Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kembali camping


__ADS_3

Disebuah ruangan tempat dimana para anggota OSIS baru sedang berkumpul, setelah pelantikan telah selesai dilaksanakan akhirnya Rifki terpilih menjadi ketua OSIS baru sementara Nadhira menjadi sekertarisnya.


Sedangkan anak yang pernah berselisih dengan Rifki diwaktu pertama kali Rifki menginjakkan kaki diruangan OSIS itu telah menjadi anggota OSIS baru, tetapi tidak menjabat sebagai ketua, sekertaris, maupun bendahara.


Seluruh anggota OSIS baru tengah membicarakan acara mereka selanjutnya untuk penerimaan siswa baru, banyak pro dan kontra dalam hal itu sehingga sangat sulit untuk memutuskan bagaimana mengenai acara mereka untuk menyambut siswa baru disekolah itu.


Setelah sekian lama bermusyawarah akhirnya mereka menemukan sebuah mufakat atau keputusan bersama, mereka telah menentukan suatu acara seperti acara ditahun kemarin yakni berkemah didekat hutan dan sedikit jauh dari desa Mawar Merah seperti ketika penerimaan siswa baru golongan Rifki dan Nadhira.


Sebenarnya banyak yang tidak menyetujui akan hal itu, akan tetapi karena banyaknya keputusan yang menyetujui hal itu sehingga Rifki mengambil kesimpulan bahwa hal itu telah disetujui olehnya.


Nadhira terus mencatat hasil dari rapat anggota OSIS baru dan memilihkan tanggal yang tepat untuk melakukan kegiatan tersebut, setalah keputusan itu disetujui akhirnya mereka menentukan bahwa kemah itu akan dilakukan sekitar satu minggu lagi untuk persiapan segalanya.


Setelah rapat yang cukup lama akhirnya mereka kembali kekelas masing masing untuk dapat mengikuti pelajaran selanjutnya, Nadhira dan Rifki segera bergegas menuju kekelas mereka akan tetapi banyak mata yang memandang keduanya dengan perasaan iri dengan hubungan keduanya.


"Rif, kita kembali berkemah kehutan itu, dan bertemu dengan penghuni disana lagi?". Ucap Nadhira berbisik kepada Rifki yang ada disampingnya.


"Iya Dhira, aku ingin mencari tahu tentang sesuatu didesa Mawar Merah".


"Sesuatu seperti apa itu Rif, apa kamu masih ingin mencari tau mengenai permata itu?".


"Iya, aku masih ragu dengan sosok Pangeran Kian, apakah itu ada hubungannya denganku atau tidak, aku juga harus tau, alasan apa yang membuat Papa dan Kakekku pergi meninggalkanku disaat seperti ini, mungkin disana aku bisa mengetahui sesuatu yang penting yang harus aku ketahui".


"Apa mungkin hal itu ada hubungannya dengan masalalu keluargamu Rif, yang memang sengaja disembunyikan darimu, lalu apa hubungannya diriku dengan permata itu dan juga desa itu".


"Kita akan segera mengetahuinya Dhira, cepat atau lambat kita harus tau tentang hal itu".


"Jika itu benar, apa mungkin kita adalah saudara? Bisa jadi kan? Karena masalalu keluarga kita saling berhubungan satu sama lain, kamu ada hubungannya dengan Pangeran Kian, sementara diriku ada hubungannya dengan Nimas".


"Jika memang seperti itu, kita harus segera tau Dhira, aku harus mengetahui tujuan Kakekku sebelum dia pergi meninggalkanku dan mengangkatku sebagai pemimpin perusahaan disaat masih berusia seperti ini, aku sama sekali belum siap untuk menerima tanggung jawab sebesar itu".


Rifki sangat meragukan tentang jati dirinya sebenarnya, karena didalam mimpinya Pangeran Kian memberikan sebuah nama untuk anak laki laki pertama dengan nama Abriyanta hal itu membuat Rifki merasa bimbang dengan apa yang ia ketahui dalam mimpinya.


Lantas alasan apa yang membuat Aryabima dan Haris pergi meninggalkannya, dan alasan apa yang membuat Kakeknya mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan Haris dari bahaya waktu itu, sementara apa penyebab dari bahaya tersebut Rifki sama sekali tidak mengetahuinya.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dikelas yang mereka tuju, keduanya segera bergegas menuju kebangkunya masing masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


"Eh iya Dhira, Anggota OSIS mau ngadain camping lagi kah?". Tanya Fajar kepada Nadhira.


"Iya, minggu depan". Jawab Nadhira singkat.


"Ditempat yang sama seperti dulu? Tapi itu kan bahaya, nanti ada yang hilang lagi seperti...".


"Seperti aku bukan?". Tanya Nadhira sebelum Fajar menyelesaikan kata katanya.


