
Panji tertawa begitu kerasnya hingga membuat orang orang itu kebingungan dengan apa yang sedang ditertawakan oleh orang yang akan mereka bunuh sebelumnya, entah apa yang membuat Panji tertawa saat ini.
"Tertawalah sepuasmu! Sebentar lagi kau tidak akan mampu tertawa lagi". Ucap pemimpin dari mereka berlima ketika mendengar tawa Panji.
"Kau benar, karena sebentar lagi aku tidak akan bisa tertawa, bukankah sebaiknya aku memanfaatkan saat ini untuk bisa tertawa sepuas hatiku?".
Entah apa yang dirasakan oleh Panji saat ini, dalam tawanya itu tersimpan sebuah luka yang cukup rapatnya, tidak ada yang tau dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini, begitupun dengan Indah yang tidak mengetahui luka tersebut karena Panji tidak pernah menceritakan kepadanya tentang hal itu.
"Hahaha... Panggil pimpinan kalian kemari! Apakah pemimpin kalian begitu pengecutnya sehingga dia begitu takut untuk menghadapi diriku ini sehingga ia masih bersembunyi saat ini bukannya datang untuk membunuhku juga". Ucap Panji dengan tawa yang mengerikan.
Panji teringat kembali tentang kematian dari kedua orang tuanya pada saat lalu, hanya karena kesalah pahaman sehingga membuat dirinya kehilangan kedua orang tuanya siap maupun tidak siapnya.
Ada rasa sesak didadanya ketika mengingat kembali masa dimana kedua orang tuanya pergi meninggalkannya untuk selama lamanya, Indah dapat mengetahui bahwa Panji kini sedang begitu terluka batinnya karena mengingat masa masa kelam bersama dengan kedua orang tuanya.
Indah tidak mampu berkata kata lagi ketika melihat Panji seperti itu, dalam tawanya Panji mampu mengeluarkan air matanya, walau dengan tersenyum akan tetapi hatinya begitu terluka dan kecewa.
"Panggil pimpinan kalian sekarang! AKU BILANG PANGGIL DIA KEMARI!! Apa kalian begitu tuli hingga tidak mendengar suaraku?". Bentak Panji kepada kelima orang itu.
Bentakan keras tersebut membuat Indah hampir tidak mengenali suaminya, rasa sakit yang ia rasakan saat ini sudah tidak lagi ia rasakan ketika melihat suaminya begitu marahnya seperti itu.
Indah segera berjalan mensejajarkan suaminya itu, Indah mengenggam erat tangan lelaki yang sangat ia cintai itu, dapat Indah lihat kedua mata Panji nampak memerah karena marahnya.
"DANUARTA!! HADAPI AKU SEKARANG JUGA!!". Bentak Panji lagi kepada kelima orang yang tengah terluka parah itu.
"Sayang kendalikan emosimu, jangan sampai emosimu menghancurkan dirimu sendiri". Ucap Indah dengan khawatirnya kepada Panji.
"Orang tuaku sudah tiada, bagaimana bisa aku mengendalikan emosiku saat ini Indah, ketika orang orang ini datang untuk menyakiti dirimu". Suara Panji memelan dihadapan Indah.
"Aku tau, ini begitu menyakitkan bagimu, tapi aku mohon jangan membentak bentak seperti itu, aku takut, aku mohon padamu".
Panji mengusap pelan kepala Indah, emosinya mulai melunak dihadapan Indah, ia tidak akan pernah bisa marah kepada orang lain dihadapan orang yang paling ia cintai itu sehingga ketika berhadapan dengan Indah emosinya perlahan lahan mulai melunak.
"Maafkan aku, karena aku telah membuatmu takut, aku tidak akan pernah membiarkan seorang pun yang bisa hidup setelah menyakiti hati Indahku, mereka harus berhadapan dengan diriku, ataupun mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu". Ucap Panji sambil menghapus air mata Indah.
Wajah Indah yang cantik tersebut kini terlihat begitu memperihatinkan ketika adanya luka dikeningnya hingga membuat kening tersebut kini tengah bersimbah darah dan sudah mengering.
