Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Rencana keluar rumah diam diam


__ADS_3

Pak Santo segera bergegas menggendong tubuh Nadhira pergi dari tempat itu atas perintah dari Sarah, Nadhira yang menyaksikan itu hanya bisa berdiam diri tanpa adanya kata kata yang keluar dari mulutnya karena kondisinya yang melemah.


"Jangan pernah kau menemui Nadhira lagi! Jika kau datang kemari hanya untuk menyakiti dirinya saja lebih baik tidak usah datang sekalian, atau kau ingin aku membawanya pergi sangat jauh darimu sekarang ini? Jika sampai terjadi sesuatu dengan Nadhira, aku akan melaporkanmu dan membawamu kekantor polisi!" Ucap Sarah dengan marahnya kepada Rendi.


"Aku tidak melakukan apapun kepada Nadhira sebelumnya, tolong biarkan aku bertemu dengan Nadhira jangan membawa pergi dariku, Nadhira adalah anakku sendiri, bagaimana bisa kau memisahkan aku dengan anakku".


"Sejak kapan kau anggap Nadhira adalah anakmu? Jika memang dia adalah anakmu tapi apa yang telah kau lakukan pada anak anakmu itu ha? Menyiksanya? Ataukah membunuhnya? Kau bahkan sama sekali tidak peduli tentang kedua anak perempuanmu itu, apa mereka masih bernafas atau tidak, justru kau lebih mementingkan istri baru dan anak angkatmu itu daripada Nadhira dan Nandhita".


"Aku peduli dengan mereka, kau salah paham soal itu, maafkan aku".


"Baru sekarang kau meminta maaf? Apakah maafmu itu bisa mengobati sakit hati dan luka yang ada dihati Nadhira ataupun Nandhita yang selama ini telah kau torehkan kepada mereka berdua? Tidak kan? Maka jangan harap bisa mendapatkan maaf itu dari kedua putrimu itu Rendi".


"Tolong jangan pisahkan aku dari Nadhira dan Nandhita, aku adalah Ayah merka berdua yang selama ini telah membesarkan dirinya, aku mohon biarkan aku bertemu dengan Nadhira".


"Tidak akan! Jika hanya membesarkannya saja aku bisa mengganti uangmu itu, butuh berapa? Seratus juta? Atau satu miliar? Aku akan menggantinya, dan jangan pernah mengganggu hidup Nadhira lagi".


"Aku tidak butuh uangmu itu, aku hanya menginginkan Nadhira".


"Sadar Rendi, kau telah begitu banyak menyakiti hatinya, kau bahkan tidak tau kalau dia sedang terluka saat ini dan ...." Kata kata Sarah menggantung karena ia tidak bisa mengatakan bahwa Nadhira telah kehilangan satu ginjalnya hanya untuk lelaki yang ada didepannya itu.


"Apa yang terjadi dengan Nadhira? Katakan!".


"Bukan urusanmu, sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali".


Sarah segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk menyusul Pak Santo yang telah membawa Nadhira kembali masuk kedalam rumahnya itu, mereka segera membaringkan tubuhnya Nadhira dengan perlahan diatas kasurnya.


"Dhira apa yang terjadi denganmu Nak" Sarah terlihat begitu khawatir dengan kondisi Nadhira.


"Apa ngak apa apa kok Oma, hanya kelelahan saja" Jawab Nadhira dengan lemahnya.


"Cepat panggilkan dokter!".


"Baik Nyonya"


Tak beberapa lama kemudian seorang dokter cantik kepercayaan dari keluarga itu telah tiba dirumah tersebut dengan terburu buru karena panggilan dari orang seperti Sarah, dokter tersebut segera memeriksa keadaan Nadhira dan juga memeriksa tekanan darahnya.


Dokter itu beberapa kali mengerutkan keningnya ketika melihat tekanan darah Nadhira memalui tensinya, semuanya terlihat normal saja akan tetapi pernafasan Nadhira yang terlihat tidak setabil.


Perlahan lahan pernafasan Nadhira mulai kembali setabil karena bantuan dari Nimas, hal itu membuat dokter tersebut merasa lega ketika mengetahui bahwa kondisi Nadhira perlahan lahan mulai membaik saat ini.


"Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apa dia baik baik saja?" Tanya Sarah yang masih terlihat begitu cemas padahal Nadhira sendiri masih sadarkan diri.


"Nona Muda tidak apa apa, hanya kelelahan saja dan dia butuh waktu untuk istirahat yang cukup, setelah memberinya obat kondisinya akan perlahan membaik nantinya" Jawab dokter cantik itu.


"Syukurlah kalau Dhira baik baik saja, aku sangat lega mendengarnya, aku takut Dhira kenapa kenapa lagi".


"Terima kasih Dok" Ucap Nadhira.


"Sama sama Nona Muda, ini obat dan juga vitaminnya jangan lupa untuk diminum, kalau begitu saya permisi dulu" Ucapnya sambil menyodorkan beberapa pil kepada Nadhira.


"Baik Dok" Jawab Nadhira.


Dokter cantik itu segera bergegas meninggalkan kamar Nadhira diikuti oleh Bi Ira yang mengantarnya untuk keluar dari rumah itu, sementara Sarah masih ingin menemani cucunya dikamar itu.


"Dhira ngak apa apa kok Oma, Oma jangan terlalu menghawatirkan Dhira seperti ini, Oma dengar sendirikan apa yang dikatakan dokter cantik itu, Dhira hanya butuh istirahat sebentar saja Oma, nanti juga pasti akan membaik".


"Bagaimana Oma tidak khawatir denganmu? Apa yang telah lelaki itu lakukan kepadamu Dhira?".


"Papa tidak melukai Dhira kok Oma, hanya saja Dhira yang tiba tiba sakit, untung saja ada Papa tadi".


"Bagaimana mungkin itu terjadi! Pasti dia telah berbuat apa apa kepadamu".


"Tidak kok Oma".


"Sudahlah, kau istirahat saja, biar Oma yang menjagamu disini".


Nadhira segera memejamkan matanya untuk beristirahat, sementara itu Sarah masih tetap menjaga Nadhira dengan baik.


Sementara itu Rendi kembali pulang kerumahnya dengan kekecewaan karena dirinya tidak mampu untuk membawa Nadhira pulang kembali bersama dirinya, tapi dirinya juga merasa senang ketika mengetahui bahwa keluarga baru Nadhira sangat menyayangi Nadhira dan tidak menginginkan sesuatu terjadi kepada Nadhira apalagi Sarah yang sangat menyayangi Nadhira dengan tulusnya itu.


Amanda yang melihat kedatangan Rendi dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu lesu segera mendatangi Rendi, Amanda tidak tau apa yang terjadi dengan Papanya itu sekarang sehingga Papanya terlihat sedih dan kecewa seperti itu.


"Papa dari mana?" Tanya Amanda.

__ADS_1


"Papa hanya ingin bertemu dengan Dhira sebentar saja, Papa sangat merindukan dirinya".


"Sudah ku bilang! Jangan pernah menemui dia lagi, aku tidak suka kalau Papa datang menemui dirinya itu" Ucap Amanda dengan marahnya.


"Manda, Dhira juga anakku dan aku berhak untuk menemuinya".


"Dhira bukan anak kandung Papa! Kenapa sih Papa masih saja membelanya! Aku akan membuat Papa melupakannya untuk selama lamanya!".


"Apa yang akan kau lakukan Manda!".


"Bukan urusan Papa".


"Manda berhenti!".


*****


Nadhira terbaring dalam tidur siangnya, melihat Nadhira yang sudah terlelap dalam tidurnya membuat Sarah lebih tenang untuk meninggalkannya dari tempat itu, Sarah segera bergegas untuk melakukan aktivitasnya sehari hari.


Mendengar seseorang yang membuka dan menutup pintu kamarnya membuat Nadhira terbangun dari tidurnya yang nyenyak, Nadhira merasakan bahwa tubuhnya kembali vit lagi setelah istirahat cukup.


"Gimana keadaanmu Dhira? Sudah membaik daripada sebelumnya?" Tanya Nimas yang baru saja datang.


