
Dalam diamnya Rifki meratapi nasibnya, biar bagaimanapun yang terjadi haruslah terjadi ia tidak bisa menghentikannya ataupun menduganya akan seperti apa takdir akan mempermainkannya. Harus bagaimana lagi ia akan menjalani hidupnya tanpa kehadiran ayahnya untuk membimbingnya menjadi yang terbaik, tetapi ia dipaksakan untuk dewasa sebelum waktunya.
"Kasihan sekali anak itu, jadi murung seperti itu, ah untung saja aku tidak diberi tanggung jawab sebesar itu saat usiaku masih kecil begini".
Dari kejauhan Bayu melihat Rifki yang tengah termenung sendirian digazebo taman belakang markas, ia tidak tega melihat Rifki yang seperti itu, biar bagaimanapun ia adalah sahabatnya dan juga bos dari ayahnya. Akhirnya Bayu masuk kembali kedalam markas untuk membuatkan Rifki minuman dingin untuk menyegarkan pikirannya.
Bayu segera bergegas masuk kedalam dapur yang ada dimarkas tersebut, ia kebingungan harus membuatkan Rifki minuman apa yang ia sukai, akhirnya Bayu membuatkan Rifki minuman perasaan jeruk manis yang ada didalam kulkas tersebut.
Setelah selesai membuatkan Rifki minuman, Bayu langsung membawanya kepada Rifki yang tengah melamun saat ini, Bayu menyodorkan minuman itu tiba tiba dihadapan Rifki membuat Rifki terkejut dan hampir saja memukul Bayu karena refleksnya.
"Sudahi galaumu Rif, kan masih ada kita kita disini, oh iya ada Nadhira juga".
"Siapa yang galau? Orang aku hanya merenungkan sesuatu".
"Aku tak peduli apapun itu, minumlah biar pikiran mu dingin kembali".
Rifki menerima minuman yang telah disodorkan oleh Bayu dan segera meminumnya hingga tandas tak tersisa sedikitpun, bukan karena ia haus melainkan karena pikirannya yang terus memanas.
Setelah memberikan minuman itu kepada Rifki, Bayu segera duduk dikursi depan Rifki, meskipun begitu pandangan Rifki telihat seperti sedang kosong, entah apa yang ada dipikirannya, Bayu hanya melihat sebuah kegelisahan dibalik tatapan tersebut.
Selama ini Bayu tidak pernah melihat sahabatnya seperti itu, apalagi ketika mereka sedang bermain bersama, Rifki akan terlihat bahagia ketika bersama sahabatnya, tidak seperti sekarang ini, meskipun Bayu berada disampingnya sekalipun.
Tidak seperti biasanya Rifki akan terlihat seperti itu, selama ini, Rifki tidak pernah terlibat begitu murung dan menyembunyikan kesedihannya seperti saat ini. Bayu menatap wajah Rifki dengan lekatnya, ia pun ikut bersedih ketika melihat sahabatnya sedih seperti itu.
"Apa perlu aku panggilkan Nadhira kemari?".
Mendengar nama Nadhira disebutkan membuat Rifki tersadar dari lamunannya dan segera menoleh kearah Bayu dengan tatapan yang begitu tajam setajam silet.
"Tidak, dia sedang istirahat karena luka goresan dilehernya tadi siang".
Rifki tidak ingin melibatkan Nadhira lagi dalam hal seperti ini, terlebih lagi Rifki tidak ingin Nadhira melihat kesedihannya, apalagi kerapuhannya untuk saat ini sehingga membuat Nadhira bergitu khawatir kepadanya.
Sebenarnya Rifki sangat mengharapkan kedatangan Nadhira ketempat itu untuk menenangkannya pikirannya, tetapi ia teringat bahwa Nadhira sedang terluka lagi karenanya, Nadhira sudah dua kali terluka karena tindakannya, ia tidak ingin melihat Nadhira sedih lagi hanya karenanya.
Rifki merasa begitu bimbang harus bagaimana lagi ia akan melanjutkan langkahnya tanpa adanya sosok yang ia miliki sebelumnya, sekarang ia hanya memiliki seorang ibu dan adik dalam kehidupan.
