Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pengorbanan yang tak dianggap


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pemeriksaan Nadhira segera dibawa masuk kedalam ruangan operasi bersama dengan Rendi, Nadhira membaringkan tubuhnya dikasur bersebelahan dengan Rendi.


Ruangan itu terlihat begitu menakutkan, dengan suara suara yang mampu membuat nafas seseorang memburu, lampu untuk operasi segera dinyalakan dan mereka menyiapkan peralatan yang cukup banyak disebelah Nadhira.


"Ya Allah tolong lancarkanlan operasi ini, hamba mohon selamatkanlah nyawa Papa"


Dokter dan para suster mulai memasang beberapa alat yang tidak Nadhira mengerti kepada tubuh Nadhira, mereka juga memasangkan selang infus kepada Nadhira.


Nadhira sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan karena begitu banyak jarum yang terpasang pada tubuhnya, Nadhira memandangi wajah Rendi yang terbaring tidak berdaya itu dengan meneteskan air matanya.


"Papa harus selamat demi Dhira, setelah Papa bangun nanti, Papa harus melupakan Dhira secepatnya, Dhira tidak akan pernah bisa bertemu dengan Papa lagi karena janji yang Nadhira ucapkan, Dhira mohon kepada Papa, Papa harus janji bahwa Papa akan baik baik saja untuk Dhira, bertahanlah Pa, meskipun Dhira tidak bisa menemui Papa setidaknya ginjal Dhira ada bersama Papa"


Nadhira merasakan sakit karena beberapa alat yang dipasangkan pada tubuhnya itu, akan tetapi rasa sakit itu segera berkurang karena sebuah suntikan obat bius masuk kedalam tubuhnya.


Nadhira mulai memejamkan matanya karena kepalanya terasa begitu pusing dan berat efek dari obat bius itu, akan tetapi dirinya masih mampu untuk merasakan apapun yang ada disekelilingnya.


Ternyata obat bius yang telah disuntikkan kepadanya itu sama sekali tidak mampu untuk membawa Nadhira masuk kedalam alam bawah sadarnya, sehingga Nadhira masih mampu merasakan bahwa perutnya mulai dikoyak oleh alat alat medis tersebut.


Nadhira ingin sekali menjerit karena rasa sakit yang ia rasakan, akan tetapi dirinya tidak mampu melakukan itu sehingga hanya air matanya saja yang mampu keluar dari pelipuk matanya, dapat dilihat bahwa dia sangat kesakitan saat ini.


Pernahkan kamu membayangkan bahwa kamu terbangun pada saat operasi berlangsung? Dan melihat bahwa bagian tubuhmu sudah tidak sama lagi, itulah yang sedang dirasakan oleh Nadhira.


"Ya Allah, ini sakit sekali, aku harus bertahan demi Papa" Batin Nadhira menjerit ketika merasakan bahwa perutnya mulai disayat oleh pisau yang sangat tajam.


"Dhira kau masih sadar?" Tanya Nimas.


"Iya Nimas, obat bius ini sama sekali tidak berpengaruh kepadaku, rasanya seperti nyawaku sudah berada diambang batas, sakit sekali".


"Bertahanlah Dhira, aku akan mencoba untuk merebut tubuhmu agar kau bisa masuk kedalam alam bawah sadarmu".


"Iya Nimas".


Nimas mencoba untuk masuk kedalam tubuh Nadhira saat ini, Nimas ingin mengambil alih kesadarannya karena dirinya tidak tahan melihat Nadhira yang kesakitan karena rasa sakit yang ditimbulkan dari operasi pemindahan organ tubuh itu.


Nimas mulai mengambil alih kesadaran Nadhira, sehingga sistem pernafasan Nadhira mulai setabil dan Nadhira sudah tidak lagi merasakan sakitnya operasi itu saat ini.


Operasi tersebut berjalan dengan lancarnya, setelah mendapatkan donor ginjal kondisi Rendi perlahan lahan membaik dan sudah bisa dirawat didalam kamar rawatnya karena dirinya sudah terbangun dari pingsannya, akan tetapi Nadhira masih belum sadarkan diri juga sehingga Nadhira masih berada didalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis.


Nadhira masih terbaring tidak sadarkan diri dengan begitu banyak alat medis yang menancap pada tubuhnya, dalam operasi itu Nadhira kehilangan banyak darah sehingga infusnya diisi oleh stok darah yang ada didalam rumah sakit itu.


Sarah tengah menunggu kesadaran Nadhira diluar ruangan tersebut karena mereka tidak diizinkan untuk masuk kedalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis itu.


