Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sebuah gelang tangan


__ADS_3

Siang hari yang cerah, Nadhira berserta teman temannya pulang sekolah. Nadhira pulang bareng bersama ke tiga sahabatnya seperti dulu, tetapi kali ini Nadhira sangat pendiam. Senyum yang selalu ia pancarkan tak lagi nampak diwajahnya, meskipun sahabatnya sedang bercanda gurau.


"Nadhira kamu ngak papa". Tanya Susi yang melihat pandangan Nadhira sedang kosong.


"Nadhira?". Giliran Bayu yang memanggilnya.


Rifki memegang pundak Nadhira mencoba untuk menyadarkan Nadhira dari lamunannya. Seketika tangan Rifki terasa seperti tersengat listrik, ketika Rifki melepaskan pegangan tangannya sontak membuat Nadhira tersadar.


"Ada apa?". Tanya Nadhira ketika ketiga sahabatnya memandanginya.


"Kamu kenapa Nadhira? Apa yang sedang kau fikirkan kenapa melamun". Tanya Bayu.


"Wajahmu juga pucat, apa kamu sakit?". Tanya Susi sambil memegang kening Nadhira untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Aku ngak papa kok, mungkin hanya kecapek an aja, istirahat sebentar pasti akan membaik". Jawab Nadhira


"Serius Dhir? dari tadi aku perhatikan kamu seperti banyak fikirkan, ceritalah siapa tau kita bisa membantu, jangan dipendam sendiri". Ucap Susi.


"Aku baik baik saja kok". Jawab Nadhira. "Mungkin hari ini baik baik saja, tapi entahlah kedepannya apakah semua akan baik". Batin Nadhira.


"Nadhira!!! Tuh kan ngelamun lagi". Rengek Susi.


"Eh.. aku dulu an ya teman teman...da"


Nadhira bergegas pergi sambil melambaikan tangannya kepada sahabatnya ketika ia mulai dekat dengan rumahnya. Bayu dan Susi bingung melihat sikap Nadhira yang tiba tiba berubah. Sedangkan Rifki semakin khawatir tentang kondisi Nadhira.


"Apa yang terjadi dengan Nadhira, kenapa sikapnya aneh sekali". Tanya Bayu.


"Iya, ngak seperti biasanya". Sela Susi.


Mendengar kedua temannya membicarakan tentang Nadhira, Rifki mengabaikan mereka, dan ikut bergegas pergi. Bayi berlari mengejar Rifki, dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa?". Tanya Rifki penasaran.


"Apa kamu dan Nadhira bertengkar? Ada masalah apa sih kamu sampai bertengkar dengan Nadhira, mungkin ia tidak nyaman karena ada kamu". Protes Bayu.


"Kenapa aku? Aku tidak ada masalah dengan dia, lagian siapa juga yang berantem, sudahlah aku mau pulang". Bela Rifki ketika disalahkan oleh Bayu.


Rifki bergegas menjauh, Susi yang melihat itu segera mendatangi Bayu dan menanyakan apa yang terjadi pada mereka berdua, bayu hanya menggelengkan kepalanya.


Sesampainya dirumahnya Nadhira segera membuka pintu rumahnya, Nadhira merasa terkejut karena ada orang asing yang ada diruang tamu, orang itu berusia sekitar 45 an, ia sedang membersihkan ruang tamu.

__ADS_1


"Siapa?". Tanya Nadhira.


"Ah... Non Nadhira ya, perkenalkan nama saya bi Ira, saya pembantu rumah tangga yang baru non, mulai bekerja hari ini".


"Oww... Bi Ira, yaudah bi saya mau kekamar dulu, ganti baju, semoga betah disini ya bi".


"Iya non"


Nadhira meninggalkan bi Ira yang sedang beberes rumah, ia tidak menduga bahwa anak majikannya yang ini sedikit berbeda dari yang satunya. Ia semakin kagum dengan Nadhira, dari seluruh penghuni rumah itu, hanya Nadhira yang sangat sopan kepadanya.


Setelah ganti baju Nadhira keluar kamar dan menemui pembantu barunya, Nadhira juga ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya bi Ira menolak ketika Nadhira ingin membantunya, tetapi Nadhira terus memaksa akhirnya bi Ira mengizinkannya tetapi masih ada perasaan tidak enak yang bi Ira rasakan.


"Bi Ira ngak perlu sungkan, aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini". Ucap Nadhira ketika melihat raut wajah khawatir bi Ira.


"Tapi non, sekarang kan ada bibi, biar bibi saja yang melakukannya". Bi ira mengambil piring kotor yang akan dicuci oleh Nadhira.


"Biarkan dia bekerja bi ira, itu tugasnya. Enak saja hanya numpang makan disini". Sewot Sena.


