
Indah masih tetap pada pendiriannya bahwa seseorang yang ada didepannya saat ini adalah orang yang sama yang selalu menemaninya ketika mereka masih kecil, Indah menganggap orang yang ada didepannya sebagai Panji.
"Sudah ku katakan, aku bukanlah teman masa kecilmu itu, dan aku juga tidak punya rumah untuk membawamu ikut bersama denganku nantinya".
"Maka kita akan membuatnya sendiri, agar kau tidak perlu berkelana dari tempat ketempat lain, jika kau memiliki rumah maka kau punya jalan untuk kembali kerumahmu". Ucap Indah penuh harap.
Panji kembali memikirkan perkataan dari Indah, memang benar selama dirinya mempunyai rumah maka dirinya memiliki jalan kembali untuk kerumahnya, akan tetapi jika dirinya terus berkelana kemana mana maka dirinya tidak memiliki tujuan untuk kembali.
Rumah adalah alasan seseorang untuk kembali setelah melakukan sebuah aktivitas lainnya yang berada diluar rumah, dan rumah adalah tempat dimana para keluarga bercengkerama satu sama lain, bahkan Panji sendiri sangat merindukan rumahnya.
Merindukan segala aktivitas yang ia lakukan dirumah beserta dengan keluarganya, memberikan kehangatan bagi keluarga, dan tempat untuk berteduh dari panas dan hujan atau bahkan bencana alam.
Disetiap kali dirinya berkelana seorang diri, dirinya akan tidur disebuah pohon, dan membersihkan dirinya dialiran sungai yang ia temui disetiap perjalanannya begitupun seterusnya, dan bahkan dirinya begitu lupa bagaimana dengan kehidupannya dirumah waktu dulu.
"Apa kau tidak takut denganku? Karena aku adalah seorang pembunuh dan juga sangat kejam seperti yang kau lihat sebelumnya tentang diriku, aku sudah membunuh ratusan orang ditanganku tanpa ku sadari sedikit selama hidupku ini dan tanganku tidak sebersih yang kau ketahui selama mengenalku".
"Jika kau adalah seorang pembunuh maka aku tidak akan pernah menyerah untuk mengubahmu dan akan selalu ada disampingmu".
Indah sangat yakin bahwa dirinya mampu merubah sosok Panji agar menjadi seseorang yang lebih baik daripada sebelumnya, mendengar ucapan itu Panji hanya bisa tersenyum tipis kepada Indah, bagi Panji ucapan Indah kali ini terdengar begitu konyol.
Bagaimana bisa seseorang merubah sikap orang lain, yang ada hanyalah orang lain merubahnya untuk kita bukan kita yang merubah mereka, seberapapun usaha yang kau berikan, kau tidak akan bisa merubah sikap orang lain sebelum orang itu merubah sikapnya sendiri agar membuat orang yang sangat berarti baginya merasa nyaman kepada kita.
"Mengatakan memang mudah Nona, dan bahkan seorang anak kecil pun bisa mengatakan hal itu, tapi menjalaninya tidak semudah yang dibayangkan dan tidak semua orang bisa melakukannya kau paham dengan apa yang ku ucapkan Nona?".
"Iya aku sangat paham dengan apa yang kau ucapkan, tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya bukan? Pada dasarnya seorang kyai pun pasti punya masa lalu yang kelam dan seorang bajingan sekalipun masih memiliki masa depan untuk diperjuangkan".
"Lalu bagaimana bisa seseorang yang menikmati sebuah pembunuhan mampu melepaskan kebiasaannya untuk membunuh orang? Padahal membunuh orang akan membuatnya merasa senang, karena pada dasar dan sadarnya dia sangat menikmati pembunuhan itu".
"Pasti ada cara untuk merubahnya, mungkin kali ini aku belum mengerti cara tersebut, tapi aku tidak akan menyerah untuk mengetahuinya".
