Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Bertemu sahabat lama


__ADS_3

Meskipun Nadhira kini tengah terluka parah akan tetapi luka tersebut tidak terlalu ia rasakan, karena luka yang ada dibatinnya begitu sangat menyakitkan sehingga luka didalam fisiknya mampu untuk ia tahan sampai sekarang, luka fisiknya sangat tidak berarti bagi Nadhira karena sakit yang paling parah kini tengah menyerang batinnya.


Nadhira mengepalkan kedua tangannya dengan erat, ia tidak tau lagi harus bersikap apa sekarang, "Siapa sebenarnya orang tua kandung Dhira Pa? Bagaimana bisa Dhira tinggal dan hidup bersama Papa selama ini? Dimana kedua orang tua kandung Dhira tinggal selama ini? Dhira ingin bertemu dengan mereka Pa"


"Papa tidak tau Dhira, bagi Papa kau adalah anak kandung Papa selamanya, Papa tidak ingin kehilangan sosok anak seperti dirimu".


"Tapi nyatanya, Papa memang telah benar benar kehilangan Dhira, Dhira sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini".


"Nak, maafkan Papa".


"Semuanya sudah terlambat Pa, permintaan maaf dari Papa tidak akan pernah bisa menyembuhkan hati Nadhira yang sudah terluka parah, segalanya sudah berubah dan tidak akan pernah kembali sama seperti dahulu kala, kaca yang penah tidak akan bisa disatukan dengan mudah meskipun telah disatukan akan tetapi bekasnya akan selalu ada, ini sangat menyakitkan bagi Dhira".


"Apa yang harus Papa lakukan agar mendapatkan maaf darimu Nak, Papa sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan semuanya dari dirimu".


"Rasa sakit itu ibarat sebuah kecelakaan yang sangat parah Pa dan rasa trauma adalah cacat yang didapatkan akibat dari kecelakaan itu, memang seiring berjalan waktu lukanya akan sembuh tapi tidak dengan cacat yang dialaminya".


"Dhira, apa kau lupa dengan kasih sayang yang telah Papa berika ketika kau masih bayi, Papa selalu menimangmu dengan penuh cinta menggunakan kedua tangan Papa sendiri, ketika kau sakit Papa juga merasa sedih".


"Tapi itu semua berubah sejak ada orang baru yang masuk dalam kehidupan Papa, Papa telah melupakan diriku dan lebih memilih mereka daripada Dhira".


"Dhira, maafkan Papa"


Nadhira menghela nafas berat dan berjalan kearah sebuah batu dibawah rimbunnya pohon yang ada ditepi danau, Nadhira segera duduk bersandar disana sambil menikmati indahnya pemandangan sore hari itu, dengan air mata yang terus mengalir tanpa hentinya itu.


"Apa salahku Pa? Kenapa Papa begitu kejam kepadanya Dhira selama ini? Tinggalkan Dhira sekarang Pa, Dhira ingin sendiri ditempat ini, aku tidak mau lagi melihat wajah Papa sekarang, ku harap Papa bisa mengerti maksud dari Dhira".


"Dhira".


"DHIRA BILANG TINGGALKAN DHIRA SEKARANG PA! DHIRA TIDAK MAU MELIHAT WAJAH PAPA LAGI!" Bentak Nadhira dengan kerasnya.


"Baiklah Dhira, jika itu adalah keinginanmu, maka Papa akan pergi dari tempat ini".


"Dhira kecewa sama Papa" Ucap Nadhira lirih.


Amanda segera mengajak Rendi untuk pergi dari tempat itu, sebenarnya Rendi tidak ingin pergi dari sana akan tetapi karena paksaan dari Amanda sehingga membuatnya dengan terpaksa meninggalkan Nadhira ditempat itu.


Nadhira dapat merasakan langkah dari Rendi dan juga Amanda yang saat ini tengah melangkah pergi dari tempat itu seperti apa yang diinginkan oleh Nadhira saat ini, Nadhira kembali menangis sambil memandang kearah danau yang begitu tenang.


