
Bi Ira membuka pintu dan menampakkan sosok yang terbaring lemah dikasur rumah sakit, selang oksigen yang tadinya sudah dilepas sekarang terpasang kembali dihidung Nadhira. Ia berjalan mendekat dan menampakkan wajah Nadhira begitu jelasnya, seakan akan Nadhira tertidur begitu nyenyaknya.
"Nak, cepatlah sembuh jangan membuat ibumu khawatir seperti ini, nak sudah cukup ibu kehilangan satu anak kandung ibu, ibu tidak ingin kehilangan seorang anak lagi, ibu hanya ingin melihat mu tersenyum kembali"
Ia duduk disebelah Nadhira dan sesekali mengusap kepalanya dengan lembut, Melihat Nadhira tertidur dihatinya terasa tenang. Dalam pengaruh obat bius Nadhira masih bisa merasakan belaian tersebut, hingga membuatnya meneteskan air mata.
Sementara disekolah tepatnya dikelas Nadhira, Clara mulai kembali membuat masalah. Clara merasa bebas tanpa adanya Nadhira disekolahan, sejak kabar kematian Nadhira sampai kepadanya, ia mulai membuat masalah.
"Ku dengar, pahlawan kalian sudah mati, sekarang kalian harus menghormatiku dan menuruti perintahku". Ucap Clara.
"Tidak, Nadhira kami belum mati, ia akan selalu hidup dihati kami". Ucap Widya.
"Sekarang kau berani membantahku, plak". Clara menampar Widya.
"Clara hentikan!". Ucap Vina dan langsung menarik tangan Widya untuk menjauhi Clara.
"Kau!! Tidak berhak menghentikanku, siapa dirimu ha? Hanya orang rendahan". Ucap Clara.
Clara mendorong Vina dengan kuatnya membuat Vina terjatuh menabrak kursi yang ada didekatnya. Melihat itu Widya langsung membantu Vina untuk berdiri, meninggalkan bekas biru disitu Vina.
"Kamu ngak papa Vin?". Tanya widya.
"Ngak papa kok Wid". Jawab Vina.
Semua murid melihat kejadian itu hanya diam dan merasa takut terhadap Clara, andai bukan karena Nadhira yang masuk kekelas mereka sudah lama Clara akan semena mena dengan semua anak yang ada dikelas dan bahkan dikelas lainnya.
"Ingat! Nadhira sudah tiada lagi, ya mungkin hari ini sudah dimakankan, jika kalian masih melawan akan ku buat kalian tidak bisa bangkit lagi". Ucap Clara dengan sombongnya.
"Nadhira kami akan selalu ada dihati kami, aku ngak takut denganmu". Ucap Reta dengan mantapnya.
Mendengar hal itu Clara segera mendatangi dimana Reta berada, Clara mengangkat tangannya siap untuk menampar Reta, melihat itu Reta memejamkan matanya. Tangan itu tidak menyentuh wajahnya sama sekali, sosok seorang laki laki tengah memeganginya agar tidak menyentuh wajah Reta.
"Hentikan semua ini!". Ucap sang lelaki.
"Rifki". Guman mereka semua.
Saat itu Rifki disuruh oleh guru yang mengajar kelasnya untuk mengambilkannya buku yang ada diperpustakaan, ketika ia melewati kelas Nadhira ia mendengar bahwa suara Clara mengatakan bahwa Nadhira sudah tiada. Dan kebetulan kelas itu sedang jamkos atau tiada guru yang mengajar.
Rifki juga mendengar percakapan antara mereka, ketika teman teman Nadhira menyatakan bahwa Nadhira masih hidup mereka akan mendapatkan tamparan dari Clara. Ia memasuki kelas tersebut tanpa sepengetahuan semua siswa yang ada disitu.
Pandangannya terarah dimana Clara sedang berjalan mendatangi tempat Reta berada dan hendak mengayunkan tangan. Dengan sigap Rifki menangkap tangan itu, untuk menghentikan Clara berbuat semaunya.
"Ah siswa kelas lain berani sekali menghalangiku, mau menjadi pahlawan untuk mereka? baiklah lawan aku terlebih dahulu". Clara tersenyum melihat tangannya dipengang erat oleh Rifki.
"Aku tidak ingin melawan seorang wanita". Rifki melepaskan tangan Clara dengan kasar.
__ADS_1
"Akh,, aduh". Clara memegangi tangannya yang terasa sakit karena perbuatan Rifki.
"Bisa ngak sih, jangan kasar pada wanita". Ucap seseorang yang berada didekat Clara.
"Bukan aku yang kasar kepada wanita, ingatkan pada temanmu ini jangan sekali kali memancing emosiku, andaikan dia seorang lelaki akan ku patahkan tulang tulangnya". Bantah Rifki.
"Kau!!"
Rifki menatap Clara seakan akan seperti hewan buas yang akan memangsa buruannya, melihat hal itu Theo segera menengahi keduanya.
"Sudah sudah, jangan dilanjut". Ucapnya.
"Lelaki macam apa kau, ketika ada temanmu ditindas kau justru diam saja, hanya pengecut yang membiarkan seseorang berbuat semaunya". Ucap Rifki dengan geramnya.
"Apa hakmu mencampuri urusan kelas lain ha?". Tanya Theo.