"Iya seperti itulah". Jawab Fajar sedikit melembek.


"Tenang, kan ada pawangnya, kenapa harus takut". Jawab Nadhira sambil melirik kearah Rifki berada.


Fajar kehabisan kata kata, ia terjebak dalam perkataannya sendiri, berbicara kepada dua orang itu hanyalah menguras emosinya saja, karena bisa dibilang bahwa Rifki dan Nadhira adalah dua insan yang sama tetapi hanya beda raga saja.


*****


Beberapa minggu kemudian akhirnya hari yang ditentukan untuk camping akan segera terlaksana, Nadhira, Rifki dan anggota OSIS lainnya tengah berkumpul didepan bus yang akan membawa mereka menuju ketempat dimana camping akan diadakan, sementara peserta camping sedang berkumpul didalam bus tersebut.


"Baiklah, sebelum berangkat tolong perhatikan peserta yang lainnya jangan sampai ada yang terlewatkan ataupun sebagainya, data diri mereka diperiksa siapa yang ikut camping dan siapa yang tidak diizinkan untuk ikut camping". Ucap Rifki kepada seluruh anggota OSIS.


"Baik ketua". Jawab mereka serempak.


"Kalian juga harus berhati hati, karena kita berada didunia luar yang sangat dekat dengan dunia gaib, aku sudah meminta izin kepada penghuni disana, kalian juga harus memperhatikan peserta lainnya jangan sampai melakukan hal yang aneh aneh".


"Baik ketua".


"Baiklah ayo kita berangkat sekarang".


Setelah mengatakan hal itu, Rifki segera masuk kedalam bus tersebut diikuti oleh Nadhira dan anggota yang lainnya, tidak lupa para guru yang ikut dalam camping juga masuk kedalam bus yang berbeda, karena telah disediakan 5 bus untuk seluruh siswa kelas 1 semua jurusan.


Ketua OSIS, sekertaris OSIS, dan bendahara OSIS masuk kedalam bus pertama, sementara anggota yang lainnya masing masing berpencar dibus yang telah ditugaskan oleh mereka.


Bus pun berjalan meninggalkan sekolahan menuju ketempat yang akan mereka gunakan untuk camping dihari itu, Rifki telah memilihkan sebuah tempat yang cukup aman dari gangguan mahluk gaib tetapi bukan berarti tidak ada mahluk gaib yang menjaganya.

__ADS_1


Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mereka sampailah ditempat tujuan mereka, Rifki memerintahkan para anggotanya untuk membimbing siswa baru untuk mendirikan sebuah tenda setelah sampai ditempat itu.


Setelah semuanya selesai membangun tenda dan mencari kayu bakar, waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan anggota OSIS kembali berkumpul untuk membicarakan agenda selanjutnya.


"Untuk agenda malam ini, biarkan mereka tidur dengan nyenyak karena perjalanan sudah cukup panjang dan mereka mungkin juga sudah kelelahan untuk mendirikan tenda dan mencari kayu bakar juga". Ucap Nadhira kepada seluruh anggota OSIS.


"Hah itu jauh lebih baik, aku juga merasa begitu lelah". Keluh seseorang disamping Nadhira setelah ia melakukan tugasnya, menurutnya keputusan Nadhira itu sudah sangat tepat.


"Baiklah, sebaiknya masing masing dari kalian memeriksa para anggotanya agar tidak ada yang berkeliaran, dan kalian bisa beristirahat disiang ini karena nanti malam kalian juga harus berjaga malam untuk memastikan keamanan dari para peserta". Pinta Rifki kepada semuanya.


"Baik".


Seluruh anggota OSIS itu segera membubarkan diri masing masing untuk membimbing peserta yang akan menjadi kelompoknya untuk dibimbing dalam acara dimalam ini.


Semua kelompok segera masuk ketendanya untuk beristirahat siang hari, sebagai pemulihan energi yang terbuang dari tubuh mereka karena telah membangun tenda dan juga mencari kayu bakar diarea sekitar perkemahan.


Sementar itu Rifki dan Nadhira tetap tinggal ditempat itu, Rifki menjatuhkan tubuhnya diatas akar pohon yang cukup besar lalu ia bersandar dibawa pohon itu sambil memejamkan matanya karena dirinya tengah kelelahan, diikuti oleh Nadhira yang mendudukkan tubuhnya disebalah Rifki.


"Lalu kapan kita akan pergi kedesa Mawar Merah?". Tanya Nadhira kepada Rifki yang tengah memejamkan matanya.


"Malam ini Dhira, setelah semuanya tertidur dengan lelap, kita akan pergi kedesa itu dengan diam diam untuk saat ini istirahatlah dulu, agar kamu tidak kelelahan untuk acara nanti malam". Jawab Rifki tanpa membuka kedua matanya.


"Menurutmu apakah orang yang dulu datang kesitu sekarang akan datang lagi?". Tanya Nadhira.


