Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pulang Camping


__ADS_3

Setelah semuanya selesai membersihkan halaman disekitar perkemahan mereka segera berkumpul ditempat yang telah ditentukan oleh bapak dan ibu guru mereka.


"Sebelum kita meninggalkan tempat ini, semoga acara kita kali ini bisa menjadi motivasi untuk kalian, agar tetap kompak untuk kedepannya, jika ada tutur kata atau ucapan kami yang tidak enak dihati adik adik sekalian, kami anggota OSIS mengucapkan maaf yang sebesar besarnya". Ucap ketua OSIS.


"Sama sama".


"Oh iya, ibu pesan, apa yang ibu sampaikan kemarin kalian terus mengingatnya, hormati kedua orang tua, sayangi mereka selama masih ada didunia ini". Ucap bu Martha.


"Iya bu".


Mereka bergegas untuk turun dari bukit tersebut dan menuju ketempat bus yang akan mengantarkan mereka kesekolah sudah terparkir rapi ditepi jalan tersebut.


Seluruh siswa dan para guru segera memasuki bus tersebut dan menata tempat duduk mereka masing masing, setelah semuanya selesai bus tersebut melaju menuju ke sekolahan.


Rifki duduk disebelah Nadhira, ia terus memperhatikan ekspresi wajah Nadhira yang sejak pagi terus tersenyum dan bertingkah begitu ceria, melihat senyuman itu entah mengapa membuat Rifki merasa senang dan juga gelisah.


"Kenapa kamu terus tersenyum? Apa ada yang lucu?". Tanya Rifki.


"Aku ngak tau, rasanya seluruh bebanku menghilang begitu saja". Jawab Nadhira sambil meringis.


"Biar aku periksa".


Rifki menggerakkan tangannya untuk memeriksa denyut nadi Nadhira, Rifki dapat merasakan denyutan itu begitu stabil tidak ada yang aneh sama sekali.


Rifki menggerakkan lagi tangannya untuk memegang punggung Nadhira untuk merasakan energi dari permata tersebut, ia masih merasa energi permata itu didalam tubuh Nadhira, tetapi ia juga merasa adanya energi yang dimaksud oleh mahkluk bayangan tersebut.


"Ngak ada yang aneh". Ucap Rifki.


"Emang kamu juga merasakan apa yang aku rasakan Rif, aku merasakan sesuatu seakan akan sesuatu itu melemahkan energi permata". Ucap Raka.


Rifki terdiam cukup lama memikirkan apa yang dikatakan oleh mahkluk yang ada disampingnya, memang ia juga merasakan sesuatu hal yang berbeda mengenai sikap Nadhira dan juga energi dari permata itu.


"Tidak ada yang akan terjadi kepadaku jika kamu selalu ada bersamaku, aku beruntung bisa kenal dengan dirimu dikehidupan ini". Nadhira mengenggam erat tangan Rifki dan tersenyum kepadanya.


"Ngomong apa sih kamu Dhir, belajar dari mana kata kata itu, kenapa bisa menyentuh dadaku yang terdalam". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira.


"Emang bisa kata kataku menyentuh dada terdalammu?". Tanya Nadhira.


"Bisa, coba deh rasakan detaknya". Rifki menarik tangan Nadhira dan menaruhnya kepada dadanya. Detak itu dapat dirasakan oleh Nadhira.


"Kenapa begitu kencang?".


"Sudah ku bilangkan, kalo kata katamu mampu menembus dada terdalamku, kamu aja sih yang nggak percaya".


Nadhira hanya tersenyum menanggapi ucapan Rifki, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia hanya merasa nyaman dan aman berada didekat Rifki, karena Rifki selalu ada dan melindunginya didalam setiap langkah kakinya.


Disepanjang perjalanan Nadhira dan Rifki terus bercanda tawa, tanpa mempedulikan orang orang yang ada disekitarnya yang sedang menatap mereka karena iri melihat keduanya. Untuk para gadis menarik perhatian Rifki begitu sulit dan bahkan mustahil terjadi menurut mereka, sedangkan menurut para lelaki mengambil perhatian dan candaan dengan Nadhira begitu susah.


Menurut semua temannya Nadhira dan Rifki adalah dua orang yang memiliki kepribadian yang sama, sama sama pendiam dan dingin tetapi jika keduanya bertemu balok es itu akan begitu mudahnya untuk meleleh.


Fajar yang ada dibelakang kursi keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua orang aneh yang ada didepannya yang sedang bercanda tawa, selama berada didekat Rifki ia sering melihat Rifki berbicara seorang diri, dan yang sebenarnya adalah Rifki berbicara dengan Raka.


"Jar, apakah mereka berdua sering begitu?". Tanya Adam salah satu temannya dikelas.

__ADS_1


"Begitu gimana?". Tanya Fajar balik.


"Iya bercanda seperti itu, aku tidak pernah melihat si Rifki itu tertawa seperti itu".


