Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Desa Flamboyan


__ADS_3

Tak beberapa lama kemudian akhirnya keduanya sampai disebuah gapura yang bertuliskan 'selamat datang di Desa Flamboyan', mereka melihat begitu banyak orang orang yang ingin berziarah dimakam yang telah dikeramatkan itu.


"Akhirnya sampai juga didesa ini" Ucap Nadhira.


"Apa Non yakin mau masuk desa ini?" Tanya Pak Mun.


"Tentu saja, kenapa tidak Pak? Jauh jauh kita datang ketempat ini lalu untuk apa kalau tidak untuk masuk kedalamnya dan melihat situasi didalam?"


"Tapi Non didalam banyak mahluk halus yang sangat menyeramkan sekali Non".


"Emang Pak Mun tau kalau didalam banyak mahluk halus? Bukan hanya didalam saja Pak, disamping Pak Mun juga pasti ada, dan bahkan sedang mengintai Pak Mun dengan diam diam".


"Non, Non kan sudah janji kepada saya kalau Non tidak akan menakut nakuti saja lagi".


Nadhira hanya menyengir saja dan berkata, "Kalaupun ada mahluk kasar pun tak masalah Pak, Bapak tunggu disini saja kalau Bapak takut untuk masuk kedalam dengan kami, kami akan masuk berdua kedalam desa".


"Saya ikut saja Non, belum tentu disini juga aman nantinya bagaimana kalau disini malah makin banyak mahluk mahluknya".


"Pilihan yang bijak, sangat bijak" Puji Nadhira.


Theo segera turun dari mobil tersebut dan membantu Nadhira untuk turun juga, setelah itu Pak Mun segera menyusul untuk turun dari mobil itu dan segera berlari memutari mobil untuk sampai disebelah Nadhira yang tengah berdiri menatap kearah gapura.


"Aku merasa ada yang aneh dengan desa ini, apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan Theo?"


"Iya Dhira, sepertinya aura mistis disini lebih kental daripada yang lainnya, aku mulai sedikit merinding ditempat seperti ini, aku belum pernah merasa ada yang aneh seperti ini sebelumnya Dhira tapi ditempat ini seakan akan berbeda".


"Kau benar Theo, itu membuatku semakin bersemangat untuk masuk kedalam desa ini"


"Non, apa sebaiknya kita pergi saja dari sini? Perasaan saya mendadak tidak enak Non, saya takut terjadi sesuatu didalam sana Non beneran".


"Pak Mun ih, kitakan baru saja sampai disini, kita juga sudah jauh jauh ketempat ini, kenapa harus balik lagi tanpa mendapatkan apapun yang kita cari".


"Apa Non yakin disini tempatnya?"


"Sangat yakin Pak, kita akan melihatnya nanti setelah masuk kedalam desa ini".


Kedatangan Nadhira seketika ketempat itu membuat angin berhembus lembut mengenai tubuh mereka, hal itu membuat Pak Mun bertambah merinding seiring dengan hembusan angin itu, dalam pengelihatan Nimas, begitu banyak mahluk yang berkumpul untuk menyambut kedatangannya ketempat seperti itu.


"Kenapa bisa tiba tiba mendadak ada angin yang berhembus pelan seperti ini? Membuat bulu kudukku berdisi saja, tapi sebelumnya tidak ada" Batin Nadhira bertanya.


"Kau tenang saja Dhira, mereka hanya menyambut kedatanganku ketempat ini saja".


"Oh syukurlah, ku kira mereka akan marah ketika melihat kedatanganku ketempat ini sebelumnya".


"Selama kau berada bersamaku, kau akan aman dan merasa dihormati oleh bangsa kami".


"Kau benar benar hebat Nimas".


"Iya iya lah, kan memang aku hebat sejak dulu, kau saja yang tidak pernah mengakuinya".


"Hebat dalam masalah menyombongkan diri, jangan senang dulu untuk mendapatkan pujian dariku sebelum aku mengatakan kata kata selanjutnya"


"Hah? Apa kau bilang? Kau mengatakan bahwa aku sombong? Lihat saja dirimu, kau bahkan jauh lebih sombong daripada diriku Dhira".


"Sudahlah ayo masuk kedalam, jangan berlama lamaan didepan gapura seperti ini".


"Non, apa sebaiknya kita pulang saja, udara disini seperti tidak bersahabat dengan kita" Ucap Pak Mun.


