
Hari ini seluruh siswa baru SMK Bunga Bangsa dikumpulkan disebuah lapangan, untuk mendiskusikan tentang agenda camping bagi siswa baru, Kepala sekolah memilihkan mereka sebuah tempat yang berada dekat dengan desa Mawar Merah. Hutan itu sering digunakan oleh sekolah lain untuk mengadakan camping, karena lokasinya yang bagus dan juga dekat dengan air terjun.
"Oke anak anak, acara ini insya Allah akan dilaksanakan besok lusa, seluruh siswa baru wajib mengikutinya, peralatan yang harus dibawa adalah......"
Seorang guru menjelaskan dan menyebutkan kepada mereka apa saja yang harus mereka persiapkan untuk acara tersebut, seluruh siswa yang ada disitu segera mencatat apa saja yang harus mereka bawa untuk agenda tersebut.
"Setiap kelas wajib membawanya, karena acara kita berlangsung selama 3 hari 2 malam, ibu tidak mau ada yang sampai lupa ngak bawa".
Para guru menjelaskan apa saja yang akan mereka lakukan disana, dan larangan apa yang tidak boleh mereka lakukan ditempat itu, setelah semuanya selesai diberitahukan kepada muridnya, mereka segera membubarkan mereka dan menyuruh mereka untuk masuk kedalam kelasnya masing masing.
"Rif, kamu dengar itu, bukankah itu lokasi yang menyeramkan?". Tanya Nadhira kepada Rifki ketika dikelasnya.
"Haha.... Kenapa? Kamu pernah kesana? aku dengar tempat itu sangat menyenangkan". Rifki tertawa mendengar ucapan Nadhira
"Sebenarnya......" Nadhira ragu untuk mengucapkan kepada Rifki.
Rifki melipat kedua tangannya didepan dadanya menunggu Nadhira mengatakan sesuatu kepadanya, sebenarnya Rifki sudah mengetahui apa yang akan Nadhira katakan karena dulu ia menemukan Nadhira yang tidak sadarkan diri dijalanan yang mengarah ketempat itu.
"Sudah jangan difikirankan terlalu lama, perlahan lahan saja, aku tidak memaksa kok". Karena melihat Nadhira tak kunjung mengucapkan sesuatu, membuat Rifki berkata terlebih dahulu.
Nadhira mengangguk kepada Rifki, memang benar ia terus menerus berfikir apa yang harus ia katakan kepada Rifki bagaimana pun ini juga berhubungan dengan ibu tirinya, yang membuat roh itu bangkit kembali dan mudah mengambil kesadarannya.
Entah dendam apa yang dimiliki oleh ibu tirinya kepada keluarganya sehingga ia begitu jahat kepada mereka, dan menghancurkan keluarga Nadhira.
"Aku dengar disana ada sebuah desa yamg tak kasat mata".
"Iya aku juga tau itu, selama ini tidak ada yang berani mendekat kelokasi desa itu berada".
"Kenapa seperti itu?".
"Dulunya ada pembantaian disana, sehingga banyak mahluk jahat berkumpul karena kematian mereka tidak wajar ditempat itu".
Masing masing temannya menceritakan sebuah mitos tentang desa Mawar Merah tersebut, Rifki hanya menggelengkan kepalanya karena ia tidak tau harus berkata apa lagi karena memang dulunya seperti itu, karena banyak orang yang menghilang sehingga tidak ada yang berani kedesa itu.
Menurut mitos yang beredar dikalangan masyarakat, Desa terlarang tersebut dikuasai oleh sebangsa jin yang sangat jahat, banyak orang yang pergi ketempat itu tetapi mereka tidak dapat kembali. Banyak yang mengira bahwa memang benar desa itu meminta tumbal kepada warga.
Bahkan seseorang yang memiliki pengelihatan seperti Rifki, mereka akan ketakutan jika berada dekat dengan desa tersebut, sehingga Rifki merasa aneh mengapa setelah ia masuk kedesa itu, ia dapat kembali dengan selamat dari desa tersebut.
"Kau dengar itu Rif, ngeri kan tempat itu?". Tanya Nadhira yang terus mendengarkan pembicaraan teman temannya.
"Lagian campingnya juga ngak didesa itu kali Nadhira, kan masih sebelahan, jaraknya juga masih ada satu kilometer an, masak iya guru guru mau membuat muridnya celaka, kan ngak mungkin".
