Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pesta berujung malapetaka


__ADS_3

Setelah kedatangan Rendi, acara pesta itu segera dimulai dengan meriahnya, setelah meniup lilin dan juga memotong kue, Amanda memberikan potongan pertamanya untuk Sena dan Rendi setelah itu dirinya membagikan kue kue itu kepada teman temannya.


Banyak sekali doa doa yang terbaik yang para tamu ucapkan untuk Amanda dan keluarga Amanda, mereka memulai pesta tersebut tanpa menunggu kehadiran dari Nadhira terlebih dahulu, dan seakan akan Rendi telah melupakan sosok Nadhira.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga kedepannya semakin baik, dipanjangkan umurnya, dimurahkan rezekinya, dan pasti makin bertambah umur semakin pintar dan cantik" Ucap Rendi.


"Terima kasih Pa".


"Selamat ulang tahun Manda, panjang umur sehat selalu".


"Selamat ulang tahun teman, wih makin tua aja nih".


"Cie makin bertambah umur nih temenku, selamat ya, semoga lebih baik kedepannya, panjang umur sehat selalu teman".


"Terima kasih".


Satu persatu teman temannya mulai mengucapkan selamat ulang tahun kepada Amanda sebagai puncak dari acara tersebut, Amanda terlihat begitu bahagia saat ini karena acara pestanya berjalan dengan lancar tanpa adanya Nadhira.


Acara pesta itu begitu meriah dan bahkan mereka melupakan tentang Nadhira yang tidak ada didalam acara pesta tersebut, Rendi bahkan sama sekali tidak memikirkan tentang Nadhira yang tidak menghadiri acara pesta ulang tahun Amanda.


Setelah acara tiup lilin dan potong kue, para tamu diizinkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan ditempat itu, berbagai macam jenis makanan ada dipesta tersebut mulai dari kue, buah buahan sampai lauk dan nasi pun ada disana.


"Manda, keluargamu baik ya, sampai bikin acara semeriah ini untukmu, pasti biayanya sangat mahal kan?" Ucap teman Amanda.


"Iya ya lah mahal, emang ada acara sebesar ini dengan harga murah? Kalau ada sih pasti ngak bisa sebagus ini kan" Jawab Amanda.


"Beruntung banget kamu Manda, mendapatkan sosok Ayah baru seperti Ayahmu saat ini".


"Iya dong, kamu mah masa bisa sih ngadain acara seperti ini, palingan cuma nghias rumah doang".


Amanda merasa sangat banga diri ketika temannya memuji mengenai pesta ulang tahun untuk dirinya, sementara temannya hanya bisa tersenyum pahit menanggapi ucapan dari Amanda.


"Biar aku ambilkan minuman Mas" Ucap Sena tiba tiba dan seraya dirinya berjalan menuju kesuatu meja yang terdapat beberapa minuman disana, akan tetapi Sena mengambilkan sebuah minuman dari tempat lain yang ada dimeja itu.


Sena berjalan untuk mengambilkan minuman untuk Rendi, Bi Ira terus memperhatikan minumam yang ada ditangan Sena saat ini, dan Sena memberikan minuman itu kepada Rendi.


"Minuman itu, apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa Nadhira belum juga datang sampai acara ini hampir selesai seperti ini, apa yang terjadi dengan dirinya, Ya Allah lindungilah Nadhira dan keluarganya" Ucap Bi Ira dengan paniknya.


Bi Ira terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sena dengan minuman itu, dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegahnya, ia hanya bisa berharap bahwa Nadhira segera datang dan menghentikan semuanya sebelum terlambat untuk dihentikan.


Bi Ira hanya bisa terus berdoa untuk keselamatan dari Nadhira dan juga Papanya dari kejahatan Sena berserta anaknya itu, kejahatan yang telah dilakukan oleh Sena begitu banyak terhadap Nadhira dan Rendi selama ini.


"Sebentar lagi kau akan mati ditanganku Rendi" Ucap Sena dengan lirihnya sambil tersenyum puas karena ia mengira bahwa rencananya akan berhasil kali ini.


Sena merasa yakin bahwa rencananya kali ini akan berhasil karena dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Nadhira selama pesta ulang tahun itu berlangsung sampai selesai seperti saat ini, karena hanya Nadhira yang mampu merusak segala rencananya selama ini, dan Nadhira adalah perisai pelindung milik Rendi.


"Ini Mas" Ucap Sena sambil menyodorkan segelas minuman kepada Rendi.


