
Indah meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan kedua orang yang ia cintai itu, ia sama sekali tidak menyangka bahwa keduanya akan mengatakan hal sedemikian rupanya hingga membuat hatinya merasa sakit ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Panji dan diperkuat oleh Ayahnya.
"Maafkan Ayah Nak, Ayah tidak ingin kau terlalu kecewa nantinya jika mengetahui hal ini sebenarnya, aku tidak bisa merubah keputusan yang telah Panji buat itu, dia melakukan ini hanya untukkmu Nak". Batin Ayahnya menjerit ketika melihat putrinya menangis seperti itu dihadapannya.
"Kau harus mengikhlaskan diriku pergi Indah, ini semua demi kebaikanmu sendiri". Ucap Panji.
"Demi kebaikanku? Kebaikan apa yang kau maksud itu? Apa maksudmu kebaikanmu sendiri!!". Teriak Indah dengan marahnya kepada Panji.
"Nak kau tidak boleh berkata seperti itu kepadanya, ". Tegur Ayahnya kepada Indah.
"Kalian berdua jahat begitu jahat kepadaku!". Ucap Indah dengan rasa kecewanya dan langsung berlari menjauh dari tempat itu.
"Indah!". Panggil Panji.
Keduanya menatap kepergian dari Indah, Panji sama sekali tidak bisa menghentikan Indah untuk saat ini, karena dirinya harus menjauh dari Indah karena adanya racun tersebut yang ada dalam tubuhnya.
"Maafkan aku Paman, aku sangat bersalah kepada anakmu, aku tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan dirimu itu". Ucap Panji dengan rasa bersalahnya kepada Indah sekeluarga.
"Beritahu Paman Nak! apa yang harus Paman lakukan agar dapat menyelamatkan dirimu dan dirimu dapat bersama dengan Indah nantinya, Paman akan merasa tenang ketika dirimu yang akan menggantikan posisi Paman untuk menjaga Indah nantinya".
"Seandainya aku sendiri tau bagaimana caranya untuk menetralkan racun ini, sudah aku netralkan sedari tadi Paman, aku tidak punya pilihan lain, selain meninggalkan Indah, aku tidak ingin jika Indah sampai mengetahuinya bahwa umurku sudah tidak lama lagi". Jawab Panji dengan sedihnya.
"Mungkin masih ada cara untuk menyelamatkan dirimu, kita harus menemukan cara tersebut, agar kau bisa selamat Panji".
"Sebenarnya ada satu cara untuk dapat melakukan itu, tapi itu akan terasa sangat sulit untuk dilakukan, dan tidak mudah untuk melakukan hal itu".
"Apa itu Nak? Katakan kepada Paman, Paman akan berusaha untuk melakukannya meskipun itu sangat sulit untuk dilakukan sekalipun".
Ayah Indah bertekat untuk dapat melakukan apapun asalkan nyawa Panji akan selamat, dirinya sudah menganggap Panji sebagai anaknya sendiri sejak Panji masih kecil sehingga dia akan melakukan apapun untuk Panji dan anaknya.
Meskipun dia tidak mengetahui apa caranya itu, akan tetapi dirinya harus bisa untuk menyelesaikan cara tersebut dan menyelamatkan nyawa Panji dari racun ular siluman itu.
Meskipun cara tersebut akan membahayakan nyawanya, dirinya sama sekali tidak mempedulikan hal itu, yang ia pedulikan hanyalah keselamatan dari Panji dan kebahagiaan dari anak perempuannya.
Panji berdiam diri cukup lama ketika mendengar pertanyaan dari Ayah Indah kepadanya, ia sangat ragu untuk mengatakan hal itu, sementara Ayah Indah begitu penasaran dengan jawaban dari Panji, dirinya menunggu jawaban tersebut dari mulut Panji.
"Katakan kepada Paman! Cara apa yang kau miliki itu, Paman akan berusaha sebisa mungkin untuk melakukan itu agar kau bisa bebas dari racun ular itu". Ucap Ayah Indah dengan tegasnya.
"Aku merasa sangat ragu untuk hal itu Paman, hal itu tidak akan mudah untuk dilakukan".
"Kenapa kau sangat ragu seperti itu? Apakah caramu itu tidak bisa dilakukan?".