"Iya juga sih, aku hanya takut".
"Tenang!!! kan ada aku". Ucap Rifki dengan bangganya.
"Iya... hantu sama hantu kan cocok".
"Kau kira aku hantu gitu? kalau aku hantu ya mungkin kau akan ku lahap dengan hidup hidup".
__ADS_1
"Mati dong aku?".
"Hiduplah, hidup sebagai hantu juga... hahaha".
Nadhira mencubit pinggang Rifki dengan kerasnya karena tawanya yang membuat Nadhira merasa sebal kepada Rifki, Rifki terus mengindar dan Nadhira terus mengejarnya.
*****
Dipagi yang cerah, burung berkicau dengan semangatnya, Nadhira sudah siap untuk mengikuti camping sekolahnya. Sejak semalam ia tidak bisa tidur memikirkan bagaimana acara camping tersebut, Nadhira terlalu bersemangat karena ini pertama kalinya ia menginap dihutan bersama teman barunya.
Sementara Amanda, ia tidak terlalu bersemangat untuk melakukan camping tersebut, Amanda juga bersekolah di SMK Bunga Bangsa tetapi berbeda jurusan dengan Nadhira, ia memilih jurusan tata rias, karena nilainya yang buruk, ia tidak dapat masuk kekelas dimana Nadhira berada.
Pagi itu keduanya segera bergegas untuk mengisi perut mereka, setelah mengemas barnag barang yang akan mereka bawa ketempat camping. Nadhira merasa terkejut ketika melihat barang bawaan Amanda, tidak hanya ada dua tas saja, tetapi lebih dari itu seakan akan ia hendak pindah dari rumah itu.
Nadhira hanya membawa beberapa pakaian, obat obatan pribadi, bumbu dapur, dan lain lain, sementara Amanda membawa bantal dan bonekanya juga, Amanda kesulitan memasukkan peralatannya kedalam mobil.
"Ayo berangkat!!". Ucap Rendi.
Ketika Nadhira hendak naik kedalam mobil tersebut, Amanda segera mencegahnya, Amanda tidak ingin disatu mobil yang sama dengan Nadhira.
"Sudahlah Dhira kamu naik becak saja, biasanya juga berangkat sekolah sendiri". Ucap Rendi.
"Tapi pa".
Nadhira hanya pasrah mengenai hal itu, ia berjalan mundur beberapa langkah dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Melihat itu Rendi segera melajukan mobilnya, setelah kepergian suaminya Sena segera memasuki rumahnya tanpa memperdulikan Nadhira yang sedang berdiri ditempat itu.
Nadhira hanya bisa berdiam diri sambil memendam perasaannya dalam dalam, bi Ira segera mendekatinya.
"Ngak bu, aku naik becak saja". Jawab Nadhira sambil tersenyum pahit.
"Baiklah, mari ibu bantu bawakan tasnya".
Bi Ira segera mengangkut tas milik Nadhira, Nadhira juga membawa beberapa peralatan yang akan ia pakai waktu camping. Setelah mereka keluar dari gerbang rumah Nadhira, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti didepan mereka.
Tak lama kemudian, supir mobil hitam itu segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri keduanya, salah satu cendela itu terbuka dan menampakkan sosok Rifki didepannya yang sedang tersenyum kepada Nadhira.
"Sudahku tebak ini akan terjadi". Guman Rifki. "Nadhira ayo masuk!! biarkan pak Tejo yang mengangkatkan barang barangmu". Teriaknya.
Supir tersebut segera mengambil tas yang bi Ira dan Nadhira bawa saat ini, ia segera memasukkannya kedalam bagasi mobil itu. Rifki membuka pintu tersebut dan menyuruh Nadhira untuk masuk, awalnya ia ragu tetapi ketika melihat anggukan ibu angkatnya membuatnya segera berpamitan kepada ibu angkatnya dan masuk kedalam mobil tersebut.
"Kenapa?". Tanya Rifki yang melibat Nadhira terus memandanginya didalam mobil.
"Kenapa kamu bisa ada disini? apa kamu sengaja datang ke rumahku?".
"Memang sengaja haha..... Firasatku memang benar kan, aku tadinya ingin langsung segera kesekolah tetapi aku tidak yakin jadinya aku kesini dulu melihat suasana, kali aja kamu belum berangkat".
"Dasar aneh!!".
