
Kematian pangeran Kian begitu sangat misterius, tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti, akan tetapi kematiannya sama sekali tidak meninggalkan pengetahuan apapun mengenai permata itu dan kelemahannya.
Nimas hanya mengetahui bahwa kelemahan dari permata itu tidak lain adalah sebuah keris pusaka yakni diberi nama sebagai keris xingsi, keris xingsi adalah sebuah pusaka yang disembunyikan oleh pangeran Kian dan tidak ada satupun yang mengetahui tentang keberadaannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Nadhira dengan kebingungannya.
Nadhira sama sekali tidak mengerti apa maksud dari peringatan yang diberikan oleh Nimas itu, entah mengapa Nimas mengatakan hal itu kepada Nadhira saat ini.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Nimas segera masuk kedalam tubuh Nadhira dan mengambil kesadarannya untuk mengendalikan aura yang dikeluarkan oleh permata itu.
"Rifki kendalikan khodam pelindungmu, jangan sampai ada seseorang yang mengetahuinya bahwa kamu punya khodam pelindung ganda". Ucap Raka sekali lagi kepada Rifki.
"Khodam ganda? Tapi aku sama sekali tidak merasakannya, bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana bisa ada orang yang memiliki khodam ganda?".
"Begitulah kenyataannya, salah satu dari mereka adalah khodam dari leluhurmu yang ikut serta menjagamu, dan satunya lagi adalah dari garis darah keturunanmu".
"Bagaimana bisa? Sebelumnya tidak ada yang memiliki khodam ganda".
"Sudah jangan pedulikan itu, sekarang yang terpenting adalah kendalikan dulu emosimu, jangan sampai ada orang yang melihat khodammu keluar".
Rifki menganggukkan kepalanya, ia berusaha bersikap setenang mungkin saat ini, ketika kedua aura itu bertemu membuat para murid yang kesurupan tersebut tiba tiba tersadarkan, akan tetapi mereka masih bersikap linglung dan belum sepenuhnya tersadarkan.
"Dek, kamu ngak apa apa?". Tanya Rifki kepada salah satu anak yang kesurupan tadi.
"Ngak apa apa Kak". Jawabnya dengan pelannya.
"Ya sudah, kalian bawa mereka kembali ketenda sekarang, biarkan mereka istirahat, untuk kegiatan malam ini kita batalkan, bilang kepada semuanya yang sudah jalan untuk kembali ketenda sekarang". Perintah Rifki kepada anggota yang lainnya.
"Baik". Jawab mereka serempak dan segera melaksanakan perintah dari Rifki.
Ditempat itu kini hanya tinggal Rifki dan Nadhira saja, yang lainnya sudah kembali ketempat tenda, seperti yang diperintahkan oleh Rifki sebelumnya.
"Sebaiknya kalian sembunyi dulu, aku akan memberi pagar pelindung untuk kalian". Ucap Nimas kepada Nadhira dan Rifki
Setelah kepergian mereka, Rifki dan Nadhira segera bersembunyi dibalik rerumputan dan rimbunnya pepohonan yang cukup jauh dari lokasi sebelumnya akan tetapi masih mampu untuk melihat seseorang yang akan datang ketempat itu atas perintah dari Nimas, Nimas menyuruh keduanya melakukan itu karena dirinya memiliki tujuan lain.
Setelah sekian lama tempat itu sepi, akhirnya muncullah seseorang dari arah kebalikan menuju tenda, Rifki dapat merasakan bahwa orang itu tidak lain adalah seorang dukun sakti yang memiliki ilmu gaib yang cukup tinggi daripada dukun dukun yang sering ia temui sebelumnya.
Rifki terus memperhatikan pergerakan dari orang tersebut dari balik rerumputan tempat ia dan Nadhira bersembunyi saat ini, wajah orang itu tidak begitu jelas, akan tetapi masih terlihat bahwa rambutnya telah dipanjangkan seperti seorang wanita akan tetapi orang itu adalah pria.
"Siapa orang itu?" Bisik Nadhira kepada Rifki.