Ia harus bisa melewati semua ini demi membahagiakan ibu dan adiknya yang masih berada disampingnya, ia tidak mengetahui kemana ayahnya pergi, semenjak kelahiran adiknya papanya tiba tiba menghilang tanpa kabar sama sekali.
"Kalo iya bilang saja Rif, ngak perlu sungkan sungkan, kita kan sahabat, kalo kamu khawatir dengan lukanya aku akan menjemputnya dengan hati hati".
Bayu memberi pendapat untuk membawa Nadhira dengan baik baik, tidak seperti bagaimana Vano menculik Nadhira dengan tiba tiba dan membawanya kehadapan Rifki sebelumnya.
"Tidak usah, aku tidak mau melibatkan Nadhira dalam masalah ini, nanti dia akan semakin khawatir".
"Justru aku yang khawatir melihatmu seperti sekarang ini, lagi pula kan ada ayahku juga, kenapa kamu masih khawatir soal itu, aku juga tidak akan meninggalkanmu, tadi kakekmu berpesan kepadaku untuk selalu ada bersamamu, seperti ayahku dan kakekmu, dia memintaku untuk menjadi tangan kananmu seperti ayah".
"Kapan kakek bilang seperti itu?".
"Tadi, setelah kamu pergi meninggalkanku diruangan itu sendirian, tiba tiba kakekmu mendatangiku".
"Oh".
"Hanya 'Oh' saja? Lebih baik tadi tidak aku beritahukan padamu huh, untung aku orangnya sabaran kalo tidak...".
"Apa??".
__ADS_1
Sebelum Bayu meneruskan omelannya, Rifki segera memotongnya dan berganti dengan tatapan yang lebih tajam kearah Bayu, tatapan itu seketika membuat Bayu menelan ludahnya dengan susah payah dan bergidik ngeri melihatnya.
"Ngak jadi Tuan muda, gitu saja sudah membuatku merinding karena takut".
"Diamlah".
"Ngak ngak,,, jangan diam, nanti kesambet tau rasa lo".
"Ingin rasanya aku makan dirimu hidup hidup Bay". Ucap Rifki kembali menatap Bayu dengan tajamnya sambil menggerakkan lidahnya seakan akan Bayu adalah mangsanya.
"Janganlah, kan aku ngak sekuat dirimu, masak iya kamu tega melakukan hal itu dengan orang selemah diriku? Lagian kalo aku kamu makan, nanti kamu tidak akan memiliki teman sepertiku lagi lo, kan diriku begitu langkanya".
"Ngak masalah, kan masih ada dagingmu diperutku, aku akan memotong mu dengan cepat agar kau tidak terlalu lama untuk merasakan sakitnya".
"Kau!!! Kau seperti kanibal". Ucap Bayu sambil bergidik ngeri mendengarnya.
"Biarlah".
Bayu berekspresi sedih dihadapan Rifki saat ini ketika Rifki mengatakan bahwa ia ingin memakan Bayu hidup hidup, Biar bagaimanapun itu hanyalah perkataan belaka yang Rifki lontarkan tetapi Bayu masih membayangkan bahagia ketika dirinya dimakan oleh Rifki secara hidup hidup.
Semarah apapun Rifki, Rifki tidak akan pernah mampu untuk menyakiti sahabatnya sendiri, kecuali emosinya telah keluar dari tubuhnya dan sulit untuk dikendalikan lagi.
Setelah mengobrol dengan Bayu terlalu lama, Rifki segera kembali kekamarnya untuk mengistirahatkan dirinya, ia tidak mengetahui kapan kakeknya akan berangkat hingga ia tertidur dengan lelapnya setelah menyelesaikan sholatnya.
Ketika ia terbangun nampaknya hari sudah berganti dan pagi mulau menjelang, kakeknya tiba tiba mendatanginya lagi kekamarnya, Aryabima berniat membawa Rifki kekantor untuk diperkenalkan kepada semua pegawai disana. Tetapi Rifki merasa berat jika ia meninggalkan pelajaran sekolahnya, tetapi ia hanya bisa pasrah dengan keputusan kakeknya, ia meminta kepada salah satu anggotanya untuk menjemput Nadhira dan mengantarkan kesekolah.
