Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Hilangnya seorang anak


__ADS_3

Nadhira yang sedang mengobrol dengan kedua orang itu, tanpa ia sadari bahwa ada seseorang yang tengah mendengarkan obrolan mereka, dengan diam diam orang itu segera pergi dari kedai makanan itu, melihat itu pemilik kedai segera mendatangi Nadhira.


"Permisi Mbak, apa Mbak tadi membicarakan soal pohon trembesi yang ada ditempat ini?" Tanya seorang wanita yang menjadi penjual.


"Iya Bu, ada apa ya?" Tanya Nadhira balik dengan wajah penasarannya.


"Sebaiknya kalian lupakan saja tentang pohon itu, penunggu pohon itu sangat galak Mbak, suka sekali mencari tumbal orang orang yang telah berani datang ketempat itu".


"Tapi, tadi saya mendengar bahwa pohon itu akan ditebang karena adanya perbaikan untuk makam yang ada disitu Bu".


"Jangan percaya hal itu Mbak, tidak ada yang berani mendekat apalagi untuk menebangnya, bisa bisa nyawa orang yang menebang itu akan melayang".


"Apakah anda mengenal seseorang yang bernama Dwija ditempat ini Bu?" Tanya Theo tiba tiba.


Seketika itu pertanyaan yang dilontarkan oleh Theo membuat wanita tersebut terlihat begitu terkejut dan dengan reflek segera berjalan mundur untuk menghindar dari ketiga orang yang ada didepannya.


"Kenapa kalian bertanya tentang orang itu! Siapa kalian sebenarnya!" Tanya wanita itu dengan refleknya mengenai pertanyaan Theo.


Wanita itu nampak begitu ketakutan setelah mendengar nama Dwija disebutkan ditempat itu, dan wanita itu berbicara dengan lantangnya untuk mengusir ketiga orang yang menjadi pembelinya itu.


"Siapa kalian! Apa hubungannya kalian dengan Dwija? Pergi kalian dari sini".


Mendengar teriakan itu membuat Nadhira segera bangkit dari duduknya, ia juga merasa terkejut dengan reaksi yang ditimbulkan oleh wanita tersebut setelah mendengar pertanyaan dari Theo, sebelumnya dirinya tidak pernah diperlakukan oleh seorang penjual dengan sebegitu rupanya.


"Ada apa dengan Dwija? Kenapa anda mengusir kami seperti itu setelah mendengar namanya?"


"Pergi dari sini sekarang! Atau aku akan teriak agar warga segera mengusir kalian dari tempat ini".


"Kami hanya ingin tau tentang Pak Dwija, tolong jelaskan kepada kami tentang dirinya".


"Tidak penting untuk mengetahui siapa itu Dwija! Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi".


"Sebegitu bencinyakah anda kepada Pak Dwija? Kenapa anda sampai mengusir kami seperti itu?".


"Pergi kalian dari sini sekarang!"


"Tenanglah Bu, kami kemari tidak ingin macam macam dengan desa ini, kami hanya ingin tau siapa itu Dwija, tolong beritahu kami".


"Tidak! Aku tidak mau".


Nadhira begitu terkejut dan segera menatap kearah Nimas, Nimas yang mengerti tentang arti tatapan itu segera mendekat kearah wanita tersebut dan membuatnya tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya, ketika merasakan itu wanita tersebut langsung tertunduk didepan Nadhira.


Kebetulan sekali tidak ada pembeli lain selain ketiga orang itu, melihat hal itu Nadhira segera berjongkok didepan wanita yang sedang tertunduk itu, wanita itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya sehingga ia hanya bisa berteriak saja.


"Apa yang kau lakukan kepadaku! Mantra apa yang kau pakai ini! Lepaskan aku! Lepaskan! Apa kau ahli dalam sihir, sihir apa yang kau pakai! Lepaskan aku!"


"Tenang lah Bu jangan berteriak seperti itu, kami tidak akan menyakitimu, ini bukanlah sihir biasa, ini adalah pelindungku yang aku perintahkan untuk memegangi Ibu" Ucap Nadhira.


"Apa yang kalian inginkan dariku! Lepaskan aku!".


"Tenanglah Bu, kami tidak akan menyakiti dirimu"


Wanita tersebut terus saja memberontak untuk melepaskan karena dirinya seperti berada didalam ikatan gaib sehingga ia tidak bisa melihat apa yang tengah melilit dikaki dan tangannya, tapi siapa sangka bahwa Nimas sedang memegangi kaki dan tangannya dengan sangat erat.


