
Rahel mengangguki ucapan Rifki, perlahan lahan kesadaranya berganti dengan kesadaran milik Nadhira, ketika tubuh Nadhira hampir terjatuh, Rifki segera menangkapnya dan menyandarkan tubuhnya dibawa pohon yang begitu rindang ditempat itu.
Rifki segera memeriksa denyut nadi Nadhira, perlahan lahan denyutan tersebut mulai berdenyut dengan normalnya.
"Nadhira sadarlah". Ucap Rifki kepada Nadhira sambil menepuk pipi Nadhira dengan pelannya.
Nadhira mulai mengernyitkan dahinya pertanda ia akan sadar saat itu, Rifki segera meminta anak buahnya untuk membawakan Nadhira minuman, perlahan lahan pandangan Nadhira mulai nampak jelas, yang pertama ia lihat adalah sosok Rifki yang ada didepannya.
Ketika pandangannya mulai jelas, Nadhira mulai meneteskan airmatanya dihadapan Rifki, Nadhira memegangi tangan Rifki dengan begitu eratnya.
"Ada apa Dhira? Kenapa kamu memangis?". Tanya Rifki dengan begitu penasarannya karena tangan Nadhira mengenggam tangannya begitu erat.
"Mama....". Ucap Nadhira dengan berlinangan air matanya.
"Kenapa dengan Tante Lia?".
"Kak Rahel...., Dia mengatakan kepadaku, bahwa.... Rif aku takut". Nadhira menangis dan tidak mampu menceritakan kepada Rifki.
"Ada apa Dhira? Katakan dengan jelas, kenapa dengan Tante Lia, jangan takut ada aku disini, katakan saja padaku".
"Kak Rahel bilang kepadaku, bahwa kematian Mama ada hubungannya dengan Mama tiriku, jika itu benar maka... hiks... hiks... hiks...". Nadhira tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya itu.
"Tenang Dhira, aku tau apa yang kamu rasakan, kita akan segera mengetahui semuanya, jika itu memang benar maka kita harus mengungkapnya".
Nadhira hanya mengangguk kearah Rifki, ia tidak tau apa lagi yang harus ia katakan kepada Rifki, ketika ia akan sadar tiba tiba Rahel mengatakan hal itu kepada Nadhira, entah apa alasannya Rahel mengatakan itu kepadanya.
Tak beberapa lama kemudian mereka memakamkan jenazah Rahel bersama sama, ditempat pemakaman umum yang sama dengan kedua orang tuanya, Nadhira dan yang lainnya segera menaburkan bunga kepada makam tersebut, mereka tidak lupa juga berdoa untuk kedua orang tua Rahel dan Rahel.
Setelah semuanya sudah selesai dilakukan, Rifki dan yang lainnya segera pamit untuk pulang karena sebentar lagi langit akan gelap pertanda malam akan tiba ditempat itu.
Setelah selesai mengantarkan Nadhira pulang, Rifki segera bergegas menuju markasnya untuk melihat keadaan Adik dari Rahel yang saat ini berada dimarkasnya bersama anak buahnya.
Sesampainya dimarkas tersebut, Rifki segera keluar dari dalam mobilnya dan bergegas masuk kedalam bangunan yang cukup besar tersebut diikuti oleh beberapa anak buahnya dibelakangnya.
"Dimana anak itu?". Tanya Rifki kepada salah satu anak buahnya.
"Ada didalam bersama Mbak Lina, Tuan Muda".
"Apa dia sudah makan?".
"Sudah Tuan Muda, tapi cuma sedikit, dia terus menangis memanggil nama kakaknya, tapi sekarang sudah mulai tenang Tuan Muda".
"Baiklah, aku akan menemuinya".
*****
Setelah kepergian Rifki dari rumah milik Nadhira, Nadhira segera masuk kedalam rumahnya dengan langkah kakinya yang begitu berat, terlalu banyak beban yang sedang ia pikirkan saat ini.
Nadhira bingung kenapa Rahel memberitahukan kepadanya tentang siapa penyebab dari kematian Mamanya, mungkin ini ada hubungannya dengan siapa Rahel sebenarnya dan apa hubungannya dengan Mamanya.