"Terima kas...."


Belum sempat Rendi menerima minuman yang telah disodorkan oleh Sena itu, sosok Nadhira tiba tiba muncul ditengah tengah keduanya dan segera mengambil alih minuman itu dari tangan Rendi, melihat itu semua tamu yang ada diacara tersebut begitu terkejut ketika melihat tindakan yang Nadhira lakukan saat ini.


"Dhira apa yang kamu lakukan!" Ucap Rendi dengan terkejutnya ketika melihat sosok Nadhira tiba tiba muncul dihadapannya.


"Mama Sena telah memberikan sesuatu diminuman ini Pa dan aku tidak akan pernah membiarkan Papa dalam bahaya" Ucap Nadhira.


"Kenapa kau bisa berkata seperti itu Dhira! Apalagi disaat pesta ulang tahun seperti ini" Ucap Rendi.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan Dhira! Bagaimana mungkin aku memberikan sesuatu kepada suamiku sendiri" Bantah Sena.


"Jangan berpura pura baik didepanku Mama, aku sudah mengetahui semuanya tentang dirimu, kau menginginkan kematian Papa bukan? Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi! Sebelum kau mencelakakan Papa, langkahi dulu mayatku"


"Jika kau merasa Sena telah memberikan sesuatu pada minuman itu, maka buktikanlah ucapanmu itu, jika Sena terbukti tidak memberikan apapun kepada minuman itu, maka kau harus pergi sejauh mungkin dari rumahku!" Ucap Rendi.


"Jika itu mau Papa baiklah, aku akan membuktikan bahwa apa yang aku katakan adalah kebenaran Pa karena aku sama sekali tidak pernah berbohong tentang hal ini, namun setelah ini mungkin Papa tidak akan pernah melihatku ada lagi didunia ini, aku hanya ingin mengatakan kepada Papa terima kasih atas apa yang telah Papa berikan dan lakukan kepadaku selama ini, terima kasih Pa" Ucap Nadhira dengan menahan air matanya.


"Sudah cukup bercandanya Nadhira! Papa tidak ingin lagi mendengar ucapan konyolmu itu".


"Aku sama sekali tidak bercanda dengan ucapanku kali ini Pa, jika memang kematianku yang Papa tunggu selama ini, maka biarkan kematianku menghiasi indahnya pesta ini bagi Papa".


"Tidak Nak jangan lakukan itu, aku mohon" Ucap Bi Ira secara reflek kepada Nadhira.


Nadhira menoleh kearah dimana Bi Ira berada dan tersenyum kepadanya, senyum yang mengandung kekecewaan yang mendalam dengan disertai air mata yang terus bercucuran dan membasahi kedua pipi Nadhira.


"Perlu kalian ketahui bahwa aku ...... Masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, aku tidak pernah hilang ingatan seperti yang kalian ketahui selama ini, aku hanya berpura pura untuk dapat mengetahui sikap Mama Sena yang sebenarnya!" Ucap Nadhira dengan jujurnya.


Seketika itu juga ucapan Nadhira bagaikan sebuah sambaran petir yang menyambar didalam hati mereka masing masing, seseorang yang menyayangi Nadhira terlihat begitu bahagia ketika mendengar ucapan tersebut akan tetapi seseorang yang membenci Nadhira merasa gelisah dan marah.


"Apa yang kau katakan Dhira?" Tanya Rendi.


"Iya! Aku mengatakan yang sebenarnya Pa! Aku tidak pernah berbohong kepada Papa, alasan apa yang membuatku melakukan itu? Aku memberitahukan kepada Papa, aku sudah tidak bisa beladiri dan melindungi diriku sendiri, kakiku telah dipatahkan karena perbuatan dari Mama Sena, aku tidak punya pilihan lain selain berpura pura hilang ingatan, agar aku bisa bertahan hidup sampai saat ini".


Nadhira tak henti hentinya terus menangis didepan semua orang, Rendi tidak mampu berkata kata lagi untuk menyahuti ucapan Nadhira, Sena hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar ucapan Nadhira yang terus saja memojokkan dirinya.


****Flash back on****


Nadhira masih berada didalam goa tempat dimana Haris dan Aryabima tinggali selama ini, Haris menceritakan semuanya tentang kejadian selama Nadhira menghilang kepada Nadhira saat ini.


"Jadi mereka mengira bahwa aku menggunakan ilmu hitam Om? Dan orang orang yang hilang itu mereka kaitkan dengan diriku juga?"