Panji yang melihat Indah terluka seperti itu terlihat kembali murka, akan tetapi kemarahannya itu tidak diperlihatkan pada Indah, melainkan kepada kelima orang itu, mereka berlima yang melihat wajah Panji yang begitu marah hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"Panji!". Teriak seseorang dari kejauhan memanggil nama Panji dengan marahnya.
Panji tersenyum mendengar teriakan orang tersebut, inilah yang dinantikan olehnya sedari tadi, bukannya malah takut dengan teriakan tersebut justru Panji merasa begitu senangnya ketika seseorang itu datang untuk menemuinya.
Lelaki yang mendatangi tempat itu berusia sekitar 40 tahunan, sementara Panji kini masih menginjak usia ke 25 tahunnya, perbedaan umurnya begitu jauh karena disaat Panji lahir lelaki tersebut sudah berusia anak anak yang hampir memasuki usia remaja.
"Sesuai dengan sumpahku, aku akan membunuhmu secepatnya". Guman Panji pelan.
Panji mengeraskan tawanya, tawa yang sangat mengerikan karena diiringi dengan suara tangisan yang begitu keras, entah apa yang dirasakan olehnya saat ini, Indah tiba tiba merasakan sebuah sambaran dari dalam tubuh Panji.
Sambaran itu begitu halus dan mengalir keseluruh tubuh Indah dan masuk kedalam perut Indah, energi itu tercipta dari energi keris pusaka xingsi yang sedang bergejolak karena emosi yang dimiliki oleh Panji saat ini.
__ADS_1
Sosok laki laki yang bertubuh kekar dan tinggi dengan kumis yang tebal muncul dibalik pepohonan yang berada dekat dengan tempat dimana Panji berdiri saat ini, lelaki itu tidak lain adalah Danuarta yang sangat menginginkan nyawa Panji.
"Hahaha... Ternyata dengan mudahnya aku menemukan dirimu Panji, dugaan ku memang benar kau belum mati saat itu, dan kau akan segera mati ditanganku saat ini juga". Ucap Danuarta dari kejauhan.
"Sudah ku duga kau akan muncul disini Danuarta! Aku akan membunuhmu saat ini juga sesuai dengan sumpahku didepan jenazah Ayah dan Ibuku, kali ini kau tidak akan selamat dariku Danuarta! Kau harus menanggung semuanya! Kau akan mati ditanganku!". Ucap Panji setelah melihat kedatangan Danuarta.
"Bocah sepertimu ingin membunuh diriku? Mimpimu begitu tinggi Nak, haha...". Danuarta tertawa mendengar ucapan Panji.
Mendengar tawa Danuarta membuat Panji melanjutkan tawanya, tawa Panji kali ini adalah sebuah tawa yang memiliki begitu banyak arti yang tersimpan rapi dibalik tawanya tersebut.
"Mimpiku menang tinggi Paman, karena itulah tujuanku untuk hidup sampai saat ini, haha...". Ucap Panji yang ikut tertawa mendengar ucapan Danuarta.
"Diam kau!! Hentikan tawamu itu!". Ucap Danuarta yang ekspresinya berubah seketika.
"Kenapa kau menyuruhku berhenti tertawa Paman? Bukankah sebentar lagi diriku akan tiada ditanganmu atau justru kau yang akan tiada ditanganku, apa kau takut menyadarinya bahwa malaikat maut sebentar lagi akan menjemputmu?". Ucap Panji dengan senyuman yang menakutkan.
Panji menambah volume suara tawanya, hal itu membuat Danuarta begitu murka kepadanya, Panji menyuruh Indah untuk mundur karena dirinya akan bertarung dengan sosok Danuarta itu, Indah hanya bisa pasrah dengan ucapan suaminya itu tanpa mampu untuk membantah sedikitpun.
Panji kembali mengangkat pedang yang ada ditangannya dan ia arahkan kepada Danuarta setelah mengetahui bahwa Indah sudah mundur dari area itu, tanpa aba aba Panji segera menyerang Danuarta dengan ganasnya.
Jika sekali lihat dapat diketahui bahwa Danuarta jauh lebih kuat daripada Panji, akan tetapi secara teori dan praktik Panji lebih mendalami ilmu beladiri daripada Danuarta sehingga keduanya mampu bertarung dengan seimbang.