"Lepaskan aku sekarang! Aku peringatkan kalian jangan pergi kesana, atau kalian yang akan menjadi korban selanjutnya"


"Kami tidak akan menyakiti dirimu Bu, kami hanya ingin tau tentang siapa itu Dwija, kenapa anda begitu ketakutan setelah mendengar nama itu disebutkan? Ada apa dengan sosok Dwija?".


Seketika itu juga wanita tersebut menangis dengan kerasnya dihadapan Nadhira, Nadhira semakin bingung dengan sikap dari wanita tersebut yang seketika itu berubah menjadi tangisan yang memilukan bagi Nadhira.


"Ada apa Bu? Kenapa anda menangis seperti itu? Ceritakanlah kepada saya, siapa tau saya bisa membantu anda"


"Apa kau bisa mengembalikan putri kecilku? Hiks.. hiks.. hiks.. kembalikanlah dia kepadaku".

__ADS_1


Tangis wanita itu semakin bertambah keras ketika dirinya menyebutkan tentang putrinya yang hilang beberapa tahun belakangan ini, mendengar itu membuat Nadhira ikut merasa sedih tentang kejadian yang telah dialami oleh wanita yang ada didepannya.


"Kalau boleh saya tau, apa yang terjadi dengan putri anda Bu?"


"Dia menghilang dua tahun yang lalu, dan seluruh warga sudah mencarinya tapi.. dia tidak ditemukan juga sampai sekarang hiks.. hiks.. hiks.. hua.. ada yang melihat putriku terakhir kalinya, ia mengatakan bahwa putriku pergi ketempat makam keramat itu".


"Putri Ibu menghilang dengan tiba tiba setelah datang kemakam keramat? Jadi benar didesa ini ada sebuah makam keramat?"


"Makam itu telah memakan begitu banyak korban jiwa, termasuk putriku satu satunya yang aku miliki, kau tidak akan nampu untuk mengembalikannya kepadaku, putriku yang malang".


"Kalau boleh tau, bagaimana ceritanya Bu?".


"Dulu...." Wanita itu mulai bercerita kepada Nadhira.


*Flash back on*


Ratih adalah seorang anak kecil yang masih berusia sekitar 7 tahun, dia adalah putri dari seorang wanita yang bernama Ningsih yang saat ini Ningsih adalah pemilik dari sebuah kedai yang disinggahi oleh Nadhira dan kedua orang itu.


Ningsih adalah seorang janda yang hanya memiliki satu putri, suaminya telah lama pergi meninggalkannya karena penyakit yang diderita olehnya, penyakit tersebut belum ditemukan obatnya sehingga nyawa suaminya tidak bisa diselamatkan.


Ningsih hanya tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, anak satu satunya dan juga Adiknya karena setelah dirinya menjadi janda ia kembali tinggal bersama dengan orang tuanya karena belum memiliki rumah ketika masih bersama dengan suaminya.


Sore yang cerah itu Ningsih sedang sibuk dengan dagangan yang ia jual sehingga dirinya tidak terlalu memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh putri kecilnya itu, Ratih yang melihat Ibunya tengah sibuk lebih memutuskan untuk bermain sendiri didepan kedai makanan itu.


Tiba tiba pandangan Ratih tertuju kepada sebuah tanaman bunga yang sedang mekar dan hal yang membuatnya tertarik adalah seekor kupu kupu yang berterbangan diatas setangkai bunga itu, kupu kupu itu terlihat begitu indah dengan hiasan hiasan yang ada di sayapnya dan warnanya begitu sangat memukau bagi anak kecil yang melihatnya.


Kupu kupu tersebut terbang begitu tinggi hingga membuat Ratih harus mendongak keatas untuk dapat melihatnya terbang bebas, Ratih terus mengikuti kemana perginya kupu kupu itu dengan pelan pelan sambil berjalan kaki mengejar kemanapun kupu kupu itu pergi.


Ratih terus mengikuti kemana kupu kupu itu pergi tanpa ia sadari bahwa dirinya sudah berada di penghujung Desa Flamboyan, dan Ratih menemukan begitu banyak gerombolan kupu kupu yang indah dan berbagai macam warna ada disana.


"Wah.. indah sekali, kenapa disini banyak kupu kupu? Aku mau menangkapnya satu untuk Ibuku, pasti dia akan suka nantinya".


Ratih mencoba untuk menangkap kupu kupu tersebut akan tetapi seketika ada seseorang yang lewat dibelakangnya, hal itu membuat Ratih begitu terkejut dan melihat kearah orang itu dengan ketakutan.


