
Nadhira sedang duduk ditepi danau dan dibawah pohon yang rindang seperti biasanya ketika suasana hatinya sedang kacau, ditangannya ia memegang setangkai bunga mawar merah. Mawar itu berwarna sangat tajam sehingga ketika dilihat dari kejauhan mawar itu berwarna hitam pekat.
Tatapan Nadhira terarah kepada air danau yang tenang, airmatanya hampir jatuh tetapi bibirnya masih menampakkan senyuman. Nadhira memutar mutar setangkai mawar yang ada ditangannya, pandangannya terasa kosong.
Satu demi satu kelopak ia cabut dan membuangnya diair danau tersebut, kelopak kelopak mawar tersebut mengapung diatas air dan bergerak kesana kemari karena tertiup oleh angin yang membuat air itu bergerak.
Wajah cantiknya membuat siapa saja yang melihatnya akan terpaku karenanya, tiba tiba seorang pemuda datang dan menghampirinya. Pemuda itu berdiri tepat dibelakangnya, Nadhira dapat melihat pemuda itu dari bayangannya yang terpantul didalam air.
"Aku tau kau sudah datang". Senyumannya mengembang dan menoleh kearah pemuda tersebut.
"Kalau aku tidak datang, kamu pasti akan menghajarku karena aku tidak menepati janjiku, lalu kau memukuliku sampai tubuhku bulat seperti bakpau karena bengkak". Jawab pemuda tersebut.
"Aku juga tidak setega itu kali, bagaimana aku bisa menghajar sahabatku seperti itu, paling parah pasti akan sampai patah tulang.. hehe". Jawab Nadhira.
"Sama saja kali Dhir, malah itu yang lebih menakutkan".
"Habis ini kamu melanjutkan sekolah dimans Rif?". Tanya Nadhira
"Mungkin dibumi, atau tidak diatas tanah, kalo tidak keterima mungkin bisa jadi diatas air".
"Emang ada ya kek gitu?".
"Ada sih, aku yang buat gitu lo, oh iya kamu mau lanjut dimana? Jurusan apa?".
"Mungkin di SMK Bunga Bangsa, jurusan administrasi mungkin, bisa jadi yang lainnya".
Keduanya saling berbincang bincang, seperti biasanya tak lama kemudian datanglah Bayu dan Susi ditepi danau tersebut. Keempatnya duduk ditepi danau sambil menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Suasana ditepi danau sangat indah, bayangan matahari yang terpantul membuat air danau berkilauan, langit berwarna senja yang begitu indah. Keempatnya menikmati pemandangan itu dengan hati yang damai.
"Senja tidak pernah berjanji untuk selalu ada, tetapi ia berjanji akan selalu datang disetiap sore hari untuk menemani, meskipun hanya sesaat tetapi ia akan selalu dirindukan kehadirannya". Ucap Nadhira.
"Benar Dhir" jawab Susi.
Ketika matahari mulai tenggelam, langit mulai menggelap keempat sahabat tersebut pulang kerumahnya masing masing. Sesampainya Nadhira dirumah, ia langsung disambut oleh mama tirinya, tiba tiba mama tirinya menarik tangannya dengan kasar dan membawanya kekamar Nadhira.
"Ada apa ma?". Tanya Nadhira.
"Papamu akan pulang, tapi ingat jangan bilang kepadanya kalau mama selalu keluar dan pulang malam, ingat itu". Ancamnya.
"Iya ma aku ingat"
__ADS_1
"Awas aja sampai kamu bilang yang sebenarnya kepada papamu"
Mama tirinya segera meninggalkannya dan bergegas menuju ruang tamu, sementara Nadhira hanya diam didepan pintu kamarnya. Ia tidak terkejut apa yang dilakukan oleh mamanya, hatinya begitu senang karena papanya sebentar lagi akan pulang.
"Akhirnya papa akan pulang".
Nadhira bergegas masuk kedalam kamarnya, beberapa jam kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya, Nadhira segera membukakannya dan menemukan bahwa bi Ira berada didepan pintu kamarnya.
"Tuan sudah pulang nak".
"Benarkah bu?"
Tanpa menunggu jawaban dari ibu angkatnya, Nadhira segera bergegas menuju kelantai bawah. Ketika sudah berada dilantai bawah ia menemukan bahwa papanya sedang berada dimeja makan.
"Papa!". Panggil Nadhira kepada papanya.
Nadhira memeluk papanya dengan erat karena ia sangat rindu kepada papanya, tetapi papanya perlahan lahan melepaskan pelukan Nadhira, ketika Nadhira merasakan bahwa tangannya ditarik untuk melepaskan pelukannya, Nadhira segera melepaskannya.
"Jangan ganggu papa, papa capek".
Rendi meninggalkan Nadhira yang masih berdiri mematung disamping meja makan tersebut, ia membalikkan badannya dan menemukan bahwa papanya berjalan hendak pergi kekamarnya.
"Aku merasa papa, bukan lagi seperti papaku dulu, papa berubah sangat drastis, apa yang sebenarnya terjadi".
Nadhira memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya, rambut panjang yang terurai menutup tubuhnya. Linangan air mata gugur berjatuhan, tanpa Nadhira sadari Rendi sedang melihatnya.
