Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Malam yang sunyi


__ADS_3

Satu persatu warga mulai mendukung apa yang dilakukan oleh Ningsih demi mencari putrinya itu, seluruh warga mulai maju bersama sama untuk memasuki area makam keramat itu.


"Terima kasih semua, kalian telah begitu baik sehingga mau membantu diriku ini" Ningsih tidak bisa berkata kata lagi.


"Iya Ning, kami tau apa yang kau rasakan saat ini, kami akan berusaha untuk membantu dirimu"


Mereka semua memasuki area makam itu beramai ramai, ketika mereka sudah memasuki makam tersebut mereka tak kunjung menemukan keberadaan dari Ratih justru yang mereka temukan adalah hal yang membuat nafas seluruh orang berhenti tiba tiba.


"Astaghfirullah hal azim" Ucap penduduk itu serempak setelah melihat apa yang ada didepan mereka semua.


"Apa ini!" Tanya Pras.


"Ini.." Ucap Ningsih dengan tubuh yang sedikit lemas.


Ningsih memegangi benda yang ia temukan itu, dapat diketahui bahwa itu adalah sobekan dari baju yang dikenakan oleh Ratih sebelum dirinya menghilang dan sobekan baju tersebut sudah berlumuran darah, nampak sekali darah itu masih mencair dan belum membeku itu artinya kejadian itu baru saja terjadi kepada Ratih.


Hal itu seketika membuat Ningsih merasa sangat lemas hingga dirinya tidak mampu untuk merasakan kaki dan tangannya sendiri dan dirinya hampir saja terjatuh untung saja Pras segera memegangi tubuh Kakaknya itu agar tidak terjatuh ketanah.


"Mbak ngak apa kan?" Ucap Pras dengan khawatir.


"Ratih, Pras dimana Ratih, bawa dia pulang Pras, aku mohon bawa dia pulang hiks.. hiks.. hiks.." Tangisan Ningsih semakin memilukan ketika dirinya mengetahui bahwa mereka hanya menemukan sobekan dari baju Ratih.


Penduduk yang ikut serta masuk kedalam area makam itu hanya bisa membisu melihat Ningsih menangis dengan sedemikian rupanya, mereka tidak bisa berbuat apa apa dengan apa yang mereka lihat saat ini didepan mata kepala mereka secara langsung seperti ini.


Karena terlalu sedihnya hal itu membuat Ningsih tidak sadarkan diri, Pras dengan bantuan beberapa orang segera mengangkat tubuh Ningsih dan membawanya pergi dari tempat itu menuju kerumahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.


*Flash back off*


Nadhira mendengar cerita tersebut dengan berlinangan air mata, ia seperti dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh wanita yang ada didepannya itu, ia meminta kepada Nimas untuk melepaskan pegangannya dari tubuh wanita itu.


Setelah itu Nadhira langsung memeluk tubuh wanita yang sedang berderaian air mata itu, ketika merasakan pelukan Nadhira hal itu membuat Ningsih merasa begitu tenang, seakan akan beban yang ia emban selama ini ikut menghilang setelah dirinya bercerita panjang lebar kepada Nadhira.


"Maafkan kami, karena kami telah mengungkit masa kelam yang Ibu alami saat itu" Ucap Nadhira sambil mengusap pelan bahu wanita tersebut.


"Sekarang sudah ada puluhan orang yang pergi kesana tapi tidak pernah kembali, apa kalian bisa membawa Ratih kembali kepadaku? Mungkin usianya kini menginjak 9 tahun, aku mohon bawa dia kembali kepadaku" Ucap Ningsih dengan penuh harapan.


"Jika Ratih memang benar benar masih hidup, kami akan berusaha untuk membawanya kembali kepada Ibu, bolehkah aku bertanya sesuatu kepada anda? Ini soal Pak Dwija".


"Kenapa kau masih ingin tau soal sosok itu? Aku tidak bisa mengatakan sesuatu tentangnya".


"Bu, tolong ceritakan kepadaku tentang Pak Dwija, aku akan berusaha sebisaku untuk membawa Ratih kembali dari makam keramat itu jika Ratih masih hidup, aku juga harus tau soal Pak Dwija agar aku dapat mengetahui tentang kematian dari Mamaku".


"Ibumu mati karena Dwija?".


"Tidak Bu, hanya dialah satu satunya yang tau tentang kejadian yang dialami oleh Mamaku, jika anda berkenan tolong beritahu aku tentang lelaki itu, aku mohon Bu, aku ingin tau tentang kematian dari Mamaku waktu itu".


