Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 5


__ADS_3

Pagi pun menjelang, suasana perkemahan begitu damainya, perkemahan itu dikelilingi oleh kabut yang begitu tebalnya. Kicauan burung dapat terdengar dengan jelasnya, sejauh mata memandang dapat terlihat bayangan sebuah gunung yang menjulang tinggi keangkasa.


Seperti biasa setiap pagi Rifki akan melakukan pemanasan, kali ini diperkemahan ia melakukan pemanasan dan berlari mengitari perkemahan itu, setelah itu ia akan bergegas ketempat dimana air terjun itu berada untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Rifki bergegas melihat kondisi Nadhira dengan merasakan denyut nadinya. Melihat Nadhira yang tertidur dengan nyenyaknya membuatnya merasa sedikit lega, melihat Rifki yang berada ditenda milik para guru membuat Fajar segera mendekatinya.


"Dia belum sadar juga Rif?". Tanya Fajar.


Rifki menggelengkan kepalanya. "Belum, sebentar lagi dia akan sadar, aku mau membuatkan dia minuman hangat, kamu jaga disini".


"Iya".


Rifki melangkah menjauh dari tenda tersebut, Fajar hanya menatapnya dengan heran, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar anak misterius". Guman Fajar.


Tak lama kemudian bu Rita datang ketenda tersebut, ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya diair terjun, ia begitu terkejut ketika melihat muridnya berdiri didepan tendanya.


"Kenapa kamu disini!!". Tanya bu Rita kepada Fajar.


"Hanya menjalankan perintah bu". Jawab Fajar dengan polosnya.


"Ha?? Perintah dari siapa?".


Tiba tiba Nadhira tersadar dan segera duduk, tiba tiba ia merintih kesakitan, ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dengan erat sambil mengeleng gelengkan kepalanya.


"Aarghh". Teriak Nadhira.


Melihat Nadhira yang berteriak histeris, bu Rita segera mendatangi Nadhira dan mencoba untuk menenangkannya. Mendengar teriakan itu membuat seluruh siswa yang ada ditempat itu segera berkumpul dan melihat kondisi Nadhira.


Fajar tidak tinggal diam begitu saja, ia mencoba untuk membubarkan para murid tersebut. Bu Rita terus berusaha untuk menenangkan Nadhira, dan berulang ulang kali mengucapkan istighfar.


Nadhira terus memberontak dan berulang ulang kali mengibaskan tangan agar bu Rita melepaskan pegangan tangannya, ketika hendak memukul bu Rita, Rifki datang tepat waktu dan menghentikan Nadhira.


"Nadhira hentikan!! Sadarlah". Ucap Rifki.


Nyatanya suara itu diabaikan oleh Nadhira, Nadhira berteriak dan memberontak tetapi kedua matanya masih tertutup rapat, seakan akan ketakutan itu telah menyelimuti hatinya.


Rifki meminta bu Rita untuk melepaskan pegangan tangannya terhadap Nadhira, awalnya bu Rita sangat berat untuk melepaskannya tetapi akhirnya ia menuruti ucapan Rifki dan melepaskan Nadhira.


Nadhira terus berteriak kesakitan, Nadhira hanya mendengar suara suara aneh yang begitu menyeramkan didalam kepalanya, ia tidak mampu mendengar ucapan Rifki.


"Nimas!!! Hentikan!!!". Teriak Rifki dengan marahnya.


Mendengar nama Nimas diucapkan begitu saja oleh Rifki, membuat semua orang yang ada ditempat itu merasa aneh, teriakan itu membuat Nadhira menghentikan teriakannya dan perlahan lahan mulai merasa tenang dan mulai membuka kedua matanya.


Rifki mengambil gelas yang berisi minuman yang baru saja ia buat, ia segera membantu Nadhira untuk meminumnya, setelah air yang ada digelas itu tandas perlahan lahan nafas Nadhira mulai kembali normal.


"Rifki". Panggil Nadhira ketika melihat Rifki berada didepannya.


"Apa yang terjadi dengan Nadhira?". Tanya bu Rita.


"Tidak apa apa bu, mungkin hanya merasa shock saja, karena kejadian kemarin malam". Jelas Rifki.


"A.... Aku,, bayangan itu terus mengejarku, Rifki tolong aku". Ucap Nadhira dengan terbata bata.


"Jangan takut Nadhira, sekarang kau aman disini, lawan rasa takutmu!". Ucap Rifki. "Nadhira jangan biarkan iblis itu terus menghantuimu, jangan biarkan ragamu kembali direbut olehnya, percayalah kepadaku, aku akan terus melindungimu". Bisik Rifki ditelinga Nadhira.


Dengan berat hati Nadhira mengangguk mengiyakan ucapan Rifki, biar bagaimanapun ia juga tidak ingin hal itu kembali terjadi, dimana seseorang sampai menumpahkan darah karenanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?". Tanya salah satu guru.

