Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Menangkap seseorang


__ADS_3

Menjelang malam, Nadhira dan Rifki tengah bersiap siap untuk menuju ketempat tujuan pertama mereka yakni desa Mawar Merah, karena mereka sangat penasaran dengan apa yang mereka alami belakangan ini dengan sosok gaib dan juga permata.


Akan tetapi sebelum keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut, keduanya harus memastikan bahwa peserta lainnya sudah dalam keadaan tidur terlelap begitupun dengan para guru yang sudah tertidur.


Hanya ada beberapa anak yang sedang berjaga diluar tenda, demi menjaga keamanan para peserta ketika ada sesuatu yang tiba tiba menyerang mereka karena posisi kemah mereka sedikit masuk kedalam hutan.


Biasanya akan banyak hewan hewan liar yang masuk kedalam wilayah perkemahan, hewan itu tidak lain adalah ular penguni hutan, serigala kecil dan lain sebagainya.


Setelah selesai memastikan hal itu, Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk pergi menuju ketempat dimana desa Mawar Merah itu berada, sementara Nadhira yang ditarik oleh Rifki hanya bisa pasrah mengikutinya dari belakang.


"Rif, apa kamu yakin semuanya akan baik baik saja?". Bisik Nadhira kepada Rifki.


"Iya, percaya saja kepadaku, malam ini kita harus tau siapa orang itu dan apa tujuannya menjaga desa itu terus terusan". Jawab Rifki.


"Baiklah kalau begitu, apa kita tidak membawa senter untuk menerangi jalan? Mungkin saja ada ular yang tanpa sengaja kita injak".


"Ngak usah Dhira, kalau kita bawa pun percumah, karena mereka akan bersembunyi lagi dan kita tidak akan mengetahui tujuan mereka".


"Tapi..."


"Apa kamu takut kegelapan Dhira? Kalo begitu biar aku saja yang masuk, kamu ditenda saja menunggu kedatanganku".


"Bukan seperti itu, aku ngak mau kamu masuk sendirian, kalo Rifki dalam bahaya maka Nadhira tidak akan pernah meninggalkannya dan kita akan menghadapinya bersama sama".


"Iya Dhira, aku percaya kok, ya sudah ayo berangkat, jangan pernah lepaskan pegangan tanganku meski apapun yang terjadi, kita harus hadapi bersama sama".


Nadhira mengangguk mengiyakan ucapan Rifki, dirinya juga tidak ingin Rifki berada dalam bahaya jika masuk kedalam hutan sendirian, lagian keduanya juga pernah melewati tempat itu sebelumnya.


Ditengah tengah kegelapan malam, rimbunnya pepohonan yang berada didalam hutan itu dan beberapa suara suara yang mengerikan, keduanya berjalan dengan pelannya sambil berjaga jaga dari binatang liar yang tiba tiba menyerang keduanya.


Rifki melihat sekitar tempat itu, ia melihat banyak sekali mahluk gaib yang mengitarinya ditempat itu, Rifki yang sudah terbiasa dengan hal itu membuatnya sama sekali tidak terkejut dengan situasi yang ia hadapi saat ini.


Terdengar beberapa suara burung hantu yang berada ditempat itu, hal itu membuat Nadhira sedikit merasa merinding akan tetapi karena adanya Rifki didekatnya membuat Nadhira yakin bahwa Rifki akan selalu menjaganya.


"Dhira, sebentar lagi kita akan sampai didesa Mawar Merah". Ucap Rifki kepada Nadhira.


"Iya Rif, apa penghuni disana akan menerima kedatangan kita yang tiba tiba ini?".


"Kamu tenang saja, kita hanya mengawasi dari luar saja, kita tidak akan masuk kedalamnya, jika kita masuk sama saja kita memancing orang orang yang berniat jahat itu keluar, karena hanya kita yang bisa masuk kedalam desa itu tanpa luka".


"Bagaimana kau tau mengenai hal itu?".


"Apa kau lupa asal usul permata itu? Bukankah permata itu juga berasal dari sana? Sementara diriku mampu berkomunikasi dengan mahluk disana sehingga diriku bisa keluar masuk dari desa itu".


"Baiklah kalo seperti itu".


Keduanya segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ketempat itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai ditempat itu dengan diam diam.