"Kalau ngak aneh berarti bukan aku".
__ADS_1
"Terserahlah!! makasih".
Rifki tersenyum kearah Nadhira, setelahnya ia kembali fokus memandang luar mobil yang sedang melaju itu, Butuh kurang lebih satu jam untuk sampai kesekolahan.
Ketika mereka sampai, Bus yang akan membawa mereka hendak berangkat. Melihat adanya dua orang yang keluar dari dalam mobil, supir bus tersebut segera menghentikan laju kendaraannya.
Dengan terburu buru keduanya segera mengangkat barang bawaannya dibantu oleh supir pribadi kakeknya Rifki, ketika mereka sudah masuk kedalam bus, bus tersebut segera melaju sebelum keduanya duduk ditempatnya.
Keduanya berada dibus yang sama dengan Amanda, Amanda yang melihat Nadhira dan Rifki berdampingan membuatnya merasa sebal karena itu, Amanda memiliki sebuah perasaan kepada Rifki sejak pandangan pertama.
"Awas aja kau Nadhira!!!". Guman Amanda.
Nadhira berjalan dibelakang Rifki untuk mencapai tempat duduk yang sudah disiapkan untuk keduanya, ketika melewati Amanda, kaki Amanda segera diarahkan untuk membuat Nadhira terjatuh..
Alangkah sayangnya usahanya tersebut, ketika Nadhira hendak terjatuh, tubuhnya sehera menabrak tubuh Rifki, Rifki yang merasa tubuhnya ditabrak segera menoleh dan menangkap tubuh Nadhira yang hendak terjatuh.
Aksi yang dilakukan oleh Rifki membuat keduanya terasa seperti sedang berpelukan, hal itu membuat Amanda semakin marah,
"Cieee!!!". Seluruh murid menyoraki Nadhira dan Rifki..
Mendengar sorakan tersebut membuat bertambahnya kemarahan Amanda, Nadhira segera melepaskan diri dari pelukan Rifki. Nadhira merasa begitu malu untuk mengangkat kepalanya, sorakan itu sungguh seperti duri yang berjauhan kepada keduanya.
"Berhenti tertawa!!!". Teriakan seseorang.
Nadhira segera menoleh kearah dimana suara itu berasal, dapat ia lihat bahwa suara itu berasal dari adik tirinya. mendengar teriakkan itu seluruh siswa yang ada disitu bukannya menghentikan tawa mereka, malah justru mereka semakin ribut mengatai Amanda.
"Maksudmu apa Manda? kau ingin membuatku terjatuh". Tanya Nadhira kepada adik tirinya.
"Bukankah kau pantas untuk jatuh? aku hanya mengingatkanmu kepada posisimu". Jawab Amanda.
"Oh jadi ini adik tirimu Nadhira? sepertinya ia tidak pantas menjadi saudaramu". Sela Rifki.
Mendengar nama Manda terucapkan dari mulut Nadhira, Rifki teringat cerita Nadhira mengenai adik tirinya yang bernama Amanda, Nadhira juga bilang bahwa adik tirinya juga sekolah ditempat yang sama seperti mereka hanya saja berbeda jurusan yang diambil.
"Apa yang kau katakan kepadanya??". Tanya Amanda kepada Nadhira.
"Biar ku jelaskan ya, Nadhira sama sekali tidak mengatakan apapun, lagian sifat kalian juga berbeda, mana mungkin kau bisa menyamakan diri dengan Nadhira". Jelas Rifki.
"Sudah Rif, ayo kembali ketempat duduk".
Nadhira menggenggam erat tangan Rifki, ia juga menariknya kearah tempat duduk mereka, ia tidak ingin Rifki sampai mengatakan sesuatu yang akan membuatnya dalam masalah ketika sampai dirumah.
"Licik seperti ibunya, hah memang buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya". Guman Raka yang menyaksikan kelakuan dari Amanda
"Benar katamu, aku ngak nyangka aja seperti itu".
"Entah hatinya terbuat dari apa, aku saja yang mahluk astral masih bisa memiliki hati seperti manusia biasa".
"Sudahlah Raka, kita nikmati aja perjalanan ini".
__ADS_1
Nadhira yang melihat Rifki berbicara sendiri membuat menoleh kearah dimana Rifki menghadap saat ini, ia menduka Raka yang dimaksud oleh Rifki sedang berada didekatnya.