
Tidak ada percakapan antara ketiganya sampai Reihan datang menghampiri Fajar yang tengah diam membisu diantara Nadhira dan Rifki. Rifki hanya melihatnya sekilas setelah itu kembali fokus kepada buku yang ada ditangannya.
Fajar memberikan sebuah kode kepada Nadhira yang ada dibelakangnya, sementara Nadhira hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya yang artinya ia tidak tau apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk membujuk Rifki.
Fajar memiliki alasan tertentu untuk membuat Rifki menjadi ketua OSIS, tetapi ia tidak tau bagaimana caranya untuk membujuk Rifki agar ikut serta dalam hal itu, mereka terus berpikir bagaimana caranya untuk membujuk Rifki, sedangkan Nadhira sendiri tidak bisa melakukannya.
"Aha.. aku punya ide". Bisik Nadhira pelan.
Nadhira segera membisikkan sesuatu kepada Fajar yang berada didepannya, tetapi ekspresi Fajar berubah menjadi sangat ragu mengenai rencana itu, Rifki yang sekilas mendengar ucapan Nadhira segera melirik kearah Nadhira yang sedang berbisikkan dengan Fajar.
Nadhira segera mengambil buku yang ada ditangan Rifki dan memasukkannya kedalam tasnya, karena tindakannya ia harus mendapatkan tatapan yang tajam dari Rifki, karena tanpa permisi Nadhira mengambil buku tersebut dan menyimpannya.
"Tuan Muda jangan marah dulu".
Belum sempat Rifki protes kepada Nadhira, Nadhira segera menggerakkan telunjuknya kebibir Rifki untuk menghentikan Rifki berbicara apalagi sampai mengomel karenanya.
"Aku cuma mau memberitahu bahwa aku juga mencalonkan diri sebagai ketua OSIS". Nadhira mengatakan hal itu dengan mudahnya.
"Apa kamu paham dengan apa yang kamu katakan? Menjadi ketua OSIS itu tidak mudah, kamu bisa bisa ketinggalan pelajaran karena itu".
"Ya habis gimana lagi, kamu sendiri tidak mau, yaudah aku aja".
"Coba aku tanya, kenapa kamu terus memaksaku untuk menjadi ketua OSIS? Aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu Dhira".
Perkataan itu seketika membuat Nadhira begitu cemberut, Reihan dan Fajar juga ikut merasa sedih mendengar jawaban yang diberikan oleh Rifki saat Nadhira memintanya untuk ikut serta dalam pemilihan ketua OSIS.
"Aku tidak tau, aku akan bertahan hidup sampai kap...". Sebelum Nadhira selesai mengatakannya, Rifki segera membungkam mulut Nadhira dengan tangannya.
"Jangan katakan hal seperti itu lagi, aku tidak suka jika kamu terus mengatakan hal seperti itu".
Hal yang diucapkan oleh Rifki bukannya membuat Nadhira senang melainkan bertambah cemberutnya dengan keputusan yang akan Rifki ambil selanjutnya, melihat Nadhira dengan wajah seperti itu membuat Rifki bingung harus bagaimana.
"Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?? Baiklah... aku akan memikirkan kembali mengenai hal itu". Ucap Rifki yang melihat wajah cemberutnya Nadhira.
Mendengarnya membuat Nadhira segera mengangkat kepalanya dan menghadap kearah Rifki sambil menampakkan senyum tipisnya, meskipun Rifki belum memikirkan jawaban tetapi hal itu mampu mengembalikan senyuman Nadhira.
Nadhira memberikan sebuah kode kepada teman temannya bahwa rencananya akan segera berhasil, Rifki hanya melihatnya sekilas setelah itu ia menggeleng gelengkan kepalanya karena sikap Nadhira yang tidak masuk akal baginya.
Tetapi ketika melihat wajah ceria Nadhira kembali lagi hal itu membuat Rifki merasa bahagia karena itu, wajah tersenyum itu kini berkembang dengan indahnya.
Tiba tiba beberapa siswa kelas lain masuk kedalam kelas yang dipakai oleh Nadhira dan Rifki, para siswa itu adalah anggota OSIS lama dan sebagian ada calon anggota OSIS baru.