Rifki dapat melihat adanya dua orang yang sedang bersembunyi dibalik sebuah semak semak, sehingga dirinya menyuruh Nadhira untuk diam dan juga mengajaknya untuk bersembunyi didekat kedua orang itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


"Bos kita seperti sedikit konslet, kenapa juga menyuruh kita menjaga tempat ini, apa gunanya coba". Ucap salah satu dari kedua orang itu dengan pelannya tetapi mampu didengar oleh Rifki dan Nadhira yang berada dibelakang keduanya.


"Diam kamu! Sudahlah ikuti saja apa kata Bos, lagian dirimu juga digajikan?". Jawab orang satunya lagi.


"Digaji sih digaji, ngak ada gunanya juga njaga nih tempat, lagian tempat ini ngak bakal pindah kemana mana emang didalam ada apaan sih".


"Bener juga apa katamu, tapi aku dengar dengar ada sebuah harta karun didalamnya, dan hanya orang tertentu yang bisa masuk kedalam, mungkin karena itu bos menyuruh kita untuk menjaganya siapa tau tiba tiba ada orang yang dapat masuk kedesa itu".


"Oh seperti itu".


Rifki memberi pertanda kepada Nadhira untuk menangkap kedua orang itu, akan tetapi sebelum keduanya melakukan rencana itu, tiba tiba ada seseorang yang datang ketempat itu lagi hal itu membuat Nadhira dan Rifki kembali bersembunyi dibalik kegelapan malam.


"Kalian berdua!". Ucap orang itu kepada keduanya.


"Iya Tuan, ada apa?". Jawab salah satu dari mereka.


"Dari kejauhan tempat ini ada sebuah perkemahan, kalian harus menjaga dengan teliti tempat ini, jangan sampai kalian terkecoh dengan hal lain sehingga ketika ada seseorang yang mampu masuk kedalamnya kalian sama sekali tidak mengetahuinya".


"Tuan, kalo boleh saya tau, kenapa tempat ini harus dijaga seperti ini setiap harinya? Apa ada sesuatu dibaliknya?". Tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


Plakk...


Orang yang dipanggil Tuan tersebut segera memukul salah satu dari keduanya karena pertanyaan tersebut, sehingga membuat keduanya hanya bisa berdiam diri dari pada harus menerima pukulan lagi.


"Bodoh kalian!! Kalo bukan karena adanya harta yang berharga, untuk apa kalian bedua ditugaskan untuk menjaga tempat ini". Jawab orang itu dengan nada sedikit meninggi karena pertanyaan itu.


Nadhira dan Rifki terus mendengarkan percakapan antara keduanya, Rifki dapat menyimpulkan bahwa lelaki yang dipanggil sebagai Tuan adalah seseorang yang begitu dekat dengan Bos mereka, sehingga dirinya mengetahui begitu banyak hal mengenai desa itu dan tujuan mereka menjaganya.


"Sepertinya dia banyak mengetahui tentang desa ini, sebaiknya kita tangkap dia agar kita mendapatkan informasi dari tujuan kita". Bisik Rifki kepada Nadhira.


Nadhira mengangguk mengiyakan, setelah beberapa lama mengawasi ketiganya, orang yang dipanggil sebagai Tuan itu segera meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh Nadhira dan Rifki dari belakangnya tanpa dirinya sadari ada yang sedang membuntutinya.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya keduanya tanpa aba aba segera bertindak untuk menangkap orang tersebut, Rifki segera menutup mulutnya agar tidak ada yang mendengar teriakan dari lelaki itu.


"Hmmm.... Hmmmm.... Hmmmm...." Lelaki itu terus protes akan tetapi suaranya tidak mampu keluar karena bekapan dari Rifki.


"Bagaimana sekarang?". Tanya Nadhira.


"Kita bawa kedekat air terjun saja, lalu kita ikat disana, besok pagi pagi sekali aku akan meminta anak buahku untuk membawanya ketempat rahasia".


Keduanya segera membawa lelaki itu ketempat yang Rifki maksud yakni dekat dengan air terjun, setelah sekian lama berjalan akhirnya ketiganya sampai juga diair terjun itu, Nadhira dengan pelannya berlari kecil menuju ketempat tendanya untuk mengambil sebuah tali dan kain atas perintah dari Rifki.


Sementara Rifki sedang mengunci pergerakan dari lelaki tersebut sehingga lelaki itu tidak mampu bergerak untuk melawan Rifki, sementara salah satu tangannya ia gunakan untuk membekap mulutnya agar tidak menimbulkan kebisingan.


