Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pelatihan Gengcobra 2


__ADS_3

Kejadian waktu itu membuat Nadhira begitu sangat menghawatirkan tentang keadaan Rifki, apalagi setelah melakukan perkelahian itu tiba tiba seseorang datang menemuinya dan membawanya untuk pergi dari tempat itu, setelah selesai berlatih Rifki datang rambut yang acak acakan dan beberapa luka memar ditubuhnya akan tetapi tidak begitu dihiraukan oleh Rifki.


Rifki pergi dari tempat itu karena ada seseorang yang tiba tiba menyerang kearah dimana markas pelatihan itu berada, ada seseorang yang tidak menyukai metode dalam pelatihan itu yang menurut mereka cukup keras, Rifki datang untuk menyelesaikannya karena perintah dari Kakeknya dan dalam hal itu Kakeknya tidak ingin ikut campur dengan urusan yang terjadi dimarkas tersebut.


Kakeknya ingin menguji cucunya itu apakah akan mampu menyelesaikan sebuah masalah yang ada tersebut, sehingga dikemudian hari ketika dirinya meninggalkan cucunya itu, Rifki akan mampu mengatasi setiap masalah yang akan ia hadapi dimasa yang akan datang itu seorang diri.


Rencana kepergian dari Aryabima sendiri sudah direncanakan sejak begitu lama dan bahkan sebelum Rifki tumbuh dewasa seperti saat ini, karena dirinya tau bahwa dirinya tidak akan mampu untuk menemani cucunya itu begitu lama seperti yang ia harapkan, karena ada hal yang harus ia lakukan demi menjaga keselamatan dari keluarganya.


Bukan kematiannya yang membuat Aryabima merasa takut, akan tetapi tentang keselamatan keluarganya yang membuatnya harus melakukan hal itu agar anak dan cucu dari Kakak kandungan itu baik baik saja, itu adalah janji yang Aryabima ucapkan dahulu kepada Kakaknya bahwa dirinya akan selalu melindungi Anak dan cucunya selama dirinya masih hidup.


Entah apa yang dilakukan oleh Aryabima yang tiba tiba meninggalkan Rifki untuk melangkah seorang diri, Rifki sama sekali tidak mengetahuinya dan hal itu sekarang membuat Rifki merasa curiga dan terus berusaha agar segera mengetahuinya kenapa Papa dan Kakeknya pergi meninggalkannya seorang diri.


Waktu itu Nadhira belum mengetahui bahwa Rifki datang ketempat itu hanya untuk menguji kemampuan dari siswa yang ada ditempat itu, dan Nadhira juga belum mengetahui bahwa Rifki adalah pemilik dari badan pelatihan tersebut.


Nadhira baru mengetahui sosok Rifki yang sesungguhnya ketika sebuah permata masuk kedalam tubuhnya yang membuatnya tidak sadarkan diri sehingga Rifki mengangkat tubuhnya dan membaringkannya disebuah ranjang yang ada dalap dimarkas tersebut.


"Kenapa kamu masih mengingat hal itu Dhira?". Tanya Rifki dengan penasarannya kepada Nadhira.


"Dan bagaimana bisa aku melupakannya Rif? Disaat itu kamu tiba tiba menantang seseorang yang tingkatannya jauh lebih tinggi daripada dirimu, apalagi kamu masih memakai pakaian siswa dasar waktu itu, dan ketika melihatmu bertarung dengan anak itu membuatku takut".


"Kalau sekarang bagaimana? Apa kamu masih takut untuk melihatku bertarung dengan mereka lagi?".


"Ngak sama sekali, yang aku takutkan hanyalah melihat kepergianmu esok lusa".


"Sudah jangan dipikirkan lagi, kan masih ada waktu satu hari besok untuk bersama, dan juga kita masih bisa berhubungan dengan cara Vcall atau telfon".


"Tapi itu tidak bisa menghilangkan rasa kesepianku Rif, tanpa kehadiranmu disisiku aku merasa sangat kesepian nantinya".


"Kan masih ada Bi Ira, Fika, Bayu, Reno, Susi, ada Vano juga yang bisa kamu ajak untuk mengobrol biar ngak kesepian, kamu bisa datang kok kemarkasku nantinya meskipun hanya untuk mengobrol dengan anak buahku saja".


"Untuk apa aku pergi kesana? Sedangkan pemiliknya saja tidak ada disana".


"Mungkin hanya untuk bermain tanding dengan anak buahku, atau bertemu dengan adiknya kak Rahel".


"Oh iya gimana sekarang keadaan anak itu? Terakhir kali aku melihatnya pada waktu menguburkan jenazah Kak Rahel, pas aku kemarkasmu kenapa aku tidak melihatnya?".