"Kapan kakek akan berangkat?". Diperjalanan Rifki bertanya kepada kakeknya yang sedang berada disampingnya.
"Setelah kita pulang dari kantor".
"Tidak bisa nak, semakin membuang waktu semakin pula semuanya tidak akan berakhir dengan baik baik saja".
"Soal papa..."
Sebelum Rifki melanjutkan perkataannya, Aryabima segera menyela ucapan tersebut. "Jangan khawatir soal itu, kakek akan berusaha untuk membawanya kembali".
"Aku harap kakek dan papa akan selalu baik baik saja, semoga Allah selalu melindungi kalian, aku tidak tau masalah apa yang sebenarnya terjadi, tetapi instingku mengatakan itu adalah hal buruk".
Meskipun sudah berusaha seperti apapun, Rifki tidak akan pernah mampu untuk menghentikan apa yang akan kakeknya lakukan, takdir terus berjalan dan akan mencari jalannya sendiri untuk mencapai tujuan yakni sebuah kematian. Meskipun manusia sudah berusaha seperti apapun jika sudah takdirnya, ia tidak akan bisa melawannya.
Setiap bunga yang mekar dengan indah, bunga itu pasti akan layu, dan kematian bunga itu pasti akan terjadi, tetapi setiap layunya bunga pasti akan tumbuh bunga yang baru yang jauh lebih indah.
Senja tidak pernah berjanji akan selalu ada, tetapi ia selalu berjanji akan selalu menemani jika waktunya sudah tiba, begitupun takdir, jika sudah waktunya maka tidak ada yang bisa menghentikan.
"Jangan pernah berhenti untuk menghadapi tantangan ilahi, jangan jadikan ketakutan sebagai kelemahan, meskipun kamu gagal jangan pernah berpikir untuk berhenti, bangkit dan terus coba lagi, suatu hari kau pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat". Aryabima mengusap kepala cucu laki lakinya tersebut.
"Iya kek, Rifki akan selalu mengingat apa yang kakek katakan".
Tak beberapa lama sampailah mereka disebuah bangunan yang tinggi dan begitu besar daripada yang lainnya, didepan bangunan itu tertuliskan sebuah nama 'Abriyanta Group'.
Abriyanta Group adalah perusahaan ternama yang didirikan oleh Abiyoga, perusahaan itu berjaya dimasa pimpinan Aryabima, dan menjadi perusahaan milik Rifki untuk saat ini.
"Abriyanta?". Guman Rifki membaca nama perusahaan besar tersebut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan nama itu?".
__ADS_1
"Bukan begitu kek, kenapa perusahaan ini atas nama Abriyanta?".
"Keluarga kita adalah keluarga Abriyanta, dan nama terakhirmu adalah Abriyanta, kaulah satu satunya penerus keluarga Abriyanta dengan kemampuanmu yang mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib, maupun pemilik khodam penerus keluarga kita".
"Aku tidak mengerti apa maksud kakek".
"Sudahlah, ayo turun".
Kakeknya mengajaknya untuk turun setelah seseorang selesai membukakan pintu mobil untuk mereka, keduanya disambut dengan hormatnya ketika masuk kedalam perusahaan itu. Ini pertama kali Rifki mendatangi tempat itu, sebelumnya ia tidak pernah menginjakkan kaki ditempat itu karena ia begitu sibuk melanjutkan pendidikannya dan berlatih dimarkas.
Perusahaan itu begitu besar dan luas dibagian dalamnya, kakeknya segera mengumpulkan seluruh pegawainya keruangan rapat, untuk memberitahukan bahwa dirinya akan memberikan posisi jabatannya kepada Rifki.
Setelah semuanya berkumpul, Aryabima mulai menyampaikan apa maksud dan tujuannya untuk mengumpulkan semua pegawainya, maksud itu segera ditanggapi dengan adanya pro dan kontra dari beberapa argumen.
Banyak karyawan yang merasa terkejut dengan hal itu, mengapa tiba tiba kendali perusahaan diberikan kepada bocah yang bahkan belum lulus SMA, mereka sangat meragukan keputusan Aryabima dalam hal seperti ini, bagi mereka hal itu bukanlah main main belaka.
