Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kekuatan Doa


__ADS_3

"kalian sudah menemukan dimana keberadaan anak itu?".


"Maaf ketua, kami belum juga menemukannya, sepertinya anak yang anda maksud sudah disembunyikan dengan erat, atau bahkan sudah ditukar dengan anak orang lain, ketika anak itu masih bayi".


Sosok yang dipanggil sebagai ketua begitu marah dan memporak-porandakan seluruh barang yang ada diruangan tersebut.


Barang barang tersebut berserakan dimana mana dan sebagian sudah hancur total. Keringat bercucuran dari tubuh pelapor dan detak jantung mereka semakin cepat.


"Kalian harus menemukan anak itu, karena anak itu satu satunya kunci harta karun yang disembunyikan oleh tua bangka itu, bagaimana pun caranya kalian harus menemukannya kalau tidak...... Nyawa kalian taruhannya"


Bertahun tahun pencarian mereka tidak menemukan anak yang dimaksud oleh ketua mereka, mungkin sekarang anak itu sudah berusia sekitar 15 tahun.


Sosok anak remaja memasuki ruangan tersebut dengan raut wajah bingung ia menatap kearah lelaki itu, ia begitu heran melihat barang barang berserakan dimana mana.


"Ayah! Apa yang terjadi? Mengapa....."


"Sudah Varel ini bukan urusanmu, keluar dari ruangan ayah sekarang!!"


Belum selesai anak yang dipanggil Varel menyelesaikan perkataannya, ayahnya langsung memotongnya dan mengusirnya dari dalam ruangan milik ayahnya.


Dengan berat hati Varel melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Setelah bayangan anaknya hilang dari pandangan, orang itu menatap bawahannya dengan tajam. Yang ditatap semakin merinding ketakutan.


*****


Nadhira pulang kerumahnya dengan sempoyongan, kepalanya terasa begitu berat dan sesekali pandangannya begitu buram. Ketika sampai didepan pintu kamarnya, ia terbentur begitu keras dipintu karena untuk berdiri tegak ia tidak mampu.


Ia terjatuh tepat ditepi tempat tidurnya dan terduduk dilantai kamarnya. Badannya terasa remuk semua, ia tidak mampu bangkit tubuhnya bagaikan tanpa tulang, begitu lemah .


"Apa yang terjadi padaku?".


Nadhira mengangkat kedua tangannya dan menatap keduanya yang begitu lemahnya. Tangannya begitu pucat seakan akan tiada darah yang mengalir dalam tubuhnya, bibirnya bergetar ia begitu ketakutan karena belum pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya.


Dengan sekuat tenaga Nadhira bangkit dan membaringkan tubuhnya dikasur kamarnya, dengan usaha yang begitu keras akhirnya ia berhasil membaringkan tubuhnya dikasur, dengan sisa kesadarannya ia menghela nafas panjang dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Tiba tiba sosok seorang wanita masuk kedalam kamarnya dan memeriksa denyut nadinya. Wanita itu begitu terkejut ketika memeriksa tubuh Nadhira, ia sampai termundur dua langkah.


"Ba... Bagaimana bisa? Energi yang aku masukkan kedalam tubuh anak ini tidak berhasil mempengaruhinya, nampaknya iblis itu sama sekali bukan iblis terkuat, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Ya... Aku harus memasukkan energi yang lebih besar untuk mempengaruhi anak ini".


Tiba tiba sosok iblis muncul dihadapan wanita tersebut dengan sangat marah, akibat dari ucapan wanita tersebut yang mengatakan bahwa dirinya bukan iblis yang terkuat.


"Ada energi yang jauh lebih kuat dari energi iblis terkuat? Energi apa itu?". Tanya wanita itu.


"Energi dari doa, jauhkan anak itu dari Tuhannya, agar aku bisa masuk kedalam tubuhnya! Jika tidak maka..."


"Baiklah akan ku coba"


Sebelum iblis itu menyelesaikan kata katanya wanita itu segera memotong ucapannya. keduanya memandangi wajah terlelap Nadhira seketika iblis itu memudar dan menghilang, sang wanita pun bergegas pergi dari kamar Nadhira.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Nadhira mengerutkan dahinya, perlahan lahan mulai membuka matanya. Nadhira memegangi kepalanya yang terasa sakit, ia mulai bangkit dari tidurnya.


