
Setelah selesai menakan cilok keduanya segera melanjutkan jalan jalan mereka untuk mengelilingi Alun alun kota tersebut.
Banyak sekali orang yang berjualan ditempat itu, semakin malam semakin ramai juga, Nadhira merasa begitu bahagia dimalam itu malam yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya, keduanya dengan penuh semangat mencoba untuk mencicipi setiap kuliner yang dijual ditempat itu, mulai dari cilok, jagung bakar madu, es cream, dan banyak lagi yang lainnya.
Setelah keduanya kenyang mereka memutuskan untuk duduk dibangku taman yang terdekat dengan Alun alun itu, tempatnya sedikit sepi daripada yang lainnya, di salah satu tangan Nadhira ia masih memegang segelas pop ice yang dibelikan oleh Rifki sebelumnya dan satunya lagi masih memegang ikan yang telah ia dapatkan.
Nadhira meminumnya pop ice yang ada ditangannya, ia tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya karena ia tidak pernah pergi ketempat yang ramai seperti ini.
"Sudah ngak bosan lagi Dhira?". Tanya Rifki dengan tiba tiba.
"Sudah ngak, lain kali kesini lagi ya".
"Iya".
Keduanya berdiam diri ditempat itu untuk menghabiskan es pop ice yang telah mereka beli sebelumnya, tak beberapa lama kemudian mereka mendengar sesuatu dari kejauhan.
"Hantu tolong jangan ganggu saya ya, saya masih mau hidup".
Keduanya pun segera bergegas untuk melihat siapa yang tengah bersuara itu, keduanya bersembunyi dibalik semak semak untuk melihat orang itu.
Keduanya sangat mengenalinya, sosok seorang pemuda yang tengah berjalan seorang diri dijalan setapak dengan sedikit ketakutan karena gelapnya malam hari ini.
Keduanya tertawa dalam diam melihat tingkah sosok pemuda yang ada dihadapannya saat ini, pemuda itu seperti sedang ketakutan entah apa alasannya, pemuda itu tidak lain adalah Fajar teman sekelasnya.
"Aku punya ide". Bisik Nadhira kepada Rifki.
"Apa itu?". Tanya Rifki dan juga berbisik kepadanya.
"......". Nadhira menjelaskan rencananya kepada Rifki.
"Siip".
Rifki dan Nadhira segera berpisah dari tempat itu untuk menjalankan tugasnya masing masing.
****
Hari ini Fajar tengah pergi ke Alun alun kota bersama dengan temannya yang bernama Hakam, Fajar belum pernah keluar malam sebelumnya sehingga kali ini adalah pengalaman pertamanya keluar rumah.
Jika bukan karena temannya itu ia tidak akan keluar malam seperti saat ini, setelah ia berkeliling di Alun alun kota tersebut Hakam tiba tiba mendapatkan telefon dari nomer misterius.
Fajar tidak menyangka bahwa Hakam adalah sosok seorang pemuda yang mempunyai tempramental yang sedikit bermasalah, selama keduanya berteman baru pertama kali Fajar mengetahui latar belakang temannya itu.
Sikap Hakam bisa berubah ubah setiap saat kadang kala bersikap seperti malaikat yang baik dan juga murah senyum, dan kadangkala ia bersikap seperti layaknya seorang psikopat yang tertawa melihat temannya menderita bahkan kesakitan.
Hakam memiliki sedikit gangguan jiwa yang disebabkan oleh kekerasan dalam keluarganya, sehingga dia butuh diawasi dalam setiap tindakannya, karena belum lama keduanya berteman sehingga Fajar belum mengetahui tentang hal tersebut.
Tiba tiba temannya itu mengamuk dan ingin membukul Fajar berkali kali tetapi segera dihalangi oleh keluarga dari Hakam yang diam diam mengikutinya tanpa sepengetahuan keduanya.
Melihat itu ia teringat mengenai hal yang terjadi kepada Nadhira sehingga ia mengira bahwa hal yang dialami oleh Hakam sama persis dengan yang dialami oleh Nadhira.
Fajar berjalan sendiri dijalan setapak terdekat dengan Alun alun kota itu, ia merasa begitu ketakutan karena yang menjadi sasaran kali ini adalah dirinya, seperti Rifki yang menjadi sasaran dari amukan Nadhira.