Salah satu dari mereka yang menjabat sebagai ketua OSIS berkata dihadapan seluruh siswa untuk menyampaikan tujuan kedatangan mereka yakni merekrut anggota OSIS baru dan pemilihan ketua OSIS baru.
Setelah selesai menyampaikan hal tersebut, ia meminta kepada beberapa anak yang berniat untuk menjadi anggota OSIS maju kedepan untuk dimintai datanya, Nadhira maju terlebih dahulu untuk mencalonkan sebagai wakil ketua OSIS.
Melihat Nadhira yang maju kedepan, membuat Rifki tidak ada pilihan lain untuk ikut serta maju kedepan untuk mencalonkan sebagai ketua OSIS yang baru, melihat Rifki yang ikut serta dalam pemilihan itu membuat teman temannya merasa sangat senang, sementara calon anggota OSIS baru merasa tersaingi karena adanya Rifki dan Nadhira.
Melihat Rifki yang hendak mencalonkan diri sebagai ketua OSIS membuat beberapa temannya merasa senang, mereka mengira bahwa Rifki paling tepat untuk menggantikan ketua OSIS yang lama karena ketegasannya dan juga keramahannya ya meskipun Rifki bersikap begitu dingin.
"Setelah ini kalian berdua ikut kami keruangan OSIS". Ucap ketua OSIS lama.
"Baik kak". Jawab Rifki dan Nadhira bersamaan. .
__ADS_1
Setelah kepergian dari para anggota OSIS lama, Nadhira merasa begitu senang karena akhirnya Rifki ikut serta dalam pemilihan itu, setelah itu Nadhira mengajaknya untuk keruangan OSIS.
Dengan semangatnya Nadhira mengandeng tangan Rifki dan menariknya keruangan yang dimaksud oleh ketua OSIS dengan berlari dengan riangnya seakan akan seperti seorang anak kecil yang mendapatkan permainan yang baru.
Rifki hanya diam saja ketika tangannya ditarik oleh Nadhira, tetapi ketika Nadhira mulai berlari membuat Rifki begitu terkejut dan sesegera mungkin untuk menyesuaikan langkah dan kecepatan yang Nadhira lakukan.
"Mending dikelas aja". Guman Rifki dengan malasnya ketika sampai ditempat yang mereka tuju.
Sesampainya ditempat itu, banyak sekali anak perempuan dan lelaki yang tengah berkumpul untuk mengikuti pemilihan ketua OSIS dan juga calon anggota OSIS yang baru ditahun ini.
Nadhira tidak menghiraukan perkataan itu, ia segera menarik tangan Rifki untuk masuk kedalam ruangan itu dan bergabung dengan yang lainnya, Rifki yang ditarik seperti itu hanya bisa pasrah dengan kemauan dari Nadhira meskipun banyak mata yang memandang kearahnya.
Rifki terkejut ketika tubuhnya tiba tiba ditarik untuk duduk didalam ruangan itu oleh Nadhira, hampir saja Rifki mengumpat karena hal itu, tetapi ia segera mengurungkannya ketika melihat tatapan yang begitu sangat tidak menyukai kehadirannya.
Melihat tatapan itu hanya bisa membuat Rifki tersenyum begitu cerahnya, Nadhira yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena ia tidak mengetahui apa yang ditertawakan oleh Rifki saat itu.
"Entah apa salahku pada mereka, sehingga mereka memberikanku sebuah tatapan seperti itu". Batin Rifki sambil tersenyum kearah mereka.
"Benar benar tidak tau malu, sudah tau kesalahannya apa, masih saja bertanya". Cibir Raka yang mendengar suara batin Rifki.
"Maksudmu apa!!". Ucap Rifki.
Mendengar ucapan Rifki yang tiba tiba membuat Nadhira terkejut begitupun siswa yang berada didalam ruangan tersebut, mereka segera menoleh kearah dimana Rifki berada, untuk melihat siapa yang berani membuat Rifki mengatakan hal itu.
"Anak aneh itu mulai berulah".
"Lihatlah dia berbicara sendiri".
"Kenapa sih dia harus ikut pemilihan ketua OSIS, menyebalkan".