"Aku juga ngak tau Dhir, sepertinya dia orang sakti atau bisa disebut dengan hebat dalam dunia sihir dan gaib". Bisik Rifki kembali.
"Apa tujuan orang itu juga mengincar permata yang ada ditubuhku?".
"Itu bisa jadi, dia datang karena merasakan energi permata itu keluar dari tubuhmu".
Sosok itu segera menoleh kesana kemari untuk mencari sumber dari energi itu berasal, akan tetapi dirinya hanya mampu merasakan bahwa energi itu berada disekitarnya tanpa mengetahui asal usulnya.
Ia memandang kearah dimana perkemahan itu didirikan, akan tetapi dirinya tidak merasakan bahwa adanya energi permata yang ikut terarah kepada perkemahan itu yang artinya siswa yang ada di perkemahan itu tidak ada hubungannya dengan permata yang ada didesa yang terbengkalai.
__ADS_1
Ini adalah rencana Nimas sebelumnya untuk membuat orang itu bingung dengan sendirinya, jika Nadhira dan Rifki ikut kembali keperkemahan Nimas tidak akan mampu menipu orang itu, sehingga orang itu akan mengira bahwa salah satu dari orang yang ada di perkemahan itu adalah orang yang telah membawa permata pergi dari desa.
Jika hal itu terjadi, maka bukan hanya membuat permata itu dalam bahaya, akan tetapi nyawa Nadhira juga akan ikut terancam karena dengan paksa permata itu dikeluarkan dari tubuhnya yang akan berakibat fatal bagi pemilik tubuh tersebut.
"Kenapa energi permata berhenti disini, bagaimana bisa orang itu membawanya dengan sangat cepat, bahkan tidak ada jejak berikutnya kemana dia pergi". Ucap orang tersebut yang mampu didengar oleh keduanya saat ini.
Rifki dan Nadhira saling berpandangan satu sama lain, ternyata dugaan keduanya memang benar adanya, bahwa orang tersebut juga telah mengincar permata yang ada didalam tubuh Nadhira untuk kepentingannya sendiri.
"Kenapa aku merasakan kehadiran Kuswanto disini, bukankah dia sudah mati dan jiwanya juga sudah lenyap begitupun dengan kekuatan sihirnya, dan bahkan keturunannya juga sudah tiada". Ucap orang itu lagi dan ucapan itu membuat Rifki dan Nadhira begitu terkejutnya.
Nadhira kembali mengingat ingat tentang nama Kuswanto, akan tetapi dirinya tidak mampu mengingatnya karena dirinya belum pernah mendengar namanya sebelumnya.
"Siapa yang dimaksud oleh orang itu, siapa Kuswanto sebenarnya Rif?". Tanya Nadhira pelan sambil berbisik kepada Rifki.
Sebelumnya Rifki tidak pernah menceritakan mengenai kisah yang dialami oleh Kuswanto kepada Nadhira, dan bahkan Nadhira sendiri tidak mengetahui mengenai Kuswanto dan apa yang terjadi didesa Mawar Merah itu, yang Nadhira ketahui hanyalah desa itu ditinggalkan oleh penduduknya karena setelah kejadian pembantaian didesa itu.
"Kuswanto adalah Pangeran Kian Dhira, dan orang yang selalu disebutkan oleh Nimas sebelumnya". Jawab Rifki sambil berbisik kepada Nadhira.
Nadhira memang tidak mengetahui siapa itu Kuswanto, akan tetapi jika menyangkut dengan Pangeran Kian dirinya pernah mendengarnya dari Nimas maupun Rifki, bahwa orang itu adalah orang yang telah menciptakan sebuah permata yang indah dari kekuatannya, dan permata itu tidak lain adalah permata iblis yang ada ditubuh Nadhira.
Permata itu sebenarnya berwarna putih terang dan cahayanya begitu menyilaukan, akan tetapi setelah tercampur dengan kebencian yang mendalam, hasrat untuk membalaskan dendam, penakluk bangsa jin sehingga membuat permata itu berubah menjadi warna merah darah, karena kepekatannya permata itu terlihat berwarna hitam pekat.