"Akh... Kenapa kepalaku sakit, nampaknya ini sudah malam... Aaa... Aku ada janji dengan Rifki, Rifki pasti menungguku, bagaimana ini"


Nadhira mengigit jarinya, bingung entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ketika ia hendak pergi kekelasnya, ia bertemu dengan Rifki diperjalanan. Rifki ingin membicarakan sesuatu kepadanya, tetapi ia malah tidak sadarkan diri selama itu.


Bhuk


Sebuah sapu dijatuhkan didepan Nadhira, Nadhira memandangi sapu itu dan bergantian memandangi siapa yang menjatuhkan sapu didepannya.


"Ada apa ma?"


"Kamu tuh ya, enak enakan tidur mulu, sapu dan pel semua lantai dirumah, enak aja tidur tanpa kerja dirumah ini"


"Tapi ma, ini sudah malam, Nadhira janji besok akan membersihkannya"


"Mama ngak mau tau, pokoknya tepat tengah malam semua lantai harus bersih!"


Sena mendorong Nadhira dengan keras, hingga Nadhira terjatuh tepat didepan sapu dan alat pel tersebut. Setelah mendorong Nadhira ia pergi meninggalkannya, malam itu Rendi tidak ada dirumah, ia sedang pergi keluar kota bersama dengan bosnya.


Nadhira mengusap airmatanya yang akan menetes dipipinya, ia bangkit dan menguncir tinggi rambutnya. Ia menatap bayangannya sendiri dikaca kamarnya, ia menerbitkan senyum yang sungguh manis didepan cermin tersebut.


"Nadhira tidak diizinkan untuk menangis, Nadhira tidak ingin membuat mama Lia menangis disyurga-Nya". Ucap Nadhira


Nadhira mengangkat peralatan tersebut dan memulai menyapu dikamarnya, berlanjut keruang tamu dan seluruh rumahnya. Tepat jam 10 malam ia selesai mengerjakan perintah dari mama tirinya, ketika ia melewati ruang tengah, ia menemukan bahwa ada bekas makanan yang berceceran.


"Tinggal bersihkan aja repot, lagian aku juga ngak sengaja, bersihkan cepat".


"Tidak, kamu siapa beraninya memerintahku"


"Kalau tidak aku panggilkan mama, MAMA.....". teriak Amanda memanggil mamanya


Setelah teriakan itu Amanda lontarkan, teriakan itu disahuti teriakan juga oleh mamanya. Dengan tergesa gesa Sena datang dan mengambil sapu yang telah diletakkan oleh Nadhira didapur


Bhuk Bhuk


Sena memukul kedua kaki Nadhira, Nadhira hanya menutup matanya sambil menahan rasa sakit akibat pukulan tersebut. Ia mengigit bibirnya dengan kuat, agar tidak mengeluarkan teriakan akibat rasa sakit tersebut.


Pukulan demi pukulan ia terima, banyak bekas biru yang membekas dipaha dan lututnya. Sehingga ia tidak bisa berdiri dengan benar akibat persendiannya terada kram. Wajahnya memerah keringat dan airmata mengalir menjadi satu.


Setelah lelah, Sena meninggalkan Nadhira. Nadhira terduduk dilantai sambil menegangi persendiannya, Nadhira merangkak menuju kamarnya dengan susah payah. Ia mengunci pintu kamarnya dan berusaha bangkit mengambil obat untuk kakinya.


"Mama, ajaklah aku pergi bersama mama, aku ingin tinggal bersama mama, mengapa mama meninggalkanku begitu cepat ma, jika didalam mimpi aku bisa bertemu dengan mama, maka aku ingin tidur untuk selamanya, mama tau? rumah ini tak lagi sama seperti rumah kita yang dulu, lebih baik Nadhira tidur dihutan yang penuh bahaya daripada dirumah ini, aku merindukan mama sangat merindukan mama". Isak tangis Nadhira sambil memegangi foto mamanya


*****


"Dhira tumben jam segini sudah berangkat kesekolah". Tanya Vina dengan heran

__ADS_1


"Ngak papa Vin, pengen aja lagian dirumah juga ngak ngapa ngapain"


"Enak ya kamu udah punya ibu tiri, jadi semuanya ibumu yang lakukan".