Rifki tidak pernah menganggu mereka bahkan menyinggung mereka selama ini, tetapi ada banyak orang yang begitu sangat membencinya tanpa sebab, mau sebaik apapun dirimu pasti ada yang akan membencimu, dan mau seburuk apapun dirimu pasti akan ada yang mencintaimu dengan tulus.
"Kesalahanmu adalah kau jadi yang terbaik dari semuanya, sementara mereka tidak mampu untuk menyaingimu jadi mereka membencimu". Jelas Raka yang ikut serta mendengar apa yang dikatakan oleh para murid itu.
"Cih.. aku menjadi yang terbaik? Atau mungkin mereka saja yang terlalu iri, sehingga mereka berpikir aku yang terbaik, padahal jika dilihat lihat aku bukanlah apa apa".
"Apa yang kamu bicara Rif?". Tanya Nadhira.
"Ngak papa Dhira".
Mendengar perkataan Rifki selanjutnya membuat beberapa anak yang memberikan tatapan yang tidak mengenakkan hanya bisa mendengus kesal atas ucapan itu, sebagian dari mereka hampir saja berdiri dan mendatangi Rifki karena ucapan yang dilontarkan oleh Rifki.
"Aku hanya berharap bahwa bukan aku yang dipilih sebagai ketua OSIS". Ucap Rifki dengan begitu santainya sambil tersenyum kearah Nadhira.
"Jika kau tidak berniat menjadi ketua OSIS, kenapa kau ikut serta dalam pemilihan ini hah!!". Tiba tiba seseorang yang berada jauh dari Rifki, mengutarakan pendapatnya yang tidak bisa ia tahan lagi.
Rifki tersenyum kepada orang itu senyum yang seakan akan mengejeknya, melihat senyuman itu membuat orang yang tadi telah mengatakan hal itu kepada Rifki segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendatangi tempat dimana Rifki berada.
Melihat seseorang yang hendak melontarkan sebuah pukulan kepada Rifki, membuat Nadhira segera bangkit dari duduknya dan menghadang siswa tersebut untuk memukul kearah Rifki, Rifki hanya tertawa dibalik tubuh Nadhira yang sedang menghalangi siswa tersebut.
"Kenapa sih kalian para lelaki setiap ada masalah dikit dikit selalu berkelahi? Kenapa tidak bisa dibicarakan baik baik". Tanya Nadhira kepada seseorang yang berada didepannya.
Rifki ikut berdiri dibelakang Nadhira, ia memandangi sosok pemuda yang berada dihadapannya saat ini, jika dilihat dari wajahnya pemuda tersebut memiliki sikap yang mudah sekali marah, dan sulit untuk diberi pengertian dengan mudah.
__ADS_1
"Jika kau berani hadapi aku, jangan hanya bersembunyi dibalik seorang perempuan, dasar pengecut!!". Ucap pemuda yang dihadapan keduanya itu.
Rifki memegangi pundak Nadhira untuk membuat Nadhira mundur kebelakangnya, tetapi Nadhira sama sekali tidak mau melakukan itu, ia tidak ingin terjadi keributan didalam ruangan itu yang bisa menyebabkan masalah.
"Berkelahi ditempat ini bukan ide yang bagus, lagian sosok gadis yang ada didepanku saat ini sangat tidak menyukai hal itu, bagaimana bisa aku melakukan hal itu dihadapannya saat ini?".
Rifki tersenyum kearah pemuda itu, dan sesekali menepuk pundak Nadhira untuk menenangkannya, ia mencoba untuk menarik tangan Nadhira dan mengarahkannya kebelakang tubuhnya. Hal itu membuat pandangan siswa yang berada ditempat itu segera terarah kepada ketiganya.
"Sudah cukup!! jangan buat keributan disaat seperti ini, jika kau memang merasa hebat maka buktikanlah, jangan hanya menantang seseorang untuk berkelahi". Tegur Nadhira.
"Sudah ku bilang kan Dhir, ini bukanlah keputusan yang bagus, kau sih terlalu memaksa". Rifki menghela nafasnya.
"Tuan Muda aku tau kau sangat tidak suka mengenai ini, tapi setidaknya kau bisa belajar bertanggung jawab mengenai sebuah organisasi".