Tanpa mampu berkata kata lagi, Panji segera bergegas meninggalkan tempat itu, semakin dirinya berkata kata kepada Indah, hal itu membuat dirinya tidak bisa mengontrol perkataannya dan akan berujung menyakiti hati Indah, Indah hanya menatap sekilas pemuda tersebut yang bergegas meninggalkannya.
"Panji!!". Panggil Indah.
Mendengar nama aslinya dipanggil oleh gadis tersebut membuat Panji segera menghentikan langkah kakinya, Panji merasa terkejut karena gadis itu sudah mengetahui nama aslinya, entah darimana gadis itu mengetahuinya.
Selama dia mengembara seorang diri, dirinya tidak pernah menyebutkan namanya kepada siapapun akan tetapi gadis ini mampu menyebutkan namanya hal ini membuatnya terdiam ditempatnya cukup lama.
Indah yang melihat kediaman dari pemuda yang ada didepannya ini membuatnya sangat yakin bahwa pemuda itu adalah orang yang bernama Panji.
Indah bergegas untuk berdiri mensejajarkan diri dengan sosok pemuda yang ada didepannya saat ini, pemuda itu nampak begitu diam seribu bahasa dihadapan Indah.
"Aku tau kau adalah Panji yang selama ini aku cari, apa kau sudah melupakanku selama ini Panji?". Tanya Indah ketika hanya melihat kediaman dari Panji.
"Bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang sama sekali tidak pernah hadir dalam kehidupanku? Berapa kali sudah ku katakan, aku bukanlah teman masa kecilmu ataupun Panji yang kau sebut sebut itu". Ucap Panji dengan berpura pura santainya.
"Apa kau benar benar telah melupakan diriku Panji? Aku adalah teman masa kecilmu dulu, Indah".
"Indah". Guman Panji pelan.
Panji teringat kembali tentang nama Indah, seorang gadis kecil yang selalu menemaninya bermain ketika sebelum adanya Nimas dalam kehidupannya, gadis yang ujung rambutnya berwarna merah dengan dikuncit dua terlintas dipikirannya.
__ADS_1
Panji merasa senang ketika dirinya bertemu dengan Indah kembali, akan tetapi situasinya sangat tidak tepat karena disaat ini, dia masih memiliki musuh yang begitu banyak dan musuh yang terkuat yakni Danuarta yang menjadi ancaman bagi dirinya.
"Maaf sebelumnya Nona, aku sama sekali tidak mengenalmu, dan aku bukanlah Panji seperti yang kau kenal itu sehingga kau menganggapnya sebagai teman masa kecilmu itu, mungkin kau salah mengenali orang untuk kali ini Nona". Ucap Panji.
"Tidak, aku tidak mungkin salah mengenali seseorang karena aku tau, kau adalah Panji yang ku kenal, kau tidak bisa mengelak lagi dariku Panji, aku pernah berjanji kepadaku bahwa kau akan menemuiku suatu saat nanti dan menikah denganku ketika kita masih kecil, dan sekarang kau sudah datang".
"Kau salah paham Nona, aku bukanlah Panji yang kau kenali itu, aku adalah orang lain".
"Tidak mungkin kau adalah orang lain, karena sikapmu sama persis seperti Panji yang ku kenal, hanya saja kau sedikit berbeda karena menikmati sebuah pembunuhan tapi Panjiku tidak memiliki hati yang kejam sama seperti dirimu".
"Kenapa dirimu begitu yakin dengan hal itu Nona? tidak ada yang tau mengenai sikap seseorang, apalagi kau sudah lama tidak bertemu dengan orang itu".
"Lalu bagaimana bisa kau memiliki tanda lahir yang sama seperti yang dimiliki oleh Panji?".
"Tanda lahir?". Bengong Panji.
"Iya tanda lahir, dilengan kananmu, tanpa sengaja aku melihatnya dengan jelas waktu aku membalut lukamu saat itu".
"Sial kenapa aku bisa lupa bahwa aku memiliki tanda lahir dan dia berhasil melihatnya? Maafkan aku, aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam masalahku Indah, aku tidak menyangka bahwa gadis ini adalah Indahku waktu itu". Batin Panji menjerit.