Pangeran Kian menciptakan permata tersebut akan tetapi tidak memberitahukan apa kelemahannya sampai dirinya tiada sekalipun, menurut rumor yang beredar mengatakan bahwa permata itu diciptakan untuk melindungi sebuah pusaka, sehingga banyak orang yang ada didunia perdukunan membicarakan bahwa kelemahan dari permata itu adalah keris pusaka xingsi yang telah lama hilang disembunyikan oleh Kuswanto.
"Apa mungkin orang itu ada hubungannya dengan kematian Pangeran Kian?". Bisik Nadhira lagi kepada Rifki.
"Aku juga ngak tau Dhira, jika dilihat lihat memang dia seakan akan mengetahui segalanya mengenai kematian dari Pangeran Kian".
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?".
Rifki yang mendengarnya hanya bisa merasa terkejut, benda pusaka apakah yang mampu melemahkan kekuatan Nimas, sementara kekuatan Nimas lebih besar daripada mahluk halus pada umumnya.
"Apa benda pusaka itu adalah keris xingsi?". Tanya Rifki kepada Nimas sambil menatapnya dengan lekat lekat.
Sosok perempuan berbaju merah darah tersebut yang ditatap seperti itu merasa sedikit terganggu, sebelumnya tidak pernah ada manusia atau mahluk halus yang berani menatapnya seperti itu karena bisa jadi sosok wajahnya berubah dengan tiba tiba.
"Kenapa diam?". Tanya Rifki sekali lagi karena hanya melihat kebisuan dari Nimas.
"Sebenarnya... Jangan menatapku seperti itu". Jawab Nimas dengan ragunya
"Kenapa dengan tatapanku? Bukannya kau sering melihatnya? Kenapa sekarang seolah olah aku yang menjadi mahluk halusnya disini?".
"Aku juga masih memiliki rasa sensitif kali, bagaimana pun aku juga masih seorang gadis".
"Iya gadis yang berumur tua, kau bahkan sudah setua Kakek buyutku, apa perlu aku panggil kau Nenek buyut?".
"Enak aja kalo ngomong, iya ngomong bisa ceplas ceplos kayak begitu, tapi nih hati terluka".
"Kau masih memiliki hati? Tapi masih jomblo sampai mati".
"Emang kau pikir aku hantu yang tidak punya hati? Sudah ditolong masih saja mengata ngataiku tidak punya hati". Keluh Nimas sambil mengalihkan pandangannya dan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Iya iya, emang berurusan dengan cewek serba salah, ngak didunia manusia, ngak didunia hantu semuanya menyalahkan lelaki, emang ya lelaki tempatnya salah".
"Syukur deh kalo sudah sadar, aku tau apa yang tidak punya hati?".
"Apa?".
"Orang itu". Nimas menunjukkannya jarinya kearah seorang lelaki yang sedang merasa kecewa dikejauhan.
Pandangan Rifki dan Nadhira segera menoleh kearah orang yang tengah marah tersebut, dan beberapa kali memukul mukulkan ranting pohon kepada rimbunnya rerumputan sehingga dapat merusak keindahan alam karena banyaknya daun daun yang berguguran sebelum waktunya.
Wajah orang itu terlihat sangat marah karena dirinya kehilangan jejak kepergian dari seseorang yang telah membawa sebuah permata yang ia incar dari tempat itu sehingga membuat dirinya begitu murkanya.
"Kuswanto! Dengarkan aku! Aku akan merebut apapun yang harusnya menjadi milikku, aku tidak akan menyerah, lihat saja nanti, seluruh keturunanmu tidak akan aku biarkan untuk hidup". Teriak orang tersebut entah kepada siapa dia berkata.
Tanpa Rifki sadari bahwa tangannya telah mengapal dengan kerasnya ketika mendengar ucapan tersebut, ada perasaan marah didalam hatinya kepada sosok misterius yang ada dihadapannya itu akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini.
Nadhira yang merasakan bahwa tangan Rifki sedang menegang membuatnya menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Rifki, sehingga Rifki menoleh dan menatap kearahnya dan membuat pandangan sedikit mendingin daripada sebelumnya yang seakan akan panas seperti lava.