Nadhira mengangkat kepalanya dan hendak bangkit berdiri, melihat hal itu Rendi segera bergegas masuk kedalam kamarnya. Nadhira berjalan menuju kearah kamarnya, sesampainya disana ia langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Tiba tiba hari Rendi begitu sakit ketika melihat Nadhira menangis, ia terduduk diam ditepi ranjangnya, sementara Sena sedang terbaring diatas ranjang. Melihat suaminya hanya duduk diam, membuat Sena mendekatinya.
"Ada apa mas?" Tanya Sena.
"Mengapa ketika Nadhira menangis hatiku terasa tersayat sayat, apa tes DNA waktu itu memang benar?".
"Aku ngak tau mas, tapi itu aku temukan dialmari milik almarhum istri mas yang dulu, mungkin karena mas sudah lama tinggal bersama Nadhira membuat hati mas sakit ketika melihatnya menangis".
"Mungkin saja begitu".
Sedangkan Nadhira dikamarnya sedang menatap foto mama kandung, didalam foto tersebut terlihat mamanya begitu bahagia, membuat hati Nadhira begitu bahagia.
Mulutnya tertawa tetapi airmatanya tak berhenti untuk mengalir, Nadhira terus memandangi wajah mamanya, ia sangat merindukannya.
__ADS_1
"Ma,, papa sudah pulang, ia begitu kelelahan sampai sampai tidak ada waktu untukku, tapi mama ngak perlu menghawatirkan perasaanku, aku baik baik saja kok ma, aku senang karena papa pulang, aku berharap mama juga pulang kerumah ini, meskipun semua orang mengatakan bahwa mama sudah tiada, tetapi perasaanku mengatakan bahwa mama akan selalu ada bersamaku, mama ada dihatiku, aku ingin mama akan selalu tersenyum seperti ini".
Nadhira mengusap foto mamanya dengan lembut, hanya melihat foto mamanya sudah cukup mengobati rasa rindunya. Airmatanya terus berlinang membasahi kedua pipinya,
"Hanya tinggal foto ini yang aku punya, semuanya sudah dibakar oleh mama tiri".
Nadhira teringat kembali, masa dimana mama tirinya mulai datang kerumahnya. Saat itu papanya pergi bekerja, Sena mengambil semua foto yang berkaitan dengan Lia. Sena tidak ingin dirumah ini masih ada yang menyimpan foto istri suaminya yang sudah meninggal.
Sena mengambili satu persatu foto lia dari figora yang telah terpasang rapi dimeja dan juga dinding ruang tamu, ia membuangnya dilantai. Ketika Nadhira baru saja pulang dari sekolah, melihat hal itu ia berusaha menghentikan apa yang telah dilakukan oleh mama tirinya.
"Apa yang mama lakukan?". Tanya Nadhira sambil memungut foto foto tersebut yang berserakan dilantai.
"Mamamu sudah mati, dirumah ini tidak boleh ada lagi foto seperti ini". Ucapnya sambil merebut foto foto tersebut dari tangan Nadhira.
Nadhira tidak tinggal diam, ia berusaha merebut kembali foto foto tersebut menyebabkan foto foto itu kembali berserakan dilantai, melihat hal itu Nadhira mengambil satu fotonya dan menyembunyikannya dibalik bajunya.
Sena memungutnya kembali, setelah selesai memungutnya Sena melihat ditangan Nadhira masih tersisa beberapa foto lagi, ia kembali merebutnya.
"Ma berikan itu padaku ma, tolong!! Hanya itu foto mama yang aku punya". Rengek Nadhira.
"Baiklah akan aku kembalikan jika kamu bisa merebutnya dariku".
Sena berjalan keluar dari rumah dan menuju ketempat sampah yang apinya sudah berkobar cukup besar, kedua mata Nadhira terbuka lebar melihat hal itu. Dengan santai sena melempar foto foto tersebut kedalam api itu.
"Jangan!!!" Teriak Nadhira.
"Sana ambil sendiri".
Sena mengibas ngibaskan tangannya dan meninggalkan Nadhira yang sedang menangis melihat foto mamanya yang perlahan terbakar oleh api itu, Nadhira berusaha mengambil foto itu tetapi tangannya malah melepuh karenanya.
Nadhira mengeluarkan foto mamanya yang ia sembunyikan dibalik bajunya, dan foto inilah yang tengah ia pegang saat ini dikamarnya. Nadhira tidak sanggup mengingat kejadian waktu itu, yang membuatnya harus kehilangan foto foto milik mamanya.
Nadhira mengambil nafas dalam dalam dan mulai bangkit dari duduknya, ia berjalan kearah meja belajarnya, dan mengeluarkan sebuah buku dari dalam lacinya. Buku itu ia beri nama "Buku Harian Nadhira".
Didalam buku tersebut penuh catatan, Nadhira memasukkan foto mamanya kedalam catatan tersebut dan menutupnya kembali, ia juga menaruhnya dilaci, setelahnya ia bergegas ketempat tidurnya.
"Aku merindukan mu ma".
Nadhira menarik selimutnya dan memejamkan kedua matanya, ia juga memarikan lampu yang ada dikamarnya, kali ini Nadhira tidur diselimuti oleh kegelapan.
Kamar itu hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk kedalam cela cela yang ada dicendelanya, Nadhira memejamkan kedua matanya, masih terdengar isak tangis dari mulutnya. Airmata mulai membasahi bantal yang ia pakai saat ini.
__ADS_1