"Iyalah, kamu ngak akan pernah lihat, orang dia aja hanya bisa bercanda dengan Nadhira, mana mungkin orang lain bisa melihatnya".


"Iya juga sih... Hehe... Nadhira memang cantik, seperti bidadari yang turun dari langit". Adam tertawa membayangkan kecantikan Nadhira.


"Syuttt". Fajar cepat cepat membungkam mulut Adam ia tidak ingin membuat masalah dengan Rifki. "Jangan bilang itu, apa kau ingin monster itu mengamuk lagi ha? Sudah cukup ia mengamuk diperkemahan jangan lagi di bus ini". Bisik Fajar.


Yang dimaksud monster oleh Fajar adalah Rifki, Rifki tidak akan memaafkan siapa saja yang berani mengusik dirinya maupun Nadhira, mereka tidak tau bagaimana kemarahan Rifki sesungguhnya, karena ketika diperkemahan itu hanyalah sebagian dari emosinya.


Beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga disekolahan mereka, Rifki membantu Nadhira untuk membawakan tasnya, keduanya segera turun dari bus itu. Setelah mereka turun tak beberapa lama sebuah mobil mendekat kearah mereka, Nadhira mengetahui bahwa itu adalah mobil milik keluarganya Rifki.


"Oh iya mana Rahma? Katanya mau nebeng". Tanya Rifki.


"Mungkin masih ada dibus lainnya deh, yang belum sampai". Jawab Nadhira.


"Em... Ya sudah ayo kita tunggu dikursi itu saja". Tunjuk Rifki disebuah kursi yang ada ditaman sekolah. "Pak!! Tolong masukan tasnya kebagasi ya". Ucap Rifki kepada supirnya.


"Iya tuan muda". Ucap sang supir dan segera mengangkat tas mereka dan memasukkannya kedalam bagasi.


Dari kejauhan Nadhira dapat melihat papanya sedang menjemput Amanda, papanya begitu perhatian terhadap anak tirinya tersebut, sementara dirinya diabaikan olehnya.


Setelah keluar dari dalam bus, Amanda segera dijemput oleh Rendi, Rendi membantu Amanda untuk memasukkan barang barang bawahan kedalam bagasi mobilnya, setelah itu Rendi membukakan pintu mobilnya agar Amanda bisa masuk kedalam mobil tersebut.


Nadhira hanya diam membisu melihat hal itu, tetapi didalam hatinya ia merasakan sebuah sayatan tajam yang menyerang perasaannya saat ini, ketika mobil tersebut melaju Nadhira hanya bisa mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepalanya.


"Mama, andai kau tau bagaimana perasaanku saat ini, mungkin kau akan terluka juga karena itu, ku harap mama tidak melihat hal ini disyurga-Nya, mama aku merindukanmu". Batin Nadhira ketika melihat tawa bahagia diwajah papanya dan adik tirinya.


"Dasar ayah yang jahat, bisa bisanya dia bersikap seperti itu pada anaknya sendiri". Raka mengumpat melihat mobil yang dikendarai oleh Rendi yang tengah melaju meninggalkan sekolahan.


Rifki bergegas mengambilkan Nadhira minuman yang ada didalam mobilnya tersebut, setelah itu ia memberikan minuman itu kepada Nadhira.


"Minumlah, kamu pasti haus kan". Ucap Rifki sambil menyodorkan minuman tersebut.


Nadhira segera mengambil minuman tersebut dan meminumnya, Nadhira menatap kearah Rifki dan menampakkan senyuman diwajahnya, rasa sedih didalam hatinya segera disembunyikan dengan tertawa.


Tak beberapa lama kemudian bus yang ditumpangi oleh Rahma tiba ditempat itu, ketika Rahma sudah keluar dari bus tersebut Nadhira dengan teriakannya memanggil nama Rahma agar Rahma menoleh kearahnya.


Rahma yang mendengar teriakkan tersebut segera menoleh kearah Nadhira dan bergegas mendatanginya, Rahma menundukkan kepalanya dihadapan Rifki karena ia merasa merepotkan orang lain.


"Ya sudah, ayo masuk kemobil, oh iya rumahmu dimana Ma?". Tanya Rifki kepada Rahma.


"Rumahku ada dijalan anggerek nomer 21, diperumahan Bayangkara". Jawab Rahma dengan pelannya.


"Kenapa malu malu sih Ma, biasa aja, apa kamu takut dengan dia". Menunjuk ke arah Rifki. "Rif, jangan nakut nakutin dia dong". Ucap Nadhira dengan cemberutnya.


"Lah aku lagi, kan aku ngak nakut nakutin Dhir, kan aku cuma nanya doang, masak iya dia mau aku turunin dirumahmu kan ngak lucu". Rifki menghela nafasnya karena tuduhan Nadhira.


"Ngak kok Dhir, aku ngak takut dengan dia hanya saja....".