Setelah Nadhira pergi dari rumah bersama dengan sopir pribadinya, Sarah ikut serta untuk menyusul Nadhira untuk memastikan bahwa Nadhira baik baik saja, akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika dirinya sampai dirumah sakit itu dan Nadhira mengatakan kepadanya bahwa Nadhira akan mendonorkan ginjalnya untuk Rendi.


Terjadilah perdebatan antara cucu dan nenek itu, akan tetapi tekat Nadhira sudah bulat dan tidak ada orang yang bisa menghentikannya untuk melakukan itu, akhirnya Sarah memberi sebuah sarat kepada Nadhira bahwa Nadhira boleh mendonorkan ginjalnya asalkan dirinya tidak akan pernah menemui Rendi lagi setelah itu.


Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Nadhira menyetujui persyaratan itu dan dirinya berjanji bahwa dirinya tidak akan menemui Rendi lagi walaupun hanya sebentar saja, Nadhira hanya boleh memastikan keadaan Rendi dari kejauhan saja.


"Dok, bagaimana kondisi cucu saya, kenapa dia belum sadarkan diri juga" Tanya Sarah ketika melihat seorang dokter berjalan kearahnya.


"Kondisinya baik baik saja kok Bu, dia hanya perlu menyesuaikan dirinya dengan kondisi baru tubuhnya yang hanya memiliki satu ginjal".


"Syukurlah kalau begitu, Dok saya minta untuk merahasiakan identitas cucu saya, jangan sampai orang itu mengetahui bahwa yang mendonorkan ginjal untuknya adalah cucu saya"


"Baik Buk".


Sarah meminta untuk memindahkan Nadhira kerumah sakit lainnya yang lebih baik daripada rumah sakit tersebut untuk merawat Nadhira, permintaannya itu tidak bisa ditolak oleh pihak rumah sakit sehingga mereka segera memasukkan Nadhira kedalam ambulan untuk membawanya pergi dari tempat itu meskipun dalam keadaan masih belum sadarkan diri.


Sementara disatu sisi, Amanda sedang duduk didekat Rendi yang sedang terbaring tidak sadarkan diri, perlahan lahan Rendi mulai bisa membuka matanya sehingga membuat Amanda merasa senang.


"Papa, akhirnya Papa bangun juga"


"Papa dimana Nak?"


"Papa sekarang masih ada dirumah sakit, Papa mengalami kecelakaan kemarin dan terluka sangat parah, dan Papa baru selesai operasi ginjal, untung saja ada orang baik yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Papa"


"Siapa orang itu Nak?"

__ADS_1


"Aku tidak tau Pa, identitas orang itu sangat dirahasiakan oleh dokter dokter yang ada disini, mereka hanya bilang kalau pendonor itu belum sadarkan diri sampai saat ini, tapi pihak keluarganya meminta pendonor itu dipindah rumah sakitnya".


"Kenapa seperti itu? Dia sudah baik kepada Papa, Papa harus berterima kasih kepadanya".


"Suster juga bilang kalau kita harus berterima kasih dengan cara mendoakan semoga operasinya berjalan lancar Pa".


Rendi hanya bisa pasrah dengan ucapan Amanda, ia merasa bersyukur karena masih ada orang yang baik yang mau mendonorkan ginjalnya tanpa syarat apapun kepada dirinya.


Rendi tidak mengetahui siapa sebenarnya pendonor itu, dia ingin sekali berterima kasih kepadanya tetapi keluarganya telah membawanya kerumah sakit yang berbeda, tanpa Rendi sadari bahwa pendonor itu adalah Nadhira anaknya sendiri.


"Dhira dimana? Apa Dhira tidak datang kemari untuk melihat kondisi Papa?" Rendi menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari sosok Nadhira.


"Dia bahkan tidak peduli dengan kondisi yang Papa alami saat ini, untuk apa Papa terus mencarinya seperti itu? Sudahlah Pa, jangan pedulikan anak itu lagi dia juga tidak memikirkan kondisi Papa"


"Kenapa Dhira tidak datang untuk melihat kondisiku, apa sebegitu bencinya dirinya kepadaku, Dhira kembalilah Nak"


Rendi merasa sangat sedih ketika dirinya mengetahui bahwa Nadhira tidak ada disisinya sementara Amanda terus mengatakan hal hal yang buruk tentang Nadhira padahal Nadhira sendiri saat ini masih tidak sadarkan diri setelah operasi itu.


"Dhira sudah hidup dengan mewah dan bergelimang harta, kenapa harus memikirkan Papa yang tidak ada apa apanya bagi keluarga barunya itu, kenapa sih Papa terus memikirkan anak itu, padahal dia tidak pernah memikirkan tentang Papa".