"Anak itu sudah membaik daripada sebelumnya, tapi dirinya lebih suka mengurung diri dikamarnya seorang diri, dia juga tidak mau ditemui oleh orang orang yang bahkan itu adalah anak buahku sendiri, Kak Hakam pernah datang sekali ketempat itu tetapi Hafis adiknya Rahel menolak kedatangannya".


Beberapa hari yang lalu, Hakam datang untuk menjenguk Hafis, Hakam ingin melihat keadaan dari anak itu setelah kejadian yang menimpa Kakaknya itu, dan sampai sekarang Hafis tidak mengetahui bahwa Kakaknya Rahel telah tiada karena Rifki tidak sanggup untuk memberitahukan hal itu kepada Hafis.


Rifki hanya takut untuk memberitahukan hal itu kepada Hafis, Rifki takut setelah kebenaran itu diketahui oleh Hafis, kebenaran itu akan membuat mental anak itu kembali down lagi dan akan membahayakan mentalnya karena kabar yang akan ia ketahui kebenarannya.


Kedatangan Hakam ketempat itu membuat Hafis kembali berteriak histeris karena Rahel pernah mengatakan bahwa Hakam begitu jahat kepada Rahel, Rahel terpaksa berbohong karena hal itu agar membuat Hafis tidak mencarinya terus terusan hal itu karena desakan dari Nita.


Ketika Hafis bertanya kenapa Hakam tidak pernah lagi mengunjunginya karena setiap Hakam datang Hakam akan selalu membawakan Hafis makanan, mainan, dan bahkan peralatan sekolah seperti buku untuk membaca, pensil, kerayon, dan sebagainya karena Hafis yang tidak mampu untuk pergi bersekolah. Rahel selalu mengatakan bahwa Hakam orang yang jahat kepada Rahel, karena meninggalkan Rahel dan tidak akan pernah kembali.


Karena hal itulah membuat Hakam begitu dibenci oleh Hafis, sebelum kematiannya Rahel begitu menyesali apa yang telah ia katakan kepada adiknya itu, dan ia berharap bahwa Hakam akan mampu untuk meluluhkan hati adiknya itu.


Hafis berpikir bahwa kepergian dari Kakaknya itu adalah karena Hakam, dan Hafis terus meminta kepada Hakam untuk mengembalikan Kakaknya kepadanya saat itu, akan tetapi Hakam tidak mampu untuk mengabulkan keinginannya itu.


"Jadi Hafis masih belum mengetahui bahwa Kakaknya sudah tiada sampai sekarang?". Tanya Nadhira kepada Rifki.


"Iya seperti itulah Dhira, aku juga sangat takut untuk meninggalkannya nantinya, dan aku berharap bahwa Bayu mampu menjaganya untukku".

__ADS_1


"Iya Rif".


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Siswono datang kembali ketempat itu dengan membawakan dua seragam siswa dasar untuk Rifki dan Nadhira yang akan menguji kemampuan siswa yang ada ditempat itu.


"Ini Dhir, kamu pake dulu". Ucap Rifki sambil menyodorkan pakaian tersebut kepada Nadhira.


Rifki segera menyuruh Nadhira untuk mengganti pakaiannya dikamar mandi yang ada halaman belakang bangunan tersebut, Nadhira segera bergegas untuk pergi kekamar mandi dan mengganti pakaiannya itu, sementara Rifki mengganti pakaiannya ditempat ganti pakaian yang ada diruangan itu karena dirinya tidak memerlukan waktu lama untuk mengganti pakaiannya berbeda dengan seorang perempuan yang membutuhkan waktu yang cukup lama meskipun hanya berganti pakaian.


Setelah sekian lama, akhirnya Nadhira kembali masuk kedalam ruangan tersebut dengan pakaian beladiri yang begitu cocok untuk dirinya pakai, Nadhira terlihat begitu gagah ketika memakainya meskipun pakaian itu hanyalah pakaian siswa dasar.


Pakaian beladiri siswa dasar tersebut berwarna putih bersih dan disetiap ujung bajunya diberi warna hitam gelap, sedangkan kerah baju yang silang juga diberi warna hitam, sedangkan pakaian siswa tingkat tinggi berwarna hitam terdapat logo beladiri didada sebelah kiri dan juga tulisan 'pelatihan' dilengan sebelah kanan.


"Gimana menurutmu Rif?". Tanya Nadhira sambil memutar tubuhnya agar Rifki melihat pakaian yang ia pakai saat ini.