"Hantu tolong jangan ganggu saya ya, sama masih mau hidup". Ucap Fajar sambil ketakutan.
Fajar terus berjalan dengan perlahan, sambil terus mengatakan hal tersebut, dari cerita yang disampaikan oleh Rifki dan Nadhira membuatnya merasa sedikit takut mengenai hal gaib.
"Hihihihi...". Terdengar seperti tawa kuntilanak.
"Aa... Siapa itu!!". Teriak Fajar secara reflek.
Fajar hanya bisa mematung ditempatnya tanpa berani bergerak sedikitpun, ia menoleh kesana kemari tetapi tidak menemukan sosok apapun itu, tiba tiba ia merasakan sesuatu yang memegang pundaknya.
"Tolong selamatkan kami". Dapat terdengar suara yang begitu menyeramkan dari balik tubuhnya.
"Si... Si... Siapa ka.. ka.. kamu!?". Tanya Fajar dengan terbata bata tanpa berani untuk menoleh kebelakangnya.
__ADS_1
Seketika tubuh Fajar gemetar karena hal yang ia alami saat ini, angin dingin merembes masuk kedalam tubuhnya sehingga membuat bulu kuduknya berdiri dan rasa merinding menyelimuti dirinya.
Tiba tiba semak semak yang ada didepannya bergerak dengan kencangnya seperti diterjang oleh angin ****** beliung, kedua mata Fajar segera terbuka dengan lebarnya ketika menyaksikan hal seperti itu yang tiba tiba terjadi.
"Si... Si... Siii... Apa?".
Sekelebat bayangan dapat terlihat dengan jelas oleh Fajar, dengan cepatnya bayangan itu segera menghilang dibalik semak semak yang rimbun ditepi jalan yang sepi itu.
"Fajar!! Aku menantimu".
Lagi lagi terdengar suara yang begitu mengerikan dari balik semak semak tersebut, begitupun dengan tangan yang sedang memegang bahunya tiba tiba mencengkeram begitu eratnya.
Nadhira yang bersembunyi dibalik semak semak tiba tiba merasakan sesuatu yang menyentuh kakinya, awalnya ia sengaja menakut nakuti Fajar akan tetapi dirinya sendiri yang ketakutan ketika ia merasakan ada yang sedang memegang kakinya.
"Aaaa.....".
Nadhira melompat keluar dari semak semak tersebut dengan tiba tiba sambil mengibaskan kakinya entah apa yang tengah melilit dikakinya
"Aaaaaaaaaa.......".
Fajar yang terkejut dengan kehadiran Nadhira tiba tiba ikut menjerit ketakutan, tetapi dirinya tidak bisa bergerak, ia sendiri sedang ketakutan dengan sosok yang masih memegangi bahunya sedari tadi.
Melihat Nadhira yang berteriak teriak membuat Rifki segera keluar dari persembunyiannya, Rifki segera mendatangi Nadhira untuk melihat keadaannya.
"Kamu ngak papa Dhira?". Tanya Rifki sambil memeriksa kaki Nadhira.
"Ngak papa, hanya saja tadi aku merasa ada yang merayap dikakiku".
Rifki melihat ke sekitarnya untuk mencari apa yang telah melilit dikaki Nadhira, ia menemukan ada ulat bulu yang cukup besar berada dibawah kaki Nadhira.
"Uuu... Lat". Ucap Rifki terbata bata.
Meskipun Rifki tidak takut mengenai hal gaib, akan tetapi dirinya begitu takut ketika berhadapan dengan ulat, apalagi ulat bulu yang cukup besar.
Karena Rifki pernah mengalami sesuatu dengan ulat bulu yang membuatnya begitu trauma, karena sakit gatal dan panas yang ditimbulkan dari bulu bulu halus ulat bulu yang sulit untuk dihilangkan.
"Aaaa....". Teriak Nadhira lagi.
Nadhira pun merasa takut dengan ulat tersebut, sehingga ia menjerit ketakutan dan terus menginjak injakkan kakinya karena dirinya begitu ketakutan.
Nadhira merasa begitu jijik dengan ulat bulu, tanpa sadar ulat bulu itu terinjak oleh kaki Nadhira sehingga ulat itu tewas seketika terinjak oleh Nadhira.