"Tidak mungkin, Dhira tidak pernah memikirkan soal harta, aku tau sifat Nadhira"


"Lalu sekarang apa buktinya? Dia bahkan tidak ada disini bukan?"


"Aku harus menyusul dia, aku harus membawanya pulang kembali".


"Tidak Pa, Papa baru saja selesai operasi, jangan banyak gerak dulu, luka operasinya juga belum kering nanti kalau infeksi bagaimana?"


"Tapi Dhira.."


"Dhira bukan anak kandung Papa, untuk apa Papa masih memikirkan dirinya"


"Apa yang kau katakan? Siapa yang memberitahukan hal itu kepadamu?"


"Mama sendiri yang mengatakannya Pa, jadi mulai sekarang jangan cari cari dia lagi, dia juga bukan siapa siapa Papa, bahkan dia juga tidak peduli dengan Papa lagi".


"Dhira tidak akan pernah datang lagi kemari! Sudahlah Pa, dia juga tidak peduli dengan kondisi Papa, kenapa Papa masih saja memikirkan dirinya, lupakan Dhira! Dhira tidak seperti apa yang Papa pahami sebelumnya".


Rendi terlihat meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan Amanda yang mengatakan bahwa Nadhira sudah tidak peduli dengan dirinya, dan bahkan ketika Rendi operasi pun Nadhira sama sekali tidak datang untuk menengoknya walaupun sesaat saja.


Disatu sisi Nadhira masih terbaring tidak sadarkan diri didalam sebuah ruangan yang cukup besar, Sarah duduk disampingnya untuk menunggu Nadhira sadarkan diri, ia tidak tega melihat Nadhira dalam keadaan seperti ini akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mau mendengarkan dirinya.


"Dhira, sampai kapan kamu akan tidur seperti ini? Bangunlah Nak, Oma sangat kesepian sekarang, Oma merindukan canda tawamu, apa kau tega membiarkan Oma kesepian seperti ini?" Ucap Sarah dengan galaunya ketika melihat Nadhira yang tak kunjung sadarkan diri.


"Dhira sangat ngantuk Oma, biarkan Dhira tidur 5 menit lagi ya Oma"


Mendengar suara Nadhira membuat Sarah begitu terkejut dan langsung bangkit dari duduknya, dalam keadaan memejamkan mata Nadhira mengatakan sesuatu kepadanya membuat Sarah tidak mempercayai apa yang sedang dialaminya.


"Astaghfirullah... Dhira kau sudah siuman Nak?" Ucap Sarah dengan ragunya.


"Dhira kan ngak pingsan Oma, Dhira ngak bisa pingsan lama lama kalau Oma sedih seperti itu, Dhira juga tidak mau kalau Oma kesepian".


"Dhira bercandanya ngak lucu tau, mau bikin Oma jantungan?"


"Dhira ngak bercanda Oma, Dhira beneran ngantuk" Ucap Nadhira sambil membuka matanya.


"Kau bikin Oma takut aja Dhira" Ucap Sarah sambil mencubit lengan Nadhira pelan.


"Akh... Ampun Oma, sakit" Ucap Nadhira cengengesan kepada Sarah.


"Sejak kapan kamu sadarkan diri Nak? Kenapa tidak memberitahu Oma kalau Dhira sudah sadarkan diri"


"Sejak didalam ambulan, Dhira masih ngantuk banget Oma gara gara obat biusnya, jadi Dhira melanjutkan tidur Dhira didalam mobil ambulan, lagian luka jahitannya masih terasa nyeri untuk dibuat menggerakkan tubuh Dhira".


Nadhira sebenarnya sudah terbangun ketika ia merasakan bahwa tubuhnya diangkat untuk masuk kedalam ambulan, karena efek obat bius yang masih terasa itu membuat dirinya kembali melanjutkan tidurnya.


"Kau membuat Oma khawatir saja, Oma takut kamu kenapa kenapa lagi Dhira, Oma tidak ingin rumah Oma kembali sepi lagi seperti dulu".

__ADS_1


"Dhira akan baik baik saja kok Oma, gimana keadaan Papa? Apa Papa baik baik saja Oma?"


"Dia sudah siuman sekarang, operasi kalian berjalan lancar jadi kau tidak perlu terlalu menghawatirkannya seperti itu, sekarang fokuslah kepada kesembuhan mu sendiri jangan memikirkan orang lain".


"Sesuai dengan janji Dhira, Dhira tidak akan pernah mengingkarinya Oma, terima kasih karena Oma telah menyetujui keinginan Dhira"


"Baiklah, Oma panggilkan dokter dulu, buat memeriksa keadaan Dhira"


"Dhira baik baik saja kok Oma".


