
Nadhira dapat merasakan bahwa orang misterius itu adalah seorang perempuan dari ukuran tangan, cara memegang senjata yang berantakan, kecepatan serta kelincahannya dan tingkat kekekarannya yang mampu menunjukkan apakah itu laki laki ataupun wanuta.
Melihat dirinya yang sudah tidak bisa menghadapi sosok seorang gadis yang ada dihadapannya saat ini, dirinya berusaha untuk kabur dari tempat itu akan tetapi Nadhira tidak membiarkan orang itu kabur.
"Ternyata kamu seorang wanita?".
Mendengar pertanyaan Nadhira membuat orang misterius itu berusaha untuk melepaskan tangan Nadhira dan setelah dirinya berhasil lepas dari pegangan tangan Nadhira, orang tersebut segera berusaha untuk berlari menjauh dari tempat itu.
Belum sempat sosok misterius itu mampu berlari, Nadhira segera menggerakkan kakinya untuk membuat orang itu terjatuh dengan kerasnya kelantai rumah Nadhira.
"Apa tujuanmu datang kerumahku!"
Nadhira berniat untuk mendekat kearah orang itu dan melihat wajah dari orang tersebut, akan tetapi orang itu sepertinya mengetahui kelemahan Nadhira saat itu, sehingga ia memukul persendian Nadhira dengan seluruh kemampuannya dan berusaha untuk bangkit dari jatuhnya saat ini.
Setelah orang misterius itu berhasil untuk bangkit kembali, orang tersebut segera berlari menjauh dari tempat itu dengan cepatnya seakan akan dirinya mengetahui denah rumah Nadhira.
"Siapa kamu! Tunggu jangan lari!" Teriak Rendi.
Ketika Rendi hendak mengejar orang itu tiba tiba Nadhira jatuh duduk dihadapannya sehingga Rendi lebih memilih untuk mendatangi Nadhira daripada harus mengejar orang misterius tersebut.
"Dhira kamu ngak apa apa" Tanya Rendi dengan cemasnya.
"Aku ngak apa apa kok Pa, aku merasa orang misterius itu adalah seorang wanita terlihat dari bentuk tangannya dan tingkat kekasarannya" Ucap Nadhira sambil menahan rasa sakitnya dan dengan penuh keringat membasahi sekujur tubuhnya sambil memegangi lututnya itu dengan eratnya.
"Aku tidak peduli siapapun itu, asal kau baik baik saja itu sudah cukup untuk Papa"
"Tidak akan terjadi sesuatu denganku kok Pa, Papa tenang saja, Dhira pasti akan baik baik saja".
"Iya dirimu baik baik saja, tapi perhatikan juga kondisi kakimu Dhira".
Rendi segera membungkuk didepan Nadhira untuk memeriksa keadaan kaki Nadhira, tidak lupa dirinya juga menyalakan lampu yang ada diruang keluarga, Rendi begitu terkejut ketika tangan Nadhira bersimbah darah, darah dari orang misterius itu.
"Dhira tangan kamu berdarah".
Nadhira segera menoleh kearah tangannya dan mendapati noda darah dan berkata, "Aku ngak apa apa kok Pa, ini juga bukan darahku sendiri, ini darah orang misterius itu, tanpa sengaja aku menggores tubuhnya" Ucapnya dengan santai.
"Apa kamu diam diam belajar beladiri Dhira?"
"Beladiri? Tidak Pa, aku tidak bisa beladiri, mungkin itu tadi hanya reflek saja Pa".
Selama ini Rendi tidak pernah mengetahui bahwa sebelum Nadhira hilang ingatan, Nadhira sangat ahli beladiri, Nadhira belajar dari Rifki dan juga Aryabima mengenai dunia beladiri tanpa sepengetahuan dari keluarganya karena jika Rendi mengetahuinya maka Nadhira tidak akan pernah diizinkan untuk mengikuti latihan beladiri.
Melihat Nadhira yang kakinya sakit membuat Rendi segera mengangkat tubuh Nadhira, Nadhira begitu terkejut ketika tubuhnya diangkat oleh Rendi, Nadhira terus menatap kearah wajah Rendi yang seakan akan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rendi saat ini kepada dirinya.
