Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Rifki marah?


__ADS_3

Sebelum orang itu mendekat kearah dimana Nadhira dan Rifki bersembunyi saat ini, Rifki dan Nadhira sudah terlebih dahulu pergi dari situ sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Nimas sebelumnya, akan tetapi siapa sangka bahwa akan ada ular yang datang ketempat itu juga yang mampu menjadi peluang bagi keduanya untuk kabur dari tempat itu tanpa harus takut untuk ketahuan dengan orang tersebut.


Kedatangan Nimas menemui orang itu bertujuan untuk mengecohnya agar orang itu tidak mengetahui kepergian dari Rifki dan Nadhira dari tempat itu, sehingga orang itu tidak dapat melihat wajah dari Nadhira yang sudah menelan permata yang ia cari cari itu untuk kepentingannya sendiri.


Orang itu begitu marah karena tidak menemukan adanya siapapun dibalik semak semak itu, ia dapat mengetahuinya bahwa Ratu iblis memang sengaja mengecohnya demi menyelamatkan sosok gadis yang telah menelan permata.


"Argghhh... Kau sengaja mengecohku!". Orang itu berteriak dan sangat marah kepada Nimas yang telah mengecohnya tersebut.


Didunia perdukunan telah menyebar sebuah berita bahwa ada seorang gadis yang mampu masuk kedalam desa tersebut dan mengambil permata iblis lalu menelannya.


Mereka tidak mengetahui siapa gadis tersebut kecuali satu orang diantara mereka yang pernah melihat sosok Nadhira sebelumnya akan tetapi orang itu tidak memberitahukan kepada teman temannya karena dirinya ingin menguasai sendirian.


Untuk apa memberitahukan sosok gadis itu kepada teman temannya, yang ada bukan dirinya yang akan mendapatkan permata melainkan teman temannya yang akan saling berebutan untuk mendapatkannya.


Orang itu segera pergi dari tempat itu, karena Nimas berhasil mengecohnya sehingga orang itu memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena percuma saja orang itu masih tetap disana, biar bagaimanapun mangsanya sudah pergi akan sulit untuk dicari.


Setelah berjalan jongkok cukup jauh, Nadhira dan Rifki segera berlari menuju keperkemahan mereka untuk menghindari orang tersebut, karena Nimas sudah menyamarkan aura dari permata iblis itu sehingga tidak lagi dapat dirasakan oleh orang itu, jadi Nadhira dan Rifki dapat kembali ketenda mereka dengan aman.


Meskipun sudah merasa aman akan tetapi keduanya harus segera sampai ketempat tujuan mereka, jika mereka masih berkeliaran didalam hutan sama saja dengan mencari masalah jika bertemu dengan orang itu lagi.


Ketika hampir mendekat dengan tenda, Nadhira segera menghentikan larinya, hal itu membuat Rifki ikut berhenti ditempat itu juga, Rifki memandangi wajah Nadhira dengan lekat dan penuh rasa penasaran kenapa Nadhira berhenti ditengah jalan.


"Ada apa Dhira? Sebentar lagi kita akan sampai diperkemahan, dan orang itu tidak akan mengejar kita lagi". Ucap Rifki kepada Nadhira yang tengah memandang kearahnya.


"Kenapa disaat orang itu menyebutkan nama Kuswanto kamu terlihat begitu marah?". Tanya Nadhira dengan memincingkan sebelah matanya.


Melihat tatapan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya membuat Rifki mengira bahwa Nadhira masih tidak mempercayai tentang ucapnya sebelumnya, dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang Kuswanto atau Pangeran Kian.


"Aku juga tidak tau Dhira, Pangeran Kian sendiri pernah mendatangiku didalam mimpi, aku sudah mengatakannya tadi kepadamu bukan? Apa kamu masih meragukan kejujuranku?".


"Bukan seperti itu maksudku Rif".


"Tanpa adanya kejujuran dan kepercayaan, apa gunanya sebuah hubungan Dhira".


"Aku tidak meragukan kejujuranmu Rif, aku hanya..."


"Aku tidak menyangka bahwa kamu meragukan kejujuranku Dhira". Sebelum Nadhira menyelesaikan perkataannya, Rifki segera memotongnya.


