Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 3


__ADS_3

Setelah lama menunggu, kini giliran kelompok Nadhira yang jalan. Melihat wajah khawatir Rifki, Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dan tersenyum kearahnya.


Nadhira berjalan menyusuri jalanan yang telah ditentukan oleh para guru sebelumnya, dikegelapan malam kelompok tersebut berjalan dengan perlahan. Setiap orang diwajibkan untuk membawa senter untuk menerangi perjalanan mereka.


Ketika dipertengahan jalan tali sepatu Nadhira terlepas, Amanda yang melihat hal itu segera mengajak teman temannya pergi meninggalkan Nadhira yang tengah mengikat tali sepatunya kembali.


Ketika Nadhira berdiri, ia sudah tidak menemukan keberadaan teman temannya, dihutan yang gelap itu Nadhira menatap sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan yang rimbun.


"Teman teman kemana kalian?". Teriak Nadhira.


Nadhira terus melangkah dan tidak tau arah kemana ia akan melangkah, ia terpisah dari kelompoknya. Tanpa ia sadari ia berada dekat dengan desa Mawar Merah tersebut.


Karena kehilangan arah, Nadhira keluar dari jalur yang seharusnya ia lewati. Suara hewan yang ada disekitarnya membuatnya semakin menakutkan, Nadhira merasa ada sebuah bayangan yang tengah mengejarnya sehingga ia terus berlari menjauhi bayangan yang menakutkan tersebut.


Sementara Rifki sedang berbincang bincang dengan anggota kelompoknya, mengenai post post yang akan ia lewati selanjutnya, Rifki menjelaskan kepada anggotanya mengenai jalan jalan yang akan mereka ambil selanjutnya, agar tidak ada diantara mereka yang sampai tersesat di hutan.


Rifki mengetahui seluruh lokasi dimana post post itu berada, dan jalan apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Firasat Rifki mendadak menjadi tidak karuan, ia kepikiran terus dengan Nadhira.


"Kamu kenapa Rif?". Tanya Fajar yang melihat kecemasan Rifki.


"Ngak tau, aku hanya merasa sangat khawatir".


"Kamu masih memikirkan Nadhira?"


Rifki hanya mengangguki ucapan Fajar, memang benar dirinya saat ini sedang mencemaskan Nadhira yang sudah jalan terlebih dahulu daripada dirinya.


Tak lama kemudian kini saatnya giliran kelompok Rifki yang berjalan, dengan berhati hati ia melangkah masuk kedalam hutan tersebut. Dapat Rifki lihat banyak sekali mahluk astral yang sedang mengelilinginya dan bahkan menatap kearah mereka.


"Hentikan!!!".


Ketika Fajar hendak menginjak rerumputan, Rifki segera menghentikan langkahnya. Fajar memundurkan kembali langkahnya, sementara Rifki menunduk direrumputan tersebut.


"Ada apa Rif?". Tanya Fajar yang keheranan melihat tingkah laku Rifki.


Rifki melihat sosok anak kecil yang sedang bermain dengan senangnya, dan hampir saja mainan tersebut diinjak oleh Fajar. Jika Fajar sampai menginjak mainan tersebut, mungkin Fajar akan mengalami masalah besar yang berhubungan dengan mahluk astral.


"Adek, maafin kakak ya, hampir saja kakak ini menginjak mainanmu". Ucap Rifki kepada anak kecil tersebut.


"Apa yang kau katakan Rif?".


Anak kecil tersebut mengangguk kepada Rifki tanpa ekspresi, setelah itu ia berlari menjauhi kelompok Rifki. Rifki hanya menatap sesaat setalah itu ia kembali bangkit dan berdiri disebelah Fajar.


"Untung saja anak itu baik, kalau tidak, habislah kau!!". Ucap Rifki.


"Maksudmu?? Kau bisa melihat mahluk astral?". Ucap salah satu perempuan yang ada dikelompok tersebut.


"Indra keenamku terbuka sejak aku lahir, jadi ya begitulah". Jawab Rifki dengan entengnya.


Rifki melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh seluruh anggota kelompoknya, sepanjang mata memandang Rifki hanya melihat begitu banyak anak kecil yang bermain disepanjang jalan.


Mereka bermain dengan bahagianua meskipun dalam keadaan yang tidak baik, beberapa diantara mereka ada yang kehilangan tangan, kaki, dan bahkan wajahnya ada yang hancur karena sesuatu.


"Hati hati, disini banyak anak yang bermain, jangan sampai kalian menganggu mereka".