"Ngak ngapa ngapain kok Kek, Ratih hanya ingin menangkap kupu kupu itu" Ucap Ratih sambil menunjuk kearah kupu kupu yang sedang berterbangan dengan liarnya.


"Kupu kupu? Dimana ada kupu kupu disini? Sudah ayo pulang sebentar lagi langit akan gelap, tidak baik jika masih bermain diluar saat sat seperti ini" Ajak orang tersebut.


"Tunggu dulu Kek, disini banyak kupu kupu, apa Kakek tidak melihatnya?".


Pria paruh baya tersebut menoleh kesana kemari untuk mencari tau tentang kupu kupu yang dibicarakan oleh Ratih, akan tetapi dirinya sama sekali tidak melihat kupu kupu yang dimaksud oleh Ratih itu justru yang ia lihat hanyalah pepohonan yang timbun dan menjulang tinggi keangkasa.


"Ratih, disini ngak ada kupu kupu, sudah ayo pulang apa perlu Kakek panggilkan Ibumu kemari biar kau dimarahi olehnya".


Ratih tetap memaksa untuk menangkap kupu kupu yang hanya mampu ia lihat itu, ia sama sekalian tidak mempedulikan ucapan dari Kakeknya itu, hal itu membuat sang Kakek terlihat begitu sebalnya dengan anak yang ada didepannya saat ini.


Pria paruh baya itu segera meninggalkan Ratih ditempat itu untuk memberitahukan hal ini kepada Ningsih agar Ningsih mampu untuk mengajak anaknya itu pulang karena sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang diawang awang.


"Ning Ning! Lihatlah anakmu itu, susah banget dibilanginnya" Teriak pria paruh baya tersebut memanggil nama Ningsih.


Ningsih yang mendengar teriakan itu segera bergegas keluar dari kedainya untuk melihat siapa yang tengah berteriak teriak seperti itu, ia begitu terkejut ketika melihat tetangganya sudah berada didepan kedainya dengan wajah nampak khawatir.


"Ada apa Pakde? Kenapa teriak teriak seperti itu?"


"Lihat tuh anakmu main diujung desa sendirian lagi, sudah ku suruh pulang masih saja bandelnya minta ampun, bawa dia pulang sebelum matahari terbenam setelah ini".


"Apa? Kenapa Ratih main disana sendirian Pakde?"


"Dia bilang dia lihat kupu kupu, kupu kupu apa orang ngak ada apa apa disana, kalau nyamuk sih banyak, segera bawa pulang anakmu itu, sebelum menghilang seperti yang lainnya".


"Iya Pakde, aku akan membawanya pulang sekarang juga" Ucap Ningsih dan ia segera buru buru untuk menjemput anaknya pulang.


Dengan tergesa gesa Ningsih segera berlari menuju kearah ujung desa untuk mengajak pulang anak gadis satu satunya miliknya itu, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada anaknya karena sudah ada 3 orang anak kecil yang hilang begitu saja ditempat itu tanpa diketahui asal usul menghilangnya.

__ADS_1


Sesampainya disana ia tidak menemukan keberadaan dari anaknya itu, dan dirinya terus mencari kemana perginya Ratih dari tempat itu, dengan gelisahnya ia terus memanggil manggil nama Ratih, ia berharap bahwa Ratih akan datang ketika mendengar namanya dipanggil oleh Ibunya.


"Mbak, ngapain masih disini saat ini? Ini sudah terlalu sore lo Mbak, ngak baik kalo masih ada diluar rumah dijam segini"


Tiba tiba ada seseorang yang membuatnya terkejut, seorang pemuda yang sangat ia kenali, ia adalah Adik kandungnya sendiri, namanya Pras.


"Pras, apa kau lihat Ratih?"


"Tidak Mbak, memang ada apa dengan Ratih?".


"Pakde Jo bilang kalau Ratih main didaerah ini sendiri, mangkanya itu Mbak nyusul kemari untuk mengajaknya pulang, Mbak takut terjadi sesuatu dengan Ratih".


"Ya Allah, kita harus segera mencarinya Mbak, keburu dia hilang seperti anak anak yang lainnya".


Ningsih dan Pras segera bergegas untuk mencari Ratih, warga desa yang mendengar bahwa Ratih hilang mereka segera bergegas untuk membantu mencari Ratih, sudah dua jam pencarian tapi mereka tak kunjung menemukan keberadaan Ratih disetiap pelosok desa yang mereka jelajahi itu.


