Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kenyataan pahit


__ADS_3

Meskipun Nadhira membawa sebuah hp akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa dihubungi karena tiada sinyal ditempat Nadhira berada saat ini, Nadhira segera menghapus air matanya dan buru buru mengeluarkan HP yang ada disakunya.


"Nyalakan rekaman vidio".


"Baik Pak".


"Waktu itu aku melihat Rendi membawa Lia kerumah Sena dari kejauhan aku melihat bahwa mereka sedang bertengkar dirumah itu.....".


*Flash back on*


Pada waktu itu, Dwija tidak sengaja lewat depan kamarnya dan ia tidak sengaja mendengar Sena berbicara kepada seseorang melalui telfonnya, karena rasa penasarannya hal itu membuat Dwija menguping pembicaraan mereka.


"Dia akan datang kemari, ku harap kau melakukan rencana itu dengan baik, jangan sampai orang itu tetap hidup dan rencana kita akan gagal".


Mendengar itu seketika membuat Dwija menghentikan nafasnya, rencana apa yang dimaksud oleh Sena, sehingga melibatkan nyawa seseorang yang harus mereka hilangkan.


"Siapa yang dimaksud oleh Sena? Nyawa siapa yang ingin ia ambil? Siapa yang ingin dia bunuh saat ini? Aku harus menghentikannya" Batin Dwija menjerit.


Dwija mendengarkan dengan seksama, ia tidak ingin istrinya itu membunuh seseorang hanya karena ambisinya, tanpa sengaja dirinya menjatuhkan sesuatu sehingga membuat Sena segera keluar dari kamarnya hal itu membuat Dwija segera pergi dari situ untuk bersembunyi.


"Siapa yang telah mendengarkan ucapanku tadi? Apa ada yang tanpa sengaja mendengarkannya? gawat kalau begitu, aku harus segera melakukan tugas ini, ku harap tidak ada yang bisa menghalangi" Tanya Sena yang terus menoleh kesana kemari untuk mencari seseorang yang telah menjatuhkan sebuah benda yang ada didepan kamarnya.


Dwija segera keluar dari persembunyiannya ketika Sena tidak melihatnya, ia terus berpura pura untuk membersihkan halaman depan rumahnya agar Sena tidak mencurigainya, ketika Sena pergi ke halaman depan ia melihat Dwija yang sedang sibuk menanam bunga yang ada didepan rumahnya.


Sena mendekat kearah Dwija dan melemparkan sebuah kertas kepadanya, Dwija segera menerima kertas tersebut dan membukanya.


"Apa ini Sena?".


"Itu surat perceraian kita, aku ingin kita pisah, sekarang cepat tanda tangani surat itu".


"Pisah? Apa salahku sehingga kau meminta pisah dariku Sena? Aku tidak mau kita pisah, lalu bagaimana dengan Amanda? Dia yang akan jadi korbannya Sena".


"Aku tidak peduli, lagian Amanda juga bukan anakmu, dia anak dari Mas Rendi, dan sebentar lagi aku akan menikah dengannya".


"Rendi sudah punya istri Sena, kau tidak boleh merusak hubungan mereka seperti ini, dia juga punya seorang anak, bagaimana kalau anak itu juga jadi korbannya karena dirimu".


"Tinggal tanda tangan saja apa susahnya sih, lagian juga tidak ada cinta diantara kita, kau tidak becus sebagai kepala rumah tangga, kau tidak bisa memberikan apapun yang aku mau".


"Sadar Sena, jangan hanya karena egoismu kau melakukan hal ini semua, Rendi hanyalah masalalumu kau seharusnya melupakan dirinya, dia juga sudah punya istri dan anak".


"Cepat tanda tangan sekarang juga! Berisik amat sih jadi orang".


Dengan sangat terpaksa Dwija menandatangani surat perceraian itu, hal itu membuat Sena tertawa dengan puasnya dan ia segera masuk kedalam rumah tersebut, sementara Dwija tetap berada diluar rumah dan melanjutkan pekerjaannya.


Dwija tidak habis pikir dengan apa yang tengah direncanakan oleh Sena, kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga Sena ingin berpisah darinya, padahal dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada Sena.


Tiba tiba mobil milik Rendi masuk kedalam halaman rumahnya, hal itu membuat Dwija segera bersembunyi untuk melihat siapa yang datang, dan ternyata itu adalah Rendi dan Lia, keduanya segera masuk kedalam rumah Sena dan Dwija.


"Rendi? Kenapa dia juga membawa Lia kemari? Ada apa ini? Apa mungkin yang dimaksud oleh Sena adalah mencelakai Lia? Tidak bisa, aku harus menghentikannya" Ucap Dwija.


Dwija segera bergegas mendatangi mereka melewati cendela yang ada dirumah tersebut dan mendengarkan setiap apa yang mereka ucapkan.