Tak beberapa lama menunggu akhirnya Nadhira datang juga ketempat itu, hal itu membuat Rifki melepaskan bekapan tangannya dari mulut lelaki itu.


"Siapa kali Hmm........".


Sebelum lelaki itu bertanya, Nadhira segera mengikatkan kain dimulut lelaki itu agar dirinya berhenti untuk berbicara, sementara Rifki mengikatkannya dibawa pohon yang cukup besar dan rindang sehingga tidak akan ada yang mencurigainya bahwa ada seseorang yang sedang diikat disana.


Cletak..


"Siapa kami itu tidak penting". Ucap Nadhira sambil menjitak kepala lelaki tersebut.


"Hmm... Hmm... ".


"Sudah jangan berisik, atau kamu mau jadi santapan ular ular disini?". Tanya Nadhira menakut nakuti lelaki tersebut.


"Kau benar, rasanya ingin sekali mematahkan salah satu tangan orang ini dan dibakar dengan bumbu kecap, ah.. mungkin sangat enak kalau dibayangkan". Jawab Nadhira yang terus menakut nakuti orang itu.


"Hmmm... Hmmm... Hmmm...".


"Boleh juga itu, apalagi dibagian jantungnya, pasti dagingnya akan lebih sedap, besok kita akan mengambilnya, kamu sih ngidamnya aneh aneh masak iya makan orang seperti ini".


"Apalah dayaku, orang ini kelihatannya sedikit berisi, lagian siapa juga yang akan menangkap kita ditempat ini, ini juga kesalahannya kenapa juga masuk kehutan seperti ini malam malam, membuat selera makanku bertambah saja".


"Hmmm.... Hmmm.... Hmmmm ...".


"Kamu ini ngomong apa sih? Iya iya jangan khawatir soal itu, aku tau kamu begitu senang kan karena kami akan memakanmu dan menjadikanmu sebagai santapan yang terlezat, aku akan membunuhmu dalam sekejap agar dirimu tidak merasakan sakit yang sangat lama kok, tenang saja".


Nadhira dan Rifki memang sengaja mengatakan hal itu agar orang yang ada dihadapannya saat ini merasa takut dengan keduanya, dan tidak memikirkan alasan lain kenapa Rifki dan Nadhira dengan sengaja menangkapnya.


Rifki pamit kepada Nadhira untuk menelfon anak buahnya dikejauhan agar orang yang mereka tangkap tidak mendengar apa yang akan ia bicarakan kepada anak buahnya, sementara Nadhira menambahkan beberapa ikatan kepada orang itu agar dia tidak mampu untuk melepaskan diri sampai anak buah Rifki datang ketempat itu.


"Hmmm.... Hmmm....".


Plakk...


"Kamu mau ngomong apa? Besok aja ngomongnya, kalo semua peralatan sudah lengkap, dan aku akan mengambil tanganmu". Nadhira menampar pipi orang itu, sambil tersenyum kepada orang itu dengan senyuman yang mengerikan.


"Hmmmm.... Hmmm...".


"Kenapa kau tidak sabaran banget sih, iya iya besok pagi pagi banget deh kita akan menjadikanmu santapan terlezat buat menu pembuka".


Tak beberapa lama kemudian Rifki kembali ketempat itu setelah selesai menelfon salah satu anak buahnya untuk memerintahkan mereka mengambil orang yang telah ia tangkap saat ini, Rifki mengangguk kearah Nadhira dan dibalas anggukan juga oleh Nadhira.


Rifki menarik tangan Nadhira tanpa banyak bicara untuk meninggalkan tempat tersebut, sementara orang itu yang melihat kepergian keduanya hanya bisa merasa lega tapi tidak dengan esok hari seperti yang dikatakan oleh Nadhira, orang itu telah merasakan ketakutan dengan ucapan keduanya yang ingin menjadikannya memakannya.


Setelah sampai diperbatasan perkemahan itu, Nadhira dan Rifki segera menuju keperapian yang ada ditempat itu untuk bergabung dengan anggota OSIS yang tengah berjaga ditempat itu.

__ADS_1


"Ada jagung bakar ngak?". Tanya Nadhira kepada anggotanya tersebut.


"Ada kok Dhir, kamu mau?". Jawab seseorang yang ada diperapian itu.