"Memang aku tidak berhak untuk ikut campur urusan orang lain, tetapi dia". Menunjuk kearah Clara. "Telah melukai teman teman Nadhira, bagiku teman Nadhira adalah temanku juga, aku tidak suka melihat orang yang lemah ditindas begitu saja, jika kau tidak terima atas perbuatanku maka aku siap jadi lawanmu".
"Melawanku? Besar sekali nyalimu".
" Tenang Rif tenang, dia hanya memancing emosimu, sehingga membuatmu melawannya dan bisa saja dia melaporkanmu karena membuat keributan dikelas lain". Ucap Raka dan yanya Rifki yang bisa mendengarnya.
Rifki tersenyum mendengarnya. "Aku sama sekali tidak memiliki rasa takut untuk melawanmu". Ucapnya sambil berjalan kearah pintu keluar.
"Jika kau berani, ku tunggu kedatanganmu di lapangan sore ini, ya itu jika kau berani datang". Ucap Remeh Theo kepada Rifki.
"Bagaimana bisa?" Tanya Theo.
"Ah sudah ku duga, musuhku tidak akan mati semudah itu". Ucap Clara ketika mendengar ucapan Rifki bahwa Nadhira masih hidup.
"Ku tunggu kehadiranmu dilapangan sore ini". Ucap Rifki sambil menatap Theo.
"Bukankah itu menarik bos? Dia bisa hidup kembali". Bisik seseorang ditelinga Theo.
"Sedikit, ya setidaknya dia jauh lebih kuat daripada Clara, aku harus mendapatkannya". Jawab Theo.
Setelah mengatakan hal tersebut, Rifki bergegas meninggalkan kelas Nadhira menuju kelasnya, karena ia ingat begitu lama ia meninggalkan pelajaran. Ia berlari menuju kelasnya, ia takut membuat marah guru yang tengah mengajarnya saat ini.
Setelah kepergian Rifki, mereka semua membubarkan diri menuju mejanya masing masing. Sejak Nadhira tidak masuk sekolah Clara menjadi semena mena kepada mereka, hanya Nadhira yang berani melawannya. Widya dan Vina duduk disatu meja, Widya akan duduk disebelah Vina ketika Nadhira tidak masuk sekolah.
"Apakah Rifki mengatakan yang sejujurnya?". Tanya Widya kepada Vina.
"Setahuku Rifki tidak pernah berbohong menenai hal tentang Nadhira, kalau memang Nadhira masih hidup artinya Nadhira kita masih hidup". Ucap Vina dengan mata berbinar-binar.
"Kalau begitu pulang sekolah nanti ayo menjenguknya, kita tanya kepada Rifki dimana ia dirawat".
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku jemput ya".
"Siap".
*****
Beberapa jam kemudian terlihat pergerakan dari tubuh Nadhira, Nadhira baru tersadar dari efek obat bius yang suster suntikkan kepadanya, ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Tiba tiba ada dua orang yang menabrak tubuhnya, mereka memeluk Nadhira dengan erat.
"Uhuk... Uhuk...". Nadhira terbatuk batuk meskipun masih memejamkan kedua matanya.
"Nadhira kau sudah sadar".
"Nadhira apa masih ada yang terasa sakit?"
"Nadhira akhirnya kau hidup kembali".
Keduanya tidak berhenti menghujani Nadhira dengan berbagai macam pertanyaan dan tidak membiarkan Nadhira untuk menjawabnya. Nadhira terus terbatuk batuk mendengar keduanya berbicara tanpa ada jeda.
"Aku benar benar akan tewas kalau kalian tidak melepaskan pelukan ini... Uhuk.. uhukk..".
"Ehem". Dehem seorang laki laki yang baru memasuki ruangan tersebut.
Keduanya langsung melepaskan pelukannya dan berdiri tegak disamping Nadhira terbaring, lelaki itu membantu Nadhira untuk duduk bersandar.
"Apakah aku sudah bangun dari mimpi?". Tanya salah satu wanita itu yang ternyata adalah Vina dan satunya adalah Widya.
Nadhira mengaruk kepalanya yang tidak gatal, ketika melihat kedua temannya tersebut. Ia memberi isyarat kepada sang lelaki untuk membantunya menjawab pertanyaan dari Vina, lelaki itu segera mencubit Vina dengan kerasnya.
"Auhh... Sakit tau Rif". Vina memukul tangan Rifki dengan kerasnya.
"Bagaimana kita bisa bermimpi disaat bersamaan?". Tanya Rifki dengan malasnya.
"Widya kamu melihat apa yang aku lihat?". Tanya Vina pada Widya.
"Iya, aku melihatnya". Jawab Widya.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Nadhira terkejut ketika melihat tatapan kedua temannya begitu aneh menurutnya,
"Aku melihat mimpi yang begitu indah". Jawab Widya.
"Iya seperti Romeo dan Juliet, serasi banget".
"Mana ada, bagusan Jin dan Jini, tampan dan cantik"
"Ngak bisa, harus Romeo dan Juliet, lebih hebat".
__ADS_1
Nadhira dan Rifki menepuk jidatnya secara bersamaan mendengar perdebatan antara keduanya, Rifki merasa kepalanya pusing melihat tingkah laku Vina dan Widya.