
Nadhira mampu untuk membuka matanya perlahan lahan, yang pertama kali ia lihat adalah indahnya pemandangan langit disore hari yang dimana Langit itu berwarna biru yang indah dengan dihiasi oleh awan awan yang putih nan cantik mungkin ini akan menjadi pemandangan terakhir yang ia lihat, itulah yang dipikirkan oleh Nadhira.
Melihat tangan Amanda yang sedang mencekiknya dengan erat membuat Nadhira sama sekali tidak merasa ketakutan justru Nadhira masih mampu untuk menciptakan sebuah senyuman yang begitu indah diwajah cantiknya itu meskipun dengan terbatuk batuk hal itu membuat Amanda merasa keheranan dan lebih mengeratkan lagi cekikikan itu.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kau rencanakan! Atau kau tersenyum karena ajalmu akan tiba sebentar lagi"
"Kenapa aku harus menangis ketika akan bertemu dengan Rabbi ku, justru aku harus bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Sang penciptaku" Batin Nadhira.
Nadhira sudah tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya lagi, Nadhira mengira bahwa ini adalah akhir dari hidupnya sehingga ia merasa bahagia karena inilah yang ia harapkan selama ini dan dapat bertemu kembali dengan Mamanya.
Dengan perlahan lahan Nadhira mulai melepaskan pegangan tangannya dari tangan Amanda yang saat ini sedang mencekiknya dengan erat, tiada harapan lagi baginya untuk bisa hidup, tiba tiba angin semilir yang begitu dingin menerjang tubuh Nadhira yang terbaring ditanah itu.
Hal itu nembuat Nadhira merasa sejuk ditengah tengah panasnya matahari menjelang sore hari itu, hanya sebuah senyuman yang indah terpancar dari wajah yang cantik saja yang mampu terlihat saat ini.
"Maafkan aku Oma, mungkin aku akan pulang hanya tinggal nama saja untuk saat ini hehe..., Oma tidak perlu khawatir soal Dhira sekarang, Dhira akan bahagia kok dialam syurga-Nya, jaga diri Oma baik baik" Batin Nadhira ketika teringat tentang Sarah sebelum ia datang ketempat yang begitu indah ini.
Sarah sudah melarangnya untuk keluar rumah akan tetapi Nadhira tetap memaksa untuk bisa keluar dari rumah itu, akan tetapi dirinya tidak menyangka akan terjadi seperti ini, apalagi dia harus mati ditangan Adik tirinya sendiri seperti ini.
Rasa sesak nafas dan juga perut yang kram dan nyeri, bercampur menjadi satu yang tengah Nadhira rasakan saat ini, hanya helaan nafas pelan yang dapat terdengar dari mulutnya.
Nadhira menyesal karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Omanya sebelumnya, justru Nadhira tetap memaksa untuk bisa keluar rumah meskipun harus menggunakan berbagai macam cara untuk melakukan itu.
"Dhiraa!!...."
Sebuah sosok seorang lelaki tiba tiba berlari kearahnya dan mendorong Amanda hingga jatuh kebelakang dengan sangat kerasnya, lelaki itu segera menidurkan Nadhira dalam pangkuannya, lelaki itu tidak lain adalah Rendi.
Uhuk... Uhuk... Uhukk...
Merasakan cekikan itu yang terlepas dari lehernya membuat Nadhira terbatuk batuk kerena itu, dan akhirnya Nadhira bisa kembali bernafas dengan leganya karena cekikan itu telah terlepas.
"Apa yang kau lakukan kepada Dhira! Dhira apa kau baik baik saja Nak, Papa pasti akan menyelamatkan dirimu Dhira" Bentak Rendi kepada Amanda.
"Dia tidak pantas untuk hidup Pa! Untuk apa lagi dia tetap hidup didunia ini"
Plakk...
"Akh, sakit Pa!".