"Boleh, dua ya?".


"Iya".


Siswa itu segera menyerahkan dua jagung yang belum dibakar kepada Nadhira, Nadhira langsung membakarnya dan dibantu oleh Rifki yang tengah menjaga api dari api unggun itu agar tetap stabil.


Setelah sekian lama membakar jagung bakar tersebut, akhirnya jagung yang ia bakar matang juga, keduanya langsung menikmati hangat dan manisnya jagung bakar tersebut.


"Hem... Enak banget langsung hangat perutku". Ucap Nadhira sambil memakan jagung.


"Iya iyalah kan aku yang membakarnya, mangkanya jadi enak". Jawab Rifki sambil membusungkan dada.


"Memuji diri sendiri itu ngak baik lo".


"Daripada ngak ada yang muji, ya mending memuji diri sendiri buat penyemangat, lagian kamu mana pernah memujiku yang ada akunya selalu serba salah didepanmu".


"Mau aku puji?".


"Ngak, namaku Rifki bukan Puji, yang ada nanti malah besar kepala duluan".


"Tuh tau".


Rifki membalikkan badanya dan membelakangi Nadhira, dengan wajah yang sedikit ditekuk sambil memakan jagung dengan lahapnya seakan akan sedang memakan orang.


"Kalian punya penumpul gigi ngak?". Tanya Nadhira kepada anak yang lainnya.


"Emang buat apa Dhir? Baru dengar ada alat seperti itu". Jawab salah satu dari mereka.


"Nih bayi besar, makannya udah kayak drakula aja". Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah Rifki.


Nadhira tertawa setelah mengatakan itu, bagaimana bisa dirinya menyebutkan Rifki dengan sebutan bayi besar, Rifki yang merasa bahwa Nadhira tengah membicarakannya langsung menoleh kearah Nadhira dan menemukan Nadhira sedang tertawa menghadap kepadanya.


"Apa yang kau katakan?". Tanya Rifki dengan memincingkan sebelah matanya.


"Bayi besar".


Uhuk... Uhuk...


Rifki terbatuk batuk mendengar bahwa Nadhira memangilnya dengan sebutan bayi besar, karena terkejutnya itu membuat dirinya tersedak oleh makanan, sehingga Nadhira dengan sesegera mungkin memberinya minum.


Rifki segera meminumnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di tenggorokannya karena tersedak oleh jagung bakar yang ada ditangannya.


"Aku ngambek bukannya dibujuk malah di katain bayi besar, ngak sopan".


"Ngambek? udah kayak bayi aja kamu itu Rif, lagian bener kan kamu masih bayi, buktinya aja makan bisa sampe tersedak seperti itu".


"Terserah aku lah, lagian siapa suruh bilang aku bayi besar, emang ada bayi seperi aku?".


"Anggap saja kamu sebagai contoh salah satunya".


"Yayaya... Karena aku serba salah".


Setelahnya tidak ada percakapan lagi diantara keduanya, mereka sama sama menikmati indahnya langit malam yang bertaburkan bintang bintang, udara dingin malam itu membuat mereka memutari api unggun tersebut.


Rifki melepas jaketnya dan memberikannya memakaikannya kepada Nadhira, karena dirinya melihat bahwa Nadhira sedang kedinginan malam itu sehingga membuatnya menyerahkan jaketnya.


"Kenapa diberikan kepadaku? Kamu kan juga butuh karena kedinginan?". Tanya Nadhira setelah jaket Rifki terpasang ditubuhnya.


"Aku sudah terbiasa dengan hawa dingin, lagian aku juga ngak mau kamu sakit gara gara udara dingin seperti ini, nanti kalau kamu sakit, siapa yang akan menyakitiku lagi? Aku tidak ingin melihatmu sakit".


"Kalau kamu sakit, siapa yang akan melindungiku?".


"Melindungimu adalah tugasku, kalau aku sakit sekalipun itu tidak akan membuatku menyerah untuk terus menjagamu".


"Garing banget sih kamu Rif".

__ADS_1


"Enak, biar kayak kerupuk, kriuk kriuk".


Ketika malam semakin larut, Rifki, Nadhira dan yang lainnya tiba tiba tertidur dengan nyenyaknya, karena sudah tidak kuat untuk terus terusan bergadang ditempat seperti itu, apalagi hawa dingin yang senantiasa menyelimuti mereka.


__ADS_2