"Tidak semua orang bisa melakukannya Paman, begitupun dengan diriku ini".
"Cara apakah itu Nak?".
"Membunuh orang yang telah mengirimkan siluman ular itu kepada Indah". Jawab Panji dengan ragunya.
Memang jawaban itu nampak begitu sepele akan tetapi untuk membunuh orang tidak akan ada yang mampu melakukan itu kecuali dengan keterpaksaan, dan untuk mencari tahu siapa yang telah mengirimkannya juga tidak semudah yang dibayangkan karena begitu banyaknya orang yang ada didalam muka bumi ini.
Salah satunya cara untuk menetralkan racun tersebut adalah dengan cara menghilangkan asal usulnya, karena ular tersebut adalah siluman maka orang yang memperintahkan siluman tersebut harus dihentikan terlebih dahulu karena merekalah pusatnya.
Keduanya berdiam diri cukup lama, tidak ada yang bisa memulai percakapan terlebih dahulu, keduanya tidak mengetahui siapa yang telah mengirimkannya sehingga sangat sulit untuk mengetahui asal usulnya.
__ADS_1
"Dan aku tidak mampu untuk melakukan itu Paman, meskipun diriku adalah seorang pembunuh, tapi untuk mencari pelakunya bukanlah hal mudah bagiku, aku sama sekali tidak mengetahui tentang pelaku tersebut, dan alasannya melakukan hal ini kepada Indah". Ucap Panji dengan pasrahnya.
"Apa kau mengetahui siapa dalang sebenarnya dibalik kejadian itu?".
"Tidak Paman, menurut pengelihatanku, orang itu memiliki ilmu hitam tingkat tinggi yang cukup berbahaya untuk menjadi lawan kita, dan kita tidak akan dengan mudah menemukan orang itu diantara ribuan manusia yang ada dibumi ini Paman".
"Maka kita harus menemukan secepat mungkin orang itu! Biar bagaimanapun orang itu telah menyakiti Indah karena apa yang ia lakukan saat ini kepada dirimu, orang itu tidak bisa dibiarkan begitu saja!". Ucap Ayah Indah dengan semangatnya.
Melihat semangat dari orang yang ia panggil sebagai Paman membuat Panji tersenyum tipis kepadanya, Panji dapat mengetahui cara tersebut karena seseorang yang telah berbicara kepadanya ketika dirinya masih berada dialam lain ketika berbicara kepada dirinya sendiri.
Tiba tiba Panji tertawa dengan jawaban dari Ayah Indah saat ini, Panji menertawakan menertawakan nasibnya sendiri, akan tetapi tawa tersebut mengandung kesedihan yang mendalam, terlihat dari adanya setitik air mata dipelupuk matanya.
"Hahaha... Entah aku harus sedih atau senang saat ini menertawakan kebodohan diriku Paman, sekarang semuanya terasa percumah bagiku Paman, orang itu pasti akan mati nantinya cepat ataupun lambat, begitupun dengan diriku, jika takdir tidak berpihak kepadaku maka aku tidak akan mampu berbuat apa apa selain pasrah dengan kenyataan". Ucap Panji dengan tertawa yang memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Apa maksudmu Nak?".
"Disaat hidupku sudah tidak berarti lagi karena tidak adanya kehadiran kedua orang tuaku disisiku, aku sangat menginginkan sebuah kematian cepat terjadi kepadaku waktu itu, akan tetapi keinginanku sebentar lagi akan terwujud, lalu kenapa aku harus menghindarinya Paman? Haha... Aku sudah sangat siap untuk kehilangan nyawaku Paman".
"Kamu tidak boleh menyerah begitu saja Panji, Ayahmu tidak akan menyukai perkataan seperti itu, kita pasti bisa untuk melewatinya".
"Biar bagaimanapun kita juga harus mempersiapkan hal itu, bukan Paman? Aku adalah anak dari Kuswanto seorang penghianat demi masyarakat dan orang yang tidak takut akan kematian, lantas kanapa diriku harus mencemaskan akan hal itu? Terima kasih atas kekhawatiran dan niat baik Paman kepada diriku ini, tapi Paman tenang saja, aku masih mampu untuk bertahan untuk saat ini". Ucap Panji dengan seriusnya untuk apa yang ia ucapkan saat ini.
