
Nadhira sedang memainkan anak panah yang ada ditangannya saat ini, ujung anak panah itu terlihat begitu tajam dan begitu kuat untuk dipakai memanah dalam jarak yang begitu jauh juga, Nadhira memilih anak panah dan busur yang begitu kuat sebelum membelinya karena dirinya begitu hafal dan paham dalam memilih besi yang bagus untuk anak panah dan busurnya.
Nadhira segera memasang anak panah pada busurnya dan memfokuskan diri pada sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, dari jarak pandang Nadhira sendiri, Nadhira dapat melihat seseorang yang tengah bersembunyi dibalik semak semak yang ada didepan rumahnya saat ini.
"Siapa orang itu? Kenapa dia mengawasi rumahku seperti itu? Apa dia ingin berniat jahat pada keluargaku dan menunggu diriku lengah untuk melakukan kejahatannya" Ucap Nadhira sambil memincingkan sebelah matanya.
Nadhira lebih memfokuskan sasaran anak panahnya kepada orang itu daripada papan kayu yang telah dipasang oleh Pak Santo sebelumnya, Nadhira dapat melihat dengan jelas bahwa ada orang yang tengah bersembunyi dibalik semak semak yang tidak jauh dari rumah Nadhira saat ini.
"Apa yang diinginkan oleh orang itu sebenarnya? Kenapa sampai sekarang belum bertindak juga".
Nadhira begitu fokus pada sasarannya saat ini, ia tidak menyangka bahwa adanya seseorang yang tengah mengawasi rumahnya sedari tadi, rumah yang ia tempati memanglah rumah yang sangat besar sehingga rumah itu sering kali menjadi incaran bagi orang orang yang ingin berniat jahat karena mereka berfikir bahwa rumah itu menyimpan harga begitu banyak didalamnya.
Nadhira mengarahkan anak panahnya kepada orang tersebut akan tetapi orang itu seakan akan tidak terganggu dengan anak panah yang sedang diarahkan kepadanya saat ini, orang itu berfikir bahwa Nadhira tidak akan sanggup untuk melukai dirinya sehingga ia terlihat begitu santainya.
"Jangan harap kau bisa lari dariku!"
Syuutt.... Jlebb...
"Gawat!".
Srekkk....
Nadhira segera melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai baju dari orang tersebut dan langsung menancap pada pohon yang ada dibelakangnya, hal itu membuat orang tersebut begitu ketakutan dan berniat untuk lari menjauh.
Nadhira tidak berniat untuk melukai orang tersebut akan tetapi Nadhira ingin menghentikan orang itu dan menanyakan kepada orang tersebut terus saja mengawasi rumahnya dalam jarak yang lumayan jauh dari tempat dimana Nadhira berlatih saat ini.
Siapa sangka bahwa anak panahnya itu mampu mengenai baju dari orang tersebut sehingga membuat orang itu tidak bisa pergi dari tempat tersebut karena bajunya yang tersangkut oleh anak panah yang dilontarkan oleh Nadhira.
"Tunggu! Jangan lari kau!" Teriak Nadhira.
Nadhira segera bergegas menuju keluar dari halaman rumahnya untuk mengejar orang tersebut, dengan ketakutannya membuat orang itu harus merobek bajunya agar bisa lari dari tempat itu secepat mungkin agar Nadhira tidak mampu untuk menangkapnya.
Nadhira dapat melihat dengan jelas bahwa orang tersebut tengah berusaha untuk merobek bajunya dari anak panah yang tidak bisa ia lepaskan itu karena panah tersebut terlalu dalam menancap kepada sebuah pohon sehingga ia harus berusaha untuk merobek pakaiannya.
"Jangan lari!" Teriak Nadhira.
Melihat Nadhira yang berlari keluar dari halaman rumahnya membuat Pak Santo ikut segera berlari dari tempatnya sebelumnya, Nadhira terus mengejar orang tersebut sementara Pak Santo segera mengejar Nadhira yang berlari keluar.
Mereka sedang berada dalam kejar kejaran, orang tersebut begitu ketakutannya ketika melihat Nadhira dan juga seorang satpam sedang mengejar dirinya secara bersamaan sehingga orang itu berusaha sebisa mungkin untuk pergi secepatnya dari tempat itu sebelum ketahuan banyak orang.
"Jangan lari! Hentikan!" Teriak Pak Santo.
"Berhenti! Jangan kabur!" Teriak Nadhira dan terus berlari untuk menghentikan orang itu.
"Non! Jangan cepat cepat larinya".
"Pak lebih cepat sedikit dong! Keburu orangnya kabur malah jauh nanti"
"Iya Non, iya".
Nadhira terus menerus mengejar orang tersebut meskipun perutnya kini terasa sedikit sakit karena berlari cukup jauh dipagi ini, Nadhira seperti sangat mengenali orang yang tengah ia kejar sekarang.