"Sudah diam saja disitu, jangan membantah ucapan Oma lagi".


"Baik Oma"


Sarah segera keluar dari ruangan itu sementara Nadhira memegangi perutnya yang sedang diperban itu, meskipun sakit rasanya akan tetapi Nadhira masih mampu untuk tersenyum karena dirinya merasa senang karena dapat menyelamatkan nyawa Rendi untuk kesekian kalinya.


"Senyum senyum kau sekarang, tadi ngapa nangis nangis kesakitan ngak jelas seperti itu, kalau saja ngak ada aku tadi huh berjam jam kau akan merasakan sakitnya operasi" Sindir Nimas.


"Kau tau Nimas kenapa aku masih diberi umur yang panjang sampai sekarang? Mungkin ini adalah tujuan hidupku, kau pernah mengatakan bahwa takdirku adalah menghancurkan permata ini bukan? Oleh karena itu aku masih hidup sampai sekarang"


"Apa kau pernah mendengar nama keris pusaka xingsi sebelumnya?"


"Keris pusaka xingsi? Seingatku kau pernah menyebutkannya kepada Mama Sena sebelumnya melalui tubuhku".


"Aku masih belum menemukan keberadaan dari keris pusaka xingsi itu, kita harus mencarinya bersama sama untuk bisa menghancurkan permata itu secepatnya, setelah aku berpikir ulang aku sadar bahwa permata itu hanya akan membawa kehancuran bagi orang yang memilikinya".


"Kau benar Nimas, semua orang mengincar permata itu karena mitos yang beredar, sebenarnya apa sih istimewanya dari permata itu?"


"Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari permata itu, permata itu adalah sebuah jimat pemberian dari Pangeran Kian kepadaku untuk melindungiku dulu, dan keris pusaka xingsi dan juga permata iblis saling berhubungan satu sama lain, jika terjadi sesuatu dengan keris pusaka xingsi aku akan merasakannya begitu juga sebaliknya, bisa dibilang energi yang ada didalam permata itu berasal dari keris pusaka xingsi jika keduanya bersatu akan menciptakan sebuah keajaiban diluar nalar manusia biasa".


"Lalu apa alasan dari Pangeran Kian yang tiba tiba memberikan permata itu kepadamu?"


"Aku adalah anak angkatnya, dan aku memiliki saudara angkat yang bernama Panji, dia memberikan permata itu kepadaku agar aku dan Panji tetap memiliki hubungan saudara yang erat".


Tak beberapa lama kemudian datanglah Sarah dengan seorang dokter wanita kedalam ruangan itu, dokter tersebut segera memeriksa keadaan Nadhira dan dirinya juga memeriksa bekas jahitan yang ada diperut Nadhira apakah masih berdarah atau tidak.


"Masih ada yang dikeluhkan Mbak?" Tanya dokter tersebut kepada Nadhira.


"Perut saya sedikit sakit Dok, rasanya ingin mual" Ucap Nadhira.


"Disuntik dulu ya Mbak, setelah ini dipakai istirahat saja, hidup dengan satu ginjal itu tidak mudah Mbak, kondisi tubuh Mbak belum sepenuhnya mampu untuk menyesuaikan dengan kondisi baru Mbaknya"


"Iya Dok".


"Sepertinya kau sudah mulai merasa betah tinggal dirumah sakit daripada dirumah Dhira, hobi barumu sungguh beda dari yang lainnya" Ucap Nimas mengomentari tentang Nadhira.


"Itu karena kau tidak pernah merasakan enaknya tidur dirumah sakit, andai kau tau pasti kau akan betah hehe,, enak banget".


"Dasar aneh".


"Ah iya aku lupa, kau kan hidup disaat tidak ada rumah sakit, jadi mana bisa kau menikmatinya"


"Perhatikan lukamu itu, kau ini banyak bicara sekali ya Dhira, sudah kayak bakul jamu saja"


"Emang bakul jamu seperti diriku? Ngak lah, pasti banyakan aku ngomongnya".


"Baru sadar kau rupanya"


"Lebih baik sadar sendiri, daripada harus disadarkan oleh malaikat pencabut nyawa yang turun tangan sendiri, itu lebih mengerikan untuk dibayangkan"


"Masih takut mati kau rupanya, gitu aja menginginkan kematian".


"Itu beda lagi ceritanya".


"Intinya sama sama ingin dicabut nyawa".


"Hust... Jangan sampai malaikat maut mendengarnya"

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 terima kasih sudah mampir, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ...


__ADS_2