"Sepertinya ukuran baju itu cocok untukmu Dhira, kamu terlihat seperti seorang pendekar wanita". Ucap Rifki yang melihat Nadhira berpakaian seperti seorang pendekar tersebut.


"Benarkah itu Rif?".


"Iya, kapan aku pernah berbohong kepadamu Dhira? Kau terlihat begitu gagah dengan pakaian itu".


"Kenapa dipakaian ini tidak ada tulisan Gengcobra? Padahal inikan pelatihan Gengcobra". Tanya Nadhira yang jauh dari ucapan yang dilontarkan oleh Rifki.


"Apa itu perlu Dhira?".


"Ngak juga sih, kan ngak ada yang tau ini adalah pelatihan dari Gengcobra".


"Bagus, itu artinya kamu sudah paham kenapa dibaju itu tidak ada tulisannya Gengcobra ataupun logo Gengcobra".


Rifki mengajak Nadhira untuk bergegas menuju ke lapangan tempat dimana orang orang berlatih disana, begitu juga dengan Siswono yang ingin menyaksikan langsung bagaimana caranya Rifki untuk mengujinya.


"Bagaimana cara menguji mereka Rif?". Bisik Nadhira.


"Ikuti saja pelatihannya, kalau kamu melihat gerakan yang tidak sesuai dengan kuda kudanya kamu boleh untuk menendang mereka, meskipun mereka berada ditingkat paling tinggi sekalipun". Bisik Rifki kembali.


"Baiklah kalau begitu".


"Kita akan diam diam menguji kemampuan mereka, kau tau kenapa aku meminta kepada pelatih ini baju siswa dasar?".


"Ngak tau, emang kenapa?".


"Tujuanku adalah menguji, jika kita berpakaian lebih tinggi daripada mereka, mereka tidak akan mampu menunjukkan sikap mereka yang sesungguhnya, berbeda lagi jika kita berpakaian seperti siswa dasar, mereka akan menganggap diri mereka begitu hebat daripada kita dan akan berdiri semena mena terhadap seseorang yang sangat lemah dari mereka, nah disinilah kita akan menemukan anggota Gengcobra yang baru, yang memiliki sikap yang rendah hati, tidak semena mena dengan yang lebih lemah, baik, jujur, dan disiplin".


"Oh seperti itu, pantas saja anggota Gengcobra selalu ramah orangnya meskipun mereka tersembunyi dengan rapatnya".


"Dan setiap kali menguji seperti ini, biasanya ada 3 orang yang lolos dan akan masuk kedalam tahap selanjutnya untuk dieliminasi, dulu Kakekku mengujinya dengan cara yang rumit, dengan cara mengincar mangsa".


"Bagaimana itu?".


"Sangat rumit untuk dijelaskan juga Nadhira, aku juga tidak paham dengan teorinya".


Rifki segera mengajak Nadhira untuk memberi hormat kepada pelatih yang ada ditempat itu, pelatih tersebut bergitu terkejut ketika melihat kedatangan Rifki dihadapannya akan tetapi ekspresi keterkejutannya itu segera ia hilangkan karena dirinya sudah mengerti bahwa kedatangan Rifki kali ini adalah untuk menguji kemampuan anak yang ia latih.


"Maaf pelatih, kami terlambat". Ucap Rifki sambil memberi hormat kepada pelatih tersebut.

__ADS_1


"Kalian terlambat 15 menit, kemana saja kalian?". Ucap pelatih tersebut kepada keduanya.


"Karena kelalaian kami, kami siap melaksanakan hukuman yang wajib kami terima karena keterlambatan kami untuk datang ketempat latihan". Ucap Rifki dengan tegasnya.


Seluruh siswa yang ada ditempat itu begitu terkejut ketika melihat kedatangan keduanya ketempat itu, mereka sama sekali tidak mengenali keduanya akan tetapi salah satu siswa yang ada disana begitu sangat mengenali keduanya, siswa itu tidak lain adalah Fajar teman sekelas mereka.


"Kenapa dimana mana selalu ada mereka berdua, apa tujuan mereka datang ketempat ini, bukankah mereka hebat dalam beladiri kenapa harus berpakaian seperti siswa dasar sih". Guman Fajar pelan ketika melihat kedatangan Rifki dan Nadhira.


"Siapa mereka?". Bisik seorang wanita yang berusia sekitar 17 tahunan kepada temannya yang berada didekat Fajar.


"Aku juga ngak tau, aku sudah berlatih 5 tahun ditempat ini tapi aku tidak pernah melihatnya berlatih disini". Jawab temannya itu yang juga dengan berbisik, usia dua gadis itu hampir sama hanya berbeda bulan kelahiran saja.