Pertarungan itu terjadi begitu sengitnya, dengan lincahnya Panji mampu mengayunkan pedang dengan cepat kearah Danuarta, akan tetapi karena ilmu gaib yang dimiliki oleh Danuarta membuat sayatan pedang Panji sama sekali tidak mampu melukai tubuh Danuarta.
Panji tidak menyerah begitu saja, ia terus menyerang kearah bagian vital Danuarta, akan tetapi setiap tebasan yang diberikan olehnya sama sekali tidak dapat melukai Danuarta sedikitpun.
"Hah... Bagaimana bisa pedang ini berubah menjadi tumpul dan sama sekali tidak mampu menciptakan luka padanya". Ucap Panji dengan bingungnya karena tidak dapat melukai Danuarta saat ini.
Panji mendapatkan sebuah tendangan yang cukup keras dari Danuarta, Danuarta menggunakan tenaga dalam untuk menendang Panji sehingga Panji tidak dapat menahan tendangan tersebut, Danuarta merasa bahwa Panji adalah sosok pemuda yang lemah dan Panji bukanlah lawan yang menyusahkan untuknya, dalam sekejap saja dirinya mampu merenggut nyawa Panji dengan mudahnya.
"Akh...".
"Masss!". Teriak Indah dengan berlinangan air mata.
"Hahaha.. Hanya seperti itu kemampuanmu Nak? Ternyata mereka salah menilai dirimu, kau bukanlah seorang yang perlu ditakuti, bahkan kau tidak mampu melukai diriku".
Karena tendangan itu membuat Panji termundur beberapa langkah kebelakang dan terjatuh diatas rerumputan dengan kerasnya, hal itu membuat Panji termuntahkan seteguk darah segar.
Panji terlihat begitu kesakitan, hal itu membuat Indah segera berlari kearah Panji, akan tetapi tangan Panji seketika menyuruh Indah untuk berhenti ditempat itu, Panji menghapus noda darah diujung bibirnya dengan menggunakan ibu jarinya.
Panji memandangi darah yang masih segar diujung ibu jarinya, itu adalah darahnya yang keluar setelah mendapatkan tendangan dari Danuarta, tak beberapa lama kemudian ekspresi kesakitan Panji berubah menjadi sebuah tawa yang cukup keras.
"Ada apa dengan pemuda itu?". Bisik pemimpin dari keempat orang yang tadinya menjadi lawan Panji.
"Mungkin saja dia merasa bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi". Jawab si A dengan tersenyum.
"Kau benar, mana mungkin ada orang yang tertawa begitu keras ketika merasakan bahwa maut sudah berada didepannya saat ini". Tambah si B.
"Ayo Tuan, kau pasti bisa membunuh pemuda itu". Pemimpin tersebut memberi semangat kepada Danuarta yang sedang melawan Panji.
__ADS_1
Panji mampu mendengar ucapan orang orang itu dengan sangat jelasnya, Panji hanya menanggapinya dengan sebuah tawa yang tidak tau apa yang sedang ditertawakan oleh Panji.
"Haha... Kalian benar, karena hidupku sebentar lagi akan berakhir, kapan lagi kalian akan bisa melihatku tertawa seperti ini dihadapan semua orang?". Ucap Panji yang kembali menggenggam erat pedangnya.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu". Ucap Indah dengan rasa khawatirnya kepada Panji saat ini.
Seketika itu juga Panji menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk melayangkan pedang tersebut, dengan cepat pedang itu menembus leher kelima orang itu tanpa mereka sadari bahwa nyawa mereka sudah melayang saat itu juga ditangan Panji.
"Sudahku bilang, kalian tidak akan mampu melihat tawaku lagi bukan?". Ucap Panji dengan dinginnya kepada Danuarta.
Danuarta yang melihat itu hanya bisa membuka matanya lebar lebar karena tidak ada yang bisa melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh Panji saat ini meskipun orang itu adalah orang yang ahli dalam ilmu gaib dan lain sebagainya mereka tidak akan sanggup untuk melakukan hal sepeti itu.
"Ba... Bagaimana bisa?". Ucap Danuarta dengan gugupnya ketika menyaksikan hal tersebut didepan mata kepalanya sendiri.