Nadhira segera masuk kedalam kamarnya tanpa memperhatikan situasi sekitarnya, seakan akan tubuhnya sekarang begitu lelah untuk menerima masalah lagi, beban yang ia tanggung begitu berat untuk dirinya sendiri.
"Ya Allah, meskipun masalah yang kuhadapi begitu besarnya tetapi aku masih punya Allah yang jauh lebih besar daripada masalahku".
Setelah sampai dikamarnya, Nadhira segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu ia merebahkan dirinya ditempat tidur sambil menunggu adzan magrib berkumandang ditempat itu.
Tak beberapa lama kemudian datanglah Bi Ira masuk kedalam kamar Nadhira sehingga membuat Nadhira segera bangkit dari tidurnya.
"Ada apa Bu?". Tanya Nadhira.
"Leher kamu kenapa lagi Nak? Kenapa bisa sampai merah gitu?". Tanya Bi Ira ketika melihat leher Nadhira yang merah melingkar.
"Ah ini bukan apa apa kok Bu, hanya luka kecil nanti juga sembuh sendiri kok bu, oh iya Ibu tadi kesini mau ngapain? Ada yang bisa Dhira bantu?".
"Ngak, cuma mau memastikanmu baik baik saja, dari tadi pagi kamu keluar ngak bilang ke Ibu, jadi Ibu sangat mencemaskanmu, ada apa sebenarnya Nak, cerita kepada Ibu, kenapa mata kamu begitu sembab seperti habis menangis".
__ADS_1
Nadhira segera bergegas menuju kemeja riasan untuk mengaca, tetapi wajahnya tidak seperti apa yang dikatakan oleh Ibu angkatnya.
"Aku ngak papa kok Bu".
"Tapi aku bisa merasakan Nak, meskipun dirimu tidak mengatakannya".
"Ah Ibu bisa saja, aku ngak papa kok, mungkin itu hanya perasaan Ibu saja, lihatlah aku baik baik saja kan sekarang". Ucap Nadhira sambil mendekat kearah Ibu angkatnya dengan senyuman diwajahnya.
"Syukurlah kalo kamu baik baik saja, oh iya Ibu tadi kepanti asuhan, terus Fika tadi mencarimu Nak, minggu ini kamu tidak datang ke panti".
"Fika? Terus apa yang Ibu katakan kepadanya? Tadi aku ada kepentingan dengan teman temanku jadi tidak sempat ikut kepanti, insya Allah minggu depan aku ikut kepanti kok Bu".
"Ibu bilang aja kepadanya kalau Kakaknya masih sibuk dengan sekolahnya jadi tidak sempat untuk datang menemui dirinya, sebenarnya dia sedikit kecewa tetapi dia meminta Ibu untuk mengajakmu diminggu depan".
"Iya Bu, minggu depan aku usahakan akan datang menemuinya, kira kira dia marah ngak ya Bu kepadaku? Karena aku tidak datang hari ini".
"Ngak lah Nak, kan Fika sangat menyayangi Nadhira, mana mungkin Fika bisa marah kepada kamu Nak".
"Aku hanya takut dia marah kepadaku, Bu".
Keduanya terus berbincang bincang sampai adzan magrib berkumandang diawang awang, Bi Ira segera kembali kekamarnya untuk menunaikan ibadah sholat begitupun dengan Nadhira.
Setelah itu Nadhira segera menuju kemeja belajarnya untuk mempelajari mapel keesokan harinya, hari ini sangat melelahkan untuk Nadhira.
*****
Rifki segera mendatangi dimana tempat Adiknya Rahel berada, ia melihat bahwa anak itu sedang duduk disebuah gazebo dihalaman belakang markas tersebut dengan Bi Lina yang tengah menjaganya.
Rifki meminta kepada Bi Lina untuk meninggalkan mereka berdua ditempat itu dengan menggerakkan tangannya, Bi Lina segera memberi hormat kepada Rifki dan meninggalkan tempat tersebut, setelah itu Rifki segera duduk disebelah anak kecil itu.
"Adek ngapain disini sendirian?". Tanya Rifki.
"Aku pengen ketemu Kakak Ahel, Kak". Ucapnya
"Hmm... Adek sudah makan belum? Adek mau makan apa? Nanti Kakak belikan untuk Adek".
"Kenapa ngak makan? Apa Bi Lina masaknya tidak enak?".