"Kenapa kamu jadi marah kepadaku seperti ini Rif? Aku hanya ingin tau itu saja, kenapa kamu terlihat begitu marah, aku sama sekali tidak meragukan kejujuranmu Rif".


"Sudahlah Dhira, aku tidak mau lagi membahas hal ini lagi, ini sudah malam sebaiknya kamu tidur". Ucap Rifki sambil meninggalkan Nadhira yang sedang mematung mendengar ucapan Rifki kepadanya saat ini.


"Maafkan perkataanku Dhira, ini semua demi kebaikanmu, sebaiknya kau tidak perlu mengetahui segalanya mengenai Pangeran Kian dan jati diriku, aku hanya tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku". Batin Rifki.


Dengan berat hati Rifki melangkah menjauhi Nadhira, jika memang didalam tubuhnya terdapat sebuah energi Pangeran Kian, maka tidak akan ada hal baik yang akan terjadi.


Dirinya sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang terjadi saat ini, jika memang benar dirinya adalah keturunan dari pangeran Kian itu artinya dirinya akan berada dalam bahaya karena banyak orang yang menginginkan nyawanya.

__ADS_1


Rifki mengira mungkin ini adalah salah satu alasan dari kedua orang yang paling ia sayangi pergi meninggalkannya begitu saja tanpa memberi tau alasan kenapa mereka meninggalkannya seorang diri untuk menghadapi takdir yang begitu besar ini.


Jika itu memang benar, itu artinya kepergian orang orang yang ia cintai hanya untuk melindunginya agar tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan dari Kuswanto itu sendiri yang artinya dirinya berada dalam bahaya.


Rifki hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum dirinya melibatkan Nadhira dalam masalah ini, bisa jadi masalah yang akan ia hadapi selanjutnya akan sangat berbahaya dan akan membahayakan nyawa Nadhira, apalagi didalam tubuh Nadhira terdapat energi permata yang begitu kuat, jika terjadi sesuatu dengan permata itu maka nyawa Nadhira akan menjadi taruhannya.


Rifki harus mencari cara bagaimana caranya untuk mengeluarkan energi permata itu dari tubuh Nadhira sebelum semuanya terlambat apalagi sekarang sudah banyak yang mengincar permata yang ada ditubuh Nadhira seperti malam ini.


Orang yang mengincar permata itu bukanlah orang sembarangan, mereka adalah para dukun sakti yang akan melakukan berbagai macam cara agar mendapatkan permata itu walaupun harus mengorbankan nyawa siapapun itu.


Jika Rifki adalah keturunan dari Kuswanto itu artinya dirinyalah yang berhak mendapatkan keris pusaka yang telah disembunyikan olehnya sebelumnya, Rifki sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan dari keris tersebut.


Akan tetapi perkataan Kakeknya sebelum Kakeknya pergi meninggalkannya membuatnya merasa bingung, Kakeknya mengatakan bahwa Kuswanto adalah penyelamat keluarganya sehingga Rifki berpikir ulang bahwa dirinya bukanlah keturunan dari Kuswanto.


Nadhira memandangi kepergian Rifki dengan perasaan yang begitu sedih, selama ini Rifki tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepadanya apalagi menyangkut dengan kejujuran dan kepercayaan, hal itu membuat Nadhira merasa bersalah dan mengira bahwa perkataannya telah melukai hati Rifki.


Setelah kepergian Rifki dari pandangannya membuat Nadhira berlutut ditempat itu dengan perasaan sedih dan juga merasa bersalah karena telah menanyakan hal itu kepada Rifki sehingga membuat Rifki merasa marah kepada seperti ini.


"Kenapa dia menjadi marah kepadaku seperti ini? Apa aku salah bertanya kepadanya seperti itu?".


Nadhira hanya bisa berdiam diri, hatinya begitu sedih ketika melihat Rifki marah kepadanya seperti ini, meskipun Rifki mengatakannya dengan biasa, akan tetap perkataan itu mampu memperlihatkan bahwa Rifki marah kepada Nadhira.