Itu adalah kekuatan jiwa Panji, Panji adalah satu satunya keturunan Kuswanto, orang yang begitu hebat dimasanya dan tidak ada yang mampu untuk mengalahkan dirinya saat itu, akan tetapi karena keadaanlah yang membuat Kuswanto mudah dikalahkan saat itu.
Panji menangkap kembali pedang yang melayang tersebut menggunakan tangan kanannya, setelah itu ia menggenggam erat pedang tersebut dan mengarahkan ujung pedangnya kearah Danuarta.
"Siapa kau sebenarnya?". Tanya Danuarta kepada Panji setelah melihat apa yang dilakukan oleh Panji.
Panji memejamkan matanya, seketika itu juga keluarlah cahaya putih terang dan begitu menyilaukan keluar dari dalam tubuh Panji, cahaya tersebut tercipta dari kekuatan jiwa Panji yang sudah bercampur dengan kekuatan keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya itu.
Dari kedua mata Panji tercipta bayangan sebuah keris yang menyala terang ketika Panji mulai membuka kelopak matanya dan menghadap kearah Danuarta saat ini, bayangan itu tidak lain adalah keris pusaka xingsi yang telah menyatuh kedalam jiwanya.
Danuarta sangat mengenali keris tersebut, ketika dirinya masih kecil Ayahnya pernah menceritakan tentang keris pusaka yang begitu kuat kepadanya, akan tetapi keris itu hanya dapat dimiliki oleh keturunan dari Pangeran Kian yang saat itu Pangeran Kian masih berada didalam kerajaannya.
Dan saat itu, Danuarta masih berusia 4 tahun, ia tidak mengetahui kejadian yang terjadi di istana tersebut karena Ayahnya tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya saat itu.
"Keris pusaka xingsi". Ucap Danuarta ketika melihat kedua mata Panji yang memancarkan cahaya berbentuk sebuah keris yang menyala terang.
Panji tersenyum ketika melihat Danuarta seakan akan ketakutan saat ini, senyum Panji seketika melebar ketika Danuarta mampu mengenali keris tersebut sebagai keris pusaka xingsi yang saat ini berada didalam tubuh Panji.
Indah yang sama sekali tidak mengerti tentang situasi saat ini, membuat kepalanya sangat pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri, apalagi sebuah energi yang telah masuk kedalam tubuhnya yang tiba tiba itu membuat tenaganya seakan akan telah berkurang begitu banyaknya.
"Apa hubungannya dirimu dengan Pangeran Kian? Kenapa keris itu bisa berada didalam tubuhmu?". Tanya Danuarta yang terkejut ketika dirinya mengetahui bahwa keris itu bersama dengan Panji.
"Untuk apa aku memberitahukan hal itu kepadamu?". Ucap Panji dengan senyum tipis kepada Danuarta.
"Dimana pangeran Kian saat ini? Beritahu padaku, aku ingin bertemu dengan dirinya". Ucap Danuarta dengan nada sedihnya.
"Untuk apa kau ingin bertemu dengannya, kau bahkan tidak pantas untuk mengetahui keberadaannya saat ini". Ucap Panji dengan sinisnya.
Entah kenapa ekspresi wajah Danuarta berubah dengan tiba tiba, tanpa segan segan Panji segera menyerang Danuarta tanpa ampun, Danuarta pun hanya mampu menghindari serangan itu tanpa mampu untuk membalasnya.
Ini adalah kesempatan besar bagi Panji untuk dapat menghabiskan sosok seperti Danuarta, setelah melihat bayangan keris tersebut hal itu membuat Danuarta tidak mampu untuk menyerang balik Panji, dengan kekuatan yang dimiliki oleh Panji membuat Panji begitu mudah memberikan luka sayatan kepada Danuarta dalam waktu singkat.
"Akh...". Desah Danuarta ketika merasakan bahwa pedang yang ada ditangan Panji mampu melukainya dengan dalamnya.
Panji terus menghujani tubuh Danuarta dengan luka sayatan yang tercipta dari pedang tersebut dengan begitu ganasnya, ekspresi wajah Panji juga berubah menjadi serius ketika melakukan penyerangan kepada Danuarta, orang yang telah membunuh kedua orang tua Panji tanpa ampun.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...