"RIFKI.... Kapan kau pulang? Duniaku benar benar hancur saat ini Rif, cepatlah pulang hiks.. hiks.. hiks.. Rifki, aku sangat merindukan dirimu, kapan kau akan datang untuk menemuiku? Hiks.. hiks.. hiks.." Teriak Nadhira kepada genangan air yang ada didepannya.


Perasaan Nadhira begitu hancur saat ini ketika mengetahui bahwa Rendi bukanlah Papa kandungnya selama ini, segalanya hanya seperti kehampaan saja bagi Nadhira, seperti sudah tidak ada lagi semangat yang tersisa dalam hidupnya.


"Kau pernah bilang kepadaku, kau tidak akan pernah meninggalkan diriku Rif, dimana kau sekarang? Bagaimana kabarmu disana? Apa kau tidak merindukan diriku juga? Hiks.. hiks.. hiks.. cepat pulang Rif, kau pernah berjanji kepadaku kalau kau akan selalu ada untukku, aku sangat membutuhkan dirimu sekarang Rif".


Ditengah tengah tenangnya air danau, air mata Nadhira mengalir begitu derasnya, tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan saat ini, ia sangat membutuhkan kehadiran Rifki dalam hidupnya yang mampu membuatnya tersenyum kembali.


Nadhira menatap kearah danau itu begitu lama dan bayang bayang kebersamaannya dan juga teman temannya terlintas diingatannya, Nadhira mampu melihat bayangan keempat orang yang tengah berbahagia ketika bermain air didanau itu.


Nadhira dapat melihat keempat orang itu tertawa bersama, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain bersama dengan orang yang paling kita sayangi, Nadhira juga melihat senyuman tercipta diwajah tampan Rifki kepadanya, hal itu membuat Nadhira tersenyum kepadanya.


"RIFKI... AKU MERINDUKANMU, KEMBALILAH, aku ingin bertemu dengan dirimu Rif" Teriak Nadhira memanggil nama Rifki.


Seketika itu juga bayangan yang ada didepan Nadhira perlahan lahan mulai memudar dan bahkan sudah menghilang begitu saja, hal itu membuat Nadhira kembali menangis begitu kerasnya.


Nadhira menangis sesenggukan ditempat itu dan berulang ulang kali dirinya memanggil nama Rifki dengan teriakannya, ia sangat berharap bahwa Rifki akan datang untuk menemuinya sekarang, tapi takdir berkata lain, seberapapun keras ia berteriak, Rifki tidak akan kembali begitu cepat.


"Dhira apa kau baik baik saja?"

__ADS_1


Ditengah tengah sesenggukannya itu Nadhira mendengar suara seseorang tengah memanggil namanya, hal itu membuat Nadhira menghentikan tangisannya dan segera menghapus air mata yang menetes dipipinya.


Seorang pemuda berjalan kearah Nadhira dan pemuda itu segera duduk didekat Nadhira tanpa diminta oleh Nadhira, Nadhira memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh pemuda itu dengan seksama yang kini tengah menatap kearah genangan air yang begitu tenang didepannya.


"Seberapapun keras kamu menangis hari, Rifki tidak akan kembali saat ini juga, doakan saja yang terbaik untuk Rifki semoga dia baik baik saja disana, berteriaklah jika teriakan itu mampu membuatmu merasa lebih tenang, hidup memang penuh dengan rintangan tapi jangan pernah menyerah akan setiap kegagalan yang kau dapat ataupun luka yang kau terima, lihatlah kebelakangmu sekarang, sudah begitu banyak rintangan yang telah kau lewati apakah kau ingin menyerah begitu saja untuk saat ini?" Ucap pemuda itu yang tetap memerhatikan genangan air danau.


"Kenapa kau ada disini? Bagaimana bisa kau tau kalau aku ada disini? Apa kau telah mendengar semuanya?"


Pemuda itu mengangguk, "iya, aku sudah mendengar semuanya sejak awal Dhira, ternyata perpisahanku denganmu waktu itu sama sekali tidak merubahmu ya, kau masih sama seperti dulu, dunia memang begitu kejam dan sempit ya sehingga kita bisa bertemu kembali ditempat seperti ini".