Mendengar ucapan mama tirinya, Nadhira merebut kembali piring yang ada ditangan pembantunya. Bi Ira hanya diam dan menunduk mendengar ucapan majikannya tersebut, ia merasa kasihan kepada Nadhira.


Ada sedikit rasa sesak didada Nadhira, tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan dari pembantu barunya, dengan keterpaksaan ia menerbitkan senyumannya agar ia terlihat baik baik saja.


Melihat Nadhira mulai mencuci piring, Sena bergegas pergi menonton acara tv diruang keluarga. Setelah selesai mencuci piring, Nadhira mendatangi bi Ira yang sedang memotong sayuran.


"Apa setiap hari seperti itu non, non kan anaknya kenapa ia memperlakukan non seperti itu?".


"Mama Dhira sudah tiada bi, mama Sena adalah mama tiri Dhira". Ucap Nadhira sambil menundukkan kepalanya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un, maaf non bibi tidak tau, maaf atas pertanyaan bibi". Panik bi Ira karena Nadhira menundukkan kepalanya.


"Ini bukan salah bibi, ini semua adalah takdir, oh iya bi, sini biar aku bantu".


Nadhira mengambil sayuran yang belum dipotong oleh bi Ira, dan mulai memotongnya. Nadhira merasa nyaman ketika berada dekat dengan bi Ira, justru sebalinya. Bi ira merasa tidak enakan ketika anak majikannya juga membantunya bekerja.


"Bi... Boleh ngak nanti malam aku tidur bersama bibi?". Tanya Nadhira dengan ragu.


"Tapi non, kamar yang bibi tempat i sangat kecil, ngak nyaman untuk non Nadhira".


"Pliss... Aku mohon bi,, boleh ya boleh?" Rayu Nadhira.


"Baiklah kalau non Nadhira memaksa, bibi hanya bisa mengiyakan". Pasrah bi Ira.

__ADS_1


Malam harinya Nadhira mendatangi kamar pembantunya, bi Ira. Meskipun kamarnya sempit tapi Nadhira tetap merasa nyaman berada didalam, mereka bedua saling berbagi cerita. Bi Ira menceritakan kehidupannya, Nadhira hanya mendengarkan dan sesekali bertanya kepadanya.


"Bi, aku merindukan mama".


Belum sempat bi Ira menjawab ucapan Nadhira, ia melihat bahwa Nadhira sudah terlelap dalam tidurnya. Bi Ira memandangi wajah Nadhira yang begitu tenangnya, ia mengusap kening Nadhira dengan lembut.


"Kasihan sekali anak ini, hatinya begitu baik sama seperti sahabatku aulia dulu, bagaimana ya kabarnya, sudah berapa tahun aku tidak melihatnya".


Bi Ira tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian kejadian yang pernah ia alami berdua dengan sahabatnya. Begitu banyak kenangan yang pernah mereka lewati, suka maupun duka mereka selalu bersama. Tak menyangka Aulia telah lama menghilang, dan mereka tidak pernah bertemu lagi.


*****


Keesokan paginya sangking nyamannya tidur dikamar pembantunya, Nadhira bangun kesiangan. Ketika Nadhira bangun ia sudah tidak menemukan keberadaan pembantunya, ia bergegas kekamarnya untuk mandi dan siap siap berangkat kesekolah.


Setelah selesai sarapan pagi, Nadhira berlari keluar rumah dan menemukan bahwa bi Ira sudah berada dihalaman depan sedang membersihkan halaman. Nadhira bergegas untuk mendatangi pembantunya tersebut.


"Bi....". Panggilan Nadhira.


"Ada apa non?". Tanya bi Ira.


"Bibi bisa masak ayam kecap?". Tanya Nadhira sambil tersenyum tipis.


"Bisa non, non mau dimasakkan kapan?".


"Nanti pulang sekolah bi, oh iya aku pulang jam 2 siang, nanti masak in ya bi, tadi aku lihat dikulkas ada daging ayam".


"Iya non, nanti bibi masakin".


Setelahnya Nadhira bergegas pergi kesekolah. Sesampainya disekolah ia segera duduk dimejanya, tak beberapa lama kemudian widya mendatanginya.


"Dhira".


"Iya ada apa wid?"


"Ini buat kamu". Widya menyodorkan sebuah gelang kepada Nadhira. "Aku ngak sengaja lewat depan toko aksesoris dan menemukan ini, aku lihat ini sangat cocok untukmu, aku membelinya untukmu dhira".


Nadhira menjulurkan tangannya kepada Widya. Widya mengerti maksud dari Nadhira, Widya segera memasangnya pada pergelangan tangan Nadhira. Melihat gelang itu sangat cocok untuk Nadhira membuat Widya tersenyum puas, begitu juga dengan Nadhira.


"Terima kasih". Ucap Nadhira.


"Sama sama, jangan sampai hilang, anggap saja ini adalah gelang pertemanan kita".

__ADS_1


"Iya Widya".


__ADS_2