mampu melihat sosok yang ada didepannya dengan jelas sementara Fajar tidak melihat apapun.


"Kenapa kamu kemari lagi? Bukankah sudah ku bilang jangan mendekati tempat ini lagi". Ucap sang kakek yang hanya mampu didengar oleh Rifki.


"Aku hanya mencari temanku, apakah dia datang ketempat ini?".


"Temanmu yang mana? Tidak ada seorang pun yang datang kemari malam ini".


Sosok kakeknya terus berfikir, ia bahkan tidak merasakan kedatangan orang lain ketempat itu, ia hanya merasakan kedatangan Rifki yang membuatnya harus menampakkan diri didepan Rifki.


"Seorang gadis yang dulu pernah datang kemari sebelumnya, gadis yang kakek maksud dahulu".


"Gadis yang memiliki tanda lahir berupa simbol yang rumit itu kemari? Aku sama sekali tidak melihatnya masuk kedalam desa ini, mungkin ia berada disekitar desa ini".


Sosok tersebut mencoba merasakan aura yang ada disekitar desa tersebut agar bisa mengetahui apakah ada seseorang yang datang ketempat itu sebelumnya, tetapi ia sama sekali tidak merasakan kehadirannya.


"Tidak kemari? Kek aku sudah mencarinya sedari tadi tetapi tidak menemukannya juga, apa kakek yakin dia tidak kemari?".


"Kau meragukan keyakinanku ha? Kenapa kau tidak mencarinya dengan kekuatanmu, dan rasakan aura permata itu ha? Kau bisa melacaknya menggunakan telepati".


"Kekuatanku?? Memang bisa?? Bagaimana caranya kek? Tolong ajari aku".


"Baru kali ini aku melihat orang sebodoh dirimu yang datang ketempat ini".


Memang sebelumnya banyak orang pintar yang datang ketempat itu hanya untuk mencari pesugihan dan lainnya tetapi mereka selalu pulang hanya tinggal nama saja, penduduk desa itu begitu ganas untuk membunuh seseorang yang berani datang dengan niat yang tidak baik.


"Iya karena setiap ada yang datang, kakek pasti akan langsung membunuhnya!!".


Ucapan Rifki baru saja membuat Fajar menahan nafasnya, Rifki benar benar sedang berbicara dengan penghuni desa tersebut. Membunuh yang Rifki ucapkan itulah yang membuat mitos yang Fajar dengar selama ini adalah benar adanya.


Fajar berfikir bahwa kali ini ia akan pulang hanya dengan namanya saja seperti yang diucapkan oleh Rifki dan juga mitos yang sering ia dengar dari desa tersebut.


"Hahahaha.....". Seketika tawa kakek tersebut pecah dan menimbulkan angin yang membuat daun daun yang ada di pohon bergerak gerak.


"Apa yang terjadi Rif? Kenapa tiba tiba ada angin ditempat ini". Tanya Fajar sambil melihat kesekelilingnya.


"Tenang saja". Jawab Rifki dengan singkatnya.


Rifki ikut serta menatap kesekelilingnya, tawa itu tidak berhenti disitu saja, tetapi seluruh dedaunan yang sudah mengering kini mulai ikut berterbangan kemana mana.


"Ah... Rasanya sudah berpuluh puluhan tahun tidak tertawa sampai sampai aku lupa dengan alam sekitar". Ucap sang kakek dengan entengnya.


"Jadi bagaimana kek caranya?". Tanya Rifki untuk memastikan.


"Pejamkan matamu, dan rasakan aura sekitar sini".


Rifki melakukan apa yang disuruh oleh kakek tersebut, ia mencoba merasakan aura yang berada disekitar tempat tersebut. Setelah sekian lama mencoba akhirnya ia dapat merasakan aura permata iblis itu.


"Rasakan saja kemana aura itu akan membawamu untuk melangkah, semakin kau dekat dengan gadis itu, maka semakin kuat aura iblis yang ia pancarkan".


Rifki merasakan bahwa aura itu tengah berada tidak jauh darinya, semakin dalam ia merasakan semakin terlihat gambaran gambaran mengenai keberadaan dari Nadhira.


Rifki dapat melihat bahwa Nadhira saat ini sedang ketakutan dibawa sebuah pohon yang rimbun, melihat itu Rifki segera membuka kedua matanya dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, dia akan baik baik saja selama permata itu bersamanya". Ucap sang kakek menenangkan hati Rifki.


"Terima kasih kek, aku harus segera pergi menemuinya".


Rifki bergegas ketempat dimana aura itu membimbingnya, sementara sang kakek kembali menghilang dari tempat itu. Fajar yang tidak mengerti apapun hanya dapat pasrah mengikuti kemana perginya Rifki saat ini.