"Bagaimana bisa bersahabat Pak, orang kita baru saja sampai dan belum kenalan juga, kalau sudah kenal nanti kan jadi bersahabat, penduduk disini sangat ramah ramah kok Pak".


"Udara kan beda dengan manusia Non, bagaimana caranya kenalan dengan udara? Padahal udara tidak bisa disentuh dengan tangan"


"Tapi bisa dirasakan dengan kulit kan Pak? Sudahlah ayo masuk, apa Pak Mun mau tinggal dimobil? Baiklah kalau begitu aku akan masuk berdua dengan Theo, Pak Mun tetap dimobil saja".


"Tapi Non... Baiklah saya akan ikut".


"Asalkan kita tidak berbuat ulah dan menyinggung mahluk didalam kita akan baik baik saja Pak"


"Aku dengar didesa ini banyak orang dewasa ataupun anak kecil yang tiba tiba menghilang Non, jadi saya sedikit ngeri untuk membayangkannya Non, apa Non tetap masuk kedalamnya?"


"Kenapa tidak Pak? Mahluk mahluk disini baik kok, buktinya mereka sekarang menyambut kedatangan kita ketempat ini"

__ADS_1


"Maksud Non apa?"


"Menyambut kalian hello, mereka hanya menyambutku saja, bukan kalian".


"Kan sama saja, kau juga rombongan dari kami maka mereka juga menyambutku lah".


"Idih, terlalu pede sekali nih bocah".


"Kalau ngak pede bukan Nadhira orangnya kau harus tau hal itu Nimas".


"Terserahmu, lelah aku jika harus berdebat denganmu terus menerus seperti ini".


"Pilihan yang sangat tepat".


Nadhira segera melangkah masuk kedalam gapura, gapura tersebut terlihat hanya muat untuk kendaraan bermotor sehingga Nadhira tidak dapat masuk kedalam desa itu dengan menggunakan mobilnya dan selanjutnya Nadhira memutuskan untuk jalan kaki masuk kedalam desa itu.


Setelah dirinya masuk kedalam desa tersebut, Nadhira nampak begitu terkejut ketika melihat begitu banyak orang melakukan aktivitasnya didalam desa tersebut dan desa itu nampak begitu ramai tidak seperti apa yang telah dirumorkan didalamnya.


"Apa ini? Kenapa begitu ramai seperti ini? Berbeda dari yang aku dengar sebelumnya tentang desa misterius ini, apa kita salah desa Theo?" Tanya Nadhira ketika melihat keramaian itu.


"Tempat ini hanya akan ramai disiang hari saja Dhira, kalau dimalam hari katanya sih sepi, tapi entahlah aku juga tidak tau, soalnya aku tidak pernah datang ketempat ini sebelumnya, menurutku sih ini benar tempatnya Dhira".


"Kenapa bisa begitu? Ada yang aneh dengan desa terpencil ini".


"Aku juga tidak tau Dhira kenapa desa itu seperti itu, dan bahkan sebelumnya juga tidak pernah begitu, Dhira coba buka kertas itu".


"Baiklah" Nadhira lalu mengambil sebuah kertas yang ia taruh didalam saku bajunya.


"Dibawah pohon trembesi kita berlarian dengan gembira, suara isak tangis mulai terdengar, ini maksudnya apa Dhira?" Tanya Theo sambil membaca isi surat tersebut.


"Pohon trembesi hem.. sangat rumit, apa mungkin kita harus menemukan pohon itu terlebih dahulu didesa ini? Apa kau tau pohon trembesi itu bentuknya seperti apa? Soalnya aku tidak tau Theo"


"Saya tau bentuknya Non, mungkin kita bisa mencarinya bersama sama didesa ini" Sela Pak Mun.


"Bagus Pak Mun, sebaiknya Pak Mun ada didepan kita untuk memberikan arahan kepada kita, kan soalnya Pak Mun lebih tau tentang pohon itu daripada kita berdua" Ucap Nadhira dengan entengnya.


"Tapi Non, saya masih merinding, bagaimana kalau temen Non saja yang berjalan duluan didepan?" Ucapnya dengan tubuh yang kembali bergetar.


"Non Dhira dan saya kan memang berbeda, Non Dhira sudah terbiasa dengan hal hal seperti itu, tapi saya belum Non".