Tiba tiba dirinya melihat ada seseorang yang tengah berlarian kearahnya, orang itu nampak begitu ketakutan dan sepertinya orang tersebut belum mengetahui tentang kabar hilangnya Ratih.


"Mbak Ning! Mbak Ning!" Panggil orang tersebut.


"Ada apa? Apa kau menemukan putriku?".


"Apa? Ratih hilang? Sejak kapan? Baru saja aku melihat dirinya jalan seorang diri kearah makam keramat yang ada diujung desa, aku belari kemari untuk memberitahu Mbak Ning".


"Astaga Ratih".


Ningsih dan lainnya segera bergegas menuju kearah makam keramat itu dengan ramai ramai, mereka juga tidak lupa untuk membawa obor menuju ketempat itu karena suasana diarea makam itu akan bertambah gelap karena pepohonan yang mengelilinginya sehingga tidak ada sinar rembulan yang dapat masuk kedalam kawasan makam itu.


"Ratih! Nak kamu dimana, pulanglah Nak".


"Kita pasti akan menemukannya Mbak, Mbak tenang ya, berdoalah semoga Ratih dapat ditemukan dalam keadaan baik baik saja".


Waktu semakin larut malam, akan tetapi Ratih tak kunjung ditemukan keberadaannya, orang yang dipanggil Pakde Jo itu merasa sangat menyesal karena sebelumnya dirinya tidak mencoba membawa Ratih pulang saat itu juga.


"Kemana perginya anak itu, seandainya tadi tidak aku tinggalkan mungkin dia tidak akan menghilang seperti ini" Ucapnya dengan rasa sedih.


"Ini semua sudah terlanjur terjadi Pakde, penyesalan hanya ada diakhir, tidak penyesalan yang ada diawal" Ucap Pras yang sedang mencoba untuk dapat menenangkan pria paruh baya itu.


"Kau benar Nak, aku benar benar menyesal karena telah meninggalkannya sendirian ditempat seperti itu sebelumnya".


Mereka masih dalam perjalanan menuju kearah makam keramat itu, ditengah perjalanan mereka merasa ragu untuk melangkah masuk kedalam kawasan itu karena udara dingin yang ada ditempat itu sama sekali tidak bersahabat kali ini.


"Aku harus menemukan putriku!" Ucap Ningsih dengan tekat yang sangat kuat.


"Itu bahaya Mbak, kalau Mbak pergi kesana sendirian seperti itu".


Ketika semua orang berhenti ditempat hanya Ningsih yang terus berjalan tanpa mempedulikan apapun yang akan terjadi kepadanya selanjutnya ketika ia melangkah masuk kedalam kawasan, meskipun nyawanya akan hilang sekalipun itu Ningsih masih tetap pada pendiriannya yakni menemukan putri satu satunya itu, yang ia pedulikan hanyalah kembalinya putri kecilnya bukan nyawanya.


"Aku tidak peduli Pras, asalkan putriku dapat kembali apapun pasti akan aku lakukan, dia adalah satu satunya peninggalan yang telah diberikan oleh suamiku kepada diriku, dan aku tidak ingin kehilangan dirinya juga".


"Baiklah Mbak, aku akan ikut bersama Mbak untuk mencari Ratih, kemanapun Mbak pergi aku pasti ikut bersama dengan Mbak".


Ningsih merasa terharu dengan ucapan dari Adiknya itu, Pras segera mengenggam erat tangan Ningsih dan bersiap siap untuk masuk kedalam kawasan makam keramat yang terlihat begitu suram karena tingginya pepohonan yang menutupinya untuk sampai kearea makam tersebut.


"Aku juga pernah kehilangan anakku ditempat itu, dan aku tidak akan membiarkan anakmu hilang begitu saja, aku akan ikut mencarinya bersamamu, biar bagaimanapun aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan saudariku" Ucao seorang wanita yang menggunakan hijab panjang yang ada dibarisan paling depan.


"Aku juga ikut mencarinya, kita semua adalah saudara sedesa, kita tidak akan membiarkan kejadian ini berlangsung berulang ulang kali, jangan biarkan kita lengah begitu saja karena adanya kasus seperti ini, sebelumnya desa ini tidak pernah seperti itu".


"Kau benar, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, apapun yang terjadi kita harus menghentikan kasus ini sebelum anak anak kita pada hilang semuanya dengan sendirinya seperti itu".


"Ning kau tidak akan sendiri, kami akan menemanimu untuk mencari anakmu".


"Iya, kami akan ikut mencarinya".

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya ya 🥰 terima kasih ...


__ADS_2