Rifki terus melangkah, ia dapat merasakan bahwa Nadhira saat ini tengah terluka. Fajar mengikutinya dari belakang, dan keduanya sampai ditempat dimana Nadhira sedang terbaring tidak sadarkan diri.


Suara suara yang ada dihutan itu membuat Nadhira begitu ketakutan sehingga membuatnya sampai tidak sadarkan diri dibawa pohon yang rimbun.


"Nadhira". Teriak Rifki dan bergegas menghampiri tubuh Nadhira.


"Apa yang terjadi dengannya, kenapa ia tidak sadarkan diri". Tanya Fajar yang melihat Nadhira terbaring diatas dedaunan.


"Entahlah, tadi aku lihat dia masih sadar, tetapi sekarang sudah tidak sadarkan diri".


Rifki segera memeriksa luka yang ia lihat sebelumnya melalui telepati, memang benar luka tersebut tengah mengeluarkan darah. Rifki menyobek bajunya dan mengikatkannya kepada luka yang ada dilutut Nadhira, setelah itu Rifki mengangkat tubuh Nadhira dengan bantuan Fajar.


Keduanya segera bergegas menbawa Nadhira kembali kearea perkemahan, ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 2 malam. Ketiganya sampai di perkemahan pada saat jarum jam menunjukkan pukul setengah 4 pagi.


Sesampainya disana ketiganya segera disambut oleh para guru yang sedang bergadang untuk menunggu kabar siswa yang hilang, akhirnya penantian mereka tidak sia sia. Begitu kedatangan Rifki di perkemahan para guru segera bangkit dan membantunya untuk mengangkat tubuh Nadhira.


Setelah itu mereka membaringkan tubuhnya ditenda milik para guru, bu Rita segera melepaskan sepatu Nadhira dan melonggarkan pakaian Nadhira, agar Nadhira bisa bernafas dengan leluasanya, hal itu dapat membantu Nadhira agar segera siuman.


"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya bu Rita.


"Mungkin karena ketakutannya sehingga membuatnya tidak sadarkan diri, ia juga terluka". Jawab Rifki.


"Ya sudah kalian kembali ketenda masing masing, untuk masalah Nadhira biar ibu yang menjaganya disini".


"Baik bu". Jawab Rifki dan Fajar serempak.


Keduanya segera berjalan meninggalkan Nadhira yang tengah terbaring ditenda milik para guru, Rifki memutuskan untuk tetap berjaga dan duduk didepan perapian.


Fajar yang merasa tidak enak meninggalkan Rifki sendiri, akhirnya memilih untuk ikut duduk disamping Rifki yang kini tengah menghangatkan diri.


"Rif, aku pikir tadi aku akan pulang hanya tinggal nama, kamu benar benar berteman dengan penghuni tempat itu?". Tanya Fajar.


"Aku juga ngak tau, tapi tatapan seluruh penduduk didesa itu sangat mengintimidasi seakan akan aura membunuhnya begitu kuat". Jelas Rifki.


"Hah?? Aku merasa bersyukur bisa kembali".


"Kau tau? Seberapa hancurnya wajah mereka?........"


"Sudah sudah jangan katakan lagi!!!, Aku akan mengambilkan jagung, nanti kita pangang bareng bareng". Potong Fajar sebelum Rifki melanjutkan ucapannya.


Fajar segera berlari kearah tendanya berdiri, ia membuka tasnya dan mencari sekantung jagung yang sudah ia siapkan sebelumnya. Setelah menemukan kantung tersebut dari tumpukan pakaiannya, ia segera berlari kembali kearah dimana Rifki berada.


"Ku harap untuk masalah kita pergi ketempat desa Mawar Merah jangan sampai ada orang yang tau mengenai hal itu, kalau itu sampai terjadi maka penghuni desa itu akan mencarimu dan membunuhmu!!". Ucap Rifki dengan begitu yakinnya.


"Percayalah aku tidak akan mengatakan hal itu". Dengan cepat Fajar menjawab.


"Ini bukan candaan belaka, berjanjilah untuk itu kepadaku".


"Iya Rif, aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu apalagi sampai mengungkitnya".


"Baiklah, aku pegang kata katamu itu".


Rifki mengatakan hal itu memang sengaja, ia tidak ingin ada yang mengetahuinya bahwa hanya dirinya yang bisa keluar masuk dari dalam desa tersebut, menurut mitos yang beredar siapapun akan mati jika mencoba memasuki desa tersebut.


Ia tidak ingin bahwa dirinya akan berada dalam masalah bila ada yang mengetahui mengapa dia bisa keluar masuk dari desa itu, sementara dirinya tidak mengetahui penyebabnya.

__ADS_1


Keduanya segera membakar jagung yang Fajar bawa sebelumnya, setelah lama akhirnya jagung tersebut akhirnya matang juga, dan keduanya segera menyantapnya selagi masih panas untuk menghangatkan tubuh mereka.


__ADS_2