Rendi dengan emosinya sehingga menampar anaknya itu, meskipun tamparan itu tidak sekeras apa yang Amanda lakukan kepada Nadhira akan tetapi tamparan itu seketika membuat Amanda sakit hati dan menangis dihadapan Rendi.
"Kenapa Papa malah menampar diriku seperti ini?" Tanya Amanda dengan memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Rendi.
"Diam! Apa kau ingin membunuh Dhira juga ha? Jangan pernah mengulangi kesalahan yang telah Mamamu lakukan Manda, cukup Mamamu saja yang melakukan kesalahan itu, jangan sampai sifatnya itu menurun pada dirimu".
Rendi merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Amanda, ia tidak menduga bahwa Amanda akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Sena kepada Lia, Rendi tidak ingin kalau kedua anaknya itu akan saling membunuh nantinya.
"Apa yang Papa katakan? Kesalahan apa yang telah Mama lakukan? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud yang Papa katakan itu" Amanda sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rendi maupun Nadhira saat ini.
Rendi menatap tajam kearah Amanda, Rendi tidak habis pikir kenapa Amanda ingin sekali membunuh Nadhira saat ini, apalagi selama ini Nadhira tidak pernah berbuat jahat kepadanya sama seperti Sena dan Lia, padahal Lia tidak pernah menganggu kehidupan Sena akan tetapi dengan kejam Sena melakukan percobaan pembunuhan kepada Lia.
"Dhira kau tidak apa apa?" Tanya Rendi sambil membersihkan pasir yang ada diarea sekitar mata Nadhira dengan perlahan lahan.
"Aku tidak apa apa Pa, terima kasih telah menolong Dhira kali ini".
Nadhira bangkit dari terbaringnya sambil memegangi perutnya yang masih terasa begitu sakit, Nadhira mencoba untuk duduk disebelah Rendi sebisa yang ia mampu, meskipun rasa sakit yang menjalar tengah ia rasakan saat ini.
"Apa yang terjadi dengan perutmu Dhira, apakah perutmu terluka sekarang Dhira? Kenapa kau terlihat begitu kesakitan seperti itu Nak? Bolehkah Papa memeriksanya? Papa takut terjadi sesuatu dengan perutmu itu".
__ADS_1
Rendi segera memegang baju Nadhira untuk memeriksa keadaan perutnya akan tetapi tangan Nadhira segera menghentikannya dan menutup bajunya dengan erat erat, ia tidak ingin Rendi melihat luka jahitan yang ada diperutnya saat ini.
Yang selama ini mereka ketahui hanyalah satu jahitan saya yang ada diperut Nadhira dan itu adalah luka lamanya waktu menyelamatkan nyawa Rifki dari para penculik, akan tetapi berbeda untuk kali ini karena ada dua bekas luka jahitan yang menempel pada perut Nadhira karena dirinya telah mendonorkan ginjalnya untuk Rendi.
Jika hanya ada satu bekas luka jahitan saja itu tidak masalah untuk Rendi melihatnya akan tetapi Nadhira tidak ingin Rendi melihat bekas luka jahitan yang lainnya dan sama persis dengan luka jahitan yang dimiliki oleh Rendi saat ini.
Nadhira tidak ingin kalau sampai Rendi mengetahui bahwa dirinyalah yang telah mengorbankan ginjalnya untuk Rendi waktu itu dengan melihat bekas luka jahitan yang ada diperut Nadhira saat ini, ia tidak mau kalau ada orang lain yang mengetahuinya ataupun menyebarkan hingga Rendi mendengarnya.
"Dhira masih bisa menahan rasa sakitnya kok Pa, Papa tidak perlu khawatir soal luka yang Dhira miliki, nanti juga akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, perlahan lahan juga nanti tidak akan sakit lagi".
"Beneran kamu ngak apa apa Dhira?"
"Iya Pa, Dhira baik baik saja kok, Dhira masih mampu kok untuk bertahan dengan rasa sakit seperti ini".