"Ayah"


Teriakan seorang anak seusia Nadhira keluar dari dalam rumah dan memanggil Rendi dengan sebutan seorang ayah, anak itu langsung memeluk Rendi.


Melihat Amanda yang memanggil Rendi sebagai Ayahnya membuat hati Dwija terasa begitu sakit, apalagi ketika Amanda memeluk kaki Rendi dengan manjanya, seperti seorang anak kepada Ayahnya.


"Apa yang dilakukan oleh Manda, kenapa dia sangat dekat dengan Rendi seperti itu" Ucap Dwija dengan pelannya.


Disatu sisi Amanda merasa senang ketika Rendi hadir dalam rumahnya, Sena telah menghasutnya untuk lebih dekat dengan Rendi dan memanggil Rendi dengan sebuatan Ayah.


"Maksudnya apa ini Mas?". Tanya Lia


Lia sangat terkejut ketika ia tiba tiba diajak kerumah ini, ia lebih terkejut lagi ketika ada anak kecil yang keluar dari dalam rumah dan memanggil suaminya dengan sebutan ayah.


"Iya, dia adalah anak kami berdua, Amanda". Jelas perempuan itu yang tidak lain adalah Sena.

__ADS_1


"MAS!! JELASKAN PADAKU MAS, APA MAKSUD DARI SEMUA INI" Lia berteriak histeris didalam rumah tersebut.dan beberapa kali memukul Rendi.


"Siapa Tante ini ayah, kenapa ia memukul Ayah seperti itu". Tanya gadis kecil tersebut.


"Aku tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi darimu Lia...".


Rendi menceritakan bahwa ia sangat mencintai Sena sudah sejak lama, waktu mereka masih SMA.


"Maafkan aku telah berbohong, aku tidak bisa menyimpan ini terlalu lama darimu Lia". Ucap Rendi sambil menenangkan Lia.


"Tega kamu Mas!! Hiks.. hiks.. Apakah aku hanya kau anggap sebagai pelampiasan mu saja selama ini?"


"Sekarang, izinkan aku dan Mas Rendi menikah resmi, aku tidak masalah kalau aku harus jadi yang kedua diantara kalian berdua, asalkan aku bisa menikah dengan Mas Rendi secara resmi itu tidak masalah bagiku". Ucap wanita itu.


"Aku tidak terima hal ini Mas hiks.. hiks.., AKU TIDAK TERIMA hiks.. hiks..". Teriak Lia dan memukul lengan suaminya.


"Kamu tidak punya pilihan lain Lia, aku juga tidak mau melepaskanmu". Ucap Rendi.


"Kamu jahat Mas". Air mata terus mengalir dipipinya


"Apa kamu ngak kasihan melihat Amanda?". Tanya Sena


"Ngak!!! Apa kamu juga ngak pernah mikir perasaan Nandhita dan juga Nadhira seperti apa ketika mereka mengetahui hal ini Mas?hiks... Hiks...". Ucap lia.


"Maafkan aku Lia".


"Maaf kamu bilang mas? Kaca yang sudah pecah tidak bisa disatukan lagi, meski berhasil kau satukan kau tidak akan bisa menghilangkan bekasnya, aku kecewa sama kamu Mas, kau tega mengkhianati pernikahan kita".


"Aku tau itu Lia, tapi ini sudah terlanjur terjadi".


"Sekarang hanya ada dua pilihan Mas, pilih aku atau dia? Kau harus bisa memilih salah satu dari kita".


"Aku pilih kalian berdua, jika aku pilih dirimu saja kasihan Amanda".


"Dan jika kau pilih dirinya bagaimana dengan nasib Nadhira dan juga Nandhita? Kau juga tega kepada mereka Mas, kau egois".


"Hei apa yang kau lakukan!" Teriak Dwija.


Melihat adanya Dwija disampingnya tiba tiba, membuat orang tersebut segera berlari dengan sekencang ia bisa untuk menghindari Dwija, Dwija segera mengejarnya untuk meminta jawaban kenapa orang itu melakukan hal seperti itu.


Dwija terus mengejarnya untuk menangkap orang tersebut, akan tetapi dipertengahan jalan ia teringat tentang mobil itu, ia takut bahwa mobil itu akan dipakai olehs seseorang sehingga dirinya memilih untuk kembali lagi kerumahnya.


Ketika dirinya sudah sampai dirumahnya, ia melihat bahwa mobil itu telah melaju dari tempat itu, beberapa saat kemudian Rendi segera keluar dari rumah tersebut, Dwija sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Lia sehingga dia sontak menduga bahwa mobil itu kini tengah dipakai oleh Lia.


"Akhinya wanita itu akan mati juga" Ucap Sena dengan entengnya ketika melihat mobil itu melaju meninggalkan rumahnya.