"Aku merasa sudah enakan kok Nimas, sebenarnya apa yang terjadi denganku?".


"Aku merasakan bahwa telah terjadi sesuatu kepada pemilik keris pusaka xingsi, itulah sebabnya permata iblis itu bereaksi hingga membuatmu kesakitan seperti tadi ketika merasakan bahwa pemilik pusaka itu dalam bahaya, kalaupun terjadi sesuatu dengan dirimu maka pemilik keris pusaka xingsi itu juga merasakan hal yang sama dan aku sendiri juga pernah merasakan hal yang sama seperti ini ketika Panji terluka dulu".


"Pemilik pusaka xingsi? Semoga dia baik baik saja sekarang, karena aku tidak merasakan sakit lagi saat ini".


"Semoga saja Dhira, aku juga berharap bahwa orang itu mampu melewati bahaya yang ia hadapi saat ini dengan keadaan baik baik saja".


"Lalu bagaimana jika salah satu dari benda itu hancur? Apakah keduanya juga akan hancur bersama sama?".


"Jika permata ini hancur maka pemilik keris itu merasakan sakit yang teramat sangat tapi dia masih mampu untuk bertahan, tapi jika keris itu hancur aku tidak tau lagi akan terjadi seperti apa pada dirimu".


Nadhira masih belum mengetahui siapa pemilik dari keris pusaka xingsi sampai saat ini, karena pemilik keris pusaka itu adalah Rifki, Rifki tidak pernah menceritakan tentang dirinya yang telah memiliki keris pusaka xingsi ketika dirinya berumur 17 tahun.


Nadhira hanya mengetahui bahwa keris itu telah lama menghilang dari dunia ini, sehingga ketika dirinya tiba tiba merasakan hal seperti ini membuatnya merasa terkejut, Nadhira berdoa semoga tidak terjadi sesuatu dengan orang yang telah memiliki keris pusaka xingsi itu.


Bahaya apa yang telah menimpa pemilik keris pusaka xingsi itu sehingga membuat Nadhira merasakan kesakitan karena ikatan yang kuat antara keris pusaka xingsi dan juga permata iblis, tidak biasanya dia akan merasakan hal seperti ini dan itu artinya bahaya itu terlalu besar terjadi kepada pemilik dari keris pusaka itu.


"Kenapa aku jadi kepikiran dengan Rifki? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, semoga dia juga baik baik saja disana" Ucap Nadhira ketika teringat nama keris pusaka xingsi diucapkan membuatnya teringat tentang sosok Rifki.


"Kenapa kau tidak mendatangi markas besar Gengcobra saja dan bertanya kepada temanmu yang ada disana mengenai kabar Rifki?".


"Ide yang bagus, tapi aku sangat takut untuk datang kesana tanpa Rifki bersamaku, mungkin semua orang yang ada disana telah banyak berubah".


"Bukankah banyak anggota disana yang sangat mengenalimu Dhira? Apalagi dengan Bayu, Reno, dan Vano, kalian kan begitu akrab".


"Itu kan dulu Nimas, aku tidak tau mereka sudah berubah atau tidak saat ini, lagian penjagaan disana juga begitu ketat apalagi terhadap diriku yang bukan bagian dari mereka, dan bisa saja kan banyak anggota yang masuk kesana dan mereka tidak mengenaliku".


"Ah iya kau benar, bisa bisa kau malah langsung ditendang setelah sampai disana, karena kan secara umum geng itu begitu rahasia".


"Aku ingin kedanau tempat dimana aku dan Rifki sering bermain disana, kali aja aku bisa bertemu dengan anggota Gengcobra disana".


"Pergilah, tapi aku sangat ragu apakah Omamu itu akan mengizinkan dirimu untuk pergi setelah kejadian pagi ini? Kalau pergi diam diam kau akan membuat keributan ditempat ini karena ini berbeda dari rumahmu sebelumnya Dhira".


"Kau benar, lalu apa yang harus aku lakukan?".


"Mungkin dengan mengajak Theo?"