"Kalau begitu biasakan saja mulai sekarang Pak, kita kan sama sama makan nasinya, apalagi Pak Mun yang sejak kecil sudah tinggal didesa, Pak Mun seharusnya lebih pemberani daripada saya"


"Itu sangat beda sekali Non, baiklah saya akan berusaha untuk terbiasa dengan hal hal seperti ini mulai saat ini".


"Baguslah kalau begitu keputusan Pak Mun, itu baru Pak Mun si pemberani"


Dengan perlahan lahan Pak Mun mulai melangkah maju diikuti oleh Nadhira dan Theo, mereka lalu mencari dimana keberadaan dari pohon trembesi itu tumbuh ditempat seperti itu, setelah memutari desa tersebut ketiganya sama sekali tidak menemukan dimana keberadaan dari pohon trembesi itu.


"Kita sudah berkeliling desa ini, tapi tidak juga menemukan keberadaan dari pohon itu, apa mungkin pohonnya memang tidak ada ditempat ini, dan apa mungkin desa yang dimaksud adalah desa yang lain Theo?" Tanya Nadhira.


"Aku juga tidak tau Dhira, tapi firasatku mengatakan bahwa memang benar ini desanya, mungkin saja kita tidak berhasil menemukannya kali ini, tapi kita tidak boleh menyerah untuk mencarinya".


"Kau benar, apa ngak sebaiknya kita istirahat dulu diwarung atau dikedai gitu, ini sudah sore juga".


"Baiklah, kita akan istirahat diwarung depan sana" Ucap Theo sambil menunjuk kearah sebuah warung.


Nadhira nampak begitu kelelahan setelah berjalan cukup jauh sehingga rombongan Nadhira memutuskan untuk istirahat disebuah warung yang ada didesa tersebut, warung itu nampak cukup besar daripada warung warung yang ada didesa tersebut.


"Mau pesan makanan apa Mbak?" Tanya Ibu ibu yang jualan ditempat itu.


"Air putih saja Bu" Ucap Nadhira.


"Saya kopi saja Mbak" Ucap Pak Mun.


"Saya juga kopi Bu" Ucap Theo.


"Baiklah, kalau makannya?".


"Adanya apa saja disini Bu?" Tanya Nadhira.


"Ada soto, sate ayam, gurami bakar dan goreng, ayam panggang, sayur sup perkedel, ayam krispi, dan lain lain masih banyak Mbak".

__ADS_1


"Kalau ayam kecap ada Bu?"


"Ada Mbak".


"Ya sudah saya beli ayam kecap saja Bu, sambalnya dikit saja jangan banyak banyak".


"Baiklah Mbak, tunggu sebentar saya siapkan dulu, kalau Masnya mau makan apa?" Tanya penjual kepada Theo dan Pak Mun.


"Sama saja Bu/ Mbak" Ucap Pak Mun dan Theo secara bersamaan.


"Baiklah, mohon ditunggu ya, saya siapkan dulu pesanan kalian".


Nadhira hanya mengangguk kepada penjual tersebut, penjual itu segera masuk kedalam dapurnya untuk menyiapkan pesanan yang telah ketiganya pesan tersebut, Penjual itu berpikir bahwa rombongan Nadhira adalah rombongan yang datang dari kejauhan ketempat itu dan sedang beristirahat ditempat ia jualan.


Nafas Nadhira mulai tidak setabil karena dirinya terlalu lama untuk berjalan sehingga Nadhira menghirup nafas dan mengeluarkan nafasnya dengan alunan sedikit cepat dari biasanya, hal itu membuat Pak Mun mampak khawatir.


"Apa Non baik baik saja?" Tanya Pak Mun.


"Aku ngak apa apa kok Pak, hanya kelelahan saja nanti juga akan membaik dengan sendirinya kok Pak, Pak Mun jangan terlalu khawatir seperti itu, aku ngak bakal kenapa kenapa kok" Jawab Nadhira.


"Dhira kamu beneran ngak kenapa kenapa? Apa ngak sebaiknya kita pulang saja? Sepertinya kamu terlihat begitu sangat kelelahan".


"Aku ngak apa apa Theo, istirahat disini sebentar saja nanti juga bakal membaik lagi"


"Kau yakin Dhira? Kalau kau baik baik saja".


"Aku sangat yakin Theo, kau tidak perlu secemas seperti itu saat ini".