"Tidak mungkin itu Om, Mama Sena tidak akan pernah melakukan itu kepada Papa dia hanya tidak menyikai diriku saja Om"


"Kau tidak akan pernah mengetahui sikapnya yang sesungguhnya jika kau kembali dengan sosok Nadhira yang mereka kenali".


"Maksud Om apa? Aku sama sekali tidak mengerti tentang itu, lalu apa yang harus aku lakukan untuk selanjutnya Om?"


"Hanya ada satu cara untuk itu, berpura puralah hilang ingatan dan kau akan mengetahui semuanya"


"Apa?"


Haris menyuruh Nadhira untuk pura pura hilang ingatan hanya demi membuat rencana Nadhira terlaksana Nadhira ingin melihat sosok Sena yang sesungguhnya tanpa ada yang menutupinya.


"Iya Nak, itu adalah satu satunya cara agar kau bisa mengetahui siapa sebenarnya Mama tirimu itu, berhati hatilah dengan dia karena dia tidak seperti apa yang kau lihat saat ini".


"Bagaimana kalau dia sampai tau bahwa aku pura pura hilang ingatan Om? Aku tidak pandai untuk berakting atau bersandiwara Om, aku takut kalau rencanaku akan gagal nanti".


"Itu tidak masalah, kau hanya perlu yakin pada dirimu sendiri dan berpura pura tidak mengingat semuanya, dan jangan gunakan kakimu yang cidera itu dengan paksa atau cideranya akan semakin bertambah parah nanti, kau harus kembali dengan sosok Nadhira yang tidak bisa beladiri, dan kau harus menahan diri untuk tidak berkelahi Nak, Om melarangmu bukan karena Om ingin melihat dirimu lemah, tapi Om melarangmu hanya untuk kebaikanmu".


"Baiklah jika itu saran dari Om, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk berpura pura, tapi bagaimana jika aku gagal?".


"Kamu harus optimis Dhira, jangan pesimis seperti itu, yakinlah bahwa kamu pasti bisa, sebelum kembali kerumahmu, Om harus membuatmu pingsan Nak, biar mereka tidak mencurigainya".


"Apa!".


"Maafkan Om, Om harus melakukan ini untuk Nadhira sendiri".

__ADS_1


Haris memukul punggung Nadhira tepat dibagian sarafnya sehingga membuat Nadhira tidak sadarkan diri, setelah itu Haris membawa Nadhira untuk kembali kerumahnya dan menidurkannya di rerumputan yang ada dihalaman depan rumah Nadhira dirinya tidak lupa untuk mengoleskan tanah liat kepada baju dan juga pipi Nadhira.


Nadhira tersadarkan dari pingsannya dan mendapati bahwa dirinya sudah berada didalam kamarnya sendiri saat ini dan dirinya harus berpura pura untuk tidak mengenal siapapun saat itu, dan dirinya juga berpura pura terkena hasutan dari Sena mengenai kedua sosok yang sangat berarti baginya. yakni, Rendi dan juga Bi Ira.


Nadhira sengaja berkata kasar kepada Bi Ira waktu itu karena dirinya mengetahui bahwa Sena sedang mengawasinya, Nadhira merasa begitu terluka ketika dirinya telah berkata kasar kepada Bi Ira.


Bi Ira merasa bahwa dirinya sudah tidak penting untuk Nadhira sehingga Bi Ira ingin pergi dari rumah itu dan Bi Ira tiba tiba mengetuk pintu kamar Nadhira untuk berpamitan kepada Nadhira.


"Ada apa?" Tanya Nadhira ketika selesai membukakan pintu untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Bibi ingin berpamitan kepada Non Dhira, Bibi sudah tidak bekerja lagi dirumah ini".


"Apa! Kenapa?".


Tanpa mendengarkan ucapan dari Bi Ira, Nadhira segera menarik tangan Bi Ira untuk masuk kedalam kamarnya, sebelum melakukan itu Nadhira memastikan bahwa situasi sudah aman untuk membawa Bi Ira masuk kedalam kamarnya.


"Apa yang Ibu katakan? Jangan tinggalkan Dhira Bu, maafkan ucapan Dhira yang telah menyakiti hati Ibu tadi, Nadhira tidak bermaksud untuk mengatakan itu kepada Ibu" Ucap Nadhira sambil memeluk Bi Ira.


"Kau masih mengingat diriku?"