"Manja banget, padahal hanya terkena sekali tendang ku saja sudah begitu manja" Geturu Amanda yang tidak suka dengan sikap Rendi yang membela Nadhira seperti itu.
"Apa! Kau menendang perut Dhira? Kau sangat kelewatan Manda, Nadhira memiliki luka jahitan lama diperutnya Manda hanya untuk menolongmu dari para penculik waktu itu!".
"Aku tidak peduli Pa, jelas jelas yang sejak tadi menghajarku adalah dia, baru kena sekali tendangan saja sudah kesakitan, jadi bukan salahku dong Pa, salah dia sendiri karena terlalu lemah".
"Jelas jelas kau yang salah Manda, Dhira adalah Kakakmu seharusnya kau lebih menghormati dirinya, bukan malah menentangnya apalagi menendangnya seperti ini, lihatlah dia kesakitan seperti ini".
"Aku tidak sudi memiliki Kakak seperti itu, dia saja yang manja, baru saja terkena tendangan seperti itu saja sudah terjatuh ketanah".
"Hentikan ucapanmu itu Manda!".
"Pa, kenapa Papa harus lebih membela dia daripada Manda sih Pa?".
Gejolak yang ada diperut Nadhira membuat Nadhira ingin sekali muntah akan tetapi Nadhira berusaha untuk menahannya, meskipun itu sulit akan tetapi Nadhira tidak ingin menyerah begitu saja.
Nadhira berusaha untuk dapat bangkit dari duduknya sekarang ini dan segera bangkit dengan bantuan dari Rendi yang membantunya untuk berdiri, meskipun lukanya itu terasa sangat sakit akan tetapi Nadhira berusaha untuk bersikap seolah olah dirinya tengah baik baik saja ketika dihadapan Rendi sekarang.
Amanda mengaku sebagai anak kandung Rendi karena Sena pernah mengatakan bahwa dirinya adalah anak kandung dari Rendi sementara Nadhira hanyalah seorang anak angkat Rendi melalui hasil tes DNA keduanya.
Nadhira menoleh kearah Amanda dan Rendi secara bergantian, entah kenapa ucapan Amanda itu begitu aneh bagi Nadhira, anak kandung? Bukankah disini anak kandung Rendi adalah Nadhira, hal itulah yang membuat Nadhira tidak mengerti maksud dari Amanda saat ini.
"Apa yang dia katakan Pa?" Tanya Nadhira yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Amanda.
"Iya, aku adalah anak kandung dari Papa Rendi dan bukan dirimu Dhira, kau bukan anak kandung dari Papa, kau hanya anak angkatnya saja".
"Kebohongan macam apa lagi ini Pa? Pa apa yang dikatakan Manda itu benar? Apakah aku memang bukan anak kandung Papa? Jelaskan kepadaku Pa!" Tanya Nadhira dengan nada sedihnya.
"Apa yang kau katakan Manda!" Teriak Rendi.
"Sudahlah Pa, sampai kapan Papa akan menutupi semuanya dari Dhira? Dia berhak tau kalau Papa memang bukan Papa kandungnya, jangan berbohong lagi Pa, katakan kepadanya kalau apa yang aku ucapkan adalah benar adanya" Ucap Amanda dengan entengnya.
"Hentikan Manda! Dhira adalah anak Papa".
"Pa, kenapa sih Papa harus membohongi diri Papa sendiri? Jelas jelas Nadhira memang bukan anak kandung Papa yang sebenarnya, jangan membohongi diri Papa sendiri, memang benar kan apa yang aku katakan? Dhira memang bukan anak kandung Papa selama ini, dan akulah anak kandung Papa".
"Pa, jelaskan kepadaku, apakah yang dikatakan oleh Manda itu benar? Katakan kepada Dhira Pa! Apakah itu benar? Jangan membohongi Dhira lagi Pa! Katakan Pa, apakah itu benar?" Tanya Nadhira yang begitu terkejut dengan ucapan dari Amanda.