"Apa yang Papa lakukan? Aku masih sanggup untuk berjalan sendiri Pa"
"Kakimu masih sakit, biar Papa menggendongmu sampai kekamarmu".
"Tapi Pa, berat badan Dhira pasti berat".
"Tidak apa apa"
Rendi membawa Nadhira kembali masuk kedalam kamarnya dan menurunkan Nadhira dengan perlahan lahan keatas kasurnya, ia juga melipat ujung celana Nadhira untuk melihat luka yang ada dilututnya.
"Kenapa lututmu kembali bengkak Nak?" Tanya Rendi ketika melihat lutut Nadhira.
"Ngak apa apa Pa, nanti juga sembuh sendiri"
Nadhira menghentikan air matanya yang ingin menetes itu dan berpura pura tegar dihadapan Rendi saat ini, dirinya tidak ingin melihat orang terdekatnya merasa sangat menghawatirkan dirinya itu, dan Nadhira tidak ingin melihat orang lain bersedih karenanya.
"Ini tidak bisa dibiarkan Nak, biar Papa oleskan salep untuk cideramu ini".
Ucap Rendi yang seraya meraih laci meja Nadhira untuk mencari benda yang ia butuhkan saat ini, Rendi menuangkan salep tersebut kepada ujung jarinya ketika tangannya hendak diarahkan kepada lutut Nadhira, Nadhira segera menghentikannya.
__ADS_1
"Dhira bisa sendiri kok Pa".
"Tidak! Biarkan Papa yang melakukannya, Papa dulu pernah belajar untuk memijat seseorang, jadi kau tenang saja, Papa akan berhati hati".
"Tapi Pa".
"Jangan membantah ucapan Papa, Papa tidak suka itu Dhira".
"Baiklah jika itu kemauan Papa, aku tidak bisa berbuat apa apa untuk dapat membantah ucapan Papa" Pasrah Nadhira.
Rendi dengan perlahan lahan mengoleskan salep tersebut kepada lutut Nadhira, Nadhira memperhatikan setiap ekspresi yang timbul diwajah Rendi dengan seksama.
Ketika salep tersebut sudah merata, Rendi perlahan lahan mulai memijat kaki Nadhira, sementara Nadhira berusaha menahan dirinya agar tidak berteriak didepan Papanya itu, Nadhira merem**as ujung bajunya dengan erat karena menahan rasa sakit yang ia rasakan ketika Rendi mulai memijatnya.
Nadhira memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Rendi, Nadhira sangat tidak mempercayai tentang apa yang ia lihat saat ini, ternyata Papanya mampu memijat dirinya dengan baik meskipun hal itu begitu menyakitkan baginya.
"Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu tadi Nak, ini pasti sangat sakit kan?".
"Dhira tidak masalah jika hanya menanggung rasa sakit seperti ini Pa, tapi Dhira tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melihat orang orang yang ada disekitar Dhira dalam bahaya".
"Tapi bagaimana kalau lukamu bertambah parah Dhira kau juga harus memperhatikan tentang hal itu, jangan hanya memikirkan tentang keselamatan orang lain saja, tapi perhatikan juga lukamu itu"
"Luka seperti ini tidak masalah bagiku Pa, bahkan jika diperlukan, Nadhira siap kok mengorbankan nyawa Nadhira sekalipun itu".
"Bagaimana kamu tau kalau Papa dalam bahaya? Kamu juga melanggar hukuman yang telah Papa berikan kepadamu".
"Maafkan Dhira Pa, Dhira tidak bermaksud untuk melanggar hukuman yang telah Papa berikan kepada Dhira, Dhira hanya merasa sangat cemas tadi dan tanpa berpikir panjang Dhira segera keluar dari dalam kamar".
Rendi segera memeluk tubuh Nadhira dengan sangat erat, Rendi merasa sangat beruntung karena memiliki anak perempuan seperti Nadhira yang rela terluka hanya karena menyelamatkan orang lain tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
Disatu sisi, orang misterius yang mencoba untuk membunuh Rendi berlari kesuatu tempat yang cukup aman dan sepi sambil menahan rasa sakit dilengannya karena luka sayatan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya itu.