Sebagian mendukung tindakan Aryabima mengenai hal itu, karena mereka dapat melihat bagaimana cara Aryabima mendidik cucunya selama ini, mereka belum pernah bertemu Rifki secara langsung, tetapi menurut sebagian orang yang pernah mendatangi Aryabima kemarkasnya, mereka dapat melihat bagaimana cara Aryabima mendidik Rifki.
"Tuan Besar bagaimana bisa seorang anak kecil mampu memimpin perusahaan ini?".
"Iya benar".
Terlihat ada seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan mengangkat tangan mengenai apa yang disampaikan oleh Aryabima.
Dengan beraninya wanita itu menyampaikan sebuah pendapat kepada Aryabima, tanggapan itu segera diangguki oleh beberapa orang yang menyetujui akan hal itu, mereka sangat meragukan kemampuan Rifki mengenai cara Rifki untuk memimpin perusahaan.
Rifki menatap tajam kearah wanita yang telah dengan beraninya berbicara akan hal itu dihadapannya, hal itu sama saja dengan meremehkan keputusan dari kakeknya.
"Kenapa dengan anak kecil? Apa hakmu meragukan keputusan pemilik perusahaan ini?". Tanya Rifki dengan lantangnya.
"Maafkan kelancangan saya Tuan Muda, tetapi bagaimana anda bisa memimpin perusahaan ini... ". Karena ditatap dengan tajam oleh Rifki membuat wanita itu berbicara dengan terbata bata.
"Kenapa dengan perusahaan ini? Apa hakmu menentang keputusan pemilik perusahaan, apa kau ingin mendudukinya ha? Atau kau ingin dipecat dengan tidak hormatnya?". Jawab Rifki bergaya seperti pemimpin baru perusahaan.
Karena Rifki sudah terbiasa menghadapi situasi seperti sekarang ini ketika ia berada dimarkasnya, bukan hal sulit Rifki dengan percaya dirinya mengatakan hal itu, ia sama sekali tidak suka dengan orang yang dengan beraninya menentang keputusan orang yang lebih tinggi darinya.
Rifki adalah seorang pelatih beladiri, dan sudah mahir beladiri sejak ia berusia dini, membuat aura kepemimpinannya begitu kuat, sehingga ia ditakuti dan disegani oleh seluruh anggota gengnya.
"Bu... Bukan begitu Tuan muda".
"Masih ada yang protes mengenai ini? Jika iya, katakan saja, saya akan berikan gaji terakhir kalian". Ucap Aryabima.
Seluruh pegawainya seketika diam begitu saja, mereka berpikir bahwa Rifki yang ada dihadapannya saat ini lebih tegas daripada kakeknya, sehingga mereka harus berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang dapat membuat Rifki merasa marah kepada mereka dan akan berakhir dengan mereka kehilangan pekerjaannya.
Tiba tiba Bram masuk kedalam ruangan tersebut, seluruh pegawai tempat itu tidak pernah melihat Bram secara langsung berada ditempat itu, karena Bram adalah tangan kanan dari Aryabima yang keberadaannya tersembunyi.
"Mulai sekarang aku percayakan Tuan Muda kepadamu, jaga dia dengan baik meskipun dengan nyawamu sekalipun, sekarang kau adalah pelindungnya, jika sudah saatnya anakmu lah yang akan menggantikan posisimu dan bekerja disebelah cucuku".
"Baik Tuan Besar, saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin, dan selalu membimbingnya seperti yang Tuan inginkan".
"Aku percaya padamu, jangan pernah merusak kepercayaanku".
Rifki sungguh terharu dengan ucapan kakeknya dan keseriusan Bram untuk menjaganya, Rifki sudah belajar bagaimana caranya untuk menjadi pemimpin yang baik selama ini, soal mengurus perusahaan ia sudah bisa tetapi ia masih butuh bimbingan secara ahli untuk melakukan itu.
Air matanya ingin jatuh dikala itu juga, tetapi segera ia tepis, ia tidak ingin terlihat lemah didepan semua orang apalagi dihadapan kakeknya yang akan pergi meninggalkannya entah sampai kapan keduanya akan segera bertemu.
__ADS_1