Rifki mengangguk pelan kepada Nadhira, memang dia juga harus belajar untuk bertanggung jawab mengenai kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, bukan hanya markas dan perusahaannya saja melainkan dengan sekolahannya juga.
"Sekarang apa maumu?". Tanya Rifki kepada pemuda yang ada didepannya.
"Mundur dalam pemilihan ketua OSIS ini".
"Maaf sebelumnya, tetapi aku tidak pernah diajari oleh keluargaku untuk mundur sebelum mencapai apa yang menjadi tujuanku, jadi hal itu tidak bisa aku lakukan meskipun kau memaksaku sekalipun".
"Kau memang telah mengalahkan kakak kelas, tetapi aku sama sekali tidak takut denganmu, sebaiknya kau mundur sebelum kau membuatku marah".
"Bukankah siapapun boleh ikut dalam pemilihan ini, justru yang aku khawatirkan bahwa dirimulah yang menjadi ketua OSIS, bisa bisa seluruh siswa disekolahan ini akan semakin parah karenamu".
"Kau!!".
Belum sempat pemuda itu menjawab ucapan dari Rifki, tiba tiba beberapa anggota OSIS lama masuk kedalam ruangan tersebut, sehingga membuat pemuda tersebut kembali bersikap tenang dan kembali duduk dibangkunya.
"Baiklah adek adek, terima kasih sudah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, selanjutnya siapkan sebuah naskah pidato mengenai fisi misi kalian untuk mengikuti kegiatan ini".
Setelah menjelaskan semuanya mengenai tugas dan kewajiban sebagai seorang OSIS kepada mereka, anggota OSIS lama segera membagikan sebuah kertas kepada mereka masing masing untuk menyiapkan sebuah pidato yang akan mereka sampaikan kepada seluruh siswa agar terciptanya sebuah musyawarah untuk pemilihan itu.
Dengan cepatnya Rifki selesai membuat sebuah pidato untuk ia sampaikan didepan seluruh siswa, setelah itu ia juga membantu Nadhira untuk menyelesaikan pidato tersebut, bagi Rifki itu adalah hal yang mudah karena ia sering berbicara didepan umum ketika dimarkasnya dan juga ditempat pelatihannya.
Setelah menyelesaikan untuk mengerjakan pidato, mereka diizinkan untuk kembali kekelasnya masing masing, Rifki dan Nadhira berjalan menuju kelasnya dan langsung disambut oleh Fajar didepan pintu kelas tersebut.
"Bagaimana?". Tanya Fajar tiba tiba setelah kedatangan keduanya kekelas.
"Menyebalkan". Jawab Rifki acuh tak acuh.
"Aku tau kau tidak setuju karena itu, sebenarnya ada siswa kelas lain ikut serta dalam pemilihan itu, aku hanya khawatir siswa itu berhasil mendapatkan posisi sebagai ketua OSIS selanjutnya itulah sebabnya aku menyarankan kepada Nadhira untuk mengajakmu bergabung dalam anggota itu".
"Oh, dan kau memanfaatkan diriku karena itu?".
"Bukan itu maksudku Rif, masalahnya dia adalah anak buahnya Adam, kalo sampai dia jadi ketua OSIS yang baru, aku takutnya dia akan berbuat semena mena denganmu ataupun dengan Nadhira".
"Aku ngak takut!!".
Setelah mengucapkan itu, Rifki meninggalkan keduanya dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke bangkunya tanpa mempedulikan Fajar dan Nadhira yang mematung didepan pintu.
Dapat dilihat wajah kesal yang tercipta diwajah Fajar saat ini karena perilaku Rifki kepadanya, Nadhira yang melihat itu hanya bisa menepuk pundaknya untuk menenangkan Fajar, Nadhira juga menceritakan bahwa diruang OSIS mereka sempat berhadapan dengan seseorang yang dimaksud oleh Fajar sebelumnya.
__ADS_1
Mendengar cerita Nadhira, membuat Fajar mulai memaklumi apa yang dilakukan oleh Rifki, mungkin Rifki saat ini sedang kesal kepada pemuda itu, sehingga Rifki lebih memilih untuk menghindari teman temannya agar tidak sampai untuk menyakiti mereka karena ketidak sengajaannya.