
Pada suatu pagi yang cerah, burung burung berkicau, dan matahari mulai menampakkan sinarnya. Nadhira masih tertidur dibalik selimutnya yang tebal. Menyadari bahwa anak angkatnya belum juga keluar dari kamarnya, membuat bi Ira segera mengetuk pintunya untuk membangunkannya, beberapa menit berlalu tetapi tak ada pertanda bahwa Nadhira akan membukakan pintunya.
Bi ira mencoba unfuk membuka pintu tersebut dan ternyata memang tidak dikunci dari dalam, ia coba untuk membangunkannya tetapi Nadhira sama sekali tidak menunjukkan reaksinya.
"Nak bangun, sudah siang".
Bi ira berjalan mendekati kearah cendela kamar Nadhira dan membuka tirai yang ada disana lebar lebar agar cahaya matahari dapat jatuh kearah anak angkatnya tersebut.
"Auh... kamu kenapa nak?". Bi ira mengibas ngibaskan tangannya, ia merasa terkejut karena ketika menyentuh kening Nadhira, suhu tubuhnya sangat panas.
Bi ira segera bergegas untuk mencari kompresan untuk menurunkan suhu tubuh anak angkatnya, tak beberapa lama ia datang kembali dan mengompresnya, tiba tiba tubuh Nadhira mengigil kedinginan, bibirnya mulai memucat, keringatnya bermunculan.
BI ira sangat panik melihat anaknya mengigil seperti itu, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu kepada keluarga Nadhira mengenai keadaan Nadhira, ketika ia hendak bergegas, tangan Nadhira tiba tiba menarik tangan bi Ira untuk menghentikannya.
"Tidak bu, jangan beri tahukan kepada papa". Ucap Nadhira begitu lemah dan terputus putus karena rasa mengigil yang ia alami.
"Tapi nak, mereka berhak untuk tau".
"Jangan bu, jangan lakukan itu, nanti juga akan sembuh sendiri, jangan bikin orang lain mendapatkan masalah karenaku".
"Maksudmu apa nak? bagaimana bisa kau berfikir mereka akan mendapatkan masalah karenamu". bi Ira sungguh merasa terkejut mendengarnya.
Nadhira memejamkan matanya, ia memeluk selimutnya dengan erat karena rasa mengigil didalam tubuhnya begitu parah baginya, bi Ira mengambil beberapa selimut dan langsung memasangnya ditubuhnya Nadhira hingga begitu tebal.
"Bu, Rifki diluar menungguku, beritahu dia bahwa aku sedang tidak enak badan, kasihan dia menungguku terlalu lama".
"Iya nak".
Bi Ira segera keluar untuk memberitahukan kepada Rifki bahwa hati ini Nadhira tidak dapat mengikuti pelajaran, ia juga meminta kepada Rifki untuk meminta izin kepada guru yang akan mengajar dikelasnya saat ini.
Sementara Nadhira dikamarnya masih merasa mengigil meskipun ia sudah memakai selimut yang sangat tebal, entah apa yang terjadi kepadanya saat ini, seluruh tubuhnya merasa sakit dan kepalanya begitu pusing.
Sena tiba tiba memasuki kamar Nadhira dan menguncinya dari dalam, Nadhira hanya melihatnya sekejap setelah itu ia kembali memejamkan kedua matanya, ia sama sekali tidak mempedulikannya.
"Apakah itu enak?". tanya Sena.
"Hahaha.... Kenapa tidak langsung membunuh? justru saat ini aku merasa senang, dan aku berfikir bahwa sebentar lagi aku akan mati, bukankan begitu mama tiriku tersayang?'". Nadhira memejamkan matanya sambil tertawa menanggapi ucapan mama tirinya.
"Tidak akan semudah itu anak tiriku, belum saatnya permainan ini berakhir, ini hanyalah bap pemula bagiku, masih banyak kejutan yang menunggumu". Sena tersenyum kearah Nadhira.
"Kau memang sutradara terhebat yang pernah aku lihat, aku akan terus menunggu kematian ku tiba, terima kasih telah menorehkan sebuah luka".