Nadhira menatap wajah Rifki dengan lekat lekat, alis mata yang tebal, dengan kumis tipis membuat wajah itu begitu menawan, akan tetapi tidak ada jawaban apapun dari Rifki, karena Rifki tengah tertidur dengan lelapnya kali ini.


"Belum juga selesai ngomong, malah ditinggal tidur aja, untung tampan kalo ngak sudah aku pites pites nih orang, main tinggal tidur aja". Guman Nadhira sambil menatap wajah Rifki.


Tidak mudah untuk menjadi sosok seperti Rifki, sejak pagi hingga sore ia disibukkan dengan sekolah dan acara acara sekolah karena dirinya adalah ketua OSIS, sedangkan sejak sore sampai malam ia harus belajar bagaimana caranya untuk memegang perusahaan yang akan diajari oleh Bram sesuai permintaan dari Kakeknya.


Belum lagi adanya masalah masalah lainnya yang terus bermunculan, sehingga Rifki mudah tertidur dengan nyenyaknya dalam keadaan apapun, akan tetapi instingnya masih begitu tajam meskipun dalam keadaan tidur sekalipun.


Jika Rifki sudah tertidur seperti ini, jangankan untuk membangunkannya, menyentuh dirinya saja Rifki sudah mampu melontarkan sebuah pukulan karena refleknya yang sering ia latih sehingga refleknya begitu cepat walaupun dalam keadaan tertidur.


Rifki tertidur dengan begitu damainya, dapat dilihat dari bagaimana caranya dirinya tertidur dengan nyenyaknya, meskipun dalam keadaan tertidur wajah Rifki tetap memancarkan sebuah senyuman tipis diujung bibirnya.


"Sebaiknya aku juga istirahat ditenda, mungkin nanti malam akan menjadi malam yang panjang didesa itu, aku juga harus menyetabilkan energiku".


Beberapa jam kemudian akhirnya Rifki terbangun dari tidurnya, tepat pukul 4 sore Rifki terbangun, ia pun merenggangkan otot ototnya yang kaku setelah bangun tidur, Rifki merasakan sesuatu yang ada ditubuhnya setelah memeriksanya ternyata jaket Nadhira terpasang ditubuhnya.


"Kenapa jaketnya ada disini?".


Rifki segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ketempat air terjun untuk membasuh mukanya agar terlihat kembali segar seperti sebelumnya.


Setelah itu Rifki bergegas menuju ketenda milik Nadhira untuk mengembalikan jaket milik Nadhira yang Nadhira gunakan untuk menutupi tubuhnya dari terik matahari sebelumnya.


"Dhira". Panggil Rifki didepan tenda Nadhira.


Nadhira yang masih terpejam didalamnya segera mengernyitkan dahinya pertanda ia akan terbangun, tak beberapa lama kemudian Nadhira keluar dari dalam tendanya untuk melihat siapa yang membangunkannya kali ini.


"Sejak kapan kamu sudah bangun?". Tanya Nadhira kepada Rifki ketika Nadhira sudah berada didepan Rifki saat ini.


"Baru saja, aku mau mengembalikan jaketmu, makasih untuk jaketnya". Ucap Rifki sambil menyodorkan jaket milik Nadhira.


"Ngak masalah, lagian aku tanya ngak kamu jawab malah ketiduran". Ucap Nadhira sambil menerima jaketnya kembali.


"Aku dengar kok, firasatku mengatakan bahwa orang itu akan datang kok malam ini, kita harus bersiap siap sebelum orang itu datang".


"Eh kenapa kamu bisa tau aku menanyakan itu? Apa jangan jangan kamu pura pura tidur kan tadi?".


"Ngak ada yang namanya pura pura tidur Nadhira, meskipun aku dalam keadaan tertidur pun aku dengar kok apa yang kamu ucapkan, kamu memujiku tampan kan? ya sudah aku mau mandi dulu, setelah itu sholat ashar, kamu ngak mandi juga?".


"Kita mandi berdua gitu?"


"Ya kali aku ngajak mandi berdua, emang kamu mau? Kalo aku sih mau mau aja, ayo!".


Nadhira yang mendengarkan ucapan itu membuatnya seketika malu sendiri, tanpa aba aba Nadhira langsung mencubit lengan Rifki karena terlalu gemasnya dengan ucapan tersebut.


"Akh... sakit Dhira". Keluh Rifki karena cubitan dari Nadhira yang membuatnya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Baru satu cubitan aja sudah ngeluh sakit, biasanya juga kalo kena pukul, kena tendang, kena banting pun ngak pernah tuh ngeluh sakit".


"Biasanya kan beda Dhira, kalo ini beneran sakit".


"Jadi kalau kena tonjok ngak sakit ya?".


"Ngak". Ucap Rifki sambil meringis kearah Nadhira.