"Tidak bisa, aku selalu merepotkannya dalam urusanku lagian Oma juga tidak bakal mengizinkan aku pergi dengannya setelah pulang dari desa Flamboyan itu, apalagi dengan kejadian tadi Pagi, kau tau sendirikan mengenai omelan seorang wanita? Jaman dulu mungkin akan diungkit ungkit kembali, mungkin dari jaman Suharto juga akan ikut ikutan".


"Iya sama seperti dirimu, kau bahkan kalau kecewa pun pasti akan mengungkit masalaluku".


"Emang dulu waktu kau hidup ngak seperti itu? Mungkin kekasihmu itu akan sangat bosan untuk mendengarkan ocehanmu itu".


"Kenapa harus bahas dia lagi sih, aku sangat bosan tau, apalagi hanya sekedar mendengar namanya saja" Ucap Nimas dengan cemberutnya.


"Biar bagaimanapun kau dulu juga pernah jatuh cinta kepadanya bukan? Tidak baik membenci seseorang terlalu dalam, apa kau tidak takut kalau rasa benci itu akan berubah menjadi cinta?".


"Bagaimana bisa aku mencintainya kembali? Itu tidak akan mungkin terjadi".


"Ya siapa tau, takdir tidak ada yang bisa menebaknya bukankah kau sudah tau itu?".

__ADS_1


Nimas tidak bisa melupakan sosok orang yang pernah dicintainya itu sebelum akhirnya menjadi sosok yang paling dibenci olehnya sejak mengetahui bahwa orang yang paling dicintainya adalah anak dari orang yang telah membantai habis keluarganya.


Nadhira segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintunya sedikit untuk memeriksa situasi yang ada diluar kamarnya, nampak rumah itu terlihat cukup sepi dan dia tidak mendapati tanda tanda Omanya dari luar kamarnya saat ini.


"Sepertinya aman Nimas".


"Kau beneran mau keluar dari sini sekarang Dhira?".


"Kenapa tidak? Kalau bukan sekarang sepertinya aku tidak akan tenang sebelum aku mengetahui tentang keadaannya itu".


Melihat situasi yang menurut Nadhira sudah aman membuat Nadhira segera keluar dari dalam kamarnya dengan perlahan lahan seperti seorang maling yang masuk kedalam rumah mangsanya dengan diam diam takut ada orang yang melihatnya.


Nadhira melangkah dengan sangat pelannya dan bahkan suara langkah kakinya saja dibuat tidak terdengar oleh siapapun, tanpa ia sadari bahwa Bi Sari tengah memperhatikannya dengan diam diam juga sesuai dengan perintah dari Sarah, ia pun segera bersembunyi dibalik shofa yang ada diruang keluarga rumah itu.


"Non Dhira mau kemana? Aku harus melaporkan ini kepada Nyonya, ini berita yang sangat besar bagi Nyona" Guman Bi Sari pelan.


Dengan diam diam juga Bi Sari segera pergi untuk melapor kepada majikannya itu, sementara Nadhira masih tetap berhati hati untuk melangkah menuju kepintu keluar rumah barunya itu.


"Sepertinya aman untuk keluar sekarang" Guman Nadhira pelan.


Dengan perlahan lahan Nadhira melangkah mendekat kearah pintu yang ia tuju, dan dengan perlahan lahan Nadhira mencoba membuka pintu itu agar tidak ada yang mendengarnya keluar dengan diam diam dari kamarnya.


Dengan pelannya Nadhira mulai membuka pintu tersebut dan nampaklah lingkungan sekitarnya yang ada dihalaman depan rumah Nadhira, ketika dirinya akan melangkah tiba tiba ada yang menyentuh pundaknya dengan pelan.


"Nimas, sejak kapan kau bisa menyentuh diriku seperti ini? Bukankah kau tidak bisa melakukan itu sebelumnya? Lalu kenapa tanganmu begitu berat seperti ini?" Tanya Nadhira dengan pelannya tanpa menoleh kebelakang dan dia berpikir bahwa itu adalah tangan dari Nimas, karena tidak ada yang tau selain Nimas.