Nadhira tersenyum mendengar ucapan Vina, tatapan Nadhira seolah olah berkata "enak pala lo, kalo gini mah lebih baik mati daripada harus hidup dengan orang kayak setan itu". Begitulah mungkin yang akan ia ucapkan ketika mendengar Vina memuji mama tirinya itu.


"Eh iya Dhira, kenapa adik tirimu tidak sekolah disini juga, kalian kan bisa dibilang seumuran juga, kalau ada pasti seru apalagi adik tirimu sekelas dengan kita"


"Duh Vin, kalau dia sekolah disini akan merepotkan urusan nantinya, bagaimana bisa hantu berwujud manusia belajar disekolah". Batin Nadhira.


"Dhir? Kamu kenapa? Kok diam aja"


"Ngak papa kok Vin". Memasang senyumannya yang manis.


"Oh iya kenapa kemarin kamu tidak masuk sekolah?apa kamu sakit? Sudah dua hari ngak ada kabar juga".


"APA! Dua hari"


"Apa mungkin aku tidak sadarkan diri selama 2 hari, bagaimana mungkin, apa yang terjadi padaku, bagaimana bisa aku tidak sadarkan diri selama itu". Batin Nadhira


"Nadhira kamu ngak papa kan?"


"Ngak papa"


Tiba tiba widya datang menghampiri keduanya, ditangan kanannya ia membawa kotak makan, sedangkan ditangan kirinya ia membawa sebotol minuman.


"Hay". Sapa Widya. Yang hanya dibalas senyuman oleh Nadhira.


"Ada apa?" Tanya Vina dengan datar.


"Dhira aku ingin minta maaf kepadamu, gara gara aku kamu ..."


"Sudah ku katan berapa kali Wid, itu bukan salahmu, lagian itu adalah keinginanku untuk menolongmu". Sela Nadhira sebelum Widya menyelesaikan perkataannya.


Widya menundukkan kepalanya mendengar jawaban dari Nadhira, "aku selalu membuatkanmu kue, sebagai ucapan maafku padamu Nadhira, tapi dua hari ini kamu tidak masuk sekolah, dan ini ketiga kalinya aku membuatkanmu, aku senang kamu masuk sekolah". Widya menyodorkan kotak itu pada Nadhira.


"Terima kasih"


Widya berjalan menuju mejanya setelah menerima ucapan dari Nadhira. Nadhira membuka kotak itu dan mendapati roti brownies pandan dengan bertuliskan "Maafkan aku Nadhira" Nadhira tersenyum melihat kue itu. Ia memotong brownies tersebut dan memakannya, tak lupa ia juga memotongkan untuk Vina.


"Enak, kue buatanmu sungguh enak Widya". Puji Vina dengan suara yang agak keras, sehingga Widya dapat mendengarnya.


Widya tersenyum karena mendengarkan pujian dari Vina. Nadhira juga menikmati kue bikinan widya, dan sesekali tersenyum menertawakan takdirnya. Awalnya Nadhira berangkat sangat pagi dikarenakan ia tidak ingin temannya mengetahui bahwa Nadhira berjalan dengan pincang. Ia berencana untuk tidak ikut istirahat dan kebetulan ia mendapatkan kue dari Widya, membuat alasannya untuk tidak pergi kekantin begitu kuat.


Nadhira menutup kotak kue tersebut dan menyembunyikannya diloker mejanya. Jika tidak maka Vina lah yang akan menghabiskannya sebelum jam istirahat dimulai.


Vina memasang wajah memelas ketika melihat kotak kue tersebut ditutup oleh Nadhira, padahal ia masih ingin memakan kue tersebut. Rasa kesal tersebut segera lenyap ketika suara seorang guru bergema didalam kelas, kini fokus mereka teralihkan kepada guru tersebut.

__ADS_1


__ADS_2