🐛:Apa salah saya
Rifki pun menarik tangan Nadhira untuk menjauh dari ulat tersebut dan beberapa langkah lebih jauh dari Fajar yang tengah diam mematung dikejauhan.
Fajar merasa lega ketika melihat keduanya berada dihadapannya saat ini, akan tetapi keduanya sama sekali tidak menoleh kearahnya, ia begitu ketakutan karena sampai sekarang tangan yang memegangi bahunya masih tetap berada di bahunya.
"To... To... Tolong". Guman Fajar ketakutan.
Seketika Rifki teringat tentang Fajar yang berada jauh darinya, awalnya keduanya hanya berniat untuk menakut nakuti Fajar yang tengah berjalan seorang diri ditempat itu.
Ketika Rifki menoleh kearah dimana Fajar berada, Rifki begitu terkejut melihat sosok yang berada dibelakang Fajar saat ini, sangking terkejut ia sampai menabrak Nadhira yang berada dibelakangnya.
"Auhh... Sakit Rif, kira kira dong kalo mau mundur itu". Keluh Nadhira yang ditabrak oleh Rifki tiba tiba.
Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk mendekat kearah dimana Fajar berada saat ini, tetapi Rifki tetap menjaga jarak dari Fajar dan menyuruh Nadhira untuk tetap berada dibelakangnya.
"Siapa kamu!!". Tanya Rifki dengan nada serius dan tatapan tajamnya terarah kepada Fajar.
"Namaku Hakam". Seseorang yang berada dibelakang Fajar menjawabnya dengan begitu entengnya.
Fajar segera menghindar dari Hakam, ketika Hakam selesai menyebutkan namanya kepada Rifki, tak beberapa lama kemudian sepasang suami istri datang ketempat itu dan memegangi Hakam.
"Dek, maafkan anak kami, dia sedikit memiliki gangguan jiwa". Ibu ibu itu memohon kepada Rifki untuk memaafkan putra mereka.
"Ibu aku tidak gila". Bantah Hakam.
__ADS_1
"Bolehkah aku memeriksa anak Tante?". Tanya Rifki sambil mengajukan diri.
"Tapi Nak, dia...". Ibu Hakam terlihat sedikit ragu dengan apa yang akan dilakukan oleh Rifki.
"Tante percaya saja sama temen saya Tan". Fajar mencoba membujuk Ibu Hakam.
"Aku tidak akan menyakiti anak ibu". Jelas Rifki.
"Bu, biarkan dia memeriksa anak kita, siapa tau dia bisa menyembuhkannya". Dengan pelan Ayah Hakam mengatakan hal itu kepada istrinya.
"Baiklah".
Rifki mendekat kearah Hakam yang saat ini sedang tertawa dihadapannya, Rifki menyentuhkan ibu jarinya kepada kening Hakam dan memejamkan matanya untuk merasakan hal apa yang membuat Hakam mengalami hal seperti itu.
Rifki membuka matanya tiba tiba dan ia merasakan sebuah energi yang mendorongnya untuk mundur dari tubuh Hakam, Rifki seakan akan terpental begitu saja setelah ia merasakan sesuatu didalam tubuh Hakam.
"Ada yang tidak beres dengan anak Tante!! Apa sebelumnya Hakam pernah memperkenalkan seorang wanita kepada Tante? Apa yang telah Tante lakukan kepada wanita itu?".
Ucapan Rifki seketika mampu membuat Ibu dari Hakam begitu terkejut, bagaimana pemuda yang ada dihadapannya ini mengetahui hal yang sebelumnya ia lakukan.
"Bu, apa yang dikatakan oleh anak ini?". Tanya Ayah Hakam kepada istrinya.
"Lantas bagaimana bisa perempuan itu meninggal dengan tragisnya??". Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rifki lagi lagi yang mampu membuat semua orang terkejut dengan ucapannya.
"APA YANG KAU KATAKAN!!! Jangan asal bicara kamu!! Perempuan apa yang kamu maksud ha? Jangan bicara omong kosong". Ibu Hakam begitu sangat marah kepada Rifki mengenai apa yang telah diucapkan oleh Rifki.
"Tante saya tidak asal bicara!! Perempuan itu bernama Rahel bukan?". Dengan lantang Rifki menyebutkan nama Rahel.