"Aku tidak tau Dwija itu siapa sebenarnya, pada waktu itu ada seorang dukun sakti yang datang kedesa ini dan mengatakan bahwa makam keramat itu adalah makam dari Dwija, dan dia juga mengatakan bahwa Dwija adalah seorang yang ahli dalam dunia gelap sehingga meskipun sudah mati rohnya masih berkeliaran disekitar makan itu".


"Sejak kapan itu terjadi Bu? Apakah sejak dulu makam keramat itu sudah ada disana?".


"Dulunya tidak ada Mbak, entah kurang lebih 7 tahunan yang lalu makam itu ada, awalnya kami tidak melihat adanya sebuah makam disana, tapi sejak saat itu kami juga terkejut kenapa tiba tiba ada makam disana dan kami bahkan lebih terkejut ketika tempat tersebut mulai mencari tumbal, jika ada satu orang atau dua orang yang datang ketempat itu mereka pasti menghilang dengan tiba tiba, apabila lebih dari itu mereka dapat kembali dengan selamat".


"7 tahun yang lalu? Dhira apa mungkin Pak Dwija benar benar dimakamkan disana? Kau bilang tadi Bu Dewi juga mengatakan bahwa Pak Dwija sudah menghilang sekitar 7 tahun yang lalu, ini bukan hanya kebetulan belaka saja Dhira" Sela Theo saat mengingat tentang apa yang diceritakan oleh Nadhira kepadanya.


"Apa mungkin.... Theo kita harus kesana untuk melihat makam misterius itu".


"Apa kau yakin kita akan pergi kesana? Bagaimana kalau..."


"Tidak akan terjadi sesuatu dengan kita, Nimas akan melindungi kita, kamu tenang saja".

__ADS_1


"Nimas lagi Nimas lagi, apakah Ratu iblis seperti diriku ini tidak bisa bersantai sehari saja ha? Oh.. ya Tuhan, Pangeran Kian kenapa kau menghukumku dengan seberat ini, tolong selamatkan aku dari wanita yang tidak menghargai nyawanya sendiri ini". Teriak Nimas mengeluh.


"Berhentilah mengeluh dan segeralah bekerja, kau ini Ratu yang sangat pemalas rupanya".


"Iya ya bawel banget sih, ngak bisa apa memberi aku kelonggaran sebentar, aku kan Ratu aku juga ingin bersantai seperti Ratu Ratu pada umumnya, andai saja Pangeran Kian tidak menyuruhku untuk melindungimu mungkin kau sudah ku makan sejak dulu".


"Mau memakanku? Silahkan saja"


"Kau!" Nimas tidak habis pikir tentang jalan pikiran Nadhira itu.


Ningsih menceritakan kepada Nadhira tentang makam tersebut dengan wajah yang terlihat sedih karena dia tengah mengingat tentang anaknya yang hilang ditempat itu, Ningsih mengatakan bahwa makam keramat itu terletak diujung timur dari desa yang ia tempati itu.


Ningsih juga mengatakan tentang keanehan keanehan yang ada diarea makam terlarang itu, akan tetapi ditempat itu kadang kala terasa ramai oleh orang orang yang ingin berziarah demi mendapatkan kekuatan batin katanya karena bukan sembarang orang yang bisa masuk ketempat itu dan kembali dengan keadaan nyawa masih melekat pada raga.


"Jika beramai ramai ketempat itu maka kalian bisa kembali dengan selamat dari tempat itu, akan tetapi jika kalian sendirian maka tidak ada kesempatan untuk kembali".


"Apakah benar seperti itu Bu? Lalu bagaimana kalau berdua ataupun bertiga?".


"Benar, karena aku pernah kesana beramai ramai dan nyatanya aku masih bisa kembali, kalau soal berdua aku tidak yakin, tapi kalau bertiga aku masih belum yakin kalian masih bisa kembali dengan selamat".


"Kalau begitu kami akan mencobanya".


"Lalu apakah kalian masih tetap ingin pergi kesana? Saya tidak mau egois sehingga nyawa kalian menjadi taruhannya hanya untuk mengembalikan anakku itu kepadaku, sudah banyak yang masuk kesana tapi tidak ada yang pernah kembali".


"Bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa putri anda saja, kami juga harus kesana untuk mencari tau tentang Pak Dwija, memang itulah tujuan awal kami pergi kedesa ini Bu, anda jangan khawatir tentang kami, kami pasti akan kembali dengan selamat".


"Aku tidak tau lagi harus berkata apa pada kalian, aku sudah berusaha melarang kalian untuk pergi ketempat terlarang itu, tapi kalian sama sekali tidak mau mendengarkannya, langit sudah hampir gelap akan terlalu berbahaya untuk kalian pergi kesana, apa ngak sebaiknya kalian menginap disini terlebih dahulu dan besok pagi melanjutkan perjalanan kalian?".