Mulai dari larinya dan juga bentuk tubuhnya, Nadhira sangat mengenali orang tersebut, hal itu membuat Nadhira mengingat dimana dia pernah bertemu dengan postur tubuh seperti itu sebelumnya, akan tetapi dirinya segera mengingatnya tak beberapa lama kemudian.
"Kenapa aku seperti mengenal orang itu".
Nadhira terus mengejar orang tersebut yang berlari menjauh dari dirinya, entah untuk apa orang itu terus mengawasi rumah Nadhira sejak pagi tanpa melakukan kegiatan apapun.
Nadhira berusaha untuk menghentikan langkah dari orang itu yang semakin lama semakin cepat untuk menjauh dari Nadhira, akan tetapi Nadhira tidak tinggal diam begitu saja melainkan ia terus mengejarnya sampai dapat.
"Papa! Tunggu Dhira" Teriak Nadhira.
"Bagaimana dia bisa mengenaliku dengan mudah" Batin orang itu.
"Aku tau bahwa kau adalah Papaku, hentikan! Jangan berlari menghindar dariku lagi Pa".
__ADS_1
Mendengar Nadhira memanggilnya Papa, membuat orang tersebut segera menghentikan larinya, Nadhira tau bahwa orang itu adalah Rendi yang sengaja diam diam mendatangi rumahnya, melihat Rendi berhenti berlari hal itu juga membuat Nadhira menghentikan larinya begitu juga dengan Pak Santo.
"Non, apa kau mengenali dia?".
"Pak Santo tenang saja, aku kenal dengan dirinya kok, Bapak bisa kembali ke pos Bapak sekarang".
"Tapi Non, saya takut kalau Non Dhira dalam bahaya nantinya".
"Aku ngak apa apa kok Pak, tinggalkan aku sendiri sekarang Pak, aku ingin bicara berdua dengan Papa kandungku sendiri".
"Tapi Non".
"Aku tidak suka dibantah Pak, turuti saja keinginan ku".
"Baik Non, Non harus berhati hati".
Nadhira hanya mengangguk kepada Pak Santo, membuat Pak Santo dengan terpaksa menjauh dari tempat itu, dan Rendi sama sekali tidak menoleh kearah dimana Nadhira berada, justru dia hanya berdiri membelakangi Nadhira.
"Aku tau, kau adalah Rendi Papaku, sudah cukup jangan menghindariku lagi Pa, jangan lari lagi dariku, seberapapun Papa hebat dalam menyembunyikan identitas Papa, aku masih mampu untuk mengetahuinya Pa".
"Bagaimana bisa kau mengetahui tentang diriku?".
"Kenapa Papa datang kemari? Bagaimana bisa seorang anak tidak mengenali orang tuanya sendiri? Meskipun Papa menutupi wajah Papa dariku, aku masih dapat mengenali Papa dengan mudah, Pa! Jangan tinggalkan Dhira"
Rendi segera membalikkan badannya dan menatap kearah Nadhira, Nadhira tersenyum bahagia ketika mengetahui bahwa Rendi ada didepannya saat ini, akan tetapi senyum tersebut seketika berubah menjadi kesedihan ketika mengingat apa yang terjadi kepada Mamanya dan juga Dwija.
"Apa kau masih peduli dengan Papamu ini Nak?"
Rendi perlahan lahan berjalan mendatangi Nadhira, sementara Nadhira hanya bisa berdiam diri ditempat dirinya berdiri saat ini, Rendi menyentuh pipi Nadhira dengan sayangnya.
"Apa kau tidak merindukan diriku Nak? Sepertinya kau sudah bahagia dengan keluarga barumu sehingga kau melupakan diriku, kenapa kau tidak datang ketika Papa sakit?" Tanyanya.
"Maafkan aku Pa, aku menyuruh Oma untuk merahasiakan semuanya dari Papa, aku memang telah datang tapi aku tidak bisa bertemu dengan Papa waktu itu, melihat Papa baik baik saja sudah cukup bagi Dhira" Batin Nadhira.
Melihat tidak ada respon dari Nadhira membuat Rendi segera melepaskan pelukannya itu dan menatap kearah wajah Nadhira dengan lekat lekat, Nadhira masih tetap berdiam diri sambil menatap kearah wajah Rendi.
"Sepertinya kau sudah tidak menginginkan diriku hadir dalam hidupmu Nak, aku akan berusaha untuk pergi menjauh darimu, sesuai dengan keinginan mu Dhira" Ucap Rendi dengan sedihnya ketika melihat Nadhira hanya diam.
"Papa sakit apa selama ini? Kenapa tidak pernah memberitahu Dhira sebelumnya kalau Papa sakit?"