Panji hanya bisa berdiam diri mendengarnya apa yang dikatakan oleh Indah mengenai masa kecil diantara keduanya sebelumnya adanya Nimas di kehidupan Panji.
Ketika kecil Panji dan Indah selalu bersama sama menjalani kehidupan mereka dan bermain bersama, hubungan keduanya semakin erat begitupun dengan hubungan keluarganya.
Kuswanto dan Ayah dari Indah berniat untuk menjodohkan keduanya, hal itu begitu sangat disetujui oleh istri istri mereka, hingga suatu kejadian memisahkan keduanya, Indah beserta keluarganya pergi dari desa itu untuk merantau mencari uang agar kehidupan mereka tidak serba kekurangan.
Setelah keduanya dewasa, Panji meninggalkan rumahnya setelah kejadian yang membuat kedua orang tuanya meninggal dunia untuk berkelana dari tempat ketempat lainnya untuk melanjutkan kehidupannya.
Ketika Indah kembali kerumahnya, Ia menemukan bahwa telah terjadi penumbalan ditempat itu, Ibunya pun bercerita kepadanya bahwa Adiknya telah menghilang dari rumah dan Indah segera bergegas untuk mencari Adiknya itu.
Tanpa dia sangka bahwa ia bertemu dengan orang yang sama ditempat itu, dan ia tidak menyangka bahwa orang itu adalah orang yang ia cari selama ini, awalnya ketika melihat Panji bersimbah darah karena membunuh para penculik anak yang akan menjadikan anak anak itu sebagai tumbal, Indah sangat takut dengan sosok Panji.
Pada waktu Panji membuka kembali kuncian sarafnya, Indah mengetahui bahwa Panji tengah terluka karena sayatan sebuah pisau dilengan kanannya itu, hal itu membuat Indah segera mengambil obat dan juga kain sebelum Panji menyadari bahwa Indah sudah pergi dari tempat itu terlebih dahulu sebelum dirinya.
Indah segera berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari lokasi tersebut, ketika dirinya kembali dia sudah tidak menemukan keberadaan dari Panji akan tetapi dia menduga bahwa Panji baru saja pergi dari tempat itu, sehingga dirinya sesegera mungkin menyusulnya tanpa disangka bahwa dirinya berhasil menemukan keberadaan dari Panji.
"Kali ini kau benar benar salah mengenali orang Nona, aku bukanlah Panji, mungkin tanda lahir ini bukan hanya Panjimu saja yang memilikinya". Ucap Panji dan langsung bergegas meninggalkan Indah.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Kau adalah Panji yang aku kenal, bagaimana bisa aku melupakan dirimu, kedua orang tua kita telah menjodohkan kita sejak kita masih kecil dulu, apa kau juga melupakan hal itu Panji?".
"Bukan aku yang melupakannya tapi memang bukan aku orangnya yang kau maksud itu, aku bukan Panji yang kau kenali itu".
"Tapi bagaimana dengan tanda lahir itu?".
Kruyuk... Kruyuk...
Perut Indah berbunyi tiba tiba menandakan bahwa dirinya sedang kelaparan saat ini, Indah merasa malu karena perutnya berbunyi dihadapan Panji, fokus Panji sekarang terarah kepada perut Indah yang tengah berbunyi minta diisi itu.
"Kau lapar?". Tanya Panji kepada Indah.
"Sedikit". Jawab Indah dengan malu malu.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita cari kedai terdekat dari sini untuk mengisi perutmu terlebih dahulu". Ajak Panji.
"Iya".
Panji mengajak Indah kesuatu tempat yang cukup dekat dari desa tempat dimana Indah tinggal, Panji segera masuk kedalam sebuah kedai yang cukup sepi daripada yang lainnya diikuti oleh Indah dibelakangnya.
"Kau mau makan apa?". Tanya Panji.
"Terserah".
Panji memesan beberapa olahan daging untuk dimakan keduanya dikedai tersebut, Panji memilih tempat duduk dipaling pojok dekat dengan cendela kayu yang ketika sekali lihat kayu tersebut sudah sedikit rapuh dan waktunya untuk diganti.