"Kenapa dia tidak menyusulku lagi kesini? Apa dia sangat marah kepadaku?". Tanya Nadhira entah kepada siapa.


Setelah sekian lama menunggu akan tetapi Rifki tidak kunjung kembali untuk menemuinya, Nadhira mengira bahwa Rifki kali ini benar benar marah kepadanya karena pertanyaan yang ia ucapkan kepada Rifki sebelumnya.


Ditengah tengah kegelapan malam itu, Nadhira berada dikegelapan hutan, ia tidak mempedulikan apapun yang akan terjadi kepadanya, karena baginya kedatangan Rifki kembali ketempat itu adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini.


Setelah sampai ditendanya Rifki tidak menemukan sosok Nadhira dibelakangnya, Rifki berpikir bahwa Nadhira akan menyusulnya sesegera mungkin, karena Nadhira juga takut dengan kegelapan apalagi seorang diri berada dihutan.


Rifki memutuskan untuk menunggu kedatangan Nadhira ketempat itu akan tetapi setelah lama menunggu Nadhira tak kunjung datang ketenda tersebut hal itu membuat Rifki merasa cemas dengan apa yang terjadi kepada Nadhira.


"Kemana Dhira? Kenapa belum kembali juga, sudah setengah jam aku menunggu, apa Nadhira dalam masalah?".


Setelah sekian lama menunggu kedatangan Nadhira akan tetapi Nadhira tak kunjung menampakkan dirinya sehingga membuat Rifki memutuskan untuk kembali ketempat dimana dia meninggalnya sebelumnya.


Dari kejauhan Rifki dapat melihat bahwa Nadhira tengah memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana, sebelumnya Rifki tidak pernah melihat Nadhira seperti itu, mungkinkah Nadhira menangis? Begitulah pikirnya.


"Apa perkataanku terlalu menyakitkan baginya?". Batin Rifki.


Rifki segera mendekat kearahnya dan melepaskan jaketnya, Rifki segera menyampirkan jaket tersebut kepada tubuh Nadhira untuk melindungi Nadhira dari udara dingin malam ini, Nadhira yang merasakan hal itu segera mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ada disampingnya.


Nadhira menoleh kearah orang itu dan menemukan bahwa Rifki sudah duduk disampingnya sambil menatap kearah langit malam ini, Rifki tidak mampu untuk melihat wajah Nadhira yang terlihat sembab karena menangis sehingga dirinya lebih memilih untuk menatap kearah langit.


Nadhira merasa senang ketika mengetahui bahwa Rifki kembali lagi ketempat itu untuk menyusulnya, akan tetapi dirinya tidak mau menunjukkan rasa senangnya itu.


"Kenapa kamu masih disini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur?". Tanya Rifki tanpa menatap kearah Nadhira, dan pandangannya masih tertuju kepada langit malam dengan bertaburan bintang bintang.

__ADS_1


"Kenapa kamu datang lagi kemari? Bukankah kamu sendiri yang meninggalkanku tadi?". Tanya Nadhira balik dengan nada sehabis menangis. "Pergi saja sana, jangan khawatirkan aku lagi, aku tidak peduli lagi dengan nyawaku".


Nadhira mengusir Rifki dari tempat itu, dan menyuruhnya untuk pergi meninggalkannya seorang diri ditempat itu, meskipun dihutan itu banyak sekali hewan yang berbisa dan mampu membunuh manusia dalam sekejab.


"Jangan katakan hal itu Dhira, nyawamu begitu berarti bagiku, aku minta maaf sebelumnya karena meninggalkanmu tadi".


"Kau pergi meninggalkanku tadi, kenapa kau kembali lagi, aku tidak mau melihatmu lagi, meskipun menjadi mangsa binatang buas aku tidak peduli lagi".


"Beneran? Disini ada harimau buas lo, kamu mau jadi mangsanya?". Tanya Rifki dengan nada yang menakut nakuti Nadhira.


"Biar, aku tidak peduli, pergi dari sini sekarang!". Ucap Nadhira sambil mendorong tubuh Rifki pergi dari tempat itu.


"Maafkan aku, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendirian disini, ayo kembali ketenda, ini sudah malam, aku tidak akan kembali sebelum kamu ikut kembali denganku".