__ADS_1
"Eits jangan berterimakasih dulu, karena ucapanmu aku mempunyai ide yang bagus".
"Wah benarkah? lakukan apa yang kau bisa, siksalah selama aku masih hidup, karena ketika aku sudah tiada kau tidak akan pernah bisa melakukannya lagi".
"Jangan buru buru mengatakan itu sayang, Karena iblis itu tidak akan membiarkanmu mati begitu mudahnya, justru aku menunggu disaat kematianmu tiba, apakah dirimu akan bisa tertawa lagi".
Nadhira tertawa ketika membayangkan kematiannya sendiri, baginya kematian itu tidak begitu menakutkan dari pada harus berhadapan dengan orang yang seperti mama tirinya itu, ia lebih mirip seperti seorang psikopat yang gila akan penderitaan orang lain.
Jika memang benar iblis itu tidak akan membiarkannya mati sebelum tujuannya tercapai maka Nadhira harus memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan kematian.
"Kau benar mamaku, bagiku diriku memang sudah mati sejak dulu, untuk apa harus mengharapkan kematian, sedangkan diriku sendiri sudah mati".
"Baguslah jika kau sudah sadar".
Sena segera meninggalkan Nadhira dan bergegas keluar dari kamar Nadhira, Nadhira sendiri merasa lega ketika mama tirinya sudah tidak terlihat dari pandangannya, bagaimana tidak, apa yang dialaminya saat ini adalah ulah dari mama tirinya.
Ketika Nadhira tertidur dengan lelapnya, tubuhnya tiba tiba diambil alih oleh makhluk itu, sehingga ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, makhluk itu membawa Nadira pergi dari kamarnya untuk menemui mama tirinya disebuah ruangan didalam rumah tersebut.
Nadhira menginat dengan jelas apa yang keduanya ucapkan, makhluk itu memiliki sebuah cara agar Nadhira masih tetap hidup meskipun banyak luka ditubuhnya, Mama tirinya sempat tidak mempercayai hal itu, sehingga makhluk itu menyuruhnya untuk mengikatnya demgan erat dan mengambil sebuah cambuk untuk melukai Nadhira.
Cambukan itu berhasil membuat Nadhira mengalami memar yang parah ditubuhnya, Nadhira merasakan cambukan demi cambukan yang diarahkan kepadanya saat itu, tetapi Nadhira tidak bisa berteriak karena makhluk itu menutup mulutnya.
Ketika tubuhnya mulai melemah, Sena segera membuka ikatan tersebut dan memastikan bahwa Nadhira sudah tidak bisa melawannya lagi, setelah itu ia membawa Nadhira kekamarnya dan menyelimutinya dengan tebal, karena luka tersebut membuat Nadhira jatuh sakit.
Rifki sedang membaca buku dikelasnya, hari ini ia begitu merasa kesepian karena tidak ada kehadiran dari Nadhira, ia paling tidak suka ketika seseorang tiba tiba mendatanginya dan sok akrab didepannya.
Batinnya sangat tersiksa ketika kemanapun ia pergi selalu diikuti oleh para gadis dibelakangnya, dan bahkan ketika ia dikamar mandi akan banyak anak cewek yang sedang berada diluar kamar mandi.
Ketika waktunya istirahat, Rifki segera bergegas keluar dari kelas itu dan berjalan menuju kearah kantin, ketika ia berada ditaman kelas tiba tiba seseorang menendangnya, tendangan itu segera ditangis oleh Rifki membuat orang yang menendangnya terjaruh, tak lama kemudian murid murid kelas lain berdatangan dan mengepung Rifki dari berbagai macam arah.
"Jangan sok ganteng kamu disekolah sini, gara gara kamu para gadis berlarian kearahmu". ucap seseorang yang telah menendang Rifki.
"Siapa yang sok ganteng? kalau mereka tidak ada yang mengejarmu, maka sadar diri aja".
"Kau berani melawan kami? kami adalah geng disekolah ini".