Pemuda itu tersenyum kepada Nadhira, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu kembali dengan sahabat lamanya itu, hal itu membuat Nadhira ikut tersenyum kepadanya, benar benar dunia begitu sangat sempit.


"Kau benar, bagaimana kabarmu selama ini? Sudah lama kita tidak pernah bertemu, sejak perpisahan waktu itu kita sudah tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol seperti ini"


"Seperti yang kau lihat sekarang Dhira, Alhamdulillah aku baik baik saja, ya seperti inilah nasibku, ditengah tengah padatnya kesibukanku, aku hanya menyempatkan diri untuk bersantai ditempat ini".


"Bagaimana kau bisa tau tentang tempat ini? Selama ini tidak ada yang mengetahui tempat ini selain aku dan teman masa kecilku sebelumnya".


"Kita kan sudah resmi menjadi sahabat sejak waktu itu, bagaimana bisa aku tidak mengetahui tempat seindah ini? Ya meski penuh dengan rimbunan semak semak untuk mencapai tempat ini sih tapi hasilnya sama sekali tidak mengecewakan"


"Kau benar, karena disinilah aku akan merasa tenang, karena ini adalah tempat kebersamaanku dengan Rifki dan yang lainnya".


"Maaf sebelumnya Dhira, sebelum kesini tadi aku tidak sengaja mendengar permasalahan keluargamu, aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan kalian, aku tau itu adalah hal terberat bagimu, ya sabar ya Dhira, kau adalah wanita yang kuat dan aku yakin kau bisa melalui ini semua dengan mudah" Ucap pemuda itu dengan hati hati takut kalau perkataannya menyinggung perasaan Nadhira.


Nadhira tersenyum masam mendengar ucapan dari pemuda itu, memang benar apa yang telah ia katakan bahwa selama ini Nadhira telah melewati begitu banyak rintangan yang begitu sulit untuk dilalui akan tetapi dirinya bisa melakukan itu.


"Kau ingat waktu itu aku dan Rifki berpetualang bersama ditengah tengah kegelapan malam dan rimbunnya pepohonan hanya untuk mencari dirimu Dhira, begitu banyak pelajaran yang dapat aku ambil dari Rifki, tak kenal lelah ataupun rasa takut dia terus melangkah dan sangat menghawatirkan dirimu".


Pemuda itu mengingatkan kembali kepada Nadhira tentang apa yang dulu pernah mereka lalui bersama sama tanpa rasa lelah ataupun takut untuk melangkah, walaupun begitu banyak bahaya yang datang, Rifki sama sekali tidak takut dengan tantangan yang akan ia hadang.


"Rasanya waktu sangat cepat berlalu ya Dhir, seandainya bisa ku ulang lagi, mungkin aku sudah melakukannya sejak dulu agar kita bisa berpetualang bersama sama lagi seperti waktu itu".


Seketika Nadhira teringat kembali disaat dirinya dikabarkan sudah meninggal akan tetapi Rifki tetap setia menemaninya, dan mendatanginya dialam bawah sadarnya meminta kepada Nadhira untuk tetap hidup bersamanya.


Nadhira bahkan dapat teringat kembali tentang pertarungan antara Rifki dan Theo, hingga akhirnya membuat Nadhira menangis histeris ketika mengetahui bahwa Rifki tengah dihajar mati matian oleh Theo, karena sayatan yang ada dilehernya membuat Rifki dapat bangkit kembali untuk melindungi Nadhira.


"Kau tau Dhira, saat Rifki mengetahui bahwa kau tidak sadarkan diri waktu dihutan, ia begitu marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi dirimu waktu itu".


"Benarkah semua itu?".


"Untuk apa aku berbohong kepadamu, aku juga teringat wajah lucunya ketika marah pada Bapak Ibu Guru waktu itu, seandainya aku dapat merekam wajahnya waktu itu dan menunjukkannya kepadamu saat ini, mungkin kau tidak akan berhenti untuk terus tertawa karena wajahnya".


"Kapan itu terjadi? Setauku Rifki tidak pernah marah kepada seorang Guru selama ini".