"Dhira..." Ucap Rendi lirih.
"Pa jelaskan kepadanya, bahwa akulah anak kandung dari Papa yang sebenarnya selama ini bukan dia" Ucap Amanda.
"Katakan yang sebenarnya Pa! Dhira mohon jangan ada rahasia lagi yang Papa sembunyikan dari Dhira, jelaskan semuanya kepada Dhira sekarang juga Pa! Dhira juga berhak tau atas hal itu Pa! Katakan kepada Dhira Pa! Apakah Dhira bukan anak kandung Papa selama ini?".
__ADS_1
Rendi menganggukkan kepalanya pelan kepada Nadhira dan seketika itu juga air mata Nadhira mengalir dengan derasnya dihadapan Rendi, ia tidak menyangka bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Rendi selama ini.
Dapat terdengar suara isak tangis pelan dari mulut Nadhira setelah melihat anggukan kepala Rendi, ia tidak menyangka bahwa harus mendengarkan sebuah kebenaran seperti ini sekarang, perasaan kesedihan yang sangat mendalam kini tengah Nadhira rasakan ketika mengetahui bahwa Rendi bukanlah Papa kandungan.
Amanda segera mengeluarkan dompet miliknya dari saku yang ada dibajunya dan mengeluarkan sebuah lembaran kertas putih yang lalu ia serahkan kepada Nadhira, kertas itu bertuliskan bahwa Nadhira memang bukan anak kandung dari Rendi karena hasil tes DNA keduanya sangat berbeda.
Kertas itu adalah sebuah kertas salinan dari kertas yang ditemukan oleh Sena waktu itu dikamar Lia, kertas yang asli sudah ia sobek sebelumnya agar Nadhira tidak mengetahuinya akan tetapi tanpa ia sadari bahwa Sena telah membuat salinannya bukan hanya satu melainkan banyak.
"Baca saja kertas itu kau akan mengetahui semuanya bahwa apa yang aku katakan adalah kebenaran, itu adalah salinan dari kertas yang asli yang sudah dirobek oleh Papa sebelumnya".
Kedua tangan Nadhira bergetar hebat ketika dirinya membaca salinan kertas itu, hasil tes DNA itu menunjukkan sebuah tanggal dimana waktu itu Mamanya belum mengalami kecelakaan, Nadhira sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya bukanlah anak dari Rendi.
Nadhira terlihat begitu sedih dan tidak berdaya saat ini setelah mengetahui bahwa hasil tes DNA itu menunjukkan bahwa dirinya bukanlah anak Rendi, Nadhira harus menerima kenyataan pahit ini dengan ikhlas meskipun berat bagi dirinya.
"Ternyata benar aku bukan anak kandung Papa"
"Dhira".
Rendi segera memegangi tangan Nadhira, ia sangat takut untuk kehilangan anaknya itu, akan tetapi Nadhira segera melepaskan pegangannya tangan Rendi dari tangannya itu, ia tidak tau lagi harus berbuat seperti apa untuk saat ini setelah mengetahui semua kebenarannya.
Melihat Nadhira yang bersedih membuat Amanda tersenyum dengan bahagianya karena ia merasa menang dari Nadhira, ia juga memberikan sebuah kertas lagi kepada Nadhira, dan Nadhira segera membuka kertas tersebut.
Didalam kertas itu tertulis bahwa hasil tes DNA dari Amanda benar benar sangat cocok dengan Rendi, dan itu artinya Amanda adalah anak kandung dari Rendi sementara dirinya bukanlah anak kandungnya.
"Dhira, jangan tinggalkan Papa".
Rendi mencoba kembali untuk menyentuh tangan Nadhira akan tetapi lagi lagi Nadhira menepis tangan tersebut agar tidak sampai untuk menyentuhnya, Nadhira tidak ingin disentuh oleh Rendi karena apa yang ia dengar saat ini.