Mendengar ucapan tersebut membuat Rifki merasa sakit hati, akan tetapi untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dengan takdirnya, untuk melawannya saja ia tidak akan mampu untuk saat ini, karena dirinya belum menemukan jati dirinya sendiri.
"Aku harus meningkatkan kemampuanku untuk melawannya dan menemukan keberadaan Keris xingsi".
"Jangan sekali kali mencari tahu tentang keris pusaka itu, kau akan menyesalinya nanti". Ucap Nimas memperingatkan kepada Rifki.
"Kenapa dengan Keris itu? Kenapa aku tidak boleh mencari tahu tentang hal itu? Aku harus tau kenapa Pangeran Kian mendatangiku didalam mimpiku".
"Aku akan jelaskan nanti, yang terpenting sekarang adalah kita harus segera pergi dari tempat ini". Ucap Nimas dan menunjuk kearah orang itu yang tengah memandang kearah mereka.
Rifki yang mengerti maksud dari Nimas segeda berjalan jongkok sambil menggandeng tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu dengan hati hati agar orang tersebut tidak mengetahui keberadaan keduanya.
"Siapa itu!!". Teriak orang itu tiba tiba.
Teriakan itu membuat Rifki dan Nadhira berdiam diri dan membisu sambil memejamkan matanya dengan erat, perlahan lahan orang itu mulai mendekati keduanya.
Nimas yang melihat itu tidak tinggal diam, ia segera menghilang dari tempat itu dan muncul disisi lainnya dan berusaha untuk memancarkan energi permata yang masih tersisa didalam tubuhnya agar orang itu terpancing dengan hal itu.
Ketika orang itu merasakan bahwa adanya energi yang dikeluarkan oleh permata yang berada diarah berlawanan dari tujuannya sehingga dirinya menoleh kebelakangnya dan menemukan bahwa andanya sosok seorang wanita yang berpakaiannya serba merah itu.
"Ah Ratu iblis akhirnya muncul disini juga, dan dengan beraninya menampakkan diri didepanku? Apakah untuk melindungi gadis kecil itu? Ah aku paham mungkin gadis itu sedang bersembunyi dibalik semak semak ini". Ucap orang itu dengan sedikit senyum dan hal itu sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Gadis didalam hutan ini? Hahaha... Mana ada seorang gadis yang berani masuk kedalam kawasanku ini? Dan kenapa aku tidak berani muncul dihadapanmu? Aku adalah Ratu iblis, kemanapun aku pergi dan muncul tidak akan ada yang bisa menghalangiku".
"Nampaknya kedudukanmu sebagai Ratu iblis hanya untuk mengecohku".
"Selamat anda masuk dalam permainanku". Ucap Nimas setelah itu dirinya lenyap dengan sendirinya dan meninggalkan tempat itu.
Orang itu merasa marah karena Nimas yang tiba tiba menghilang dari hadapannya dan menghilang aura misterius dari permata iblis yang selalu dijaga oleh Ratu iblis tersebut.
Dengan marahnya orang itu sampai harus menendang nendang udara kosong yang ada dihadapannya, pandangan orang tersebut segera teralihkan kembali ketempat dimana Nadhira dan Rifki sedang bersembunyi.
Dengan senyum yang mengembang diwajahnya, lelaki itu mulai mendekat kearah dimana semak semak itu berada, dengan hitungan mundur orang itu segera membuka semak semak tersebut akan tetapi dirinya begitu terkejut karena adanya ular yang keluar dari balik semak semak tersebut.
__ADS_1
"Haaah.... Kenapa ada ular dirini, syuh... syuh... pergi dari sini jangan mendekat atau ku pukul kau dengan kayu ini". Ucap orang tersebut sambil membawa kayu ditangan kanannya.
Lelaki itu sangat takut dengan yang namanya ular apalagi ular tersebut lebih dari satu dan sedang melilit diantara rimbunnya rerumputan dan lebatnya semak semak yang ada disekitar tempat itu.