Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Yang buruk belum tentu jahat


__ADS_3

Sesampainya dirumah Nadhira bergegas mendatangi pembantunya, dan bersiap siap untuk menyantap makanan yang ia pesan kepada pembantu barunya.


"Wah... Bi ini kelihatannya enak sekali". Kedua mata Nadhira berbinar binar melihat hidangan yang ada diatas meja.


Setelah menaruh masakannya diatas meja makan, bi Ira bergegas kehalaman depan untuk membersihkannya. Meninggalkan Nadhira duduk dan menikmati makanannya.


Nadhira mengambil nasi yang masih hangat dan segera menuangkannya keatas piring yang ia siapkan. Ketika hendak mengambil lauknya. Tangannya segera dihentikan oleh mama tirinya, Nadhira menarik kembali tangannya yang telah dijulurkan untuk mengambil lauk.


"Ini bukan makanan untukmu, enak saja mau makan enak, laukmu sudah disiapkan di belakang". Ucap Sena.


Nadhira membawa piring yang telah ia tuangi nasi menuju kearah dapur. Ia menemukan hanya ada lauk tempe dan tahu goreng saja, dalam diam Nadhira menyantap makanan tersebut.


"Masih banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan, Nadhira tidak boleh sedih". Ucapnya sendiri


Ketika airmatanya hendak menetes, Nadhira segera mengusapnya. Tak beberapa lama kemudian Nadhira selesai makan dan masuk kedalam kamarnya dan tidak keluar lagi.


Tok tok tok


Ketika Nadhira mulai memejamkan kedua matanya, ia mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dengan malas ia bangkit dari kasur tidurnya, berjalan dengan sempoyongan kearah pintu.


"Siapa?". Tanya Nadhira dengan mata terpejam.


"Ini bi Ira non".


Mendengar orang itu menyebut namanya sebagai bi Ira, membuat Nadhira membuka matanya lebar lebar, dan metatap sosok yang ada didepannya dengan terkejutnya.


"Ada apa bi malam malam begini". Tanya Nadhira yang kebingungan.


"Ada sesuatu dikamar bibi non, bibi ngak berani, coba non lihat". Ucap bi Ira dengan wajah yang ketakutan.


Nadhira segera berlari kekamar pembantunya untuk melihat apa yang dimaksud olehnya. Sesampainya mereka bedua dikamar belakang, Nadhira mencari sesuatu yang dimaksud oleh pembantunya tetapi ia tidak menemukannya.


Nadhira hendak bertanya kepada bi Ira, tetapi bi Ira menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya pertanda menyuruh Nadhira untuk diam. Bi Ira segera mengunci pintu kamarnya dari dalam, Nadhira merasa terkejut melihat apa yang dilakukan oleh pembantunya.


Bi ira berjalan menuju meja kamarnya, ia menyuruh Nadhira untuk duduk ditepi ranjangnya. Bi Ira menyodorkan sebuah piring dihadapan Nadhira. Nadhira memandang piring itu dengan terkejut.


"Ini?". Nadhira memandang bi Ira dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"Makanlah non, maaf bibi tadi berbohong pada non Nadhira, tadi siang bibi lihat non Nadhira hanya makan lauk tempe dan tahu, sedangkan nona Amanda dan nyonya makan makanan yang non Dhira pesan tadi pagi bibi ngak tega lihat non Dhira".


"Makasih bi".


Mata Nadhira berkaca kaca, melihat apa yang diberikan oleh pembantunya. Sesuap demi sesuap ia masukkan kedalam mulutnya sampai nasi yang ada di piringnya tandas, perlahan lahan air matanya mulai keluar.


"Kenapa non Dhira nangis? Apa masakannya tidak enak?". Tanya bi Ira.


"Bukan gitu bi, rasanya mirip seperti buatan mana, bibi ngak ikut makan?".


"Ngak non, bibi udah kenyang,, syukurlah kalau non Dhira suka, bibi dulu punya sahabat, kami berdua sering belajar masak bareng, dan paling sering masak makanan ayam kecap seperti ini, sayang sekali bibi dan sahabat bibi sudah lama berpisah, ia melanjutkan sekolahnya sedangkan bibi tidak punya biaya untuk melanjutkan". Curhat bi Ira.


"Oh iya? Pasti sahabat bi Ira baik hati".


"Kenapa non Dhira bisa tau seperti itu?".


"Kebanyakan sekarang tidak ada yang mau berteman dengan orang yang berbeda kedudukan, hanya orang yang baik hati yang mau berkawan dengan orang yang serba kekurangan, untuk mencari sahabat seperti itu sangatlah susah".


"Betul non, pertemanan sekarang memandang harta, memang benar apa kata pepatah 'Harta itu membutakan' ya kan non".


"Iya bi, andai mama masih ada didunia". Airmata Nadhira menetes, tetapi bibirnya masih menampakkan senyuman. "Ah sudahlah ini semua sudah menjadi takdirku, dan tidak bisa terulang kembali".


"Benarkah bi? Pasti sangat seru main dengan mereka"


Nadhira tersenyum mendengar curhatan dari pembantunya. Setelah setengah jam berlalu, Nadhira kembali kekamarnya untuk istirahat. Ia tertidur dengan nyenyaknya.