__ADS_1


"Kemarin malam kami menemukan Nadhira sudah tidak sadarkan diri, tempat itu berada dekat dengan sebuah desa yang terbengkalai, untung saja Nadhira tidak sampai masuk kedalam desa tersebut". Jelas Fajar.


"Rif, apakah bayangan itu berasal dari desa Mawar Merah?". Bisik Nadhira kepada Rifki.


"Tidak Nadhira, bayangan itu hanyalah penghuni hutan ini, karena kamu hampir mendekati desa itu membuatnya harus menampakkan diri didepanmu". Jawab Rifki yang juga dengan bisikan.


"Lalu mengapa ia mengejarku?".


"Nanti aku jelaskan lagi".


Keduanya kini beralih ke arah dimana Fajar sedang menceritakan kejadian yang kemarin ia alami, tetapi masalah desa Mawar Merah ia skip begitu saja karena ia teringat ucapan Rifki.


Fajar menceritakan tentang bagaimana ia masuk kedalam hutan itu, dan terus berputar putar untuk mencari Nadhira. Begitu lama keduanya berjalan mengelilingi hutan itu, dan pada akhirnya ia menemukan Nadhira yang sudah terbaring diantara rerumputan dan dibawah rimbunnya pepohonan.


Keduanya menemukan Nadhira dalam posisi yang sedang tidak sadarkan diri karena rasa takut yang membuat Nadhira pingsan, dan mereka juga melihat adanya luka dikaki Nadhira yang terus mengeluarkan darah, sehingga Rifki menyobek bajunya dan mengikatkannya kepada lutut Nadhira.


Setelah hal itu keduanya segera bergegas membawa Nadhira kembali keperkemahan meskipun hal itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, penuh perjuangan karena jalan yang mereka lalui penuh banyak hewan melata.


"Aku yakin Nadhira mengalami shock bu, kuharap bapak dan ibu guru dapat mengerti, untuk tidak menanyakan hal ini lebih lanjut, dan biarkan Nadhira istirahat". Ucap Fajar setelah selesai menceritakan semuanya.


Para guru yang sedang berada di tempat itu segera mengangguk mengiyakan ucapan Fajar, karena memang mereka tidak ingin Nadhira merasa tertekan mentalnya untuk saat ini.


"Bu aku izin ketenda kelas". Ucap Nadhira.


"Tapi kamu sudah ngak papa kan Nadhira? Kenapa ngak istirahat disini saja, biar ibu yang jaga". Ucap Bu Rita.


"Aku sudah ngak papa kok bu".


"Yaudah kalau begitu, kalau ada apa apa bilang ya".


"Iya bu".


Ketika ketiganya berada dijalan, tiba tiba segerombolan siswa segera mendatangi mereka, siswa siswa itu adalah kelompok Nadhira sebelumnya tetapi Nadhira tidak menemukan keberadaan Amanda.


"Nadhira kami minta maaf, karena kelalaian kami membuatmu tersesat dihutan". Ucap salah satu anak lelaki yang berada dikelompok itu.


"Sudahlah, lupakan saja, itu juga sudah berlalu". Ucap Nadhira.


"Rifki maafkan kelalaian kami". Dengan gugup siswa tersebut meminta maaf kepada Rifki.


"Aku rasa ucapan kalian sama sekali tidak tulus, apakah ini perintah dari bapak ibu guru?". Ucap Rifki.


"I... Iya".


"Jangan harap mendapatkan maaf dariku".


Setelah mengucapkan hal itu, Rifki segera bergegas membawa Nadhira menjauhi kelompok itu dan membawanya ketenda kelasnya. Melihat itu kedelapan anak itu hanya bisa menundukkan kepalanya, tanpa maaf dari Rifki berarti hukuman mereka tidak akan berkurang.


Sesampainya ditenda milik kelas Nadhira, Nadhira segera disambut oleh salah satu teman baiknya yang bernama Rahma.


"Kamu ngak papa kan Nadhira? tadi kamu teriak teriak menakutkan seperti itu". Ucap Rahma.


"Ngak papa kok, kamu ngak usah khawatir".


Melihat hal itu membuat Rifki dan Fajar segera pamit ketendanya, karena ia sudah memastikan bahwa Nadhira baik baik saja, dan aura yang Rifki rasakan sebelumnya sekarang sudah melemah.


"Rif? Siapa sebenarnya Nimas itu? Kenapa kamu tadi memanggil Nadhira dengan nama Nimas".Tanya Fajar tiba tiba.


"Kamu ingin tau siapa itu Nimas? Kalau aku bilang dia adalah roh halus, apa kamu masih ingin tau?" Tanya Rifki balik.


"Hm tidak tidak ....... Hanya saja apa hubungannya dia sama Nadhira?".

__ADS_1


"Aku dengar bahwa orang yang banyak tau, biasanya akan mati lebih awal, karena kamu memaksa aku akan memberitahu ....".