"Rahel.... Hua... Hua.. dimana Rahel, Rahel jangan tinggalkan aku, Rahel....". Tiba tiba Hakam menjerit dan menjadi histeris ketika Rifki mengungkit nama Rahel dihadapannya saat ini.
Tangisan histeris dari Hakam membuat Ibunya merasa begitu panik, entah apa yang harus ia lakukan untuk saat ini, ia harus menjauhkan anaknya dari sosok pemuda yang telah berani mengungkit nama Rahel dihadapannya.
Nadhira memegangi baju Rifki dengan eratnya, ia tidak suka melihat Rifki dibentak oleh seseorang dihadapkan, tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa karena Rifki melarangnya.
"Ayo pergi dari sini Pak, jangan dengarkan ocehan dari anak yang tidak tau malu ini". Ajak Ibu Hakam kepada suaminya untuk meninggalkan tempat itu.
"Tidak Bu, tolong jelaskan kepadaku!! Siapa Rahel sebenarnya!!". Ayah Hakam menolak untuk diajak pergi oleh istrinya.
"Jadi Bapak lebih membela bocah bau kencur ini daripada istri Bapak!!".
"Aku berhak untuk mengetahuinya Bu, biar bagaimanapun hal yang terjadi kepada putra kita, aku harus tau Bu, siapa Rahel!!".
"Rahel adalah perempuan yang tidak tau malu!! Dia wanita rendahan!!". Teriak Ibu Hakam.
"Tidak Ibu, dia perempuan yang baik, dia sangat mencintaiku". Bela Hakam ketika nama Rahel dijelek jelekkan dihadapan Ayahnya.
"Dia bukan orang baik!!!". Teriak Ibu Hakam kepada Hakam.
Hakam begitu tidak terima jika nama seseorang yang ia cintai dijelek jelekkan seperti itu, baginya Rahel adalah wanita yang begitu sempurna dan selalu memberikan cinta kepadanya dengan tulus.
"Jika Tante masih tetap pada pendirian Tante, itu hak Tante, aku hanya memperingatkan kepada Tante bahwa arwah perempuan itu tidak akan pernah bisa merasa tenang, dia akan menggentayangi keluarga Tante seterusnya, dan mental anak Tante akan menjadi taruhannya". Ucap Rifki memperingatkan mengenai arwah Rahel.
"Saya tidak pernah main main dalam ucapan saya Tante!! Jika Tante masih tidak percaya dengan ucapan saya, maka jangan menyesal dengan apa yang akan terjadi selanjutnya". Tambahannya dengan begitu tegasnya.
Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk pergi menjauh dari tempat itu, Nadhira yang ditarik hanya mampu pasrah mengikuti langkah Rifki yang membawanya pergi dari tempat itu.
"Maaf sebelumnya Tante, teman saya itu mampu melihat hal gaib mungkin saja memang benar ia telah berkomunikasi dengan mereka". Ucap Fajar setelah itu langsung menyusul Rifki.
"Rif tunggu aku". Ucap Fajar lagi.
Kini tinggallah ketiga orang ditempat itu yang saling berpandangan satu sama lain, sementara Hakam menangis dan beberapa kali memanggil nama Rahel, seakan akan ia belum siap untuk kehilangan sosok seperti Rahel dalam hidupnya.
Perlahan lahan bayangan Rifki dan teman temannya sudah tidak terlihat oleh ketiganya, Ibu Hakam merasa lega karena kepergian mereka dari sisi Hakam.
"Bu, siapa sebenarnya Rahel? Lalu kenapa anak kita jadi seperti ini?". Tanya Ayah Hakam kepada istrinya.
"Sudahlah Pak, lupakan saja, kenapa Bapak malah percaya sih dengan ucapan anak itu? Lagian kita juga tidak kenal dengan mereka, Bapak jangan mudah percaya, siapa tau mereka memang berniat buruk bagi keluarga kita".
__ADS_1
Sekarang bagi Ibu Hakam situasinya sudah tidak aman lagi, karena ada seseorang yang berhasil membocorkan rahasia kepada suaminya dengan tiba tiba, ia harus melakukan sesuatu yang bisa menghilang kecurigaan itu kepadanya.
*Penasaran dengan apa terjadi kepada perempuan itu? Yuk terus ikuti cerita Author ya 🙂 jangan lupa tinggalkan jejak juga biar Author makin semangat