Mendengar suara lirih Nadhira membuat Rendi kembali menampakkan senyum diwajahnya kepada Nadhira, ia pun kembali memeluk tubuh putrinya itu dengan eratnya, sementara Nadhira hanya memejamkan matanya merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Rendi kepadanya.
"Papa mengalami kecelakaan parah, kenapa kau tidak hadir untuk menjenguk Papa walau hanya sesaat saja, Papa terus menunggu kedatanganmu Nak, tapi kenapa kau tidak datang meskipun hanya sekedar melihat kondisi Papa saja".
"Maafkan Dhira, karena Dhira tidak bisa menjenguk Papa waktu itu, Dhira tidak tau kalau Papa mengalami kecelakaan waktu itu, lalu bagaimana kondisi Papa sekarang? Apakah masih ada sakit yang Papa rasakan saat ini?"
Seandainya Rendi tau bahwa saat itu Nadhira telah hadir untuk menjenguk dan bahkan telah mengorbankan ginjalnya untuk Rendi, mungkin Rendi tidak akan pernah berkata seperti itu kepada Nadhira saat ini, karena apa yang dilakukan oleh Nadhira begitu besar kepadanya.
"Sudah tidak terasa lagi sakitnya sekarang, sekarang Papa merasa begitu senang karena dapat bertemu dengan dirimu Dhira, beberapa hari ini, Papa selalu datang kemari tapi tidak pernah melihatmu ada dihalaman seperti sekarang ini".
"Jadi Papa selalu memantau rumahku dari kejauhan seperti tadi? Kenapa Papa tidak masuk saja jika ingin bertemu dengan diriku?".
"Aku tidak berani Nak, aku tidak berani bertemu dengan keluarga barumu itu Dhira, aku hanya ingin bertemu denganmu dan memastikan bahwa kamu baik baik saja tinggal bersama mereka".
"Papa tidak perlu khawatir ataupun cemas soal diriku ini, aku pasti akan baik baik saja kok Pa, apakah Amanda memperlakukan Papa dengan baik selama ini? Kenapa Papa terlihat kurusan seperti ini?".
"Amanda baik kok sama Papa, Papa hanya terus kepikiran dengan dirimu Dhira, Dhira sendiri tidak pernah menjenguk Papa walaupun hanya sekali saja, apakah kesalahan yang telah Papa lakukan begitu sulit untuk kau maafkan? Sampai sampai kau melupakan diriku ini".
"Dhira menjenguk Papa kok dengan diam diam, Dhira tidak ingin Oma mengetahuinya, waktu itu Papa belum sadarkan diri sehingga Papa tidak melihat bahwa Dhira juga ada".
"Benarkah? Kenapa tidak memberitahu Papa, Papa terus menunggu kedatanganmu Dhira, Papa sangat sedih ketika kau tidak datang untuk Papa".
"Maafkan Dhira Pa, sejak kejadian waktu itu, Dhira pikir bahwa Papa telah membenci Dhira sampai sampai Papa tidak hadir ketika Dhira dirawat dirumah sakit waktu itu".
"Papa tidak pernah membenci Dhira, maafkan Papa waktu itu yang tidak bisa mempercayai ucapan Dhira soal Sena".
__ADS_1
"Semuanya sudah terjadi Pa, seandainya Dhira berada diposisi Papa waktu itu, Dhira pasti akan melakukan hal yang sama".
"Apa kau membenci Papa?".
Nadhira mengajak Rendi untuk duduk disebuah bangku yang ada disekitar tempat itu, sementara Rendi hanya mengikuti ajakan Nadhira saja, bertemu dengan Nadhira kali ini adalah hal yang membahagiakan bagi dirinya sendiri.
"Bagaimana aku bisa membenci Papa? Papa adalah orang yang paling berarti bagi Dhira"
"Jika seperti itu, pulanglah bersama Papa Nak, Papa tidak ingin berpisah dengan dirimu seperti ini Dhira, kembalilah bersama Papa, Papa janji kepada Dhira bahwa Papa tidak akan pernah menyakiti Dhira lagi, Papa akan selalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dhira, Papa tidak akan meragukan Nadhira lagi".
"Aku tidak bisa pulang Pa, ini kehidupan baru Dhira dan Dhira tidak memiliki jalan untuk kembali".
"Kenapa harus seperti itu Nak? Apa kesalahan yang telah Papa lakukan begitu besar kepadamu? Papa benar benar minta maaf kepadamu Nak".
"Soal itu aku tidak bisa lakukan Pa, Papa tidak perlu meminta maaf kepada Dhira, Papa sendiri juga tidak pernah jujur kepada Dhira soal kasus yang menimpa Mama Lia waktu itu".
"Apa kau masih mencurigai Papa bahwa Papa ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami oleh Lia waktu itu? Papa tidak pernah menginginkan kecelakaan itu terjadi Nak".