Darah terus bercucuran dan menetes dengan derasnya melalui jari jarinya, orang itu segera membuka penutup wajahnya dan memang benar dugaan dari Nadhira sebelumnya bahwa orang itu adalah seorang wanita.
"Sial bagaimana gadis itu bisa muncul disaat yang bersamaan, seandainya gadis itu tidak muncul aku pasti sudah merenggut nyawanya" Ucapnya dengan sangat marah dengan tindakan yang telah Nadhira lakukan kepasanya itu.
Seakan akan Nimas dapat merasakan bahwa Nadhira tengah terluka saat ini hal itu membuat Nimas tiba tiba menghilang dari tempat awalnya dan tiba tiba muncul didepan Nadhira dan Rendi saat itu, Nimas melihat bahwa Rendi saat ini sedang memijat kaki Nadhira tepat dibagian lututnya yang terluka.
Nimas dapat melihat bahwa cidera lama Nadhira kambuh lagi dengan melihat kaki Nadhira yang mulai membengkak itu, butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan kembali cidera itu agar kembali normal, akan tetapi belum juga sembuh Nadhira kembali cidera lagi.
"Apa yang terjadi Dhira?" Tanya Nimas.
"Cidera lamaku terasa sakit kembali Nimas, karena tadi tanpa sengaja aku mengeluarkan reflekku sehingga aku memakai kakiku untuk menendang seseorang yang ingin mencelakai Papa malam ini, kami berdua tidak berhasil untuk mengetahui siapa orang misterius itu, tapi aku yakin bahwa orang itu adalah seorang wanita dari bentuk tangannya, apa kau tidak mengetahui tentang orang itu?" Batin Nadhira untuk menjawab pertanyaan Nimas.
"Selama aku berada diluar tadi, aku tidak menemukan hal yang mencurigakan Dhira, mungkin saja pelakunya adalah orang dalam sehingga dia dengan mudah keluar masuk dari rumah ini tanpa ada yang mengetahui".
"Bagaimana bisa itu terjadi? Pelakunya orang dalam? Apakah aku mengenalinya?"
"Soal itu aku juga tidak tau Dhira, itu hanya tebakanku saja, untuk pelakunya aku tidak tau".
Nadhira menatap kearah Nimas dengan tajam dan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Nimas, bagaimana bisa ada seorang anggota keluarga yang ingin mencelakai anggota keluarganya sendiri, tapi memang kenyataannya adalah ada, Nimas terus berjaga jaga diluar rumah Nadhira malam ini akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan kecurigaan yang menjanggal.
Nimas pikir bahwa ada seseorang yang sengaja mengirimkan surat itu kepada Nadhira agar Nadhira terjaga dimalam ini, akan tetapi tak beberapa lama kemudian Nimas merasakan bahwa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira sehingga dirinya menghilang dan muncul kembali didekat Nadhira.
"Nak, apakah sakitnya sudah mendingan?" Tanya Rendi kepada Nadhira.
Seketika itu juga ucapan Rendi telah menyadarkan Nadhira dari lamunan panjangnya, karena sibuk mengobrol dengan Nimas hingga Nadhira melupakan rasa sakit yang ada dikakinya itu.
"Sudah Pa, ini jauh lebih baik daripada sebelumnya".
"Baguslah kalau begitu istirahatlah Nak, ini sudah larut malam, Papa mau kembali kekamar".
Rendi segera bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Nadhira, akan tetapi Nadhira dengan sigap segera mengenggam erat baju Rendi dan tidak membiarkan Rendi kembali kekamarnya.
__ADS_1
"Ada apa Dhira?" Tanya Rendi ketika bajunya dipegang erat oleh Nadhira.
"Dhira hanya takut Papa kenapa kenapa, apalagi kita tidak bisa menangkap orang itu Pa, mungkin saja orang itu masih berkeliaran disekitar sini".
"Dhira jangan khawatir seperti ini, lagian Papa tidak akan kenapa kenapa karena Papa memiliki anak yang hebat seperti Nadhira, orang itu juga tidak akan bisa mencelakakan Papa malam ini, dia sedang terluka bukan ditangan Dhira?".
"Tapi Pa...".
"Percayalah kepada Papa bahwa Papa akan baik baik saja, Dhira juga pasti lelah bukan?".