"Aku mau ketemu sama Kak Ahel, bawa aku bertemu dengannya, Kak".
"Adek lihat bintang itu". Menunjuk kearah langit dimana adanya bingang yang paling terang. "Kak Rahel ada disana, Kak Rahel sudah bahagia disana, dia sedang menatap kearah Adek saat ini".
"Maksud Kakak apa?".
"Jika besar nanti Adek akan tau maksud Kakak, sekarang ayo kita makan dulu, Kakak laper nih, Adek juga kan belum makan".
"Tapi Kak....".
"Sudah, ayo ikut Kakak, kita jalan jalan".
Belum selesai anak itu mengatakan sesuatu kepada Rifki, akan tetapi Rifki segera memotong perkataan tersebut dan mengajak anak itu untuk pergi dari tempat itu.
Rifki segera mengeluarkan sepedah motornya dari bagasi yang ada dimarkasnya, dan keduanya segera bergegas meninggalkan markas tersebut, entah Rifki akan membawa kemana anak itu pergi, para anak buahnya tidak mengetahui hal itu.
Melihat indahnya gemerlapan dimalam hari membuat hati anak tersebut sedikit merasa senang, karena selama ini yang ia lihat hanyalah kegelapan tanpa adanya cahaya sedikitpun.
"Kita mau kemana Kak?".
"Emm... Kemana ya, ke taman kota bagaimana? Kamu mau?".
"Mau Kak, dulu Kak Ahel pernah bilang kepadaku, dia mau membawaku kesana dan melihat indahnya bintang bintang dilangit, tapi....".
"Sudah jangan di pikirkan, baiklah kita akan menuju kesana sekarang juga".
Rifki segera melajukan motornya menuju ketempat yang akan mereka tuju, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga disebuah taman, Rifki segera memarkirkan sepeda motornya dan mengajak anak tersebut untuk berjalan jalan ditaman.
__ADS_1
Perlahan lahan perasaan anak itu sedikit lebih baik daripada sebelumnya, akan tetapi hal itu tidak akan menghilang bekas yang ada didalam hatinya.
Rasa trauma ibarat sebuah kecelakaan, lukanya bisa diobati dan sembuh seiring berjalannya waktu akan tetapi tidak dengan hilangnya cacat yang akan ia terima setelah kecelakaan tersebut terjadi.
"Dek, kamu mau makan apa? Pilih aja, itu ada nasi goreng, ayam krispi, sate ayam, ketoprak, dan masih banyak lagi, pilih aja".
"Aku ngak lapar Kak". Jawab anak itu dengan datar.
"Ya sudah, Kakak pilihkan saja, harus nurut sama Kakak!".
Rifki segera menarik tangan anak tersebut menuju kesebuah tepat yang berjualan aneka macam makanan yang begitu lezat dan mengunggah selera untuk makan.
Setelah selesai memesan sebuah makanan, Rifki segera mengajak anak tersebut untuk duduk ditempat yang jauh dari keramaian untuk menyaksikan indahnya gemerlapan bintang dimalam hari yang terang tersebut.
"Eh kita belum berkenalan ya Dek, panggil aku Kak Rifki, oh iya nama Adek siapa?".
"Namaku Hafis Kak".
"Hafis, bagus nama Adek, semoga kelak dewasa nanti Adek bisa jadi Hafizh penghafal Al-Qur'an seperti namanya".
Rifki mengusap pelan kepala anak tersebut yang bernama Hafis, tak beberapa lama kemudian akhirnya pesanan mereka sampai juga, Rifki segera menyuruh Hafis untuk menghabiskan makanan yang telah Rifki pesankan untuknya.
Melihat Hafis yang tidak nafsu makan membuat Rifki berusaha keras untuk memikirkan tindakan apa yang akan ia ambil selanjutnya agar anak tersebut terbebas dari traumanya.
"Adek makan ya, nanti nasinya nangis lo, kasihankan para petani sudah susah susah nanam eh malah ngak di makan sampai nasinya nangis".
"Emang nasi bisa nangis Kak?".
"Bisa, kalo ngak dimakan makan ya nanti nangis, kita yang berdosa juga akhirnya karena membuat nasi sampai menangis".
"Aku pengen lihat nasinya nangis Kak".