"Benar Non, apa sebaiknya tidak istirahat disini? Karena sejak pagi Non sudah melakukan banyak aktivitas dan jangan lupakan kesehatan Non juga".


"Maafkan kami Bu, kami malah merepotkan Bu Ningsih disini"


"Biarkan mereka menginap dikedai ini Bu, aku tau kok karena tidak sebaiknya mereka tinggal satu atap dengan Ibu, apalagi penduduk desa ini akan berpikir macam macam tentang Ibu" Ucap Nadhira yang mengerti tentang keraguan dari Ningsih.


"Iya Bu, kami berdua ngak masalah kok menginap disini, lagian saya dan Pak Mun bisa tinggal dimana saja kok Bu, saya biasanya juga tidur dijalanan".


"Iya Mbak ngak apa apa kok, asalkan Non Dhira juga baik baik saja" Ucap Pak Mun sambil menunjuk kearah Nadhira.


Ningsih mengangguk kearah ketiganya, karena langit mulai menggelap Ningsih segera menutup warungnya dengan sebuah papan kayu yang cukup tebal, sementara Nadhira mulai menghubungi Omanya agar tidak merasa cemas dengan Nadhira.


Setelah warung itu selesai ditutup dengan rapat, Ningsih segera memasang karpet dan sebuah kasur lipat untuk Theo dan juga Pak Mun, tidak lupa juga ia memberikan kepada keduanya masing masing bantal, guling dan selimut, setelah itu ia mengajak Nadhira untuk ikut dengannya.


"Tengah malam nanti kalau ada yang mengetuk pintu tiba tiba tanpa suara saya ataupun Mbak ini jangan dibuka ataupun dilihat, biasanya roh gaib yang ada diarea makam itu sedang berkeliaran dimalam hari" Ucap Ningsih memeringati keduanya.


"Apakah dengan menginap disini kita akan aman?" Tanya Pak Mun dengan penuh keraguan.


"Aman, asalkan anda tidak membukakan pintu kecuali untuk kita berdua, dikedai ini juga telah dilengkapi kamar mandi, jadi kalian tidak perlu keluar untuk buang air kecil, setelah aku dan Mbak ini keluar, segeralah tutup pintu ini dengan erat" Ningsih menujuk kearah sebuah pintu.


"Baik Mbak" Ucap Pak Mun.


Ningsih hanya mengangguk kan kepalanya setelah itu ia mengajak Nadhira keluar dari kedai tersebut dan menyuruh kedua orang itu segera menutup pintu itu rapat rapat agar para mahluk gaib tidak mengetahui bahwa didalam kedai itu masih ada orang.


"Bu apa mereka akan aman disana?" Tanya Nadhira sambil berjalan mengikuti langkah Ningsih.


"Tentu, selama mereka mendengar ucapanku mereka akan baik baik saja disana".


"Syukurlah kalau begitu, aku takut terjadi sesuatu dengan mereka disana".


Ningsih dan Nadhira lalu masuk kedalam rumah yang ditinggali oleh Ningsih, karena kamar yang ada dirumah itu sudah terisi penuh akhirnya hal itu membuat Nadhira dan Ningsih harus berbagi kamar, sehingga Ningsih tidur bersama Nadhira.

__ADS_1


Adzan maghrib pun berkumandang, Nadhira segera mengambil air wudhu dan melakukan sholat wajibnya, begitupun dengan Ningsih sekeluarga, setelah itu mereka melanjutkan dengan membaca Al-quran sampai adzan isya terdengar.


Setelah itu Nadhira dan seluruh keluarga Ningsih berkumpul diruang keluarga, meskipun masih jam 8 malam akan tetapi desa tersebut terlihat begitu sepi tanpa ada seorangpun yang berani untuk keluar.


"Bu, apa setiap harinya desa ini terlihat begitu sunyi seperti ini?" Tanya Nadhira tiba tiba.


"Dulunya sih ngak Mbak, setelah adanya makam itu semuanya jadi seperti ini, tidak ada yang berani keluar rumah malam malam takut diculik hantu".


"Ada yang aneh dengan desa ini, ada seseorang yang mengatakan bahwa Pak Dwija adalah seorang yang ahli dalam ilmu hitam tapi apa hubungannya dia dengan desa ini".


"Entahlah Mbak, kami juga tidak tau menau soal itu" Ucap Pras.


Suasana malam di Desa Flamboyan terlihat begitu sunyi dan sepi, tidak ada yang berlalu lalang ataupun sekedar bersuara dengan kerasnya diluar, hujan gerimis mulai datang menghampiri desa tersebut hingga membuat desa itu begitu lengkap dengan kesunyian malam ini.