"Baiklah jika itu keinginan Papa, Papa hati hati ya".
"Iya Nak".
Rendi segera meninggalkan kamar Nadhira untuk kembali kekamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya, kejadian malam ini benar benar membuat Rendi harus lebih berhati hati kedepannya, Rendi berpikir bawa orang yang berusaha membunuhnya itu adalah maling yang masuk kedalam rumahnya.
Nadhira sedang termenung saat ini memikirkan siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadanya melalui anak panah itu sehingga dirinya mengetahui kejadian malam ini, jika tadi Nadhira tidak mengetahuinya mungkin dia tidak akan bisa menyelamatkan nyawa dari Papanya itu.
Nadhira merasa beruntung karena dirinya dapat mengetahui kejadian itu sehingga dirinya mampu untuk menyelamatkan nyawa Rendi, akan tetapi dirinya merasa bingung kenapa orang itu memberitahukan hal ini kepadanya.
"Ada apa Dhira? Kenapa kau melamun?" Tanya Nimas ketika melihat Nadhira diam membisu.
"Aku hanya merasa bingung, kenapa tiba tiba ada seseorang yang harus repot repot untuk memberitahukan hal ini kepadaku".
"Kau benar, aku tidak kepikiran dengan itu, apa mungkin pelaku dan dirinya memiliki perselisihan sehingga dirinya memberitahukan semuanya kepada kamu agar kamu lebih berhati hati".
"Bisa jadi itu terjadi, mungkin orang itu juga kenal dengan sang pelaku".
"Ini hanya tebakan ku saja Dhira, kita harus cari tau sendiri soal itu juga".
"Iya kamu benar".
"Aku kan memang tidak pernah salah".
"Yang benar itu, kau tidak pernah tidak salah, jadi kau itu selalu salah"
"Kau mau mengajakku berdebat lagi Dhira? Kenapa sih aku itu selalu salah dimatamu? Tidak ada benarnya sama sekali Dhira?" Tanya Nimas dengan nada datarnya.
"Sudah selesai ngomongnya? Aku mau istirahat, aku ngantuk banget Nimas".
"Ya tidurlah, aku mau keluar cari angin".
"Kenapa harus dicari anginnya? Disini juga banyak, emang bisa dipegang?".
"Dhira! Kau mau membuatku mati dua kali?"
"Jangankan hanya dua kali, seribu kali pun aku ikhlas lillahi ta'ala".
"Auah"
Nadhira membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan badannya yang kelelahan itu, sementara Nimas memutuskan untuk menghilang dari tempat itu agar tidak menganggu Nadhira yang tengah beristirahat ditempat itu.
Suasana malam yang sunyi kembali dirasakan dirumah itu, tanpa ada yang mengetahui bahwa ada seseorang yang tengah berusaha untuk menghentikan pendarahan yang terjadi kepada lengan tangannya.
Luka sayatan yang diberikan oleh Nadhira cukup dalam akan tetapi tidak sampai kenembus tulang tulangnya, darah yang dikeluarkan dari luka itu juga begitu banyak sehingga orang itu berusaha untuk mengikat tangannya dengan begitu eratnya berhadap bahwa pendarahan itu segera berhenti.
*****
Beberapa minggu kemudian, Nadhira masih terlelap dalam tidurnya pagi ini, suara adzan subuh yang berkumandang diawang awang telah membangun dirinya, Nadhira segera bangun dari tidurnya dan segera membersihkan dirinya untuk melaksanakan sholat subuh.
Setelah fajar mulai menyingsing dan cahaya matahari yang sangat terang masuk kedalam kamar Nadhira, Nadhira berjalan keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya dipagi ini, ketika Nadhira sampai dimeja makan tanpa sengaja dirinya melihat Sena berada dimeja tersebut dengan sangat anehnya.
"Bekas luka itu kenapa sama persis dengan bentuk dan tempat yang sama dimana aku berhasil menggores orang misterius waktu itu, jika itu hanya luka terpeleset tidak akan membentuk garis panjang seperti itu" Guman Nadhira ketika tanpa sengaja melihat bekas luka yang ada dilengan Sena.
__ADS_1
...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...
...Terima kasih ...