"Bagaimana aku bisa melupakan dirimu Ibu, kau sangat berarti bagiku, maafkan aku karena aku harus mengatakan hal itu kepadamu tadi, aku ingin mengetahui siapa sebenarnya Mama Sena, aku tidak punya pilihan lain selain berpura pura hilang ingatan".


Nadhira menjelaskan semuanya kepada Bi Ira tentang dirinya yang hilang dalam waktu berbulan bulan itu, dirinya mengatakan bahwa kakinya telah dipatahkan oleh seseorang karena tindakan yang dilakukan oleh Sena waktu itu sehingga dirinya harus menyembuhkan lukanya terlebih dahulu sebelum kembali kerumahnya.


Bi Ira langsung memeluk Nadhira dengan sangat eratnya, dirinya merasa bahagia karena Nadhira dapat mengingatnya kembali, awalnya ia mengira bahwa Nadhira akan membencinya karena kedudukannya yang hanya seorang pembantu rumah tangga akan tetapi setelah mendengarkan penjelasan dari Nadhira, Bi Ira begitu bahagia.


"Aku minta maaf Bu, karena telah membuatmu terluka dengan kata kataku, aku mohon jangan pernah tinggalkan diriku Bu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika Ibu pergi dari sisiku".


"Ibu janji tidak akan pernah meninggalkan Nadhira, Ibu akan berusaha untuk bisa bersama dengan Nadhira, kau tau disaat dirimu mengatakan bahwa kau bukan lagi Nadhira ku, saat itu aku merasa sangat kehilangan dirimu Nak".


"Nadhira melakukan ini hanya untuk bisa mengetahui siapa sebenarnya Sena, Nadhira tidak bermaksud untuk meninggalkan Ibu, maafkan Dhira".


Bi Ira merasa begitu bahagia saat mengetahui bahwa Nadhira telah kembali, Nadhira telah mengingatnya kembali, dan Nadhira telah menjadi miliknya lagi.


Bi Ira juga begitu terkejut ketika mendengar cerita dari Nadhira selama dirinya hilang entah kemana, Nadhira menceritakan bahwa Sena menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai dirinya hingga berujung dengan mereka terus memukuli kaki Nadhira sampai Nadhira tidak bisa berjalan dan berlatih beladiri lagi.


Nadhira menceritakan hal itu dengan linangan air mata, Bi Ira dapat merasakan tentang apa yang tengah dirasakan oleh Nadhira saat ini, seorang yang telah menyukai dunia beladiri akan merasa sangat gagal ketika dirinya sudah tidak mampu untuk melanjutkan apa yang ia sukai.


Bagaikan seorang atlit yang sangat hebat akan tetapi karena sebuah kejadian yang tak terduga terjadi kepada atlit tersebut sehingga dirinya tidak mampu untuk melanjutkan kegiatan yang ia sukai itu maka kehidupannya terasa begitu sunyi dan rasa sedih selalu menyelimutinya.


Nadhira juga mengatakan bahwa selama dirinya menghilang beberapa bulan itu, Nadhira bertemu dengan sosok Kakek Kakek dan dengan telaten untuk merawat dirinya sampai sembuh akan tetapi untuk mencapai sembuh total membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Bi Ira mengucapkan rasa syukur beberapa kali karena masih ada orang diluar sana yang mau membantu Nadhira dengan tulusnya, mencari orang yang benar benar tulus didunia ini tidaklah mudah bagaikan mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.


Dadi puluhan ribu orang hanya akan ada sepuluh persen orang yang mau membantu dengan tulus tanpa meminta imbalan, sebagian besar dari mereka, mereka lebih memilih tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya yang tengah membutuhkan bantuan dan bahkan mereka akan pura pura tidak melihatnya kesusahan orang lain.


"Syukurlah kamu bisa kembali dengan selamat Nak, Ibu takut kehilanganmu Nak" Ucap Bi Ira dengan memeluk tubuh Nadhira dengan eratnya.


"Tidak akan terjadi sesuatu denganku Bu, Dhira akan baik baik saja selama doa Ibu selalu menyertai diriku, aku mampu melawan segalanya selama Ibu selalu ada bersamaku".


"Ibu janji, Ibu tidak akan pernah meninggalkan dirimu Nak, apapun keadaanya nanti".


"Terima kasih Ibu, kau adalah harta berharga yang aku miliki saat ini".


****Flash back off****


...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...

__ADS_1


...Terima kasih ...


__ADS_2