Panji memikirkan kembali hari hari yang ia lewati setelah kepergian dari kedua orang tuanya, begitu banyak nyawa yang ia renggut, dan begitu rapat ia menutupi identitasnya selama itu.
Ia sama sekali tidak menyangka kisahnya akan berakhir seperti ini sebelumnya, doa yang ia panjatkan akan terkabul dengan kepergiannya dari dunia ini, dulunya Panji sering berdoa agar Allah segera menjemputnya akan tetapi saat ini doanya tengah diijabah oleh Allah.
Ia tidak ingin mati dengan segala macam penyesalan tentang apa yang ia lakukan sebelum kematian menjemputnya, ia tidak tau kapan dan dimana dirinya akan dipanggil oleh malaikat maut akan tetapi untuk saat ini dia harus benar benar mempersiapkan diri untuk menghadapi hal itu.
"Apa yang kau katakan Nak? Kau pasti akan selamat, Paman yakin akan hal itu, berjanjilah kepada Paman bahwa dirimu akan baik baik saja".
"Terima kasih atas keyakinan yang Paman berikan, tolong sampaikan maafku kepada Indah, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuknya walaupun hanya sesaat saja".
Tak beberapa lama kemudian akhirnya Indah kembali lagi ketempat dimana Panji dan Ayahnya sedang berdiri sebelumnya, akan tetapi Indah memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka daripada harus ikut bergabung dengan mereka.
Panji cukup lama berdiri ditempat itu, sehingga rasa pusingnya kembali lagi hal itu membuatnya sampai terjatuh berlutut didepan Ayah Indah karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Panji! Apa yang terjadi kepadamu?". Tanya Ayah Indah dengan khawatirnya dan langsung menyusul Panji untuk berlutut.
"Panji! Kau tidak apa apa?". Indah muncul tiba tiba dihadapan Panji membuat Panji merasa terkejut dengan kedatangannya itu.
"Apakah Indah sudah mendengar semuanya tentang apa yang telah aku katakan kepada Ayahnya tadi". Batin Panji menjerit karena kedatangan Indah.
Tiba tiba darah segar keluar dari hidung Panji akan tetapi Panji sama sekali tidak merasakan darah itu mengalir, Indah yang melihatnya begitu sangat terkejut, melihat keterkejutan dari Indah membuat Panji segera mengusap hidungnya.
Panji dapat melihat noda darah berada pada telapak tangannya, Panji segera mengenggam erat tangannya yang ia gunakan untuk menghapus setetes darah yang keluar dari hidungnya itu, ia tidak ingin Indah kembali menghawatirkannya.
"Panji apa yang terjadi kepadamu?". Tanya Indah dengan terkejutnya.
"Hanya mimisan, kau tidak perlu menghawatirkannya sedemikian rupanya, aku tidak apa apa".
"Bagaimana bisa mimisan kau sebut tidak apa apa? Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirimu? Katakan kepadaku Panji! Katakan sekarang juga!".
Sebelum Panji menjawab pertanyaan Indah, Panji tiba tiba terjatuh tidak sadarkan diri karena pusing yang ia rasakan saat ini, racun tersebut telah menyumbat beberapa aliran darahnya sehingga membuatnya merasakan rasa sakit yang cukup menderita.
__ADS_1
"Panji!!". Teriak keduanya secara bersamaan.
Ayah Indah segera bergegas untuk menangkap tubuh Panji yang hampir terjatuh diatas tanah didepan rumah Indah itu, Panji terlihat begitu lemah untuk saat ini sehingga dirinya tidak mampu untuk berdiri terlalu lama karena racun yang ada didalam tubuhnya itu.
Indah dan Ayahnya segera memapahnya kembali kedalam kamar yang ia tempati tadinya, dengan perlahan lahan Ayah Indah menidurkan Panji diatas ranjang kamar tersebut.
"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi kepada dia? Kenapa dia kembali tidak sadarkan diri seperti ini". Tanya Indah kepada Ayahnya dengan berlinangan air mata.
"Ayah tidak tau, sebaiknya kau cepat panggilkan tabib untuk memeriksanya". Pinta Ayahnya.