"Aku sudah mengetahui semuanya Pa, tidak ada yang perlu ditutupi dari Dhira, sakit rasanya jika harus mendengar sebuah kebenaran dari mulut orang lain, bukan dari Papa sendiri, Dhira bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan mudah Pa".
"Dhira, maafkan Papa, Papa tidak bermaksud untuk menutupi segalanya darimu, Papa hanya tidak tau bagaimana caranya untuk mengatakan hal ini kepadamu dan juga Nandhita".
"Bagi Dhira, semuanya sudah berlalu Pa, tidak ada yang perlu untuk disesali, meskipun menangis darah sekalipun itu tidak akan pernah mampu untuk mengembalikan nyawa Mama kepadaku Pa, Dhira hanya merasa dibohongi oleh Papa".
Nadhira begitu merasa sedih ketika dirinya mengingat tentang apa yang terjadi kepada Lia melalui cerita yang dikatakan oleh Dwija, dan Nadhira pun merasa sangat bersalah karena tidak dapat menyelamatkan nyawa Dwija dari ledakan bom tersebut yang membuat tubuh Dwija hancur.
Nadhira merasa sangat terluka ketika Rendi lebih memilih Amanda daripada perasaannya selama ini, Dwija adalah Ayah dari Amanda tapi Rendi lebih memilih untuk memiliki Amanda dan Sena, sehingga membuat Dwija harus kehilangan kedua orang itu.
Bagi Nadhira kembali tinggal bersama Rendi adalah sebuah hal yang tidak akan pernah mungkin untuk terjadi, mengingat Rendi sama saja dengan mengingat tentang kejadian yang menimpa kepada Mamanya waktu itu karena keegoisan dari Rendi yang lebih memilih Sena daripada Lia.
Meskipun Sena sudah berada didalam penjara akan tetapi kejahatannya selama ini begitu besar dan dirinya juga telah tega melakukan hal yang mampu menghilangkan nyawa dari mantan suaminya sendiri dengan cara yang mengenaskan seperti dengan menaruh sebuah bom kepada dirinya.
"Maafkan Papa, Papa tidak bisa menyelamatkan Lia sebelumnya, Papa menyesali segalanya Dhira, Papa tidak tau kalau mobil itu dengan sengaja dibuat rem blong sebelumnya".
"Dan pelakunya adalah orang suruhan Mama Sena".
"Bagaimana kau tau hal itu Dhira?"
"Papa tau? Aku bertemu dengan Pak Dwija, dan dia menceritakan segalanya kepadaku".
"Dwija masih hidup? Sudah lama dia menghilang, tidak ada yang mengetahui tentang keberadaannya selama ini, dimana kau bertemu dengannya?".
"Jadi Papa tidak tau tentang Pak Dwija?".
Nadhira begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Rendi bertanya tentang Dwija yang masih hidup, Rendi sama sekali tidak mengetahui tentang kejadian yang telah menimpa Dwija selama ini, yang Rendi ketahui hanyalah Dwija yang tiba tiba menghilang setelah bercerai dengan Sena.
"Apa yang telah dikatakan Dwija kepada Nadhira yang tidak aku ketahui sebelumnya? Semoga saja dia tidak menceritakan segalanya tentang kebenaran siapa sebenarnya Nadhira, aku tidak ingin kehilangan Nadhira setelah dia mengetahui identitasnya" Batin Rendi.
Rendi merasa tidak tenang ketika Nadhira menyinggung soal Dwija didepannya, seakan akan ada sebuah rahasia yang sedang disembunyikan olehnya dan tidak ingin Nadhira mengetahui rahasianya itu.
Dwija belum sepenuhnya memberitahukan sebuah rahasia kepada Nadhira, yang dikatakan oleh Dwija adalah sebuah hal yang harus diketahui oleh Nadhira akan tetapi tidak dengan asal usulnya yang masih dirahasiakan olehnya itu.
"Pa? Kenapa Papa tiba tiba diam? Apa Papa sebenarnya tau tentang kejadian yang dialami oleh Pak Dwija sebelumnya?" Tanya Nadhira ketika melihat Rendi diam membisu.
"Kejadian apa maksudmu? Apa Dwija mengatakan sesuatu kepadamu?".
"Sesuatu gimana maksud Papa? Dia hanya memberitahukan tentang kecelakaan yang dialami oleh Mama kepadaku waktu itu".
"Dimana Dwija sekarang tinggal? Aku ingin bertemu dengan dirinya, untuk membicarakan sesuatu dengannya, apa kau bisa mengantarku untuk dapat menemuinya sekarang?".
"Papa terlambat, Pak Dwija sudah tiada beberapa hari yang lalu didesa Flamboyan".
"Tiada maksudnya gimana? Apa yang terjadi dengan dirinya? Apakah dia sudah .....".
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1