"Apa Adek tega membuat dia menangis? Bagaimana kalau nasinya ngadu kepada Allah karena ngak dimakan? Nanti Allah marah lo sama Adek".
"Beneran Kak? Kata Kak Ahel kalau Allah marah nanti kita masuk ke neraka, aku ngak mau masuk ke neraka Kak, aku takut".
"Iya, Kakak juga takut Dek, apalagi kalau disiksa sama malaikat disana, ngak ada yang bisa nolongin Dek kecuali amal kita sendiri, ya sudah ayo makan nanti Allah marah kalo Adek ngak mau makan".
Dengan sesegera mungkin Hafis segera menyambar sendok yang ada diatas piring tersebut dan memasukkan nasi kedalam mulutnya untuk mengisi perutnya dengan begitu lahapnya.
"Adek makannya pelan pelan, ngak ada yang mau berebutan dengan Adek kok".
Rifki tersenyum kepada anak itu, melihatnya makan seperti itu ada rasa sedikit perih dihatinya, Rifki menduga bahwa anak yang ada dihadapannya saat ini tidak pernah diberikan makanan yang layak untuk dimakan sehingga ia begitu lahapnya.
Seorang anak yang sedang mengalami trauma mereka tidak membutuhkan nasehat apapun akan tetapi mereka membutuhkan seseorang untuk menemani dan menyemangati dirinya sampai dirinya mampu keluar dari dalam zona ketraumaan tersebut.
Seberapa banyak nasehat yang kau berikan kepada mereka, itu tidaklah berguna bagi mereka, akan tetapi justru hal itu akan membuat si anak tersebut akan merasa begitu tertekan bukan hanya mentalnya saja melainkan batinnya juga ikut tertekan karena itu.
Mungkin secara fisik mereka akan terlihat baik baik saja, akan tetapi secara mental dan batinnya mereka akan terlihat begitu rapuh dan bahkan mudah untuk dihancurkan lagi.
Mungkin mereka bisa tertawa didepan banyak orang, akan tetapi belum tentu mereka akan mampu menahan airmatanya dikala mereka terdiam sepi sendiri dikamarnya.
Mental dan batin menjadi taruhan, jika anak tersebut tidak mampu melewatinya maka akan berakhir dengan keputusasaan dan berujung pada bunuh diri, akan tetapi bagi anak yang mampu melewatinya sekalipun mereka tidak akan mampu menghilangkan rasa trauma tersebut.
Seberapa banyak mental anak yang telah kalian hancurkan tanpa kalian sadar wahai para orang tua? Tanpa kalian sadari apapun yang kalian lakukan akan berujung kepada ketraumaan yang akan terjadi kepada anak kalian.
Hal sekecil apapun itu, hal itu mampu membuat anak kalian merasa down, perceraian keluarga, membeda bedakan dengan yang lainnya, lebih mempedulikan ego kalian, atau bahkan mengatakan sesuatu yang mampu menyakiti hati anak kalian tanpa sengaja, apa kalian tau? Kami sebagai anak yang akan terkena dampak dari keegoisan kalian, ayah ibu sadarlah kami juga berhak untuk hidup bahagia seperti yang lainnya.
Ingatlah, sikap anak adalah cerminan dari orang tuanya, jangan marah ketika seorang anak berbuat salah tapi beritahukan kepadanya mana yang benar dan mana yang salah, jika kau meninggikan suaramu didepan anakmu maka jangan salahkan anakmu jika anakmu melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan kepadanya ketika ia dewasa nanti karena seorang anak adalah cerminan dari orang tuanya.
"Kenapa Kak Rifki ngak ikut makan juga?". Tanya Hafis kepada Rifki yang ada depannya, yang seketika itu juga membangunkan Rifki dari lamunannya.
"Iya, ini Kakak makan kok". Ucap Rifki sambil mengambil sendok dan mengiris ayam goreng yang ada didepannya.
Rifki dan Hafis segera makan ditempat itu, Rifki tersenyum akhirnya Hafis mau makan tidak seperti sebelumnya sekarang sedikit senyuman mulai terpancar dari wajah Hafis kepada Rifki.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian akhirnya makanan yang dihidangkan diatas meja tersebut tandas tak tersisa karena keduanya yang sama sama laparnya.