"Maksudmu apa?" Tanya Rendi dengan nada sedikit marah kepada Sena.


"Jika kau tidak bisa menyakitinya biarkan aku saja yang melakukannya, bukankah itu rencana awal kita Mas? Kau lihat saja, kali ini Lia tidak akan selamat".


"Apa yang kau lakukan kepadanya? Bukankah sudah aku bilang, jangan pernah menyakitinya! Aku tidak ingin Lia kenapa kenapa" Ucapnya dengan sedikit emosi.


Rendi terlihat begitu kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Sena, sementara disatu sisi Dwija terlihat begitu cemas dengan keadaan Lia yang saat ini sedang mengendarai mobil itu.


"Gawat, perempuan itu dalam bahaya, aku harus segera menyusulnya".


Jalan dari rumah Rendi sampai rumah Sena melalui sebuah pegunungan sehingga Dwija sangat khawatir dengan Lia yang sedang mengendarai mobil yang sengaja dibuat rem blong itu, Dwija segera mengeluarkan motornya dan melaju dengan cepatnya menyusul Lia.


*Flash back off*


Nadhira mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dwija dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir kepipinya, ia tidak menyangka bahwa Rendi benar benar ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami oleh Lia saat itu.


"Aku berusaha untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Lia, tapi aku terlambat untuk berbuat apa apa, mobil itu terjun dengan bebas dan masuk kedalam jurang, aku melihatnya sendiri setelah itu mobil tersebut meledak begitu kerasnya"


Nadhira tidak mampu lagi menahan air matanya, dapat terdengar suara isak tangis dari mulutnya saat ini, ternyata orang yang selama ini ia sayangi telah tega mengkhianati cinta suci Ibunya, Nadhira memegangi dadanya yang terasa sakit ketika mendengar cerita dari Dwija.


"Mama, maafkan Dhira" Ucap Nadhira lirih.

__ADS_1


"Aku terus mencoba untuk mencari Lia, dari kejauhan aku melihat bahwa tubuhnya terpental dan masuk kedalam sungai, aku mencoba menelusuri sungai itu akan tetapi aku sama sekali tidak dapat menemukan Lia, berbulan bulan aku mencarinya akan tetapi jasadnya sama sekali tidak ditemukan dan aku hanya menemukan sobekan bajunya saja".


Lia seakan akan hanyut dan hilang ditelan bumi, meskipun berbagai macam cara pencarian akan tetapi jasadnya sama sekali tidak ditemukan keberadaannya, yang ditemukan hanyalah sobekan bajunya, sandalnya dan beberapa barang miliknya.


"Suatu hari, Sena memerintahkan seseorang untuk membunuhku karena orang yang telah membuat mobil itu rem blong bercerita kepadanya bahwa aku telah melihatnya sehingga Sena berambisi untuk membunuhku, ia tidak ingin ada yang tau tentang kejadian itu dan ia ingin melenyapkan saksi mata satu satunya yakni diriku".


Dwija menceritakan segalanya dengan detail tanpa ada yang terlewatkan kepada Nadhira, mulai dari dirinya yang terus mencari Lia sampai hingga dirinya yang menjadi mangsa untuk dilenyapkan oleh Sena, dan dalam pelarian untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kejaran Sana dan orang suruhannya.


Nadhira tidak mampu berkata kata lagi ketika mendengarkan kisah Dwija, ia tidak menyangka bahwa Dwija begitu menderita selama ini karena ingin mencari Lia, dan ingin mengungkapkan kisah ini kepada Nadhira sendiri.


"Aku pikir waktu itu mereka akan membunuhku, tapi aku tidak menyangka bahwa mereka masih membiarkan aku hidup sampai saat ini meskipun mereka terus menyiksa diriku ditempat ini"


"Aku bahkan sama sekali tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Mama Sena selama ini kepada anda" Ucap Nadhira dengan nada sedihnya.


Nadhira sama sekali tidak tega melihat Dwija yang terlihat begitu sangat menyedihkan itu, bahkan bekas darah yang mengering masih ada didalam tubuhnya yang hanya tertutupi oleh kain putih yang begitu tipisnya, kain itu hampir sepenuhnya berwarna coklat karena darah yang telah mengering.


Nadhira menjatuhkan tongkatnya begitu saja dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai sampai kukunya menancap pada dagingnya sendiri dan kepalan tangan itu seketika mengeluarkan begitu banyak darah, dan darah tersebut menetes begitu saja ditanah tempat dimana Nadhira saat ini berada.


"Maafkan aku, karena aku tidak bisa menyelamatkan Mamamu Dhira, ini semua adalah salahku seandainya waktu itu aku mencegah dirinya untuk menaiki mobil itu mungkin dia tidak akan pernah mengalami kecelakaan seperti itu dan mungkin dia akan masih hidup sampai sekarang" Ucap Dwija dengan berlinangan air matanya karena menganggap hal ini adalah kelalaiannya sendiri sehingga menyebabkan Lia meninggal.