"Baiklah kalau kau memang baik baik saja".


"Seandainya pemuda ini tau kalau sekarang ginjal Non Dhira hanya tinggal satu, mungkin dia tidak akan membiarkan Non Dhira datang ketempat seperti ini" Batin Pak Mun ketika melihat wajah Nadhira.


Nadhira hanya tersenyum tipis kearah Theo dan Pak Mun, ia tidak ingin kedua orang itu merasa cemas dengan dirinya saat ini, Pak Mun segera meminta kepada penjual tersebut untuk membawa segelas air putih kepada mereka.


Penjual itu buru buru memberikan minuman tersebut kepada Nadhira, Nadhira segera meminumnya untuk mengembalikan kestabilan pernafasannya saat ini, setelah meminumnya Nadhira merasa begitu lega dan mampu bernafas dengan normal kembali.


"Kalian sudah dengar belum? Makam keramat itu sebentar lagi akan ditutup loh".


"Eh kenapa tiba tiba ditutup? Bukankah itu akan mengecewakan orang orang seperti kita yang ingin berziarah diluar area makam itu"


"Katanya mau ada perbaikan diarea sekitar itu tapi entahlah itu betul atau tidak, ku pikir itu hanya kabar angin tapi kenyataannya benar, sudah banyak material yang datang dan siap untuk digunakan membangun makam tersebut".


"Apa boleh makam itu dibangun begitu saja? Apa penghuninya sudah mengizinkan mereka untuk membangunnya? Kalau belum bisa bisa makam itu akan memakan begitu banyak korban lagi seperti dahulu kala".


"Kau ingat dengan Mbah Bejo? Orang yang mengetahui tentang makam itu loh masa kalian lupa, dia sendiri yang bilang kalau makam itu akan dibangun agar tidak hilang seiring berkembangnya zaman sih".


"Oh iya? Lalu bagaimana dengan pohon trembesi itu? Apakah pohon itu juga akan ditebang?"


"Sepertinya sih iya, tapi aku juga tidak tau mau diapakan pohon itu, usianya sih sudah mencapai puluhan taun kalaupun ditebang mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama".


"Konon katanya sih, ada yang pernah mendengar sebuah suara suara misterius gitu yang berasal dari pohon trembesi yang besar itu, entah itu suara tertawa ataupun suara menangis, keduanya tidak bisa dibedakan, misterius sekali bukan? Tapi setelah dicari cari tidak ada yang menemukan asal usul suara tersebut, ngeri banget kan".


"Kau benar, apa mungkin itu adalah penunggu dari pohon trembesi itu kali ya, mereka juga bilang kalau suara itu berasal dari pohon trembesi, kalau pohon itu ditebang mungkin saja penunggunya akan murka".


"Entahlah aku juga tidak tau, semoga itu bukan hal yang buruk untuk desa ini".


Beberapa orang tengah mengobrol didekat Nadhira mengenai pohon trembesi yang ia cari dari tadi didesa itu, Nadhira dan kedua orang yang ada bersamanya mendengarkan cerita orang tersebut dengan seksama tanpa ingin ada yang terlewat sedikitpun itu.


Setelah mengobrol cukup lama akhirnya orang orang itu segera meninggalkan tempat tersebut setelah selesai untuk membayar makanan yang mereka pesan sebelum, setelah kepergian dari orang orang itu makanan yang dipesan oleh Nadhira segera datang ketempat itu.


"Kalian dengar apa yang dibicarakan oleh orang orang itu?" Tanya Nadhira dengan berbisik.


"Iya Dhira, kami mendengarnya".


"Apa mungkin pohon itu adalah pohon yang kita cari sejak tadi tapi tidak kita temukan".


"Mungkin saja Non, tapi menurut orang orang itu pohon trembesi itu sangat angker, sampai sampai kadang kala terdengar suara seperti menangis dan tertawa secara bersamaan".


"Tapi Pak, menurut surat yang ada ditangan Dhira bait selanjutnya adalah dibawah pohon trembesi kita berlarian dengan gembira, suara isak tangis mulai terdengar, aku yakin pasti itu yang dimaksud, suara tertawa dan menangis itu adalah petunjuk kita selanjutnya Dhira".


"Kau benar Theo, setelah ini kita akan menuju kesana untuk melihatnya secara langsung"

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰 terhadap karya ini 🙏 Terima kasih ...


__ADS_2