"Dhira bukan aku yang menyentuh pundakmu itu, sampai sekarang aku juga tidak bisa menyentuhmu" Ucap Nimas dengan sedikit takut.


"Lalu siapa yang saat ini sedang menyentuhku kalau bukan kamu Nimas, jangan bercanda deh Nimas".


"Aku tidak bercanda Dhira, memang bukan diriku yang menyentuhmu".


"Lalu siapa yang melakukannya!".


"Menolehlah kebelakang Dhira, kau akan tau dengan sendirinya nanti".


Nadhira hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payahnya untuk melakukan itu, jika bukan Nimas yang menyentuhnya itu artinya ada orang lain yang mengetahui tentang rencananya itu, Nadhira dengan perlahan lahan mulai membalikkan badannya dan mendapati sosok seseorang tengah berdiri dengan tegak dibelakangnya.


"Oma.." Ucap Nadhira dengan tersenyum pahit ketika mengetahui bahwa Omanya sudah berada dibelakangnya dan kini ia tidak bisa mengelak lagi.


"Mau kemana Dhira?" Tanya Omanya dengan nada manis dan mencengkeram bagi Nadhira sendiri.


"Itu Oma, anu, Dhira mau mengambil tongkat, ah iya mengambil tongkat Dhira yang ada dipos satpam" Dengan gugup Nadhira mengatakan itu, ia tidak menyangka akan mengatakan alasan seperti itu, karena ia tau bahwa tongkatnya ada dikamarnya.


"Tapi tadi Oma lihat tongkatmu ada dikamarmu Dhira, kenapa sekarang bisa berada dipos satpam? Apakah dia punya kaki untuk bisa berpindah dengan cepatnya seperti itu?"


"Dikamar? Bagaimana bisa Oma? Kalau begitu Dhira kembali dulu kekamar" Ucap Nadhira dengan ragu.


"Baguslah, silahkan kembali kekamarmu dan istirahatlah dengan benar, jangan mencoba untuk kabur lagi dari rumah".


"Sial, bagaimana Oma bisa tau" Umpat Nadhira dalam batinnya karena begitu kesalnya.


Kali ini Nadhira gagal untuk mendapatkan alasan yang tepat agar dia bisa keluar dari rumah itu dan ternyata Omanya lebih teliti daripada apa yang dia rencanakan itu, melihat Nadhira yang kembali masuk kedalam kamarnya membuat Sarah sedikit merinding karena sebelumnya Nadhira tengah berbicara sendiri.


Nadhira segera kembali kedalam kamarnya dengan rasa kecewanya karena gagal untuk dapat keluar dari rumah itu dengan diam diam, Nadhira segera menutup kembali pintu kamarnya dan segera menjatuhkan dirinya diatas kasur yang ada didalam kamarnya saat ini.


"Omamu itu lebih pintar daripada dirimu ya Dhira, belum juga keluar rumah sudah tau aja dia".


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau Oma sudah melihatku".


"Aku juga tidak tau Dhira, aku hanya fokus dengan dunia luar rumahmu sama seperti dirimu, siapa sangka Omamu itu sudah berada dibelakangmu saat itu"


"Lalu bagaimana aku bisa keluar sekarang? Cari cara yang lainnya dong Nimas, jangan diam saja seperti itu dong" Ucap Nadhira dengan kesalnya karena rencananya gagal.


"Jadilah seperti diriku maka kau akan bisa keluar masuk dengan mudah tanpa diketahui banyak orang, bukankah itu ide bagus?".


"Kau menginginkan aku mati seperti dirimu begitu ha? Sia sia aku mencari saran darimu, yang ada malah menyesatkan diriku, meskipun bukan keluar masuk rumah diam diam kau juga tidak kelihatan oleh orang orang!".


"Apa kau lagi pms sekarang Dhira? Kenapa dari tadi kau marah marah ngak jelas dan sensitif seperti itu sih padaku? Lebih menakutkan daripada singa betina".


"Emang aku mirip singa betina?"


"Bukan hanya mirip, kau memang adalah singa betina".

__ADS_1


"Enak aja kalo ngomong itu".


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih...


__ADS_2