"Jangan sentuh Dhira Pa, cukup banyak kebohongan yang telah Papa ucapkan kepada Dhira, Papa sudah tau ini semua dari awal, tapi kenapa Papa tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Dhira Pa, kenapa harus dari mulut orang lain baru Dhira mengetahui yang sebenarnya?".
Nadhira menghapus dengan perlahan air matanya itu dan menarik nafas dalam dalam, baginya ini adalah sebuah luka yang sangat menyakitkan ketika mengetahui orang yang selama ini ia sayangi dan ia cintai ternyata bukanlah Ayah kandungnya.
Nadhira merasakan bahwa rasa mulanya sudah tidak lagi mampu untuk ia tahan, dan akhirnya Nadhira memuntahkan seluruh isi perutnya dan juga seteguk darah yang telah bercampur dengan isi perutnya itu, seteguk darah itu keluar karena bagian dalam organ Nadhira yang terluka kembali terluka lagi akibat dari tendangan yang diberikan oleh Amanda kepadanya.
"Dhira apa yang terjadi denganmu" Rendi begitu khawatir dengan Nadhira.
Rendi segera bergegas mendekat kearah Nadhira akan tetapi Nadhira segera mengangkat tangan untuk menghentikan langkah Rendi.
"Jangan dekati Dhira lagi Pa, sudah cukup Dhira terluka dengan apa yang telah Papa sembunyikan dari Dhira selama ini".
Nadhira memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat dari muntahnya tersebut yang memuntahkan seteguk darah, untung saja tendangan itu tidak membuat luka jahitannya terbuka sehingga perutnya tidak mengeluarkan darah yang akan membuat Rendi mengetahui segalanya.
"Dhira, kenapa kamu memuntahkan darah seperti itu, Papa hanya ingin memastikan keadaanmu baik baik saja Dhira, biarkan Papa mendekat kearahmu".
"Untuk apa Papa peduli dengan Dhira? Bahkan jika Dhira mati sekalipun, itu juga bukan urusan Papa, karena Dhira bukan anak Papa".
"Dhira, jangan katakan seperti itu Nak, Papa tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu Nak, Papa hanya tidak ingin kehilangan dirimu, maafkan Papa Dhira"
"Kenyataannya memang papa sudah kehilangan Dhira sejak dulu Pa, berapa banyak kebohongan yang telah Papa ucapkan pada Dhira selama ini? Orang yang paling ku percaya telah membohongiku begitu dalamnya Pa, Papa tau? Ini sangat menyakitkan bagi Dhira Pa".
Nadhira memaksakan diri untuk tetap dapat tersenyum meskipun air matanya sudah tidak lagi dapat terbendung, sulit baginya untuk dapat menerima kenyataan yang begitu menyiksa batinnya itu, bukan hanya fisiknya yang terluka akan tetapi juga batinnya yang tersiksa.
"Dhira maafkan Papa, Papa mohon jangan jauhi Papa seperti ini Nak, Papa tidak ingin berpisah dari dirimu, kau anak yang paling Papa sayangi".
Nadhira mendongakkan kepalanya keatas dan menatap langit yang biru nan megah itu, tidak ada yang tau dengan apa yang ia rasakan saat ini, dari kejauhan terlihat Raka dan Nimas yang telah berdiri menyaksikan kejadian itu dalam diamnya.
Nafas Nadhira mulai terasa begitu beratnya, dan kesedihannya itu tercipta begitu jelasnya diwajah cantinya itu, Rendi yang melihat itu hanya bisa menatap kearah Nadhira dengan perasaan bersalah dan sedih dengan apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Rendi sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi kepada Nadhira akan tetapi dirinya juga tidak berdaya dihadapan sebuah takdir Sang Illahi, ia tidak menyangka bahwa Nadhira akan mengetahuinya dengan begitu cepatnya, dunia benar benar telah mempermainkan mereka semua.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...