"Baiklah ngak usah beri tau, bakso masih enak, aku tidak mau mati sebelum mencoba semua makanan yang enak". Ucap Fajar sambil membayangkan makanan makanan yang sedang berterbangan kearahnya.


"Makanan saja yang kamu fikirkan, aku jadi teringat dengan seseorang".


"Hayoooo.... siapa itu".


"Sudah jangan dibahas, ngak penting juga".


Ketika dijalan menuju tendanya Rifki melihat Amanda yang sedang menyapu halaman seperti orang yang tidak pernah melakukan sebuah pekerjaan, ketika Rifki melewatinya Amanda segera bergegas mendatangi dimana Rifki berada.


"Rif, aku minta maaf, aku tau ini salah, aku tidak sengaja meninggalkan Nadhira". Ucapnya.


"Kayak ada yang ngomong". Ucap Rifki kepada Fajar.


"Mungkin kamu aja kali yang salah dengar". Tambah Fajar.


"Mungkin bisa jadi pendengaranku sedikit bermasalah".


Setelah itu mereka langsung meninggalkan Amanda sendirian, Rifki mengabaikan keberadaan Amanda sebelumnya. Merasa diabaikan Amanda segera menarik tangan Rifki, Rifki hanya mengibaskannya untuk melepaskan pegangan tangan itu.


"Rifki, aku kan sudah minta maaf, kenapa kamu masih semarah itu sama aku, lagian Nadhira juga sudah selamat".


"Aku tidak menerima maaf apapun, selama itu membahayakan nyawa Nadhira, jangan harap mendapatkan maaf dariku".


"Rifki".


Setelah mengatakan hal itu, Rifki bergegas pergi meninggalkan Amanda yang tengah memanggil manggil namanya berulang ulang kali.


Kedelapan anak yang tadi berusaha untuk terus meminta maaf kepada Rifki, kini mereka sadar bahwa meminta maaf dengan paksaan akan membuat mereka tidak benar benar terlihat tulus.


Akhirnya mereka merubah cara pandang mereka, bukan karena paksaan dari guru tetapi dari hati mereka yang merasa begitu bersalah kepada Nadhira, tanpa mendapatkan maaf itu mereka akan selamanya dihantui oleh rasa bersalah.


Berbagai macam cara mereka lakukan untuk mendapatkan kata maaf dari Rifki, mulai dari memberikan minuman hangat untuk Rifki, melengkapi keperluan Nadhira dan Rifki, selalu bertindak sebelum Rifki bertindak terlebih dahulu, dan berbagai macam cara lainnya yang mampu mereka lakukan.


"Rif sepertinya mereka benar benar mengakui kesalahan mereka deh, aku rasa mereka juga tidak sepenuhnya salah, lagian ketua kelompok mereka adalah saudara tiri Nadhira, jadi mereka harus mematuhi perintah ketua mereka". Ucap Raka.


"Kalian benar benar ingin maaf dariku?". Tanya Rifki.


"Iya Rif, biar bagaimanapun kami juga salah karena meninggalkan Nadhira seorang diri dihutan, kamu boleh menghukum kami semaumu tapi kami harap kamu memaafkan kami". Ucap salah satu siswa tersebut.


"Baguslah kalau kalian sudah menyadari kesalahan yang telah kalian lakukan, aku memaafkan kalian, aku harap kalian tidak akan melakukan kesalahan seperti ini untuk yang kedua kalinya". Rifki melihat ketulusan dari ucapan tersebut sehingga ia memberikan maaf kepada mereka.


"Tapi Rif, kami masih merasa bersalah dengan Nadhira, gara gara kami Nadhira sampai terlihat begitu ketakutan".


"Soal masalah itu, kalian ngak perlu khawatir aku yang akan mengurusnya, anggap saja semua masalah ini tidak pernah terjadi sebelumnya".


"Baik Rif".


Rifki segera bergegas meninggalkan mereka dan membantu teman temannya untuk mengumpulkan kayu bakar, karena sisa kayu bakar yang ia kumpulkan kemarin bersama Nadhira hanya tersisa sedikit untuk malam ini.


"Sebenarnya Rifki itu baik ya". Ucap si A.


"Iya, tadinya aku fikir kita tidak akan mendapatkan maaf darinya". Ucap si B.


"Aku masih ngeri melihatnya, kemarin malam ketika ia marah marah akan menakutkan seperti itu, aku juga berfikir bahwa kita akan dihajar olehnya juga, kalian ingat ngak masalah pengeroyokan dikelas Rifki itu, dia melawan begitu banyak orang". Tambah si C.


"Sudahlah yang terpenting kita sudah mendapatkan maaf darinya, untuk kedepannya jangan sampai membuat masalah dengannya apalagi dengan ceweknya". Ucap si A.


Ketujuh anak itu mengangguk mengiyakan ucapan si A, karena mereka juga tidak ingin berhadapan lagi dengan Rifki yang sosoknya begitu emosional seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2