Rumah rumah warga mulai tertutup dengan rapatnya dan seolah olah tidak ada cahaya yang merembes keluar dari rumah mereka, jika dilihat lihat suasana didesa itu seakan akan telah larut malam akan tetapi jam dinding masih menunjukkan pukul 8 malam.


Nadhira tidak dapat melihat adanya kehidupan didesa itu, seluruh penduduk takut untuk keluar dari dalam rumahnya ketika malam hari, malam itu begitu sunyi bagi Nadhira dan juga kedua orang yang bersama dengan Nadhira ketempat itu.


"Kenapa warga tidak ada yang berani keluar Bu? Apakah hantu hantu itu terus saja bergentayangan?"


"Dulu pernah ada yang keluar, dia bilang dia bertemu dengan sosok yang sangat menyeramkan dan sosok itu mengoyak tangannya hingga tangannya itu penuh dengan luka cakaran, tapi cakaran itu tidak bisa disembuhkan dan akhirnya dia harus di amputasi untuk menghentikan luka yang terus membesar itu, sejak kejadian itu tidak ada yang berani untuk keluar dari rumah dimalam hari seperti ini".


"Lalu Bu?"


"Dia juga mengalami gangguan jiwa sampai saat ini, soalnya sampai sekarang dia masih merasa sangat ketakutan, tentang sesuatu yang tidak kami lihat tapi dirinya seolah olah melihatnya sendiri, dia juga sering mengatakan kata ampun dengan sendirinya".


"Sampai segitunya Bu? Kasihan sekali orang itu Bu, mendengar cerita yang ada didesa ini membuatku sedikit ngeri".


"Lalu apakah ini akan membuatmu berhenti untuk mencari tau tentang Dwija? Sebaiknya kalian berhenti untuk rasa ingin tau itu sampai disini saja".


"Tapi itu saja tidak akan mampu untuk mengubah tekatku begitu saja Bu Ning, hal itu membuatku semakin penasaran tentang makam keramat itu, mungkin saja aku bisa mengungkap misteri dari makam keramat itu nanti".


"Lalu bagaimana jika kalian tidak berhasil dan justru kalian akan menjadi korban selanjutnya?"


"Bu, saya tidak akan menyerah dengan begitu saja, meskipun akhirnya saya akan menjadi korban selanjutnya sekalipun itu, saya tidak akan menyerah dengan mudahnya".


Nadhira semakin penasaran tentang apa yang terjadi didesa terpencil itu, ia sama sekali tidak menduga bahwa masih ada desa seperti itu diera zaman sekarang ini, Nadhira ingin sekali keluar dari rumah itu untuk melihatnya akan tetapi Ningsih terus melarangnya untuk keluar dari rumah.


Suara mahluk mahluk kecil pun mulai terdengar dengan nyaring dari rumah tersebut, dan beberapa kali terdengar suara burung yang berkicauan dimalam hari dengan gembiranya, sementara Nadhira hanya bisa berdiam diri diruangan tersebut sambil memikirkan tentang Theo dan juga Pak Mun yang ada diluar rumah itu.


"Mbak makan dulu, sudah saya buatkan mie instan rasa soto" Ucap Ningsih yang membangunkan Nadhira dari lamunan.


"Eh iya Bu, maaf telah merepotkan Bu Ningsih".


"Ngak apa apa Mbak, ayo dimakan mumpung masih hangat sebelum dingin".


"Iya Bu Ning, terima kasih"


Nadhira menatap kearah semangkuk mie instan dan juga segelas teh hangat dengan sedikit tersenyum, dikala hujan rintik rintik seperti ini akan terasa sangat cocok untuk menikmati hangatnya mie instan apalagi makanan dengan bersama sama seperti saat ini.


Nadhira mulai menyeruput kuah mie instan yang hangat itu, rasanya seakan akan terasa begitu lezatnya dengan taburan irisan cabai diatasnya, Nadhira tidak pernah memakan mie instan selama ini, baru kali ini dirinya mencicipinya sehingga Nadhira begitu takjub dan sangat menikmati rasa enaknya mie instan buatan dari Ningsih.


"Bu Ning, apa mereka berdua sudah makan?" Tanya Nadhira ditengah tengah makannya.


"Kau tenang saja Mbak, kalau mereka ingin mereka bisa memasaknya sendiri, disana sudah lengkap dengan peralatan memasak dan berbagai macam rasa mie instan ada".


"Iya sudah kalau begitu Bu, aku hanya khawatir kepada mereka saja".


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya terhadap karya ini 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2