Sebelum Rahma melanjutkan perkataannya Nadhira segera menyeretnya menuju ke mobil, dan memasukkan barang barang milik Rahma kedalamnya. Rifki terpaku melihat tingkah laku Nadhira kali ini, pandangannya tertuju kepada Nadhira hingga Nadhira masuk kedalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Eigh... Kenapa jadi dia? Seharusnya aku yang menyuruh mereka masuk kedalam mobil". Guman Rifki sambil menggelengkan kepalanya.


"Rif ayo naik!!! Mobilnya mau jalan!!!". Teriak Nadhira dari cendela pintu mobil tersebut.


"Iyaya... Aku segera datang".


Rifki segera bergegas menuju mobilnya setelah mendengar teriakkan dari Nadhira, Rifki segera memasuki mobil tersebut, ia duduk disamping supirnya sementara Nadhira berada di belakangnya dengan Rahma.


Rifki hanya bisa melihat Nadhira melalui kaca spion mobilnya, melihat Nadhira tertawa membuatnya merasa ikut tersenyum. Sementara Rahma ia pertama kali berada didalam satu mobil dengan Rifki merasa begitu canggung, meskipun mereka berada dikelas yang sama tetapi mereka jarang dan bahkan tidak pernah berinteraksi dengan Rifki.


Rifki pun berbicara kepada supirnya mengenai alamat rumah Rahma, untuk mengantarkan Rahma terlebih dahulu kerumahnya, setelah lama perjalanan akhirnya mereka sampai juga dirumah dimana Rahma tinggal, Rahma mengajak kepada keduanya untuk mampir terlebih dahulu, awalnya Rifki menolak akan tetapi karena perintah ibu dari Rahma sehingga keduanya tidak bisa menolak hal tersebut.


"Kalian berdua bersaudara?". Tanya mama Rahma kepada Rifki dan Nadhira.


"Em.. tidak tante, kami berdua adalah sahabat sejak kecil". Ucap Nadhira.


"Tadinya tante fikir kalian saudara,, hehe... habisnya wajahnya mirip".


"Masak sih tante?".


"Iyaya lah mirip, sifat aja ngak jauh beda, apalagi wajah, tapi kalo dilihat lihat sih beda banget, Rifki sangat jelek, mendingan aku daripada dia, sementara Nadhira begitu cantik, siapa sih yang tidak akan menyukai Nadhira dalam sekali lihat". Komentar Raka menanggapi ucapan ibu dari Rahma.


Mendengar ucapan Raka membuat Rifki segera menoleh kearahnya dan melirik kearahnya, seakan akan ia ingin bilang 'Awas aja kamu Raka, untung mereka tidak bisa mendengarnya'. begitulah arti dari tatapan tajam Rifki.


"Iya, kata orang jaman dahulu kalau wajahnya mirip itu artinya jodoh nak". Ibu Rahma mengucapkannya dengan cara yang manis.


"Ah masak sih tante, semoga saja itu benar... hehe". Tawa Rifki terhadap ucapan yang diucapkan oleh ibu Rahma.


"Is.. apaan sih kamu Rif". Nadhira menggerakkan sikunya untuk memukul Rifki, agar ia berhenti untuk tertawa.


"Bener Ma, mereka berdua adalah pasangan yang serasi". Tambah Rahma membenarkan ucapan mamanya.


"Apaan sih kamu Rahma, kami kan masih kecil mana mungkin bisa menjadi pasangan yang serasi". Tolak Nadhira.


"Is... is... cewekmu itu Rif, kau tidak dianggap selama ini hahaha.... mampus kau". Ejek Raka.


"Diam kau!!". Batin Rifki menjerit..


Keempatnya mengobrol begitu lama, dan akhirnya Rifki mengajak Nadhira untuk pulang karena keduanya sudah bertamu cukup lama, setelah berpamitan dengan ibu Rahma, keduanya segera masuk kedalam mobil Rifki tersebut.


Rifki memutuskan untuk duduk didekat Nadhira, setelah masuk kedalam mobil tersebut Rifki meminta kepada sang supir untuk mengantarkan Nadhira kerumahnya kembali, keduanya saling berbincang bincang disepanjang perjalanan.


"Ah.. seanggun bidadari". Guman Raka sambil menatap wajah Nadhira.


"Apa yang kau katakan!!!". Teriak Rifki.


"Aku tidak mengatakan apapun Rif, emang ada apa?". Tanya Nadhira.


"Saya tidak mengatakan apapun Tuan muda". Sang supir juga ikut angkat bicara.


"Bukan kalian bedua yang ku maksud". Ucap Rifki kepada Nadhira dan sang supir.


"Ku fikir ada apa". Ucap Nadhira sambil membuang pandangan dari wajah Rifki dan beralih kepada kaca mobil.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai dirumah Nadhira, Nadhira segera turun, sementara supir tersebut segera membukakan bagasi mobilnya untuk mengambil tas milik Nadhira dan setelah itu Nadhira segera berpamitan kepada Rifki.


__ADS_2