"Aku tidak mau kembali".


"Mau jalan sendiri atau mau ku gendong?".


Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, Rifki segera berdiri dan mengangkat tubuh Nadhira, Nadhira begitu terkejut karena tubuhnya yang tiba tiba diangkat oleh Rifki seperti itu, Nadhira menatap kewajah Rifki yang sama sekali tidak menoleh kearahnya.


"Apa kamu masih marah kepadaku?".


"Ngak Dhira, marahku sudah aku buang kok, asal jangan membahas tentang Kuswanto ataupun Pangeran Kian lagi, Aku tidak mau mengungkit masalah orang itu". Ucap Rifki dengan memberanikan diri untuk menatap kearah Nadhira. "Aku harus secepatnya mengetahui tentang itu". Batin Rifki menjerit.


"Iya". Jawab Nadhira sambil menganggukkan kepalanya. "Kamu jangan marah lagi kepadaku, aku tidak mau kehilangan dirimu, karena kamu adalah sahabat terbaikku selama ini".


"Iya, jangan nangis lagi, aku udah ngak marah kok". Ucap Rifki kepada Nadhira dan dibalas anggukan oleh Nadhira.


Rifki merasa bersalah karena membuat Nadhira menangis, selama ini ia tidak pernah membuat seorang wanita menangis sebelumnya, melihat Nadhira menangis karenanya membuat Rifki merasa sesak dihatinya.


Bagi Nadhira Rifki adalah orang yang paling ia sayangi setelah Papanya, karena Rifki selalu ada buatnya untuk menghadapi segala masalah, tempat dirinya mencurahkan isi hatinya, berbagi suka maupun duka, sehingga Nadhira tidak akan sanggup ketika Rifki marah kepadanya.


Rifki adalah sosok yang begitu berarti baginya, kalau bukan karena Rifki dirinya tidak yakin akan mampu melalui semua masalah yang menerpa dirinya secara bertubi tubi, apalagi dirinya telah mengalami kekerasan dari Papanya sebelumnya.


Hal itu membuat dirinya jauh lebih dekat dengan sosok Rifki daripada Papanya sendiri, seorang anak perempuan yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, dirinya akan mencari kasih sayang kepada orang lain dan akan menganggap orang itu jauh lebih berharga daripada sosok ayahnya sendiri, hal itulah yang dirasakan oleh Nadhira saat ini.


Ia tidak ingin melihat Rifki marah kepadanya, karena selama ini Rifki begitu baik kepadanya dan menganggap bahwa dirinya adalah sahabat terbaiknya.


"Aku hanya takut kamu marah kepadaku lalu kamu akan meninggalkanku dan membenci diriku". Ucap Nadhira dengan perasaan sedihnya.


"Aku tidak akan melakukan hal itu Dhira, seberapa pun aku marah, aku tidak mau dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, aku akan selalu menemanimu dan ada disampingmu untuk menemanimu melangkah".


Nadhira merasa senang saat ini karena Rifki tengah menggendongnya, wajah Nadhira dan Rifki sekarang berjarak sekitar beberapa senti saja, Nadhira melingkarkan tangannya kepada leher Rifki agar dirinya tidak jatuh.


Rifki menatap kearah Nadhira, tatapan keduanya bertemu menciptakan sebuah detak jantung yang sangat cepat diantara keduanya, Rifki belum pernah merasa hal seperti ini sebelumnya begitupun dengan Nadhira yang ditatap seperti itu.


Tanpa banyak bicara, Rifki segera membawa Nadhira menuju keperkemahan, langkah demi langkah ia berjalan menuju keperkemahan, berat badan Nadhira bukan masalah bagi dirinya, akan tetapi detak jantungnya yang seakan akan membuat masalah baginya.

__ADS_1


Setelah sampai diperkemahan Rifki segera menurunkan Nadhira, ia tidak mau menjadi sorotan bagi semua orang yang ada diperkemahan tersebut, dan mereka akan mengira bahwa telah terjadi sesuatu kepada Nadhira sehingga akan menimbulkan kekhawatiran Bapak Ibu guru kepada Nadhira.


__ADS_2