"Itu bukan salah anda, berniat untuk menyelamatkan nyawa Mama sudah cukup bagiku, kenapa anda ingin sekali menyelamatkan Mama? Bahkan sampai sampai anda harus seperti ini".


"Lia adalah seseorang yang sangat berarti bagiku Dhira".


"Maksudnya apa? Apa hubungannya anda dengan Mamaku selama ini?".


"Memang bisa dikatakan hal ini sangat rumit, Lia adalah teman masa kecilku dulu, aku dan dia sering bermain bersama sama dipanti asuhan, tapi setelah dia diadopsi oleh orang orang itu, aku dan dia tidak pernah bertemu lagi, sejak Sena mengajakku kerumahmu waktu dulu, aku baru menyadari bahwa dia adalah orang yang selama ini aku cari".


"Bagaimana bisa anda mengetahui bahwa Mama adalah teman masa kecil Bapak?"


"Dengan tanda lahir yang ada dibahu kirinya, tanpa sengaja aku melihatnya, dan aku yakin kau pasti juga memiliki tanda lahir yang sama".


"Tanda lahir?".


Nadhira segera merabah bahunya sendiri, memang benar selama ini dirinya memiliki tanda lahir yang begitu aneh ketika baru pertama kali dilihatnya, sebuah tanda lahir yang berbentuk seperti simbol yang sangat rumit untuk diartikan.


"Hanya orang tertentu yang memiliki tanda lahir seperti itu Dhira, orang yang memiliki tanda lahir itu adalah orang yang spesial yang lahir dibumi ini, dia akan menjadi rebutan orang lain maupun para dukun sakti karena energi gaib yang ia miliki sejak dia lahir, dan energi itu berhubungan dengan permata iblis yang telah lama menghilang dari dunia ini".


"Apa Bapak tau tentang permata iblis?"


"Permata iblis adalsh sebuah permata yang sengaja disembunyikan oleh seseorang agar tidak ada yang saling membunuh untuk mendapatkan permata itu, semoga saja permata itu sudah lenyap saat ini".


"Permata itu belum lenyap, apa Bapak tau bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu dari dalam tubuhku?".


"Apa! Permata itu ada dalam tubuhmu? Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakannya?"


"Anda juga bisa merasakan kehadiran dari permata itu?" Tanya Nadhira dengan ragunya.


"Aku hanya mampu merasakan permata itu, karena aku juga pernah merasakan energi itu, kau mungkin tidak tau bahwa aku juga adalah seorang dukun, tapi aku sadar bahwa belajar ilmu ilmu seperti itu membuatku tersiksa ketika ajal akan tiba sehingga aku membuang ilmu ilmu itu".


Nadhira hanya menatap Dwija dengan rasa sedihnya karena Dwija juga tidak mampu untuk mengeluarkan permata itu dari dalam tubuh Nadhira karena memang Nadhira sudah ditakdirkan untuk memiliki permata yang sama sekali tidak ingin ia miliki itu.


"Hal itu juga yang membuat Lia khawatir tentang dirimu Dhira, sudah lama Lia mengetahui tentang permata itu, tapi dia tidak pernah menceritakannya kepadamu karena ia takut kalau kau mengetahuinya kau pasti akan merasa takut dan cemas, Kakekmu adalah seorang yang ahli juga dalam ilmu gaib karena dia belajar dari Ayahnya yang saat itu Ayahnya adalah murid dari Pangeran Kian".


"Pangeran Kian? Bukankah orang itu yang sering disebutkan oleh Nimas" Guman Nadhira pelan.


"Energi gaib yang ada didalam tubuhmu adalah energi pelindung turunan dari Kakekmu, mungkin karena itu juga aku tidak bisa merasakan adanya permata didalam tubuhmu".


"Mungkin energi itu yang pernah disebutkan oleh Rifki sebelumnya" Batin Nadhira.


"Pantas saja aku juga bisa merasakan energi misterius itu yang ada pada gadis ini selama ini, ternyata itu adalah energi turunan dari Kakeknya" Ucap Raka yang juga me dengarkan percakapan keduanya saat ini.


"Maafkan aku Nak, karena aku baru memberitahukan hal ini kepadamu, dan maafkan aku juga karena aku tidak bisa menyelamatkan Lia untukmu, kejadian itu benar benar begitu cepat, aku sendiri bahkan tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya".


"Aku tidak tau lagi harus berkata apa sekarang, ini... Ini hanyalah mimpi yang sama sekali tidak aku inginkan terjadi".


...Maaf atas keterlambatan updatenya Readers, Author lagi sakit jadi ngetiknya harus dicicil, Jangan lupa like, coment dan dukungannya ya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2