"Baik Ayah". Jawab Indah.
Indah segera bergegas menuju keluar rumahnya untuk mendatangi tabib yang sebelumnya telah menyelamatkan dirinya dan Panji, Ayah Indah berharap bahwa Panji mampu untuk diselamatkan sebelum dewa kematian menjemputnya.
"Bertahanlah Nak, kau akan baik baik saja, Paman sangat percaya akan hal itu, kau pasti mampu untuk melewati semuanya, bertahanlah Panji, Paman mohon kepadamu".
Dibawah panasnya terik matahari siang, Indah berlarian menuju kerumah seorang tabib untuk meminta bantuan kepada tabib tersebut untuk menyelamatkan nyawa Panji.
Keringat mulai membasahi tubuhnya, nafasnya mulai memburu karena terus menerus berlarian dengan jarak yang lumayan jauh dari rumahnya, akan tetapi Indah sama sekali tidak mempedulikan apapun yang akan terjadi kepadanya.
"Panji semoga kau baik baik saja, bertahanlah".
Didalam pikirannya, ia hanya memikirkan bagaimana kondisi Panji dan kenapa Panji bisa jatuh tidak sadarkan diri seperti itu dihadapannya apalagi sebelum dirinya terjatuh tidak sadarkan diri, Panji mengalami mimisan.
Indah begitu sangat mencemaskan keadaan Panji saat ini, sesampainya dirinya dirumah tabib kepercayaannya, Indah segera menjatuhkan diri didepan pintu rumah tersebut, tak beberapa lama kemudian akhirnya tabib tersebut segera keluar dari rumahnya ketika mendengar sesuatu didepan pintu rumahnya seperti barang jatuh.
Dengan nafas yang terputus putus Indah menceritakan segelanya kepada tabib tersebut mengenai kondisi yang dialami oleh Panji sebelum dirinya sampai ditempat itu.
Tabib itu begitu terkejut setelah berhasil memahami cerita yang Indah katakan kepadanya, meskipun dengan nafas yang terputus putus, tabib tersebut mampu memahaminya dengan jelas.
"Pemuda itu kembali tidak sadarkan diri? Bagaimana bisa?". Tanya tabib tersebut dan langsung bergegas menuju kerumah Indah.
Indah segera bergegas mengejar tabib itu dari belakangnya, tabib tersebut merasa begitu panik dengan keadaan dari pemuda tersebut, ia tidak tau lagi dengan apa yang terjadi kepada pemuda itu saat ini akan tetapi melalui penjelasan dari Indah, ia menduga bahwa racun tersebut kembali menyerang pemuda itu lagi.
Sesampainya dirumah Indah, tabib tersebut segera bergegas menuju ketempat dimana Panji dibaringkan saat ini tanpa menunggu perizinan dari pihak keluarga tersebut demi memeriksa keadaan Panji.
"Apa yang terjadi dengannya?". Tanya tabib itu dan langsung memeriksa keadaan Panji.
"Aku tidak tau, tiba tiba dia pingsan begitu saja". Jawab Ayah Indah.
Tabib tersebut memeriksa Panji secara teliti, tentang bagaimana kondisi tubuhnya dan bagaimana tentang racun yang ada didalam tubuh Panji saat ini, Indah hanya mampu mengigit jarinya ketika memperhatikan orang tersebut memeriksa Panji.
"Ayah, apakah dia akan baik baik saja?". Tanya Indah dengan sedihnya.
"Dia akan baik baik saja Nak, kita doakan saja semoga rasa sakit yang ia rasakan saat ini perlahan lahan berkurang, dan semoga dia baik baik saja".
"Ayah, apakah benar dia sudah memiliki wanita lain yang ada dihatinya?".
"Iya Nak, sebaiknya kau melupakan dirinya, biar bagaimanapun apapun yang ia lakukan saat ini adalah demi kebaikanmu".
Indah sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ayahnya, bagaimana bisa ini disebut sebagai demi kebaikannya? Padahal dirinya sama sekali tidak merasa baik setelah mengetahui bahwa Panji memiliki wanita lain yang ada dihatinya.
...Jangan lupa like dan dukungannya...
__ADS_1