"Hah.... Kau tidak akan pernah mengingatnya Dhira, kau sendiri saja bahkan masih hilang dihutan waktu itu, dia begitu marah pada Guru karena tidak bisa menjagamu ketika kau berada didalam kelompok yang dipimpin oleh Amanda".


"Mungkin saat itu dia begitu cemas kepadaku karena aku tidak ikut kembali ke pos bersama dengan kelompok yang dipimpin oleh Manda".


"Bukan hanya cemas saja, bahkan ia hampir mengamuk kepada seluruh peserta kemah maupun para panitia juga".


Nadhira tersenyum ketika mendengarkan cerita mengenai Rifki dari pemuda itu, keduanya tidak pernah bertemu sebelumnya sehingga masih ada begitu banyak kisah yang ingin ia katakan kepada Nadhira, perlahan lahan rasa sedih yang Nadhira rasakan mulai menghilang karena cerita yang dikatakan oleh pemuda itu.


"Aku pikir dulu Rifki hebat karena mengikuti sebuah latihan beladiri yang aku ikuti saat itu, tapi ternyata aku salah, justru dia adalah pemimpin tertinggi dari geng yang aku ikuti Dhira, aku sangat bangga memiliki teman seperti dirinya"


"Apa maksudmu kau telah bergabung dengan anggota Gengcobra? Sejak kapan?"


"Kau baru tau Dhira? Aku baru bergabung dengan Gengcobra sudah sekitar 5 bulan yang lalu, ya temanmu itu sendiri yang mengajakku untuk bergabung bersama dengan mereka, temanmu yang namanya Bayu itu lo, tapi atas perintah dari Rifki sendiri sih Dhira, awalnya sih aku tidak tau apa apa soal Gengcobra tapi setelah bergabung dengan mereka aku jadi tau segalanya".

__ADS_1


Nadhira tidak menyangka bahwa setelah sekian lama tidak bertemu kini sahabat itu telah menjadi bagian dari anggota Gengcobra, sahabatnya yang dulu begitu penakut kini telah berubah menjadi seorang yang sangat pemberani dan terlihat begitu tegas seperti anggota yang lainnya.


"Aku merasa senang karena kau bisa bergabung juga dengan anggota Gengcobra, tidak banyak yang bisa lolos agar dapat bergabung dengan Gengcobra".


"Kau benar, yang satu generasi denganku saja hanya aku yang dipilih untuk bergabung dengan mereka, meskipun lewat perintah Rifki sih, bukan karena kemampuanku sendiri".


"Tidak masalah, itu juga bagus untukmu, karena Rifki yakin bahwa kau akan sanggup untuk membangun Gengcobra agar lebih baik lagi kedepannya".


"Iya sih, tapi aku merasa aku bukan apa apa diantara semua anggota Gengcobra itu, kemampuanku bahkan lebih lemah daripada mereka".


"Sepertinya kau sudah berubah begitu banyak setelah bergabung dengan mereka, lama kelamaan juga akan terbiasa kok nantinya, sama seperti Bayu, Vano, maupun Reno".


"Aku merasa malu dengan dirimu Dhira, kau seorang wanita tapi memiliki ilmu beladiri yang hebat, kau tau? Tempat ini sudah dimiliki oleh anggota Gengcobra sekarang, dan setiap pagi akan ada seseorang yang datang untuk membersihkannya, dan aku datang kemari untuk menenangkan pikiranku dari begitu banyak tugas negara yang membuatku pusing sekali Dhira".


"Namanya juga gabung dengan anggota Gengcobra, pastilah kau akan mengalami hal itu".


Pemuda itu tertawa mendengar jawaban dari Nadhira, memang sejak bergabung dengan anggota itu begitu banyak tugas yang harus diselesaikan mulai dari mengurus Gengcobra, mengurus Surya Jayantara, ataupun berkeliling mencari orang orang yang membutuhkan pertolongan.