"Hanya geng disekolah saja berani seperti itu, hah, kalian membuang waktuku saja".
Tanpa aba aba Rifki segera meninggalkan tempat itu dan bergegas kekantin untuk mengisi perutnya yang lapar, jikalau Nadhira tidak masuk, para gadis merasa senang dan berlomba untuk mencuri perhatian dari Rifki.
"Boleh aku ikut duduk disini?". tanya seorang gadis mendatangi Rifki yang sedang makan.
__ADS_1
"Silahkan". Ucap Rifki,
Ketika gadis itu mulai duduk dihadapan Rifki, Ridki segera berdiri dan mencari kursi lain untuk didudukinya, ia sangat tidak nyaman ketika berdekatan dengan makhluk yang bernama perempuan, karena kebanyakan dari mereka hanya bisa berkata baik didepannya saja untuk mencuri perhatiannya.
Gadis itu yang melihat Rifki pergi meninggalkannya, wajahnya yang tadi terlihat bersemangat sekarang berubah menjadi cemberut dan marah. Rifki sama sekali tidak memperhatikan mimik wajah sang gadis yang ia tinggalkan.
"Kasihan sekali gadis itu, seandainya aku masih hidup pasti aku temani dia". Ucap Raka yang ada disamping Rifki.
Rifki menghela nafas mendengar ucapan Raka, bagi Raka perlakuan Rifki kepada mereka sangat tidak baik, tetapi bagi Rifki ini yang terbaik untuknya yang sangat tidak menyukai gadis gadis yang mengejarnya.
"Arghh.... Nadhira kapan kau masuk, tolong aku". Guman Rifki.
"Berisik ah kamu, diam napa, emang suaramu tidak bergema ditelingaku gitu ha?". Protes Raka.
Rifki segera berjalan kearah kelasnya, karena ia tidak ingin membuang-buang waktu ditempat itu, yang seperempat ditempat i oleh gadis,
"Hay tampan".
"Kok sendirian aja, sini aku temani".
"Boleh minta nomer hpnya ngak? bolehlah masak engak".
"Aku lagi jomblo loh, boleh dong kita kenalan".
Banyak sekali para gadis yang berbicara padanya ketika ia lewat didepan para gadis itu tanpa sengaja, karena ucapan itu membuatnya menambah kecepatan jalannya agar segera sampai dikelasnya.
"Kau tau, seluruh gadis disini begitu menyebalkan, padhal banyak juga yang tampan selain aku, kenapa harus aku yang mereka kejar". dengan sebalnya ia mengatakan hal itu pada Raka dengan bercampur kemarahan.
"Kenapa harus aku yang jadi sasaran kemarahanmu, emang apa yang telah aku lakukan? menyentuh mereka saja aku tidak mampu apalagi membuat mereka mengejarmu". Bantak Raka.
"Entah mengapa aku jadi merindukan Nadhira, kalau saja ada Nadhira disini saat ini, pasti mereka tidak berani mendekatiku".
"Kau ini laki laki masak iya harus berlindung dibalik punggung perempuan? malu lah".
"Diam kau, biarkan aku sedang merindu, kau tidak mengerti perasaanku saat ini".
"yaya aku memang tidak mengerti perasaan seorang manusia, karena aku hanyalah seorang roh yang berkeliaran, dan tanpa tujuan".
"Seandainya aku bisa menyentuhmu, akan ku pukul kau dengan tanganku sendiri".
Orang orang yang berada disekitar Rifki menjadi bingung karena melihat Rifki yang sedang berbicara sendiri, banyak yang menduga bahwa Rifki memang mampu melihat alam gaib, dan banyak juga yang beranggapan Rifki berbicara dengan hayalannya.
__ADS_1
Banyak anak lelaki juga yang menertawakannya, bagi mereka Rifki memang sudah tidak waras karena kekasihnya tidak masuk sekolah, membuatnya bicara dengan hayalannya, yang bahkan semua orang tidak dapat melihatnya.
Jangan lupa like :)