Semuanya mengangguk menanggapi ucapan Rifki, bagi mereka keselamatan mereka adalah yang utama, mendengar bahwa banyak anak kecil yang sedang bermain membuat mereka merinding ketakutan.

__ADS_1


Awalnya ketika para guru memberitahukan kepada mereka mengenai jelajah malam, seluruhnya ingin menolak hal tersebut. Tetapi ancaman para guru mengenai nilai rapot mereka, membuat mereka terpaksa untuk mengikuti kegiatan tersebut.


Hal ini akan membuat mereka semakin kompak dan saling menjaga satu sama lain, agar ketika dikehidupan nyata mereka dapat saling membantu kepada orang yang membutuhkan.


Karena adanya Rifki dikelompok mereka, membuat mereka merasa lega karena ada seseorang yang mampu menjaga mereka seperti saat ini. Ya meskipun mereka sangat takut karena ucapan yang terucap dari mulut Rifki sebelumnya, tetapi mereka yakin bahwa itu adalah demi kebaikannya.


Kesepuluh anak tersebut segera melanjutkan perjalanan mereka, dan sampailah dipost terakhir yang mereka lalui. Rifki mendekat kearah dimana penjaga post tersebut berdiri, setelah itu kertas yang ia bawa ditandatangani olehnya.


"Kak apakah kelompok 25 sudah sampai?".


"Sudah dari tadi dek, kalian kelompok terakhir yang sampai disini".


"Baiklah kalau begitu kak".


Rifki membimbing kelompoknya untuk kembali ketempat semula ia berkumpul, Rifki mencari keberadaan Nadhira tetapi tak kunjung menemukannya. Rifki terus celingukan mencari Nadhira, tetapi bayangannya sama sekali tidak dapat Rifki temukan.


"Kemana Nadhira?". Tanya Rifki.


"Nadhira ngak ada? tapi kelompoknya sudah datang tuh Rif". Tanya Fajar balik.


"Iya aku tau, tapi Nadhira nya ngak ada".


Rifki bangkit dari duduknya dan melihat sekelilingnya tetapi tak kunjung menemukan keberadaan Nadhira, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada para guru yang menjaga mereka.


"Bu, apakah seluruh siswa sudah ada disini?". Tanya Rifki.


"Sudah nak, semuanya sudah berkumpul". Jawab bu Rita.


"Pak!! Bu!! Nadhira tidak ada diantara mereka, dia belum kembali".


"Nadhira yang mana?". Tanya pak Yusuf.


"Ah yang itu?".


Pak Yusuf hanya mengangguk anggukkan kepalanya mengingat kembali wajah muridnya yang bernama Nadhira, tiba tiba ia teringat bahwa gadis itu belum kembali ketendanya.


"Apa!!". Teriak pak Yusuf.


"Loh!!! Kenapa bisa ngak ada? Kamu kelompok berapa? Nadhira kelompok berapa? Apa sudah kamu cari?". Tanya bu Rita.


"Saya kelompok 30 bu, kelompok yang paling akhir, Nadhira kelompok 25, kelompoknya sudah ada disini tapi Nadhiranya tidak ada".


Seketika guru itu berteriak memanggil kelompok Nadhira untuk maju kedepan, yang maju hanya ada 9 anak. Guru guru tersebut segera menghujani mereka dengan sebuah pertanyaan dan omelan kepada mereka.


"Dimana Nadhira?". Tanya Rifki sambil memegangi kerah baju Amanda.


"Aku ngak tau!!!". Teriak Amanda.


"Bagaimana bisa kau ngak tau ha!!! Kamu dan dia kan satu kelompok, bagaimana bisa dia menghilang begitu saja, dimana Nadhira!!! Aku tau kalian berdua hanyalah saudara tiri, tapi jangan pernah lupa Nadhira juga saudaramu!! Sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku tidak akan memaafkanmu, beruntung kau perempuan jika tidak sudah ku hajar kau". Rifki begitu marah dan mendorong Amanda.


Dengan emosinya tanpa sengaja Rifki hampir membuat Amanda terjatuh kebelakang, tangannya begitu gatal ingin sekali memukul orang yang ada didepannya saat ini, tetapi ia teringat bahwa orang yang ada didepannya adalah seorang perempuan sehingga ia memutuskan untuk memendam emosinya.


Melihat kemarahan itu membuat Amanda bergidik ngeri melihatnya, para guru hanya bisa berdiam diri, biar bagaimanapun ini adalah kelalaiannya juga.


Melihat Rifki yang penuh emosi ditempat itu, Fajar segera bergegas mendekatinya untuk menenangkan emosi Rifki. Untuk pertama kalinya ia melihat kemaran dari Rifki, setiap harinya jika Rifki marah ia akan memilih diam dan pergi dari tempat tersebut, tetapi kali ini berbeda.