"Mau ku tonjok". Ucap Nadhira sambil memainkan tangannya yang sedang terkepal salah satunya.


Nadhira mengepalkan tangan kanannya dengan kuat sambil memukul mukul tangan kirinya seperti sudah siap untuk melontarkan sebuah pukulan untuk Rifki, melihat itu Rifki hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.


"Ampun suhu... Jangan main kekerasan dong Kakak Nadhira yang cantik jelita bak bidadari, aku ngak bisa beladiri, bagaimana kalau wajahku sampe bengkak nanti, kan ngak lucu, masak iya ketua OSIS wajahnya bengkak gara gara ditonjok, lalu apa kata mereka?".


"Kau mempermainkanku Rif, siapa yang kau bohongi itu? Siapa yang akan percaya bahwa kamu tidak bisa beladiri? Kurang profesional caramu berbohong". Ucap Nadhira sambil cemberut kearah Rifki.


Rifki hanya bisa meringis kearah Nadhira, Rifki tidak bisa berbuat apa apa ketika melawan Nadhira, karena Rifki tidak bisa melawan seorang perempuan apalagi perempuan itu begitu sangat berarti baginya.


"Iya iya aku salah".


"Kamu sih aneh aneh aja, masak iya kita mau mandi berdua, belum juga menikah udah ngajak mandi berdua".


"Mau menikah sekarang?".


"Ngak".


"Menikah besok?".


"Ngak"


"Bagaimana kalau lusa?".


"Ngak".


"Jadi kamu ngak mau nikah sama aku nih?".


"Ngak".


"Ya udah, aku mau cari yang mau diajak nikah aja".


"Berani seperti itu, ku pukul kau sekarang juga, Apa!! Ngak terima?". Tanya Nadhira dengan memicingkan matanya ketika melihat Rifki hendak membuka mulutnya untuk menyahuti ucapan Nadhira.


Rifki tersenyum kearah Nadhira yang terlihat sedikit sebal dengan dirinya, wajah sebal Nadhira terlihat begitu lucu menurut Rifki sehingga Rifki sangat suka untuk membuat Nadhira marah.


"Padahal aku tanya baik baik lo, siapa juga yang ngajak kamu mandi berdua? lagian juga bukan mahramnya, aku kan hanya mau tanya kamu ngak mandi apa? Soalnya adek adek yang lainnya sudah membuat bilik dari terpal tenda untuk mandi wanita diair terjun".


"Beneran? Kapan mereka buatnya?".


"Untuk apa sih aku berbohong, lagian kamu sih ngak mau tanya dulu kek, apa gitu kek, langsung main cubit cubit aja".


"Iya iya maaf, aku percaya kok".


"Iya iya maaf, setelah menyakiti langsung minta maaf, rasa sakitnya masih terasa begitu jelas Nadhira Novaliana Putri". Gerutu Rifki.


Nadhira segera meraih tangan Rifki yang dimana tadinya telah ia cubit, setelah itu ia melipat lengan baju Rifki, nampaklah sebuah bekas kemerahan dilengan tangan Rifki yang seputih susu akibat dari cubitan yang Nadhira berikan kepadanya sekarang mulai membekas.


"Maaf". Ucap Nadhira sambil meniup tangan Rifki yang telah ia cubit sebelumnya sambil mengusap usap untuk menghilangkan rasa nyerinya.


"Ngak papa kok, lagian yang salah juga aku Dhira, perempuan kan tidak pernah salah, perempuan itu selalu benar yang salah itu lelaki, aku paham itu".


"Beneran aku minta maaf, aku salah, sampai sampai meninggalkan noda merah ditanganmu seperti ini".


"Lagian siapa suruh nyubit seseorang sampe segitunya".


"Tuh kan kamunya marah". Nadhira terus mengusap tangan Rifki dengan pelannya.


"Aku ngak marah Nadhira, ini juga luka kecil, lihat bekas merahnya baguskan? Lagian ngak ada yang punya juga selain aku, luka seperti ini hanya boleh Rifki yang punya, lainnya tidak boleh, ingat itu".


Nadhira tersenyum kearah Rifki, emang selama ini Nadhira tidak mau disalahkan oleh Rifki dalam segala hal, meskipun dirinya yang berbuat salah akan tetapi Rifki yang selalu mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Nadhira segera masuk kedalam tendanya untuk mengambil pakaiannya, sementara Rifki juga kembali ketendanya untuk mengambil pakaiannya, keduanya berkumpul diluar tenda dan bergegas menuju ketempat air terjun berada.


Nadhira menuju ketempat dimana bilik itu dibangun disana untuk mandi, sementara Rifki menuju ketempat air terjun jatuh mengalir untuk membersihkan tubuhnya, setelah sekian lama akhirnya keduanya selesai mandi.


__ADS_2