Sore ini begitu damai bagi pemuda itu, ia mengetahui bahwa ada sebuah danau yang cukup tenang untuk dapat menenangkan pikiran mereka, hal itulah yang membuat pemuda itu tertarik untuk datang kedanau ini untuk menenangkan pikirannya dari begitu banyak tugas yang ia terima.


Ketika ia ingin menenangkan pikiran siapa sangka bahwa dirinya akan bertemu dengan kawan lamanya ditempat seperti ini, tidak banyak anggota Gengcobra yang mengetahui tempat ini hal itulah membuat tempat ini tidak dijaga oleh mereka.


"Lalu bagaimana dengan kabar Rifki? Apakah dia baik baik saja sekarang? Kenapa dia tidak pernah memberi kabar kepadaku".


"Apa yang harus aku katakan kepada Dhira mengenai keadaan Rifki sekarang, kalau tadi pagi Rifki mengalami serangan tiba tiba dari penghianat yang ada didalam perusahaannya, aku juga tidak tau bagaimana keadaannya sekarang apakah dia sudah sadarkan diri atau belum, semoga saja dia baik baik saja dan dapat pulang ketanah air dengan selamat" Batin pemuda itu.


Ketika Nadhira bertanya tentang keadaan Rifki, seketika pemuda itu nampak begitu diam dan seakan akan sedang memikirkan sesuatu yang begitu rumit untuk dijelaskan kepada Nadhira.


"Kenapa diam? Apa telah terjadi sesuatu kepada Rifki sekarang? Apa yang terjadi dengan Rifki?".


"Ah tidak apa apa Dhira, aku hanya teringat tentang cerewetnya saja, kau tidak perlu cemas soal dirinya, Rifki baik baik saja kok, lagi pula terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk disana, jadi Rifki sangat sulit untuk menghubungimu".


"Alhamdulillah kalau begitu, aku merasa lega mendengarnya, jadi Rifki baik baik saja disana, aku hanya mendadak merasa begitu khawatir saja tentang keadaannya pagi ini".


Pemuda itu begitu terkejut ketika mendengar ucapan Nadhira, apa yang dirasakan oleh Nadhira memang telah terjadi kepada Rifki, pagi ini Rifki mendapatkan sebuah tembakan dada sebelah kirinya dan sampai sekarang ini dirinya belum sadarkan diri.


Meskipun peluru itu telah dikeluarkan dari tubuh Rifki akan tetapi pendarahan yang terjadi kepada begitu parah, sehingga Rifki belum sadarkan diri sampai sekarang, Rifki dilarikan kerumah sakit yang begitu lengkap disana dan dijaga begitu ketat agar tidak ada penyusup yang diam diam masuk kedalam ruang rawat Rifki.


"Ini sudah terlalu sore Dhira, sebaiknya kita pulang saja, disini tidak ada lampu sehingga akan terasa begitu gelap nantinya, apa kau tidak takut kalau ada hantu yang sangat menyeramkan datang ketempat ini Dhira?". Pemuda itu mengajak Nadhira untuk pulang.


"Tapi aku masih ingin berada disini".


"Oh iya, katanya kau sudah pindah rumah ya? Pindah dimana? Boleh aku tau alamatmu sekarang Dhira?".


"Untuk apa meminta alamatku?".


"Ada suatu hadiah dari Rifki untukmu, aku akan mengirimkannya kerumahmu, soalnya aku tidak membawa hadiah itu sekarang, jadi ...".


"Baiklah".


Nadhira segera mengetikkan sesuatu di hp milik pemuda tersebut, itu adalah alamat rumahnya saat ini.


*Btw, siapa pemuda itu? Next eps selanjutnya ya, selanjutnya adalah episode terakhir dari "kisah Apa Salahku Pa" ya readers, terima kasih telah mengikuti kisah ini sampai akhir.


*Jangan lupa mampir juga dikisah selanjutnya yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Nadhira, Rifki dan Theo, siapa yang akan memenangkan hati Nadhira? apakah Theo? ataukah Rifki?, dan ngak kalah seru lo dari kisah ini, yang judulnya adalah *Cinta terakhir dalam hidupku* by author. Riskejully


*Salam cinta dari Author 💕

__ADS_1


__ADS_2