Tak beberapa lama kemudian pesanan mereka segera datang untuk dihidangkan kepada keduanya, Indah memandangi beberapa mangkuk daging yang begitu lezat tersebut, akan tetapi tak lama kemudian pandangannya jatuh kepada sebuah mangkuk didepan Panji yang berisikan telur rebus.
"Kenapa kau memesan telur? Bukankah kau sangat alergi terhadap telur?". Tanya Indah kepada Panji.
Panji baru menyadari bahwa dimangkuknya ada sebuah telur rebus, Panji kecil sangat alergi dengan kandungan yang terdapat pada telur jika dirinya memakan telur dirinya akan termuntah muntah karena bau yang ditimbulkan dari telur tersebut, hal itu membuat Panji terdiam cukup lama sambil memandangi telur tersebut.
"Sudahku katakan kepadamu, aku bukan Panji, aku tidak memiliki alergi dengan telur rebus seperti dirinya". Bohong Panji.
"Kenapa kau harus berbohong denganku seperti ini Ji, aku tau kau tidak bisa makan telur". Mengambil telut tersebut dari mangkuk Panji.
"Aku bisa". Panji segera merebutnya kembali.
Tanpa ragu Panji segera menyuapkan telur tersebut kedalam mulutnya, ia mengigit pelan pelan telur itu dan merasakan rasa dari telur itu dengan perlahan lahan, sebenarnya dirinya ingin sekali muntah ketika menakannya akan tetapi demi menjaga kebohongannya sehingga dirinya berani melakukan hal seperti itu.
"Wek... Ini lebih menjijikkan daripada yang aku bayangkan, kenapa orang orang bisa menyukai makanan seperti ini". Batin Panji menjerit ketika telut tersebut masuk kedalam mulutnya.
Panji seakan akan menikmati rasa dari telur tersebut meskipun dirinya sudah tidak mampu lagi menahan aroma dan rasa dari telur itu yang membuatnya seperti ingin muntah, akan tetapi hal itu membuat wajah sedih diwajah Indah tercipta, Indah beranggapan bahwa dirinya memang benar benar telah salah mengenali seseorang.
"Ternyata kau memang bukan Panji yang aku kenal". Ucap Indah dengan sedihnya.
"Lebih baik aku membuatmu sedih untuk saat ini, daripada harus membuatmu dalam bahaya ketika dirimu mengenaliku nantinya". Batin Panji.
Indah menaruh kembali sendok yang ada ditangannya, dirinya benar benar kehilangan selera makannya saat ini karena dirinya diselimuti oleh kesedihan ketika tidak dapat menemukan sosok yang ia cari selama ini.
"Kenapa tidak dimakan?". Tanya Panji.
"Aku tidak lapar". Jawab Indah pelan.
"Tapi perutmu tidak bisa berbohong Nona, sebaiknya kau makan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang". Ucap Panji sambil menuangkan air digelas yang ada didepan Indah.
Panji kembali melanjutkan makannya, karena dirinya juga merasa begitu lampar setelah bertarung dengan para perampok itu, Indah yang melihat Panji makan dengan lahapnya perlahan lahan ikut makan karena tergoda oleh bau makanan yang ia cium.
Melihat Indah yang mulai memakan makanannya membuat Panji tersenyum tipis kearah Indah, keduanya segera menghabiskan pesanan mereka untuk dapat melanjutkan perjalanannya.
"Panji dimana dirimu sebenarnya, kenapa kau pergi meninggalkanku sendirian, apakah yang dikatakan oleh orang orang mengenai kematianmu itu benar adanya". Batin Indah.
Setelah Indah mendatangi rumah Panji, Indah mengetahui bahwa rumah tersebut telah diserang oleh beberapa orang, penduduk desa mengatakan kepada Indah bahwa Panji beserta keluarganya tidak ada yang selamat dari serangan tersebut dan mereka membawa jenazah keluarga Panji pergi dari rumahnya pada saat itu.
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1