*****


Menjelang subuh dalam tidurnya Nadhira berkeringat dingin, tidak biasanya ia mengalami hal seperti ini sebelumnya. Didalam mimpinya Nadhira sedang dikejar oleh mahluk yang menyeramkan, seluruh tubuhnya kaku tidak bisa ia gerakkan.


Keringat terus bercucuran, nafas Nadhira mulai tidak normal bahkan ia merasa kesulitan untuk bernafas. Terdengar suara teriakan yang menyeramkan ditelinga Nadhira, Nadhira ingin teriak tetapi tak satupun suaranya dapat keluar.


Sosok yang Nadhira lihat dalam mimpinya begitu menyeramkan dan berbulu, ia terus mendekati Nadhira dan mencekik leher Nadhira.


Nadhira berusaha keras untuk melepaskan tangan mahluk itu dari lehernya, tetapi usahanya hanyalah sia sia. Tangan mahluk itu lebih kuat daripada tangan Nadhira, Nadhira mendengar suara bisikkan seseorang dari alam tidurnya.


Bisikkan itu menyuruh Nadhira untuk bangun dari alam mimpinya, tak beberapa lama kemudian terdengar lantunan ayat suci Al-Quran yang mampu memberi kekuatan kepada Nadhira untuk bangkit dari alam mimpinya.

__ADS_1


Nadhira mencoba menggerakkan jarinya perlahan lahan, setelahnya ia mencoba membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok pembantunya berada disampingnya.


"Alhamdulillah akhirnya non Nadhira bangun juga". Bi Ira merasa lega ketika melihat Nadhira membuka matanya.


"Apa yang terjadi kepada ku bi? Bagaimana bibi bisa masuk kedalam?". Nadhira mencoba duduk sambil mengatur nafasnya yang memburu.


"Bibi tadi hendak menyapu depan kamar non Dhira, bibi dengar non Dhira merintih seperti kesakitan gitu non, bibi coba buka pintu kamar non, ternyata tidak non kunci jadi maaf bibi lancang masuk kekamar non ......."


Waktu menunjukkan pukul setengah 4 pagi seperti biasa bi Ira bangun lebih awal untuk membersihkan rumah bagian dalam sebelum pergi untuk memasak. Ketika ia melewati kamar Nadhira ia merasa ada yang aneh dalam kamar Nadhira, ia menempelkan telinganya kepada pintu kamar Nadhira dan mendengar Nadhira menggenggam kesakitan.


Bi Ira mencoba untuk membuka pintunya ternyata tidak dikunci oleh Nadhira seperti biasanya. Ia bergegas untuk melihat Nadhira, sesampainya ditepi tempat tidurnya ia sudah menemukan Nadhira bermandikan keringat yang begitu banyak.


Ia berusaha untuk membangunnya, beberapa kali dan terus mengalami kegagalan. Ia membisikkan sesuatu kepada Nadhira dan juga memijat plipis Nadhira, tak lupa ia juga membacakan doa untuk Nadhira.


Setelah lama ia menunggu Nadhira sadar, Nadhira menunjukkan responnya dengan menggerakkan jari jari tangannya. Ketika melihat Nadhira terbangun membuat perasaannya begitu lega.


"Kalau didesaku dulu ini disebut dengan tindihan". Ucap bi Ira setelah menceritakan kejadiannya kepada Nadhira.


"Terima kasih bi, kalau boleh tau apa itu tindihan? Kenapa seluruh organ tubuhku tidak bisa digerakkan? Dan kenapa ada sosok yang menyeramkan menemuiku?".


"Bisa jadi non Dhira setengah sadar dan setengah tidak sadar, Konon katanya orang yang mengalami hal ini biasanya terjadi ketika ia ditindih oleh mahluk gaib dan sebagainya, kalau orang itu tidak segera dibangunkan bisa bisa nyawanya juga ikut melayang non".


"Melayang? Apakah pernah terjadi sebelumnya bi?"


"Menurut perkataan ibu panti dulu pernah ada kejadian seperti itu non, tapi entahlah itu benar atau tidak, yang pasti kita harus hati hati non, jangan lupa berdoa sebelum tidur".


"Ow.. gitu ya bi, iya bi".


Nadhira segera bangkit dan menuju kekamar mandi, siap siap untuk pergi kesekolah. Sedangkan bi Ira kembali melanjutkan pekerjaannya didapur setelahnya membersihkan halaman depan.


Setelah selesai siap siap Nadhira pergi keruang makan untuk mengisi perutnya sebelum berangkat kesekolah. Ia menemukan bahwa keluarganya sudah berada diruang makan,


"Pa, besok Nadhira ulang tahun yang ke-15 ...."


"Kenapa? Kamu sudah besar ngak usah aneh aneh"


Nadhira belum sempat melanjutkan perkataannya, Rendi segera memotongnya dengan suara yang sangat ketus. Membuat Nadhira tidak berani untuk melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.

__ADS_1


Mereka makan dalam diam dan hanya terdengar dentingan sendok makan dan piring yang saling bertatapan satu sama lain. Selesai makan mereka membubarkan diri untuk melanjutkan aktivitas masing masing.


Setiap pagi hari, Rendi yang mengantarkan Amanda pergi kesekolah dan ketika pulang ia dijemput oleh mamanya. Sedangkan Nadhira berangkat dan pulang harus jalan kaki, meskipun jaraknya kesekolah lumayan jauh sekitar kurang lebih 1 km.


__ADS_2