__ADS_1


"Rif, kendalikan dirimu!! Nadhira pasti akan baik baik saja, jangan buat keributan diacara seperti ini". Ucap Fajar sambil memperhatikan sekitarnya.


"Aku ngak bakal marah, jika ini tidak menyangkut Nadhira!!". Teriak Rifki..


Suasana ditempat itu semakin memanas karena Rifki, seluruh siswa dan para anggota OSIS berkumpul memutari Rifki, didalam kemarahannya ia tidak bisa berfikir dengan jernih.


"Rifki hentikan!! Kendalikan dirimu". Teriak Fajar.


Fajar mencoba menggenggam erat tangan Rifki, untuk menghentikannya yang terus membuat keributan ditempat itu.


"Sudah nak kamu ngak perlu khawatir, kita akan mencarinya". Bu Rita mencoba menenangkan hati Rifki.


"Bagaimana bisa aku diam saja bu, sementara Nadhira disana sedang ketakutan!!! Aku akan mencarinya!!". Ucap Rifki penuh dengan emosi dan bergegas pergi menuju kearah hutan.


"Rifki tunggu aku!!!". Fajar berlari mengejar Rifki.


Keduanya segera memasuki hutan tersebut, meskipun agak ngeri melihat Rifki, tetapi Fajar tidak bisa membiarkan Rifki bertindak gegabah untuk hal seperti itu.


Fajar memutuskan untuk ikut Rifki dalam mencari keberadaan Nadhira, para guru tidak berdiam begitu saja, ia menugaskan beberapa anggota OSIS untuk ikut serta mencarinya.


Guru laki laki ikut serta dalam pencarian tersebut sementara guru perempuan tetap berada diperkemahan untuk menjaga para peserta, masing masing melakukan tugasnya.


"Rifki tenang, Nadhira pasti baik baik saja". Ucap Fajar yang melihat Rifki berjalan dengan begitu tergesa gesa.


"Bagaimana aku bisa tenang? Dia seorang wanita, pasti dia ketakutan karena kegelapan hutan ini".


"Iya aku tau, tapi bertindak gegabah dihutan ini sangat bahaya".


"Aku ngak peduli!!! Selama aku bisa menyelamatkan Nadhira aku akan lakukan apapun itu meskipun menantang ratu iblis sekalipun".


Rifki memandang Fajar dengan penuh kemarahan, sehingga tatapannya begitu tajam membuatnya tidak bisa berkata apa apa lagi dihadapan Rifki.


Keduanya segera bergegas mengelilingi hutan tersebut, mereka tidak mempedulikan dimana mereka berbijak saat ini, yang ada difikiran Rifki hanyalah menemukan Nadhira kembali.


Sementara ditenda tersebut Amanda diawasi oleh bu Rita, Bu Rita dapat mengetahui bahwa Amanda dan Nadhira bersaudara, mereka juga berada dikelompok yang sama, bagaimana bisa Nadhira bisa terpisah dari mereka.


"Ibu dengar kalian berdua adalah saudara! Kemana perginya Nadhira?". Tanya bu Rita dengan nada mengintrogasi.


"Saya ngak tau bu!! Tadi saya berjalan didepan, sedangkan Nadhira berada dibelakang". Jawab Amanda dengan gugup.


"Apa kamu tidak mengeceknya terlebih dahulu disetiap post yang ada? Kenapa dia bisa hilang begitu saja!".


"Tadi memang ada, tapi aku ngak tau kemana perginya".


"Siapa ketua kelompok kalian!". Tanya bu Rita kepada kelompok 25.


"Manda bu!!!". Jawab kedelapan anak itu dengan serempak.


"Karena kalian lalai dalam tugas ini, kalian akan ibu hukum!! Membersihkan semua area perkemahan, mengumpulkan kayu bakar, dan berusaha untuk minta maaf kepada Rifki dan juga Nadhira, ingat ibu tidak mau ada yang protes mengenai hal itu, ini adalah tanggung jawab kalian".


"Tapi bu itu terlalu berat bagi kami".


"Mau ibu tambah lagi!!!".


"Tidak bu!!! Jangan tambah lagi".

__ADS_1


Kesembilan anak tersebut segera bergegas mengatakan tidak, agar hukuman mereka tidak bertambah, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.


Mereka berfikir bagaimana caranya agar mendapat maaf dari Rifki, melihat Rifki yang begitu marah membuat mereka takut untuk bertatapan dengan Rifki apalagi untuk berbicara kepadanya.


__ADS_2