"Lelaki itu begitu tampan ya, apalagi dengan kelopak matanya yang indah itu".


"Kau benar, tapi apa gadis yang ada disebelahnya itu adalah pacarnya? Gadis itu juga cantik, jadi ngak mungkin kita bisa memiliki lelaki itu jika harus bersaing dengan gadis itu".


"Aku berhadap dia bukan pacarnya".


"Hadapan mu tidak akan menjadi kenyataan, karena mereka adalah sepasang kekasih". Sela Fajar ketika mendengar keduanya berbicara mengenai temannya.


"Maksudmu apaan? Kamu mengenali mereka?". Tanya wanita itu yang tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Fajar.


"Sangat mengenali mereka, bahkan aku sangat bosan mendengar keromantisan mereka berdua". Ucap Fajar yang sedikit memanas manasi kedua gadis yang ada disebelahnya itu.


Kedua gadis itu nampak begitu lesu mendengar perkataan Fajar mengenai sosok lelaki yang mereka kagumi dalam sekali lihat itu, keduanya segera memusnahkan harapan mereka untuk dapat memiliki sosok lelaki seperti lelaki yang ada didepan pelatih mereka tersebut.


Rifki dan Nadhira segera melaksanakan hukuman mereka masing masing, keduanya berpura pura sebagai siswa dasar yang ada dipelatihan itu, akan tetapi soal hukuman yang mereka lakukan itu bukanlah sebuah kepura puraan belakang saja.


Setelah selesai melaksanakan hukuman itu, keduanya segera bergegas menuju kebarisan untuk ikut bergabung dengan yang lainnya, Nadhira berbaris didekat Rifki dan mengikuti gerakan yang dipandu oleh pelatih tersebut.


Rifki memberi tanda kepada Nadhira, Nadhira yang mengerti tentang maksud dari tanda yang diberikan oleh Rifki segera melakukan apa yang diperintahkan Rifki kepadanya.


Dihadapan Nadhira saat ini, terdapat seorang lelaki yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan sedikit berisi, akan tetapi perawakannya seakan akan meremehkan ilmu yang diberikan oleh pelatih tersebut sehingga gerakannya begitu lambat dan tidak bertenaga daripada yang lainnya.


Bhuk...


Tanpa segan segan Nadhira segera menendang kaki lelaki tersebut hingga dirinya terjatuh ditanah dengan kerasnya, lelaki itu sangat tidak mempercayai apa yang tengah terjadi kepadanya karena tiba tiba dirinya ditendang oleh seseorang dari belakang.


"Akh...".


Perhatian seluruh orang terarah kepada lelaki yang baru saja terjatuh itu, lelaki tersebut begitu terkejut bukan main ketika dirinya mengetahui alasan apa yang membuatnya terjatuh itu, yakni ditendang oleh seorang gadis yang masih berpakaian siswa dasar yang datang terlambat sebelumnya, gadis itu tidak lain adalah Nadhira.


Ia tidak menyangka bahwa akan ada seorang gadis yang dengan beraninya menantangnya dengan cara seperti ini, bukan hanya gadis itu yang membuatnya terkejut akan tetapi pakaian gadis itu yang menunjukkan bahwa gadis itu berada ditingkat terendah daripada yang lainnya.


"Kuda kudamu begitu lemah, kenapa bisa pelatih disini menaikkanmu ke tingkat yang lebih tinggi?". Tanya Nadhira dengan nada yang meremehkan.


"Kau!! Berani beraninya menjatuhkanku". Ucap lelaki itu dengan geramnya kearah Nadhira.


Melihat lelaki itu yang terpancing emosi membuat Rifki tersenyum tiba tiba, Nadhira yang sedang menghadapi sosok lelaki seperti itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis kearah lelaki itu.


"Kenapa aku tidak berani? Lagian aku juga tidak sengaja menjatuhkanmu, kuda kudamu saja yang kurang kuat pondasinya".


Melihat keributan itu membuat Fajar yang berada jauh dari tempat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti apa yang tengah dilakukan oleh temannya itu, apalagi orang yang diajak berantem tersebut memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi daripada temannya.

__ADS_1


"Apa apaan ini". Guman Fajar.


Fajar sendiri sudah berlatih ditempat itu selama kurang lebih 3 tahunan, yang tengah menduduki siswa menengah dalam organisasi beladiri tersebut, belum pernah sekali membuat masalah kepada siswa yang ada diatasnya, justru Nadhira yang baru saja datang dengan pakaian siswa dasar dengan beraninya menantang siswa tingkat tinggi.


__ADS_2