
Nadhira memegangi dadanya dan berusaha menahan sakit tersebut. Ia menatap Sena penuh dengan kemarahan, dan berusaha untuk bangkit.
"Apa yang kau lakukan kepadaku?" Tanya Nadhira dengan terbata bata.
"Jika kau berani melawanku lagi, maka aku akan membuatmu sangat menderita, apa kau ingat obat yang ku berikan waktu itu? Itu ku dapatkan dari alam gaib, dan air ini bisa menimbulkan reaksi dari obat tersebut, jika kau terus melawan maka kau akan menderita dan akhirnya mati mengenaskan".
"Kau...".
"Sytttt...." Sena menempelkan jarinya pada bibirnya menyuruh Nadhira untuk diam. "Jika kau terus berteriak seperti itu, energimu akan cepat habis, dan sakit yang kau derita akan bertambah parah,, kau mengerti".
"Apa yang kau inginkan dariku"
"Cukup diam, jadilah anak yang patuh, jika kau berani memberontak maka aku akan membuatmu menderita, serahkan kuncinya". Sena menyodorkan tangannya.
Nadhira berusaha menyerahkan kuncinya kepada mama tirinya, setelahnya Sena bergegas pergi dari kamar milik Nadhira, sedangkan Nadhira terbaring lemas dan sesekali merintih kesakitan.
Tak lama kemudian Sena masuk kembali kedalam kamar Nadhira, dan menyodorkan sebuah obat kepada Nadhira. Nadhira memandang obat tersebut cukup lama, dan akhirnya ia menelannya. Tak lama kemudian rasa sakit yang ia rasakan mulai mereda.
*****
Sore ini Nadhira pergi ketepi danau, ia ingin menenangkan pikirannya. Ketika perjalanan tanpa ia sadari bahwa Rifki telah mengikutinya, airmata Nadhira tak lagi mampu untuk ditahan.
"Mengapa ini terjadi kepadaku, mama aku ingin menangis dipangkuanmu, mama tiri begitu jahat kepadaku, izinkan aku untuk menangis kali ini ma, aku tidak bisa lagi menahan tangis ini". Guman Nadhira
Ditepi danau yang anginnya berhembus lembut menyelimuti tubuh. Terlihat sosok Nadhira duduk sambil memandangi gelombang air didanau yang tenang. Dikejauhan terlihat sosok Rifki yang berdiri tegak dibelakangnya.
"Tubuhku ini, seakan bukan milikku lagi, Yang aku takutkan, orang itu menyuruhku melakukan kejahatan". Batin Nadhira
"Danau yang tenang memang dapat menenangkan hati".
Mendengar suara tersebut yang tiba tiba, membuat Nadhira reflek mengusap airmatanya dan menoleh kearahnya, ia menemukan Rifki yang tengah bersiap duduk disampingnya.
Nadhira mengalihkan pandangannya, ia tersenyum tetapi senyum tersebut penuh dengan penderitaan dan keterpaksaan. Siapapun yang melihat pasti akan merasakan kesedihan yang mendalam dari senyuman tersebut.
"Kenapa kamu ada disini?". Tanya Nadhira
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan danau disore hari, kamu sendiri kenapa disini?".
"Ngak papa, hanya merindukan mama, waktu kecil mama sering mengajakku kesini dan bermain air".
"Aku tau perasaanmu Dhir, aku juga merindukan papaku, entah dimana dirinya saat ini, mama juga tidak pernah mencarinya, sudahlah... Yang terjadi biarlah terjadi"
"Rif, boleh aku bertanya sesuatu?" Dengan mata yang berkaca kaca
__ADS_1
"Hemm? Ada apa Nadhira?"
Nadhira membuka mulutnya tetapi tiada kata yang keluar dari mulutnya, keheningan menyelimuti mereka berdua hanya tersisa gemercik air danau yang indah.
"Aku sangat merindukan mama, apakah ketika aku mati aku bisa bertemu dengan mama lagi".
Sontak pertanyaan Nadhira membuat Rifki begitu terkejut bukan main, Rifki sangat tidak percaya bahwa Nadhira akan menanyakan hal tersebut kepadanya.
"Apa maksudmu Nadhira? Apa kau ingin melakukan...."
"Tidak Rif, ini tidak seperti yang kau fikirkan, aku berharap ini hanyalah mimpi buruk, aku ingin ketika aku bangun semuanya akan baik baik saja".
Sebelum Rifki melanjutkan perkataannya, Nadhira segera memotongnya. Nadhira tiba tiba teringat dengan perkataan mama tirinya bahwa ia harus menjauhi Rifki, suara mama tirinya terucap beberapa kali dikepala Nadhira. Membuatnya berdiri dan berlari menjauh dari Rifki.
"Nadhira!! Apa yang terjadi padamu?".
Rifki merasa terkejut dengan sikap yang Nadhira lakukan, tanpa mendengarkan ucapan Rifki, ia berlari menjauhinya. Beberapa kali Rifki memanggil Nadhira, tetapi Nadhira tidak mau mendengarkannya.
"Menuturmu dia kenapa". Tanya Raka
"Aku tidak tau, tapi aku yakin ini ada hubungannya dengan energi yang ada ditubuhnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda".
" Aku juga merasakan hal yang sama, aku rasa ada banyak hal yang ia sembunyikan darimu, ah.. lebih tepatnya ia tidak ingin menceritakan kepadamu"
Sebelum Rifki membalas ucapan Raka tiba tiba ada sosok berdiri didepannya dan mengejutkannya. Rifki termundur beberapa langkah karena terkejut ketika sosok itu riba tiba muncul.
" Ah nampaknya kau bisa melihatku, kemampuan untuk melihat alam gaib sudah melekat pada dirimu". Ucap sosok tersebut dengan sesekali tertawa.
"Apa maumu?".
"Tidak banyak, jauh i gadis itu, karena ia adalah milikku". Ucap sosok itu kepada Rifki.
"Tidak!! Kau dan dia berbeda alam, tidak mungkin Nadhira menjadi milikmu, kau yang seharusnya menjauhi Nadhira, kau hanya mahluk gaib, derajadmu jauh lebih rendah daripada manusia"
Makluk itu menggerakkan tangannya dan mencekik leher Rifki dengan kuat, Rifki sampai kesusahan untuk bernafas dan terbatuk batuk. Raka tidak tinggal diam, Raka juga berusaha untuk bisa memukul makhluk itu. Rifki memejamkan matanya sambil memanjatkan doa-doa, membuat makluk itu merintih kepanasan dan melepaskan cekikannya.
Perlahan tubuh makhluk itu memudar, dan akhirnya menghilang. Rifki terduduk diatas tanah sambil memegangi lehernya yang terasa sakit, ia menghela nafas panjang akhirnya bisa selamat dari makluk itu.
"Kamu ngak papakan Rif". Tanya Raka yang khawatir kepada Rifki.
"Ngak papa, mahluk apa itu barusan, apa kau mengetahuinya?".
"Kalau aku lihat dia itu sebangsa iblis yang paling kuat, aku pernah mendengarnya, tapi baru kali ini aku benar benar melihatnya secara langsung, aura ditubuhnya juga mirip dengan energi yang ada pada gadis yang kau panggil dengan nama Nadhira". Jelas Raka.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan iblis itu yang memasukkan energinya kepada Nadhira, lantas apa tujuannya?".
"Aku juga ngak tau Rif, iblis itu juga bisa mengambil raga Nadhira kapanpun dia mau, kau harus lebih berhati hati".
"Apakah ada cara untuk menyelamatkan Nadhira". Tanya Rifki dengan sangat serius.
"Untuk saat ini, aku tidak tau yang harus kita lakukan hanya berdoa kepada-Nya agar ia baik baik saja"
*****
Rendi pulang lebih awal daripada sebelumnya, Sena segera bergegas untuk menyambutnya dipintu rumah. Rendi menoleh kekiri dan kekanan, ia menemukan Amanda sedang duduk tak jauh darinya.
"Dimana Nadhira?". Tanya Rendi.
"Ah tadi dia pergi mas, mungkin ada keperluan dengan temannya". Jawab Sena.
"Kemana dia pergi?".
"Itu pa, katanya tadi mau ketepi danau, lihat matahari tenggelam, mungkin sebentar lagi pulang". Ucap Amanda yang tiba tiba
Rendi hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Amanda, ia bergegas kekamarnya dan mandi. Setelahnya ia duduk didepan tv bersama Sena dan Amanda.
"Mas, aku tadi ngak sengaja menemukan ini, coba mas lihat ini amplop apa?" Ucap Sena sambil menyerahkan sebuah amplop.
Rendi menerima amplop tersebut dengan begitu penasaran tentang isi dari lembaran tersebut. Ia membaca lembaran tersebut dengan terkejut, didalam lembaran tersebut tertulis bahwa Nadhira bukan anak kandungnya. Surat tersebut dibuat pada beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya disaat Nadhira berusia 8 tahun.
"Dimana kamu menemukannya". Tanya Rendi dengan marahnya.
"Sabar mas, ngak sengaja tadi aku menemukannya dialmari milik istri pertamamu mas, memang ada apa mas?"
"Bagaimana mungkin Nadhira bukanlah anakku, selama ini Lia menutupinya dariku, dasar pela**r"
Sena segera merebut kertas tersebut dari Rendi dan membacanya dengan teliti. Raut wajahnya juga berubah ubah ketika mengetahui didalam kertas tersebut tercatat bahwa Nadhira bukanlah anak kandung dari Rendi.
Seketika itu juga pintu rumahnya terbuka lebar dan menampakkan sosok Nadhira berdiri tegak dibalik pintu sambil memandangi kearah keduanya. Sena dan Rendi berpandangan satu sama lain, Rendi merebut kembali kertas tersebut dan meremasnya.
"Ada apa pa?". Tanya Nadhira bingung
"Ngak ada"
Setalah mengatakan hal itu, Rendi bergegas pergi menuju kamarnya dan menutup pintu kamar dengan keras. Nadhira hanya mampu menatap dalam diam hal itu, entah mengapa ada rasa sesak didada ketika Rendi membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Apa yang terjadi ma? Kenapa papa begitu marah". Tanya Nadhira kepada Sena.
__ADS_1
"Bukan urusanmu". Jawab Sena dengan ketus.
Nadhira menundukkan kepalanya dan berjalan kearah kamarnya, ia juga ikut mengunci pintu dari dalam, keadaan rumahnya benar benar sunyi. Hanya terdengar suara jam dinding berdetik, dan suara angin berhembus lembut.